"Jangaaaaan, jangan bunuh aku! "
Ardian berlari kencang di tengah Desa ketika dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan mengejar dirinya malam ini, tidak ada yang mendengar suara jeritan pria itu sehingga sosok yang menyerang dia dengan leluasa memberikan serangan.
Kematian secara misterius datang di Desa ini karena mereka semua telah melakukan perbuatan yang sangat buruk di Malam Satu Suro, dendam yang sangat membara karena ketidakadilan yang telah dia terima sehingga membuat para pelaku harus menebus dengan derita yang begitu besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Debat kematian
Jerit memilukan keluar dari mulut Mak Sarti ketika melihat sendiri bagaimana jasad sang anak, jelas ini menjadi pukulan yang begitu berat untuk Sarti itu sendiri Karena Doni adalah anak semata wayang dan sekarang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, terlebih lagi dia meninggal dalam keadaan tubuh yang hancur seperti itu sehingga membuat Siapa saja yang melihat akan merasa takut.
Semua warga desa yang melihat hal itu tentu saja menjadi bertanya-tanya apa yang telah terjadi kepada Doni ini, Kenapa mendadak saja ada penemuan mayat seperti itu setelah Yayuk juga meninggal dunia dan masih belum diketahui Siapa yang telah membunuh gadis Malang itu.
Ini malah menyusul pula kematian Doni yang dirasa oleh mereka sungguh sangat mengerikan dan tidak bisa untuk diterima dengan baik oleh keluarga, Mak Sarti tentu saja sampai pingsan karena dia tidak sanggup melihat keadaan sang anak seperti itu, ini masih menjadi misteri besar karena mereka tidak tahu siapa yang telah membuat masalah.
Ardian dan juga rombongan yang lain hanya bisa termenung dengan pikiran yang mulai kacau, terutama untuk Iwan karena pria itu sudah mendengar sendiri cerita dari Doni bahwa malam itu dia telah melihat keberadaan arwah Yayuk dan kemungkinan besar arwah Gadis itu datang untuk menuntut balas atas apa yang telah mereka lakukan.
Jelas sekali dapat mereka lihat ketika kegelisahan yang ada di wajah Iwan dan dia segera berlalu dari sana, sikap yang demikian tentu saja mengundang Perhatian para warga karena mereka tidak mengetahui apa yang telah terjadi dan justru beranggapan Iwan bersikap seperti itu karena dia adalah teman dekat Doni itu sendiri.
"Kok Iwan seperti ketakutan begitu?" Pak Kades merasa heran dengan tingkah pria itu.
"Kan Doni itu teman kami sehingga pasti Iwan merasa sangat syok." Ardian langsung memberikan alasan.
"Kau urus dengan benar dan cari tahu siapa yang telah melakukan pembunuhan kejam ini." Pak Kades menyerahkan itu semua kepada sang anak.
"Biarkan saja, lagi pula dia mati pasti ada alasannya juga." Pak Retno langsung menolak.
"Loh ya Jangan begitu dong Pak, Kita harus mencari tahu siapa yang sudah membunuh Doni." Mansyur juga merasa heran.
"Itu nanti hanya akan menambah masalah saja, lebih baik bila kita abaikan dan kita tutup masalah ini." Pak Retno berkata seolah tidak ada penyesalan.
Semua orang yang ada di Sana hanya bisa Saling pandang satu sama lain karena sebenarnya mereka juga mengetahui bahwa Pak Reno dan Doni tidak memiliki hubungan yang dekat, pria itu tidak pernah bisa menerima Doni sebagai anak tirinya sehingga terus mencari kesalahan dari Doni itu sendiri.
"Jika kau tidak mau mencari tahu maka itu tidak masalah, aku yang akan mencari tahu tentang pembunuh itu!" Ardian berkata dengan penuh emosi.
"Jangan cuma mau dengan Mak Sarti saja tanpa bisa menerima keberadaan Doni." Jamal juga ikut berbicara.
"Tutup mulut kalian, nggak usah ikut campur dalam urusan aku." Pak Retno terlihat sangat marah.
"Dasar pria tidak punya otak dan hanya mengatasnamakan birahi saja." Ardian berkata dengan sangat geram.
"Kau jugaaaaa.....
Ardian reflek menoleh ketika dia baru saja selesai berbicara seperti itu dan langsung ada suara berbisik begitu lembut di telinga dia, suara gadis yang sangat dia kenali namun ketika dia menoleh sama sekali tidak ada bayangan atau bahkan wujud dari Gadis itu sendiri. Jamal ikut menoleh ketika melihat Ardian yang seperti sedang mencari sesuatu, namun Ardian dengan cepat menguasai diri agar tidak ada orang yang curiga kepada dia saat ini.
"Pria tidak punya otak!" Mansyur juga merasa kesal kepada Pak Retno.
"Kita yang akan mencari tahu soal pembunuh itu dan biar saja kalau dia tetap tidak peduli." Ardian terlihat sangat kesal.
"Kita pasti mampu kalau sudah berusaha, Aku sangat ingin melihat siapa wajah orang yang sudah berani mencari masalah di desa ini." Jamal berkata dengan sangat lantang.
"Bisa jadi itu adalah orang luar namun bisa saja itu juga adalah penghuni Desa kita ini sendiri." Ibnu berkata dengan wajah datar.
"Jadi maksudmu ada seseorang yang tidak menyukai dia dan membuat Doni mati?" Jamal menoleh kepada Sepupu dia ini.
"Ya kita tidak tahu apa isi pikiran orang lain, sama sepertinya dengan para pembunuh Yayuk itu." jawab Ibnu.
Jamal yang Mendengar hal itu tentu saja menjadi terdiam dan tidak berani banyak berbicara lagi, terlebih ketika sudah melihat wajah Ardian yang berubah seperti itu sehingga pasti membuat dirinya lebih baik untuk tutup mulut dan tidak melanjutkan percakapan yang ada.
"Anak kuuuu.. ya allah anak ku!" Mak Sarti meratap pilu.
"Seng kuat yo, Mbak!" Mak Anjar juga ada di sana.
"Apa salah Doni sampai dia di bunuh begini?" isak Mak Sarti.
"Kita tidak tahu tentang masalah itu karena Sampai sekarang aku juga bertanya-tanya tentang salah Yayuk.'' jawab Mak Anjar.
Sebagai orang tua maka mereka memang tidak pernah mengetahui salah anak mereka sendiri dan begitu juga dengan Mak Sarti, dia tidak pernah menyadari bahwa Doni telah melakukan perbuatan yang begitu keji kepada Yayuk itu sendiri dan sekarang ini adalah balasan atas perbuatan buruk yang sudah dia lakukan.
"Tidak usah kau meratap seperti itu karena anak kesayangan kau itu juga tidak mungkin bangun lagi." Pak Retno memarahi sang istri.
"Ojo ngomong ngono, Kang." Mak Anjar tidak tega mendengar ucapan itu sendiri.
"Aaaah aku tidak peduli karena Doni itu adalah anak yang tidak beres dan hanya bisa memerintahkan keluarga saja.'' Pak Retno segera pergi dari sana.
"Tidak usah didengar omongan seperti itu karena hanya membuat sakit hati saja, Mak." Rodiah ikut menenangkan.
"Kenapa dia bahkan tidak peduli dengan Doni yang sudah meninggal dunia?" Mak Sarti juga meratap tentang hal itu.
Padahal ini adalah sudah tentang kematian dan Pak Retno tetap saja tidak memperdulikan sang anak sehingga wajar saja bila Mak Saati merasa sangat Iba, hanya karena Doni adalah anak tiri sehingga membuat Pak Retno terus tidak peduli dan terus mengeluarkan omongan kasar dan juga kejam.
"Mari segera kita urus mayat Doni ini agar tidak menunggu terlalu lama lagi.'' kepala desa segera mengambil tindakan.
Sebab sudah tidak ada yang perlu untuk ditunggu lagi dan semakin lama justru akan semakin mengundang perdebatan di antara mereka, jadi lebih baik bila segera dikuburkan dan masalah ini segera selesai, nanti tinggal Ardian dan yang lain mencari tahu atas pembunuhan tersebut.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita autor Novita Jungkook ya.
yeesss akhirnya ratuku keluar jg🥰👍
mksh bess🔥🔥
ular janda gaesss...