“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Pulang ke Selatan
Pagi di kawasan Kuningan menyambut kepulanganku dengan langit biru bersih yang terhampar di atas deretan pencakar langit. Di dalam unit apartemen yang telah menemaniku selama dua bulan terakhir, dua koper besar berdiri kaku di dekat pintu utama. Seluruh draf strategi, rekapitulasi data K-Sambal Fusion, hingga berkas evaluasi riset Seoul telah selesai dikemas rapi.
Masa tugas utamaku dari agensi Jogja di kantor pusat Jakarta resmi berakhir hari ini.
Ada rasa haru yang menyusup pelan di ceruk dada saat aku memandangi sudut-sudut ruangan yang sunyi ini. Di tempat inilah aku belajar mempertahankan harga diri, merawat luka, dan menyaksikan bagaimana kerasnya benteng ego seorang pria perlahan meredup menjadi kerendahan hati yang tulus.
Tok... tok.
Ketukan teratur di pintu depan membuyarkan lamunanku. Begitu membuka pintu, sosok Dimas berdiri tegap di sana. Pria itu mengenakan kemeja linen santai berwarna abu-abu terang yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana kain gelap. Penampilannya terkesan lebih kasual dari biasanya, namun aura wibawa dan ketampanannya tetap memancar kuat.
"Sudah siap semuanya, Mei?" tanya Dimas dengan suara baritonnya yang berat dan hangat, melangkah masuk untuk meraih kedua koperku tanpa membiarkanku mengangkatnya sedikit pun.
"Sudah, Mas. Semua barang sudah masuk koper," jawabku seraya mengulas senyuman manis. Aku memandangi sekeliling untuk terakhir kalinya sebelum mengunci pintu unit.
Saat kami berjalan menyusuri selasar lantai delapan menuju lif, aku teringat sesuatu. "Oh iya, Mas... Adam gimana? Katanya hari ini dia ndak ikut kita naik kereta ke Jogja?"
Dimas menoleh pelan saat kami berdiri di dalam lif yang bergerak turun menuju lobi. Tangannya secara sangat alami meraih jemari kananku, menggenggamnya erat dengan kehangatan yang pas.
"Adam telepon saya tadi pagi-pagi sekali," tutur Dimas tenang. "Adikmu minta izin untuk bertahan dua hari lagi di Jakarta. Katanya ada beberapa urusan berkas kampus yang harus diselesaikan di tempat temannya."
Aku menaikkan sebelah alisku, lalu menghela napas pendek disertai senyuman tipis. Teman kampus. Aku tahu betul kata kunci itu hanyalah alih bahasa halus Adam untuk menghabiskan sisa liburannya bersama Alya di apartemen tempat tinggal kekasihnya itu.
"Anak itu..." gumamku menggeleng-gelengkan kepala. "Awas saja kalau sampai urusan kuliah di Jogja terlantar gara-gara keasyikan di Jakarta."
Dimas terkekeh rendah suara tawa renyah yang selalu membuat dadaku berdesir hangat. "Biarkan saja, Mei. Adam sudah dewasa dan tahu batasannya. Lagipula... ini artinya perjalanan pulang ke Jogja hanya ada kita berdua. Tidak ada gangguan."
Pernyataan santai yang sarat akan kepemilikan itu membuat rona merah seketika menyembur di kedua pipiku. Aku menunduk malu, meremas jemari tegap Dimas yang menggenggam tanganku rapat-rapat.
Stasiun Gambir pagi itu cukup ramai oleh hilir mudik calon penumpang Executive Class gerbong Kereta Api Taksaka menuju Yogyakarta.
Sesuai tabiatnya sebagai pria berjiwa provider, Dimas mengurus segala hal tanpa perlu kuminta atau kuingatkan. Mulai dari porter bagasi, check-in tiket VIP, hingga memesan kursi berdampingan di area gerbong Priority yang paling tenang. Pria itu benar-benar memastikan kenyamananku terpenuhi sepenuhnya dari detik pertama kami menginjakkan kaki di stasiun.
Kereta perlahan bergerak meninggalkan peron Stasiun Gambir, melintasi lanskap pinggiran Jakarta menuju hamparan sawah hijau Jawa Tengah.
Di dalam kabin kereta yang sejuk dan tenang, aku menyandarkan punggungku di kursi empuk. Dimas menyelimuti kakiku dengan kain wol hangat yang dibawanya dari tas jinjingnya, lalu mendudukkan diri di sebelahku.
"Kamu lelah, Mei?" bisik Dimas lembut, mengusap punggung tanganku yang berada di pangkuannya.
Aku menggeleng pelan, menyandarkan kepalaku secara alami di bahu tegapnya yang kokoh. Aroma woody-citrus yang menenangkan dari tubuhnya seketika mengepung indramu.
"Ndak lelah, Mas. Malah merasa tenang sekali," aku tulus. "Dua bulan kemarin rasanya panjang dan berat sekali. Tapi hari ini, waktu mau pulang ke Jogja, rasanya semua beban di pundak terangkat habis."
Dimas menunduk sedikit, mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di puncak kepalaku.
"Maafkan saya untuk bagian-bagian yang sempat membuatmu merasa berat dan terluka ya, Mei," tutur Dimas parau, suaranya sarat akan penyesalan yang tak pernah luntur. "Ke depan, saya berjanji tidak akan ada lagi benteng ego atau perlakuan yang membuatmu merasa tidak dihargai."
Aku mendongak, menatap manik mata hitamnya yang kini memancarkan kejujuran yang utuh. Aku tersenyum manis, membelai rahang tegasnya dengan jemariku.
"Sudah aku maafkan dari kemarin, Mas. Yang penting sekarang Mas Dimas tahu kalau aku bukan wanita yang bisa ditundukkan dengan kekuasaan, tapi harus diratukan dengan ketulusan."
Dimas tersenyum lebar senyuman tampan yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Pria jangkung itu memajukan wajahnya sedikit, mengecup bibirku dengan sangat lembut dan penuh penghormatan di balik sekat kursi kereta yang sepi.
Sore hari menjelang matahari terbenam, Kereta Api Taksaka akhirnya melaju perlahan memasuki peron Stasiun Tugu Yogyakarta. Udara hangat khas Jogja dan alunan musik gamelan yang sayup-sayup terdengar dari sudut stasiun menyambut kepulangan kami.
Jogja selalu punya cara untuk mengembalikan ingatan pada akar tradisi, kesederhanaan, dan kehangatan keluarga.
Mobil jemputan dari keluarga Arjowibowo sudah bersiap di area penjemputan utama. Dimas memastikan koper-koper kami ditata rapi di bagasi sebelum membukakan pintu penumpang untukku.
"Kita langsung ke rumah Romo, Mas?" tanyaku saat mobil mulai membelah jalanan kota Jogja yang mulai berhias pendar lampu jalan.
"Iya, Mei. Mami dan Papi sudah kirim kabar dari kemarin. Malam ini keluarga besar kita mau mengadakan makan malam bersama di Pendopo rumah orang tuamu," sahut Dimas tenang, meraih tanganku kembali untuk digenggamnya.
Aku menatap pemandangan luar jendela. Bayangan tentang Romo yang kaku dan penuh aturan sempat membuat dadaku agak berdesir cemas. Namun, melihat genggaman tangan Dimas yang begitu kokoh dan protektif di sampingku, rasa cemas itu seketika sirnah. Pria di sampingku ini adalah sosok pemimpin yang siap pasang badan untuk melindungiku dalam situasi apa pun.
Mobil berhenti mulus di depan gerbang kayu ukir kedai dan hunian keluarga Natakusumah. Suasana rumah Joglo milik Romo malam itu tampak begitu terang dan hangat. Lampu-lampu gantung kunir membiaskan warna keemasan di atas pilar-pilar kayu jati pendopo.
Begitu kami melangkah turun dari mobil, Mami yang rupanya sudah tiba lebih dulu bersama Papi langsung berlari kecil menghampiri kami dari arah teras depan.
"Mei! Nduk... Ya Allah, Mami kangen banget sama kamu!" pekik Mami gembira, langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukan hangat yang begitu erat.
Aku membalas pelukan Mami dengan tulus. "Mei juga kangen banget sama Mami."
Mami melepaskan pelukannya, meneliti wajahku dengan matanya yang berbinar bahagia, lalu melirik Dimas yang berdiri tegap di sampingku membawa tas tangan.
"Lho, Dimas... mukanya kok sudah ndak kayak es batu lagi?" goda Mami terkekeh renyah. "Aura kalian berdua beda banget dibanding waktu berangkat ke Seoul kemarin. Sudah makin adem dan serasi."
Dimas hanya tersenyum tipis mengusap tengkuknya, sebuah gestur canggung yang sangat jarang terlihat dari seorang CEO berdarah dingin. "Mami ada-ada saja."
Dari arah pintu dalam pendopo, Romo melangkah keluar bersama Ibu. Sosok Romo yang berwibawa dengan beskap harian dan kain batik halus menatap kami dengan pandangan tajam namun penuh ketenangan.
"Sugeng kondur, Nduk Mei... Nak Dimas," sapa Romo dengan suara berat khasnya.
Aku dan Dimas melangkah mendekat. Kami berdua membungkuk sopan dan mencium tangan Romo serta Ibu secara bergantian sebagai bentuk rasa hormat seorang anak pada orang tuanya.
"Pernyataan laporan kesuksesan proyek K-Sambal Fusion sudah Romo terima dari Pak Arvino tadi siang," ujar Romo memandangi kami berdua dengan raut bangga yang tak bisa disembunyikan. "Kerja kerasmu di Jakarta tidak menyalahi nama besar keluarga, Mei. Dan Nak Dimas... terima kasih sudah menjaga dan membimbing putri kami selama di Jakarta."
Dimas menegakkan posisi berdirinya, menatap Romo lurus dengan nada suara yang penuh ketegasan yang santun.
"Sampun dadi kewajiban kula, Bapak," balas Dimas menggunakan bahasa Jawa kromo halus yang sangat fasih dan santun. "Mei bukan hanya pimpinan tim yang hebat, tapi calon istri yang sangat saya hormati. Seluruh pencapaian proyek ini murni hasil dari kecerdasan dan keteguhan prinsip Mei sendiri."
Mendengar penuturan Dimas yang begitu memuliakan diriku di hadapan Romo dan seluruh keluarga, dada ibu dan Mami seketika berdesir haru. Romo mengangguk-angguk pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat langka.
Acara makan malam di pendopo berlangsung sangat hangat dan kekeluargaan. Berbagai hidangan khas Jogja mulai dari gudeg otentik, ayam goreng kalasan, hingga es beras kencur tersaji hangat di atas meja kayu panjang.
Namun, di tengah-tengah obrolan santai mengenai rencana tanggal pernikahan kami yang tinggal menghitung bulan, Romo mendadak menghentikan sendoknya dan menoleh ke sekeliling ruangan.
"Lho... omong-omong, Adam mana, Mei?" tanya Romo dengan kening berkerut halus. "Bukannya libur semesternya sudah mulai dari kemarin? Kenapa ndak ikut pulang bersamamu dan Nak Dimas dari Jakarta?"
Suasana di meja makan seketika membisu sejenak. Aku sempat tersedak pelan, memegang cangkir teh hangatku dengan jemari yang mendadak agak kaku.
Di Jakarta, adikku itu saat ini mungkin sedang menikmati makan malam romantis bersama Alya di apartemen tempat tinggal kekasihnya, sama sekali tidak tahu kalau Romo di Jogja mulai mempertanyakan keberadaannya!
"Eee... itu, Romo..." kataku agak gugup, mencoba menyusun kalimat perlindungan untuk adikku agar tidak memancing amarah Romo yang terkenal kaku soal aturan pacaran. "Adam... Adam katanya masih ada urusan berkas kuliah di Jakarta."
Alis tebal Romo menajik curiga. "Urusan berkas kuliah apa sampai ndak bisa pulang tepat waktu? Anak itu kalau di Jakarta suka keluyuran ndak jelas."
Sebelum Romo sempat melanjutkan nada tingginya, Dimas yang duduk di sebelahku dengan sangat tenang menyela pembicaraan. Pria itu meletakkan sendoknya dengan pelan, menatap Romo dengan raut wajah yang sangat meyakinkan.
"Mohon maaf memotong, Bapak," tutur Dimas halus namun penuh wibawa. "Adam bertahan di Jakarta atas izin dan arahan saya. Saya yang meminta Adam membantuku mengurus beberapa dokumen verifikasi legalitas dan kerja sama tim kampus untuk divisi pemasaran anak muda Arjowibowo Group di Jakarta. Dua hari lagi Adam akan saya pastikan pulang ke Jogja dengan selamat."
Aku membelalakkan mataku tipis, menoleh menatap Dimas dengan rasa terkejut bercampur haru yang luar biasa.
Dimas pasang badan! Pria itu dengan sangat cerdik dan tenang memasang benteng perlindungan untuk Adam, mengarang alasan bisnis yang sangat masuk akal di hadapan Romo agar adikku tidak dimarahi atau dicurigai.
Romo menatap Dimas cukup lama, lalu ketegangannya melunak seketika. "Oh... kalau memang untuk urusan magang dan bantu-bantu pekerjaan Nak Dimas, ya ndak apa-apa. Biar Adam belajar jadi laki-laki yang punya tanggung jawab."
"Inggih, Bapak. Matur nuwun," balas Dimas sopan.
Di bawah meja makan, jemari tegap Dimas menyusup pelan, meraih jemariku dan meremasnya lembut. Aku meliriknya dengan mata berbinar-binar, membisikkan kata "terima kasih" tanpa suara dari bibirku. Dimas hanya membalasnya dengan sebuah kedipan mata dan senyuman tipis yang begitu menawan.
Usai makan malam dan saat keluarga besar mulai beristirahat di ruang dalam, aku dan Dimas berdiri berdua di selasar teras samping pendopo. Angin malam Jogja yang sejuk bertiup pelan, membuai dedaunan pohon mangga di halaman rumah.
"Terima kasih ya, Mas..." bisikku tulus, menyandarkan tubuhku di sampingnya yang sedang menyandarkan bahu di pilar kayu. "Mas Dimas tadi pinter banget nolongin Adam di depan Romo. Kalau tidak ada Mas Dimas, bisa habis Adam diamuk Romo kalau tahu dia menginap di tempat Alya."
Dimas terkekeh rendah, merengkuh pinggangku dari samping dan menarik tubuhku mendekat ke dalam pelukan hangatnya.
"Saya kan calon kakak iparnya, Mei," sahut Dimas lembut di telingaku. "Tugas saya bukan cuma melindungimu, tapi juga menjaga ketenangan keluargamu. Lagipula... saya pernah muda, saya tahu betul bagaimana rasanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan wanita yang dicintai."
Aku tersenyum manis, memeluk pinggangnya rapat-rapat, membiarkan aroma woody-citrus dari kemejanya menghangatkan jiwaku di tengah malam Jogja.
Di kota inilah kisah kami bermula dari sebuah perjodohan kaku yang penuh keraguan. Dan di kota ini pula, kami kembali bukan lagi sebagai dua asing yang saling mempertahankan ego, melainkan sebagai dua manusia yang telah belajar meratukan, menghargai batasan, dan saling mengikat janji untuk mengarungi sisa hidup bersama hingga akhir masa.