Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Namanya Raniya Hafsyah Elnara.
Dia seorang gadis yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga saja. Ya, hanya sekedar ibu rumah tangga katanya. Istri yang menyayangi suaminya, dan seorang ibu yang akan menjadi guru pertama untuk anak-anaknya kelak.
Dia juga punya keinginan spesial dalam hidupnya, yaitu menjadi istri seorang polisi.
Hahaha… Cita-cita yang sangat unik, bukan? Nggak hanya unik saja sih. Tapi
juga aneh…
Semua perempuan akan merasakan jadi ibu rumah tangga nantinya. Eits… Tapi bagi yang hanya mau menikah saja, ya… Jangan ada kata TRAUMA menikah, bagi yang belum pernah merasakan pernikahan itu sendiri. Hanya karena menyaksikan pernikahan orang lain hancur, dan kamu yang belum menikah malah ikut-ikutan trauma pula.
Pernikahan itu ibarat kita berada di tengah lautan. Tidak selalu aman, tidak selalu nyaman. Coba bayangkan, kamu yang belum pernah merasakannya pasti akan takut untuk memulainya. Tapi ketika kamu telah merasakannya, meski belum mencapai tengah sekalipun, kamu akan merasa senang. Begitu indah pemandangan yang kamu temui. Kamu bahagia…
Setelah mencapai titik tengah, di situlah ujian akan datang. Ada kalanya kapal yang kita tumpangi terombang-ambing, karena cuaca tidak selalu mendukung perjalanan ‘mu. Intinya, bagaimana kamu bisa bertahan dalam badai besar yang siap memecah belah dan memporak-porandakan kapal yang kamu tumpangi. Jangan sampai kamu karam sebelum mencapai pulau kenikmatan yang sebenarnya, yaitu surga-Nya Sang pencipta
makhluk-Nya yang berpasang-pasangan.
Kembali kepada Raniya. Bukan hanya itu saja alasannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Alasan lainnya adalah, dia anak piatu yang hanya memiliki orang tua tunggal. Hanya Ayahnya yang dia punya. Tidak ada yang lain. Ibunya meninggal ketika melahirkan dirinya ke dunia. Hal itu membuat rasa sayangnya begitu besar dan terlalu berlebihan terhadap ayahnya itu.
Dia begitu kasihan terhadap ayahnya. Apa-apa, ayahnya selalu mengerjakannya
sendiri, mulai dari memenuhi kebutuhannya di rumah, di sekolah atau bahkan dimana pun. Tak jarang pula ayahnya membawa dirinya ke luar kota untuk melakukan perjalanan bisnis.
****
Suatu hari, Raniya masih kecil
kala itu. Mungkin umurnya lebih kurang enam tahunan. Dia menyaksikan sendiri bagaimana beberapa orang perampok berusaha memeras dan menyakiti ayahnya berkali-kali.
Kala itu malam pekat. Mereka bepergian keluar kota melewati perjalanan yang sepi dari hunian para penduduk. Beberapa orang perampok mencoba bermain-main dengan mereka, menghentikan secara paksa mobil yang dikemudikan oleh ayahnya sendiri.
“Ayah… Siapa mereka?” Tanya Raniya kecil terlihat ketakutan.
“Entahlah, Sayang. Tapi kamu tidak usah khawatir ya, Nak. Ada Ayah yang selalu melindungi Raniya.” Ucap sang ayah berusaha membujuk Raniya, meski hatinya sendiri juga cemas saat itu.
“Tapi, Yah… Raniya beneran takut… Mereka galak, Yah…” Adu Raniya setengah berbisik kepada ayahnya ketika melihat salah seorang dari perampok itu menggedor-gedor jendela kaca mobil di bagian samping ayahnya.
“Tidak apa-apa, Nak… Raniya tidak perlu takut. Ayah keluar dulu untuk menemui mereka. Mereka teman-teman Ayah, kok. Raniya tunggu di sini sebentar, ya…” Bujuk Ayahnya lagi menenangkan hati Raniya yang dilanda ketakutan dan kegelisahan saat itu.
Raniya kembali menahan lengan ayahnya ketika sang ayah hendak membuka pintu mobilnya. Raniya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mengisyaratkan agar ayahnya itu tidak turun untuk menemui sang perampok.
Merasa begitu lama, sang perampok semakin memperkuat tenaganya menggedor-gedor kaca jendela mobil di samping ayahnya itu. Mereka sampai mengancam akan memecahkan kaca jendela mobil.
“Sayang… Dengarkan Ayah, Nak… Kamu tidak usah takut. Semua akan baik-baik saja. Percayalah, Nak…” Bujuk ayahnya lagi untuk menenangkan dirinya. “Kamu masih ingat siapa Ayah bagimu, hmm?” Tanya Ayahnya sembari menggamit pipi Raniya dengan kedua telapak tangannya.
“You are my hero…” Sahut Raniya terdengar ragu untuk kali itu.
“Senyum dong, Sayang… Katamu, Ayah ini adalah heromu. Sedangkan bagi Ayah, kamu adalah kekuatannya Ayah… Kamu berdoa, ya. Minta sama Allah, agar kita selamat dari bahaya apa pun.” Perintah ayahnya begitu lembut.
Dengan berat hati, Raniya akhirnya menurut. Dia mengangguk berat menatap ayahnya yang turun dan menemui perampok-perampok di luar mobilnya.
Entah apa yang mereka percakapkan
di luar sana, tapi satu pukulan mendarat di perut ayah Raniya.
“Ayaaaah…” Pekik Raniya begitu keras dan terdengar pilu menyayat hati. Air matanya mengucur deras ketika melihat ayahnya dipukuli seperti itu. “Yaa Allah… Tolonglah Ayah Raniya. Raniya hanya punya Ayah, ya Allah…” Isak Raniya sambil terus meminta kepada Yang Kuasa.
Seakan terjawab permohonannya, sebuah cahaya menghantam wajahnya dan menyilaukan matanya dari arah depan.
Reflex, matanya menyipit dan lengannya bersilangan di depan wajah imutnya untuk
menghalangi cahaya yang menyakiti bola matanya.
Perlahan, Raniya kembali menurunkan lengannya. Dia melihat sesosok manusia berseragam coklat turun dari mobil depan, yang menjadi sumber datangnya cahaya. Dia terus mengamati langkah orang tersebut hingga matanya membulat dan mulutnya ternganga.
Seat… Seat… Seat…
Raniya tersenyum girang menyaksikan apa yang terjadi di luar dari balik kaca mobil. Entah bagaimana caranya, orang itu mampu mengalahkan perampok-perampok yang sudah menyakiti ayahnya hanya dengan beberapa adegan saja. Selang beberapa waktu, mobil polisi yang berbunyi sirene itu datang dan membawa perampok-perampok itu.
Raniya mengusap kasar pipinya yang masih terasa geli karena gelitik kan air matanya tadi. Dia langsung meloncat turun dari mobilnya dan segera berlarian menemui manusia yang telah menolong ayahnya. Manusia yang juga berseragam polisi.
“Om polisi…” Seru Raniya. Dia menghamburkan dirinya memeluk paha polisi itu.
Polisi yang dipanggilnya terkejut menghadapi tubrukan tubuh kecil Raniya yang berlari kencang dan terasa tiba-tiba.
“Hai… Gadis cantik siapa ini?” Tanya polisi itu seraya menggendong Raniya.
“Dia putri saya, Pak.” Ayah Raniya yang menyahut dari posisi agak berjauhan dari tempat mereka.
“Oh… Dia ini putri, Bapak?” Tanya polisi itu. Ayah Raniya mengangguk sembari menyunggingkan senyumannya.
“Makasih ya, Om Polisi… Om Polisi adalah sebuah do’a yang dikabulkan Allah untuk Raniya.” Ucap Raniya dengan bijaknya.
Kening polisi itu mengkerut. “Kamu berdo’a tadi?” Tanya nya pura-pura bingung.
“Iya, Om Polisi… Raniya berdo’a disuruh Ayah…” Sahutnya dengan polos seraya mengangguk cepet.
“Hmmm… Pantesan saja Om Polisi serasa ketarik untuk datang kesini…” Ucap Polisi itu terlihat cemberut.
“Jadi Om Polisi tidak ikhlas, heh?” Sungut Raniya terlihat kecewa.
“Hehehe…” Polisi itu terkekeh. “Om Polisi ikhlas kok, cantik… Malahan Om Polisi merasa bersyukur sekali bisa diberi kesempatan untuk nolongin kamu dan ayah kamu. Karenanya, Om jadi ketemu gadis cantik dan sepintar kamu di sini.” Goda Polisi itu sambil mencubit kecil hidung Raniya yang terlihat mancung ke dalam. Hehehe…
“Om Polisi baik, deh… Raniya tidak akan lupa sama Om Polisi…” Ucap Raniya kembali tersenyum lebar.
“Sama-sama, Sayang…” Jawab Polisi itu.
“Suatu hari nanti, kalau Raniya sudah besar. Raniya akan menikah sama Om Polisi aja deh… Biar ada yang lindungi Raniya…” Ungkapnya terdengar polos di telinga polisi itu.
Ayah Raniya hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan anak gadisnya itu.
“Tapi Om Polisi sudah menikah, Sayang… Malah sudah punya dua anak. Yang satunya laki-laki dan yang satunya perempuan.” Protes Polisi itu pura-pura menampakkan wajah penyesalan.
“Yaaaahhh…” Raniya cemberut, dia terlihat kecewa. “Tapi memangnya polisi hanya Om saja? Polisi kan banyak, Om. Semuanya pasti baik seperti, Om.” Ketusnya.
“Hehehe… Iya, Sayang. Semua polisi baik…” Sahut polisi itu terlihat bangga dengan pemikiran si gadis kecil Raniya.
.
.
.
.
.
Halo teman2…
Berjumpa lagi dengan Radetsa.
Kali ini Radetsa coba judul lain dulu ya… Mudah2an tidak banyak halangan dan
hambatan untuk Radetsa nulis novel SEKEDAR IBU SAMBUNG ini, sehingga Radetsa
bisa cepat namatinnya.
Semangatin Radetsa terus ya
teman2, lewat vote rate like koment dan kalau berkenan share juga di akun
teman2…
Terima kasih… semoga ceritanya
tidak ngebosanin,,
Salam satu layar di MT&NT…
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍