Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 — Aku Ingin Kamu Datang
Nara teringat Maya membantunya mengangkat kardus ke lantai dua. Mereka tertawa melihat foto lama, lalu Maya menawarkan kamar di rumahnya kalau studio ini terlalu sempit.
Saat itu Nara merasa dirinya sahabat paling buruk di dunia karena masih memikirkan Adrian.
Maya ternyata juga menyimpan sesuatu.
“Sudah puas bengongnya?” Dimas mengambil kunci mobil dari saku. “Bawa pakaian buat malam ini saja. Barang lain bisa kuambil besok.”
Nara menggeser koper ke samping tempat tidur.
“Kamu pulang sendiri.”
Dimas menatapnya. Beberapa saat kemudian ia memasukkan kembali kunci itu, pelan-pelan, dengan rahang mengeras.
“Aku masih mau menerima kamu setelah semua ini. Kamu mengerti nggak, betapa memalukannya tadi dengar istrinya menelepon? Dia menangis, aku harus diam saja karena yang dia ceritakan itu istriku.”
Nara menunduk. Ia bisa membayangkan percakapan itu. Ia juga bisa membayangkan Dimas mengulanginya setiap kali ia meminta keluar rumah, setiap kali ia tidak segera menjawab telepon.
“Aku tahu kamu malu. Aku juga tahu aku menyakiti kamu.”
“Kalau tahu, berhenti bikin tambah susah!”
Bentakannya membuat Nara tersentak. Dimas menunjuk koper lagi, tidak sabar karena barang itu belum juga dibawa.
Nara memegang sisi meja sampai tangannya berhenti gemetar.
“Aku mau mengakhiri pernikahan kita, Dim.”
Dimas tidak bergerak.
Selama beberapa detik, Nara justru berharap ia membentak lagi. Diamnya membuat ia ingin menarik ucapan itu, mengatakan mereka bisa membicarakannya nanti, seperti setiap kali melihat suaminya marah.
Tetapi ia sudah tahu seperti apa nanti. Ia akan pulang, meminta maaf, lalu menunggu izin untuk keluar dari rumahnya sendiri.
“Bagus,” kata Dimas akhirnya. “Kamu yang tidur dengan orang lain, aku yang dibuang.”
“Aku sudah mau pergi sebelum Sabtu itu.”
“Simpan buat ibumu. Aku ingin dengar dia setuju atau nggak kalau anaknya meninggalkan suami supaya bisa merebut suami teman.”
Nara merasa perutnya melilit. Ia belum sanggup membayangkan wajah ibunya.
Dimas melihatnya dan mendekat lagi.
“Masih bisa kita bereskan di rumah.”
Ia mengulurkan tangan. Nara memandang telapak yang terbuka itu, lalu menggeleng.
Wajah Dimas berubah.
“Jangan telepon aku sambil menangis waktu dia bosan.”
Ia berjalan ke pintu. Nara tidak mengikutinya. Baru setelah terdengar langkah menuruni tangga, ia duduk di sisi tempat tidur dan menutup mulut dengan tangan.
Ia ingin ibunya. Ia ingin seseorang memeluknya tanpa menanyakan bagaimana ia bisa melakukan sesuatu seburuk ini.
Dan orang yang paling ingin ia temui justru suami Maya.
* * *
Adrian mengangkat pada dering kedua.
“Dia sudah pergi?”
“Sudah.”
“Kamu nggak apa-apa?”
Nara ingin menjawab iya. Kebiasaan itu hampir membuatnya tersenyum sendiri, padahal pipinya masih basah.
“Kamu di mana?”
Adrian menyebut hotel yang baru ditempatinya. Tidak terlalu jauh; Nara pernah melewati restoran di sebelahnya.
Hotel. Ia mengulang kata itu dalam hati sebelum berani bertanya.
“Maya menyuruhmu pergi?”
“Iya. Malam ini.”
Jadi ia tidak meninggalkan rumah karena sudah memilih Nara.
Nara mengusap pipinya. Ia malu karena masih sempat berharap, padahal beberapa jam lalu ia melihat Maya menangis di ruangan ini.
“Aku ingin kamu datang,” katanya. “Tapi jangan ke studio. Aku mau keluar sebentar.”
Mereka memilih restoran dekat hotel. Nara berganti kaus, mencuci muka, lalu turun sebelum keberaniannya habis.
* * *
Adrian sudah menunggu ketika ia tiba. Ia bangkit dari kursi, tetapi Nara lebih dulu duduk di depannya. Ia takut menangis lagi kalau laki-laki itu menyentuhnya.
“Dimas menyuruhku pulang.”
Adrian menunggu sampai pelayan yang mengantar daftar menu menjauh.
“Kamu bilang apa?”
“Aku nggak mau. Aku bilang ingin mengakhiri pernikahan kami.”
Adrian menatapnya. Nara memperhatikan wajah itu, mencari sesuatu yang seharusnya tidak dituntutnya sekarang. Kelegaan. Janji serupa. Sedikit tanda bahwa ia tidak akan sendirian setelah melepaskan kehidupannya yang lama.
“Aku sudah ingin pergi waktu pindah ke studio,” tambahnya cepat, sebelum Adrian sempat menjawab.
Ia benci dirinya karena buru-buru membuat laki-laki itu merasa tidak dituntut.
Adrian meletakkan tangannya di meja, dekat tangan Nara.
“Aku tahu kamu nggak bisa terus tinggal di sana.”
Nara mengangguk. Kalimat itu baik. Adrian selalu tahu bagaimana membuatnya merasa dimengerti.
Tetapi malam ini ia menginginkan lebih dari itu.
“Maya menyuruhmu berhenti menemui aku?”
“Dia menyuruhku meneleponmu di depannya. Mengatakan semuanya selesai.”
Nara menatap tangannya yang masih berjarak beberapa sentimeter.
“Kenapa nggak kamu lakukan?”
“Karena aku masih ingin bersama kamu.”
Nara mengangkat wajah. Adrian tidak mengalihkan pandangan.
Ia tahu ingin belum berarti akan. Laki-laki itu masih mengenakan cincin, dan ia sendiri belum melepas miliknya. Namun dadanya tetap terasa hangat mendengar jawaban tersebut.
Ia menggeser tangan sampai jari mereka bersentuhan.
“Aku juga,” katanya, hampir tidak terdengar.
Adrian menggenggamnya. Nara membiarkannya, meskipun di meja sebelah ada seorang perempuan yang bisa melihat mereka.
Untuk beberapa menit, ia tidak mau membicarakan Dimas maupun Maya.
* * *
Sesudah makan, Adrian mengantarnya sampai mobil. Nara sudah membuka pintu ketika ia memanggil namanya.
“Kabari aku setelah sampai.”
Ia berhenti. Kalimat biasa itu membuatnya kembali teringat bagaimana tadi ia menunggu langkah Dimas naik ke studio.
Nara menutup pintu mobil dan mendekat.
Adrian langsung memeluknya. Ia membenamkan wajah di dada laki-laki itu, mencengkeram bagian belakang kemejanya. Kali ini ia tidak meminta maaf karena menangis.
“Sebentar saja,” bisiknya ketika Adrian sedikit melonggarkan pelukan.
“Aku masih di sini.”
Nara mengangguk, tetapi tangannya justru memegang lebih erat. Ia tidak ingin Adrian menjadi orang yang hanya bisa dipanggil saat hidupnya terasa buruk. Ia ingin bisa menghabiskan malam biasa dengannya. Mengeluh tentang pekerjaan, memilih makanan, pulang ke tempat yang sama.
Ia mengangkat wajah dan menciumnya lebih dulu.
Adrian membalas dengan satu tangan di pipinya. Tidak lama, tetapi cukup membuat Nara ingin menanyakan nomor kamarnya.
Ia menahan pertanyaan itu ketika mereka berpisah.
“Besok aku mau bicara dengan Maya.”
Adrian mengusap bekas air mata di bawah matanya.
“Dia mau bertemu?”
“Aku belum tanya.”
Nara tidak menceritakan telepon sebelum pameran. Ia ingin mendengarnya dari Maya sendiri, sebelum mengulang cerita Dimas kepada orang lain.
Di dalam mobil, ia menulis pesan sementara Adrian masih menunggu di samping pintu.
May, Dimas bilang lo menelepon dia sebelum pameran. Gue perlu tanya soal itu. Bisa ketemu besok?
Balasan datang sebelum Nara menyalakan mesin.
Jam sepuluh. Di studio lo. Gue juga masih punya pertanyaan.