NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Pelantikan & Misi

Langit ibu kota diselimuti mendung tipis ketika sirene pengawal negara meraung pelan di sepanjang jalan menuju Istana Kepresidenan. Hari itu adalah hari bersejarah bagi seluruh keluarga Abhiseva. Di usia tiga puluh tahun, Mayor Jenderal Sadhana Abhiseva resmi dilantik sebagai jenderal termuda dalam sejarah angkatan bersenjata negara.

Seragam hijau gelap yang melekat di tubuh tegapnya tampak sempurna tanpa satu pun kerutan. Deretan tanda jasa berkilau di dada kirinya menjadi saksi berbagai operasi militer yang pernah ia pimpin sejak usia muda.

Di hadapan Presiden, para petinggi negara, dan ratusan tamu undangan, Sadhana berdiri tegak. Tatapannya tenang, dingin dan sangat sulit ditebak. Dijajaran tempat duduk, seluruh keluarganya menatap penuh rasa bangga.

"Apakah Saudara bersedia mengemban amanah negara dengan penuh tanggung jawab, kesetiaan, dan pengorbanan demi bangsa dan rakyat?"

"Saya bersedia." Suara Sadhana menggema memenuhi ruangan.

Presiden mengangguk lalu menyematkan bintang kehormatan di pundaknya. Tepuk tangan membahana. Kamera-kamera media menyorot wajah pria itu dari berbagai sudut. Bagi masyarakat, hari itu adalah puncak karier seorang perwira muda yang luar biasa. Namun tak seorang pun tahu, pelantikan tersebut justru menjadi awal dari hilangnya Sadhana Abhiseva dari dunia.

...****************...

Tiga jam kemudian…

Sadhana berjalan memasuki ruang rapat bawah tanah yang keberadaannya bahkan tidak tercantum dalam peta resmi gedung pemerintahan. Pintu baja setebal tiga puluh sentimeter menutup rapat di belakangnya.

Di dalam ruangan hanya ada lima orang. Presiden, Kepala Badan Intelijen Negara, Panglima Angkatan Bersenjata, Menteri Pertahanan dan seorang pria tua berambut putih yang tidak dikenalnya.

Suasana terasa begitu sunyi hingga suara pendingin ruangan terdengar jelas. "Silakan duduk, Jenderal Abhiseva."

Presiden membuka sebuah map hitam yang diberi cap RAHASIA TERTINGGI. Wajah beliau tampak jauh lebih serius dibanding saat pelantikan. Dhana pun menyadari bahwa tugas pertamanya setelah menyandang sebagai seorang Jenderal muda pertama tidak akan mudah.

"Saya tidak akan bertele-tele." Presiden mendorong Map itu ke hadapan Sadhana. "Negara sedang menghadapi ancaman yang tidak bisa ditangani dengan operasi militer biasa."

Sadhana membuka map tersebut. Lembar demi lembar foto memenuhi pandangannya. Gudang senjata illegal, perdagangan manusia, Laboratorium narkotika, pembunuhan politik, pencucian uang, penyelundupan teknologi militer dan yang paling mengejutkan adalah foto para pejabat tinggi negara sedang bertemu dengan sosok-sosok yang wajahnya disamarkan.

"Klan mafia Black Gold..." gumamnya.

Kepala Intelijen mengangguk. "Organisasi kriminal terbesar yang pernah kami hadapi."

"Mereka mengendalikan pelabuhan, bank gelap, perdagangan senjata, hingga jaringan pembunuh bayaran di lima negara."

"Selama dua puluh tahun kami mencoba menghancurkan mereka."

"Namun, selalu gagal."

Sadhana terus membaca. Semakin banyak halaman yang dibuka, semakin berat ekspresinya. Data yang ada jauh melampaui organisasi kriminal biasa. Ini adalah kerajaan bayangan. Sebuah negara dalam negara.

"Mereka sudah menyusup ke pemerintahan?" tanya Sadhana.

"Terlalu dalam." Jawaban itu datang dari pria tua berambut putih. Untuk pertama kalinya lelaki tersebut berbicara. Suaranya berat dan penuh tekanan.

"Kami tidak tahu siapa yang bisa dipercaya lagi."

Ruangan kembali sunyi. Lalu Presiden menatap langsung ke mata Dhana. "Karena itu kami memilihmu."

Sadhana mengangkat kepala. "Saya?"

"Kami membutuhkan seseorang yang bisa menghilang."

"Seseorang yang cukup pintar untuk masuk ke sarang mereka."

"Cukup berbahaya untuk bertahan hidup di dalamnya."

"Dan cukup setia untuk tidak berpihak pada mereka."

Jantung siapa pun mungkin akan berdebar mendengar kalimat itu. Namun wajah Sadhana tetap datar seolah ia sudah mengetahui arah pembicaraan ini sejak awal. "Apa misi saya?"

Presiden menarik napas panjang. Lalu mengucapkan satu kalimat yang mengubah hidup Sadhana selamanya. "Mulai malam ini, Jenderal Sadhana Abhiseva dinyatakan hilang dari seluruh catatan operasi negara."

"Tidak ada pangkat."

"Tidak ada jabatan."

"Tidak ada identitas."

"Tidak ada perlindungan."

"Bahkan jika kau tertangkap atau terbunuh, negara tidak akan pernah mengakui keberadaanmu."

Tatapan seluruh orang di ruangan tertuju kepadanya. Hingga Dhana menyadari bahwa ia tidak memiliki pilihan selain menerimanya. "Saya mengerti."

"Kami memperkirakan operasi ini berlangsung satu hingga dua tahun." Kepala Intelijen berkata.

Namun pria tua berambut putih menggeleng pelan. "Atau lebih lama dari itu."

Sadhana menutup map di hadapannya. "Target akhir?"

Presiden menjawab tanpa ragu. "Hancurkan Klan Black Gold. Bongkar seluruh konspirasi mereka. Temukan siapa saja yang berada di belakang mereka. Dan pastikan kerajaan itu lenyap dari negara ini."

Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan, sudut bibir Dhana terangkat tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seorang prajurit yang baru saja menerima perang paling berbahaya dalam hidupnya. Bahkan mungkin ia tidak akan pernah kembali dengan keadaan masih hidup.

Namun, Dhana tetap harus menerima misi besarnya." Baik! Saya pasti akan menyelesaikannya."

“Kalau begitu, ikutlah dengan Direktur Intelijen. Dia akan menjelaskan sisanya kepadamu dengan lebih rinci dan jelas,” ujar Presiden.

Kali ini Dhana tidak menjawab, ia hanya mengangguk patuh lalu memberikan hormat sebelum pergi dari ruangan itu.

Dan kini Dhana berdiri tegak di tengah ruangan briefing yang remang. Cahaya lampu gantung berwarna kekuningan jatuh tepat di atas meja panjang yang dipenuhi berkas, foto, dan peta digital. Ini adalah malam yang telah lama ia tunggu sekaligus takuti.

Baru beberapa jam lalu, pangkat barunya diumumkan secara resmi. Di usia yang bahkan masih dianggap terlalu muda oleh banyak perwira senior, ia telah dipercaya menyandang gelar jenderal. Sebuah kehormatan besar, namun juga beban yang tak kalah besar.

"Ini bukan misi penangkapan biasa," ujar Direktur Intelijen. "Tujuanmu adalah masuk ke dalam tubuh organisasi. Mendekati pemimpinnya. Mendapatkan kepercayaan mereka. Lalu menghancurkannya dari dalam."

Dhana memperhatikan setiap detail yang muncul di layar. Semakin banyak informasi yang diberikan, semakin jelas bahwa operasi ini jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Lalu layar berubah.

Semua data menghilang dan muncul satu identitas baru. Nama, tanggal lahir, riwayat pendidikan, catatan criminal, foto seorang pria muda berambut hitam dengan tatapan tajam.

Dhana mengernyit. "Itu siapa?"

Direktur Intelijen menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. "Itu dirimu."

Keheningan langsung memenuhi ruangan. Dhana kembali melihat layar. Wajah itu memang dirinya. Namun bukan dirinya yang sekarang. Potongan rambut berbeda, bekas luka tipis di pelipis. Ekspresi yang lebih dingin, lebih liar dan lebih berbahaya.

"Aku tidak mengerti."

"Kau akan mengerti sekarang."

Direktur mengambil sebuah map hitam dari meja. Map itu tampak lebih tebal dibanding semua berkas lain. Ketika dibuka, isinya adalah dokumen identitas lengkap. Paspor, kartu identitas, rekening bank, riwayat perjalanan, catatan pekerjaan bahkan foto-foto masa kecil yang tampak asli. Semuanya atas nama orang yang sama.

"Mulai hari ini," kata Direktur dengan suara datar, "Sadhana Abhiseva tidak ada lagi."

Jantung Dhana berdetak lebih keras. "Apa maksudnya?"

Bersambung ….

1
Sri Yatun
semoga bisa ngomong setelah ada pergerakan penyerangan atau sudah d mulai dan berakhir dia baru sadar bahwa teman teman nya sudah kalah dan Reval terluka parah kalah
Fahmi Ardiansyah
semoga yg lain gak mengetahuinya klu jenara masuk ke ruang kerja.
Fahmi Ardiansyah
jgn sampai reon di bawa ke markas bisa bahaya tu.semiga bian n Reno bisa atasi ni wanit
Sri Yatun
semoga kakek Arga tidak menaruh curiga y,, biar jenara lolos
Sri Yatun
aduh kalo sampai d bawa bakal celaka semuanya, semoga loren jg lengah biar bisa d pukul dri belakang biar pingsan barengan
Fahmi Ardiansyah
bagus jenara semoga kau bisa merahasiakan tentang dhana
Fahmi Ardiansyah
iya katakan iya tpi bilng sama jenara jgn sampai memberitahu reval
Fahmi Ardiansyah
iya karna bawaan bayinya jadi jenara sellu bertanya tentang dhana.coba klu kmu yg jdi ayahnya pasti jenara n bayinya tambah sayang sama kmu.
Fahmi Ardiansyah
Thor buat Dhana seakan 2 masih membela Reval supaya Dhana TDK di curigai n secara langsung bisa selamatin jenara n bayinya.
Fahmi Ardiansyah
Waaah mereka cepat sekali menyerang Reval apakah jenara bisa di selamatkan atau tidak ya semoga dhana bisa berakting untuk membawa jenara pergi.
Fahmi Ardiansyah
semua pasti berjln sesuai rencana.dhana pasti berhasil melindungi jenara n anaknya.
Sri Yatun
jangan sampai gagal kalo gagal kasian Dhana sudah berusaha 4 th g ada hasil syukur syukur Revan meninggal atau cacat lah klan nya berpecah belah
Fahmi Ardiansyah
ya Krn Dhana sangat mengkhawatirkan jenara n bayinya.krn jenara hanya di manfaatin aja
Fahmi Ardiansyah
oooh Dhana benar benar mau mengambil jenara dari tangan Reval Krn jenara pantas bersanding dgn dhana.
Fahmi Ardiansyah
mereka pasti bersiap akan menyerang org itu n aku kira org itu Erlangga yg ingin menangani langsung.
Fahmi Ardiansyah
asal kamu tau klu reon bisa juga tertangkap oleh zion teman Dhana Krn coba2 melaporkan Dhana tentang identitasnya.
Fahmi Ardiansyah
👍👍👍👍 benar benar thenest kak author yg bikin cerita bikin pembacanya dah Dig dug.aku kira mereka di suruh Reval untuk membunuhnya eee trnyata teman pembasmi n pemberantas jual barang elegal 💪💪💪 terus kalian pasti berhasil.
Sri Yatun
wah pasti si siapa y yg menyamar JD tukang kafe,yg sllu dana datangin lupa namanya pasti dia
Fahmi Ardiansyah
empat orang itu berarti org itu empat sekawan pengawal Reval tu pasti
Fahmi Ardiansyah
kira kira kejutan apa ya yg di maksud argan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!