"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kesabaran yang Tak Sia-sia
Suara langkah kaki yang tertatih di atas lantai porselen dingin memecah keheningan rumah megah berarsitektur klasik modern itu. Jarum jam dinding berlapis emas menunjukkan pukul sebelas malam.
Zahira mengusap tengkuknya yang pegal, merapikan kebiasaan jilbabnya yang berantakan setelah melakoni sif lembur di sebuah kedai kopi.
Di usianya yang ke 22 tahun, tubuh mungilnya dituntut bekerja ekstra keras demi membiayai sisa operasional kuliah yang kerap ditahan oleh ibu tirinya, Karlina.
Belum sempat Zahira melepaskan sepatu kets kusamnya di ambang pintu, lampu gantung ruang tamu berpendar terang secara mendadak.
"Bagus! Jam berapa ini, Zahira? Mau jadi wanita macam apa kamu, pulang hampir tengah malam begini?!"
Suara bentakan Karlina menggelegar, sarat akan intonasi dingin dan tajam yang sudah sangat dihafal oleh Zahira selama dua dekade terakhir.
Karlina berdiri di puncak anak tangga dengan gaun malam sutra, menyilangkan tangan di dada dengan pandangan menghina.
Ibu kandung Zahira telah meninggal saat usianya masih dua tahun, dan selama 15 tahun Karlina mengurus rumah itu, tak sedetik pun wanita tersebut menyiramkan kasih sayang yang tulus untuk Zahira.
Zahira menunduk, meremas tali tas kainnya yang pudar. "Maaf, Mami. Tadi di kafe ada sif lembur mendadak. Kasir sif malam ada yang berhalangan hadir, jadi Zahira gantikan."
Dari arah area dapur, Bianka Alista Sumargo gadis cantik berusia 20 tahun, berjalan santai sembari menggenggam gelas kaca berisi jus buah segar. Pakaian bersantai Bianka saja merupakan produk desainer ternama.
Sebagai mahasiswi di universitas swasta paling bergengsi di ibu kota, gaya hidup Bianka dipenuhi kemewahan, lingkaran pertemanan sosialita, dan barang-barang bermerek yang dibiayai penuh oleh Karlina tanpa pernah dipertanyakan pengeluarannya.
Bianka tersenyum miring, menatap Zahira dengan tatapan merendahkan.
"Lembur atau lembur, Ra? Jangan bawa-bawa alasan kerjaan deh kalau cuma mau menghindar dari Mami. Lagipula, gaji kafe kamu itu nggak akan cukup buat beli satu gelang milikku. Bikin malu nama Sumargo aja kalau ada tetangga yang lihat kamu keluyuran malam-malam pakai baju kumal begitu."
"Bianka benar!" Karlina berjalan turun, langkah kakinya berdentam penuh amarah. Ia berhenti tepat di hadapan Zahira dan menunjuk wajah anak tirinya itu dengan jemari berlapis cincin berlian.
"Kamu sadar nggak, karena ulah kekeh kamu yang menolak perjodohan kemarin, keluarga kita harus menanggung malu?!"
"Mami..." suara Zahira bergetar, mencoba memberanikan diri menatap mata wanita yang dipanggilnya Mami itu.
"Jangan potong ucapan saya!" bentak Karlina lagi. "Tante Maya itu sahabat terpandang Mami! Keluarganya mau menerima kamu untuk dijodohkan dengan pengusaha rekan bisnis mereka. Memang usianya hampir sama dengan Papi kamu, tapi hidupmu bakal terjamin! Kurang apa Mami memikirkan masa depan kamu? Kamu malah menolak dan bikin Mami dipandang sebelah mata di arisan sosialita kemarin!"
Zahira menghembuskan napas berat, menahan sesak di dadanya yang kian bertumpuk. "Zahira tidak bisa menerima perjodohan itu, Mami. Zahira cuma ingin menuntaskan kuliah Zahira dulu. Tinggal menunggu jadwal sidang skripsi bulan depan. Tolong beri Zahira kesempatan buat lulus dan cari pekerjaan yang layak..."
"Alasan!" potong Karlina keras. "Kuliah tingginya mau dipajang di mana? Kamu itu cuma anak yang nggak tahu diri. Lima belas tahun Mami kasih kamu atap buat berteduh, makan, mengurus kamu dari kecil, tapi balas budi kamu cuma bikin Mami malu di depan teman-teman Mami!"
Bianka terkekeh pelan di belakang ibunya, menyesap jusnya sembari menyaksikan pemandangan yang amat ia nikmati itu. Bagi Bianka, melihat Zahira disudutkan adalah hiburan tersendiri.
Ia selalu merasa berhak mendapat semua keutamaan dari ibunya, sementara Zahira memang pantas berada di posisi terbawah.
Namun, di balik pilar ruang keluarga, seorang remaja laki-laki berusia SMP yang sudah sedikit beranjak remaja memperhatikan interaksi itu dengan dada bergemuruh.
Vidi Airlangga Sumargo, bocah berusia 14 tahun yang merupakan anak kandung Karlina sekaligus adik kandung Bianka, berdiri terpaku. Tidak seperti kakaknya yang gandrung akan kemewahan dan gaya hidup modern, Vidi memilih tumbuh menjadi sosok yang amat sederhana dan apa adanya.
Ia muak dengan kepalsuan dunia sosialita yang diajarkan ibunya dan kelakuan manja Bianka.
Vidi melihat betapa sabarnya Kak Zahira. Walaupun terus-menerus dihujani hardikan dan diperlakukan seperti juru rawat di rumah sendiri, Zahira tidak pernah sekalipun membalas dengan bentakan.
Bahkan, di tengah kelelahan fisik dan batinnya, Kak Zahira-lah yang selalu melupakan rasa lelah demi mendampingi Vidi belajar saban malam. Berkat bimbingan telaten dari Zahira, Vidi yang tadinya dianggap kurang berprestasi mampu membuktikan diri menjadi juara umum di sekolahnya.
"Mami cukup!" Vidi akhirnya tidak tahan lagi untuk tidak melangkah keluar dari bayangan pilar.
Karlina menoleh, raut wajahnya seketika melembut menatap putra bungsunya. "Vidi? Kenapa belum tidur, Nak? Ini sudah malam. Kamu jangan dekat-dekat sama kakakmu yang satu ini, nanti tertular kelakuan tidak menurutnya."
"Yang harusnya malu itu kita, Mi," ujar Vidi tegas, matanya menatap tajam ke arah ibunya dan Bianka bergantian.
"Kak Zahira kerja keras bukan buat foya-foya. Dia cuma mau menyelesaikan kuliahnya sendiri tanpa merepotkan Papi atau Mami. Kenapa Mami selalu memaksakan kehendak Mami cuma demi gengsi di depan teman-teman sosialita Mami?"
"Vidi! Jaga bicaramu!" teriak Bianka dengan wajah memerah. "Kamu masih kecil, nggak usah ikut campur urusan orang tua! Lagian kamu itu bela-belain Kak Zahira terus, padahal aku ini kakak kandung kamu!"
"Kakak kandung?" Vidi tertawa hambar, memandang Bianka dari atas ke bawah.
"Kakak yang mana? Yang cuma tahu minta uang Mami buat beli tas puluhan juta tapi nggak pernah tahu cara menghargai orang lain? Kak Zahira yang selalu ada buat Vidi saat Vidi kesulitan belajar, bukan Kak Bianka yang cuma sibuk pamer foto di media sosial!"
"Vidi Sumargo! Berani kamu membentak kakakmu demi anak ini?!" suara Karlina meninggi, matanya membelalak tak percaya putra kesayangannya justru membela anak tirinya.
"Sudah, Vidi... jangan memperkeruh suasana. Kasihan Mami," potong Zahira lembut, mengusap bahu adik tirinya itu pelan.
Ia menatap Karlina dengan tatapan tenang namun menyimpan luka yang dalam. "Maafkan Zahira, Mami. Zahira masuk ke kamar dulu."
Zahira melangkah cepat menuju kamarnya di bagian belakang lantai bawah, meninggalkan Karlina yang masih bersedekah amarah dan Bianka yang menghentakkan kakinya kesal.
Pintu kamar kayu yang sederhana itu tertutup rapat. Zahira duduk di tepi ranjangnya yang sempit, menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes satu persan, membasahi kain celana kusamnya.
Rasa lelah akibat berdiri delapan jam di kafe seakan tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit di dadanya. Lima belas tahun ia mencoba menjadi anak yang penurut, membersihkan rumah, menjaga tutur kata, dan tidak pernah menuntut barang-barang mahal seperti Bianka.
Namun di mata Karlina, ia tetaplah sekadar anak tiri yang tak bernilai, hanya berguna jika bisa dijadikan alat komoditas sosial.
Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya.
"Kak Zahira... ini Vidi. Boleh masuk?" suara celoteh khas remaja menyapa dari balik pintu.
Zahira buru-buruk mengusap air matanya dan mencoba tersenyum sebelum membuka pintu. Vidi berdiri di sana, membawa segelas air hangat dan sepiring biskuit kaleng yang ia ambil dari dapur.
"Vidi? Belum tidur?" tanya Zahira lembut.
Tanpa berkata-kata, Vidi masuk dan meletakkan gelas serta biskuit itu di atas meja belajar Zahira yang penuh dengan tumpukan jurnal kuliah.
Bocah 14 tahun itu kemudian duduk di kursi belajar dan menatap kakaknya dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Maaf ya, Kak... Vidi nggak bisa berbuat banyak buat nahan Mami sama Kak Bianka," kata Vidi dengan nada bersalah. "Mami makin hari makin keterlaluan. Kakak itu pintar, sebentar lagi lulus, kenapa Mami tega mau menjodohkan Kakak sama bapak-bapak cuma demi posisi sosial?"
Zahira tersenyum tipis, duduk di sebelah adiknya dan mengusap rambut Vidi yang sedikit berantakan. "Nggak apa-apa, Vidi. Mami mungkin cuma panik dan merasa tersinggung di depan teman-temannya. Kakak paham kok."
"Tapi sampai kapan Kakak mau mengalah terus?" Vidi menatap mata Zahira lekat-lekat.
"Kakak yang ngajarin Vidi buat selalu jujur sama diri sendiri. Kakak yang selalu sabar ngajarin Vidi matematika sama bahasa Inggris sampai Vidi bisa dapat peringkat satu semester ini. Vidi bangga punya kakak kayak Kak Zahira. Vidi nggak mau lihat Kakak dikorbankan cuma buat gaya hidup Kak Bianka dan gengsi Mami."
Perkataan adiknya yang polos namun penuh ketulusan itu seperti penawar dahaga bagi hati Zahira yang kering. Di rumah besar yang dingin dan penuh kepalsuan ini, keberadaan Vidi adalah satu-satunya alasan Zahira merasa memiliki keluarga yang seutuhnya.
"Terima kasih ya, Vidi," bisik Zahira, matanya kembali berkaca-kaca, namun kali ini karena haru. "Kata-kata kamu sudah lebih dari cukup buat bikin Kakak kuat. Kakak janji, Kakak bakal selesaikan sidang skripsi bulan depan. Setelah Kakak lulus dan dapat pekerjaan tetap, Kakak bakal mandiri."
"Vidi bakal selalu dukung Kakak," sahut Vidi mantap, mengepalkan tangan kecilnya. "Kalau Kakak nanti sewaktu-waktu pindah dari rumah ini setelah kerja, Vidi bakal sering-sering main ke tempat Kakak. Vidi malas di rumah ini, pusing lihat Kak Bianka yang cuma tahu belanja barang mewah tapi nggak pernah belajar."
Zahira terkekeh pelan melihat ekspresi wajah adiknya yang bersungguh-sungguh. Beban berat di pundaknya perlahan terasa lebih ringan.
Kendati ibu tirinya terus memberikan tembok keangkuhan dan kakak tirinya menebarkan rasa dengki, kasih sayang tulus dari adik kecilnya menjadi bukti bahwa kebaikan yang ia tanam dengan kesabaran tidak pernah sia-sia.