Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.
"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."
Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silsilah yang Terkuak
Pernyataan Pak Hendra membuat Elara terpaku di tempatnya. Kepalanya mendadak serasa diputar paksa mengingat memori masa kecilnya.
"T-tapi, tunggu dulu, Pak," sela Elara dengan suara agak bergetar. Tangannya meremas bagian bawah gaunnya. "Jadi, Ayah yang membesarkan Ara dari kecil, yang selalu nemenin Ara main dan sudah meninggal beberapa tahun lalu, itu siapa?"
Pak Hendra menatap Elara dengan pandangan penuh rasa hormat dan kepedihan yang mendalam.
"Pria luar biasa yang kamu panggil Ayah itu adalah almarhum Herman, sahabat tercinta saya," jawab Pak Hendra lembut. "Puluhan tahun lalu, ketika Broto menggunakan seluruh kekuasannya untuk memburu saya dan Hastuti, saya terdesak. Saya tidak punya pilihan selain menghilang agar Broto tidak bisa menemukan kalian. Herman-lah yang pasang badan, menikahi ibumu secara sah untuk memberikan perlindungan serta nama bagi kamu yang baru lahir."
Mata Elara berkaca-kaca. Sepotong puzzle di kepalanya kini terpasang sempurna. Mengapa almarhum ayahnya dulu begitu protektif dan selalu berpesan agar Elara menyayangi ibunya melebihi apa pun, kini semuanya masuk akal.
"Jadi, Ayah Herman tahu kalau Ara bukan anak kandungnya?" bisik Elara lirih.
"Herman menyayangimu seperti darah dagingnya sendiri, Elara. Bahkan sebelum dia berpulang, dia sempat mengirimkan surat kepada saya, meminta saya muncul kembali jika keadaan sudah aman," tambah Pak Hendra.
Pria paruh baya itu kemudian mendorong map kulit tua di atas meja ke arah Arka dan Elara. "Di dalam map ini ada seluruh dokumen kepemilikan aset lama Valora yang dulu diubah secara ilegal oleh Broto, beserta bukti ancaman Broto pada Hastuti."
Arka membuka map tersebut, meneliti lembaran demi lembaran dengan ketelitian seorang pemimpin korporasi. Matanya membesar perlahan. "Ini bukan cuma bukti kejahatan Broto, tapi ini dokumen penyerahan hak waris atas nama Elara."
"Benar," tegas Pak Hendra. "Hastuti tidak pernah mencuri uang perusahaan seperti yang dituduhkan Broto selama puluhan tahun. Justru Broto yang merampas hak milik keluarga kalian. Dan yang paling penting ..." Pak Hendra merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah telepon genggam kecil berspesifikasi khusus. "Ibumu saat ini aman di sebuah rumah perlindungan di daerah Bogor. Dia menunggu panggilan darimu, Elara."
Dada Elara bergemuruh hebat. Dengan jemari bergetar, dia menerima ponsel yang disodorkan Pak Hendra. Arka menggenggam erat tangan kiri Elara, memberikan kekuatan moral yang sangat dibutuhkan istrinya saat ini.
Sambungan telepon terhubung. Hanya butuh dua kali nada dering sebelum suara wanita paruh baya yang sangat familiar menyahut dari seberang sana, dengan nada cemas.
"Halo? Hendra? Bagaimana? Anakku, Elara baik-baik saja, kan?"
Air mata yang ditahan Elara akhirnya menetes juga. "Ibu ..."
Hening seketika di seberang sana, disusul suara isolasi nafas yang tertahan dan isakan tangis yang pecah.
"Ara? Ini kamu, Nak? Ya Allah, Ara. Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu," tangis Ibu Hastuti pecah melintasi sambungan telepon. "Ibu terpaksa pura-pura tega dan matre. Ibu nggak punya cara lain buat jauhin kamu dari ancaman Pak Broto."
Elara mengusap air matanya kasar, lalu menyedot ingusnya seraya berteriak kecil ke ponsel. "Ibu tuh, ya! Kenapa nggak ngomong jujur dari awal, sih? Ara sampai mikir Ibu tega mau numbalin Ara sama aki-aki gatal model Pak Broto. Ara udah emosi jiwa tahu, enggak!"
Arka dan Pak Hendra yang mendengar amukan khas Elara langsung saling pandang, tak mampu menahan senyum geli di tengah suasana haru tersebut. Jiwa ceplos-ceplos Elara memang tidak bisa diredam. Bahkan dalam momen melodramatis sekalipun.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu takut kalau kamu tahu, kamu malah nekat dan itu bahaya," sahut Ibu Hastuti di sela tangisnya.
"Pokoknya besok Ara sama Mas Arka mau jemput Ibu di Bogor! Nggak ada alasan! Ibu harus siap-siap Ara introgasi sambil makan bakso beranak." omel Elara, walau masih meneteskan air mata haru.
Setelah menyelesaikan panggilan telepon yang penuh emosi dan tawa tipis itu, kesepakatan dibuat. Pak Hendra akan mendampingi tim hukum Arka untuk menyerahkan bukti-bukti baru ke pihak kepolisian, demi memperberat hukuman Pak Broto dan Clarissa.
Malam harinya, di kamar suite mewah kediaman Arka, suasana yang semula tegang sepanjang hari perlahan berubah menjadi hangat dan tenang.
Elara baru saja keluar dari kamar mandi dengan piyama longgar gambar kucing kesayangannya. Dia berjalan sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Lalu melihat Arka sedang berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta. Lelaki itu sudah berganti pakaian santai dengan kaus polos hitam.
"Mas Arka belum tidur?" tanya Elara, seraya melangkah mendekat.
Arka membalikkan badan, menyandarkan pinggulnya pada tepian meja. Tatapan matanya yang teduh mengunci pergerakan Elara.
"Saya menunggu istri saya," sahut Arka santai namun dengan nada suara yang dalam.
Elara menghentikan langkahnya, mendadak salah tingkah. "I-istri? Tadi perasaan manggilnya Elara?"
Arka melangkah mendekat perlahan. Mengikis jarak di antara mereka, hingga aroma wangi maskulin pria itu menyergap indra penciuman Elara. Arka mengulurkan tangan, mengambil alih handuk di kepala Elara, lantas mengusap rambut basah istrinya dengan sangat lembut.
"Bukankah tadi di mobil ada yang bilang betah jadi istri sah?" bisik Arka tepat di depan wajah Elara, dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman miring yang sangat menawan. "Dan, bukannya kamu sendiri yang menegaskan kalau status kita sudah permanen tanpa tanggal kedaluwarsa?"
Pipi Elara seketika merah padam seperti kepiting rebus. Gadis itu menelan ludah, merutuki mulut polosnya sendiri yang suka ceplos-ceplos di saat yang tidak tepat.
"Ya, ya, kan itu tadi mode refleks merayu suami sendiri, Mas!" cerocosnya gugup setengah mati. "Lagian Mas Arka jangan dekat-dekat gini, ah. Deg-degan Ara, bisa-bisa bikin gempa lokal!"
Arka terkekeh renyah. Sebuah tawa lepas yang membuat ketampanannya meningkat seratus persen. Lalu, tanpa ragu dia menarik tubuh Elara ke dalam pelukan hangatnya.
Elara tersentak. Ekspresi kebingungan di wahahnya tak bisa disembunyikan. "Duh, balas peluk aja kali, ya, biar adil? Lagian, kapan lagi dipeluk CEO tampan, eh suami, ding," batinnya.