Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 — Reruntuhan di Lembah Abu
Mereka meninggalkan Eldermere keesokan paginya, bukan menuju Grandis secara langsung, melainkan berbelok ke selatan menuju sebuah wilayah yang Seraphina sebut sebagai Lembah Abu—bekas medan perang kuno yang menurut ingatannya masih menyimpan banyak monster kuat dan sisa-sisa reruntuhan berharga.
"Seribu tahun lalu, ini adalah tempat pertempuran besar antara Kerajaan Valtherion dan sekelompok kultivator sesat," Seraphina menjelaskan sambil mereka menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui.
"Banyak yang mati di sini, dan energi kematian yang menumpuk menciptakan monster-monster unik yang tidak ada di tempat lain."
"Terdengar menyenangkan," Kael berkata dengan nada bersemangat yang membuat Seraphina menggeleng.
"Kau benar-benar menikmati bahaya, ya?"
"Bukan menikmati bahaya. Menikmati belajar sesuatu yang baru. Bahaya hanya kebetulan datang bersamanya."
Perjalanan ke Lembah Abu memakan waktu lima hari, melewati padang rumput, hutan kecil, dan akhirnya tanah tandus berwarna kelabu yang tampak seperti tidak pernah disentuh kehidupan sejak lama.
Tanahnya retak-retak, dan di sana-sini masih terlihat sisa-sisa senjata karatan yang mencuat dari tanah seperti tulang.
"Ini benar-benar bekas medan perang," gumam Kael, menatap sekeliling dengan campuran kagum dan ngeri.
"Berhati-hatilah," Seraphina memperingatkan. "Monster di sini bukan sekadar binatang buas. Beberapa adalah roh prajurit yang tidak bisa beristirahat, terperangkap oleh dendam dan penyesalan mereka sendiri."
Baru saja dia selesai bicara, tanah di depan mereka bergetar, dan sesosok makhluk transparan berwarna abu-abu kehijauan bangkit dari retakan tanah, mengenakan sisa-sisa zirah kuno dan menggenggam tombak yang setengah membusuk.
[Restless Spirit Warrior — Monster Tingkat Menengah.]
[Perkiraan kekuatan: Qi Gathering 2★.]
"Ah," Kael tersenyum, menghunus Black Iron Sword-nya. "Kelihatannya kita sudah sampai."
Roh itu menyerang tanpa suara, tombaknya menembus udara dengan kecepatan yang mengejutkan. Kael melompat mundur, merasakan hawa dingin menusuk saat ujung tombak melintas dekat wajahnya.
"Senjatanya bisa menembus pertahanan fisik biasa," Seraphina memperingatkan dari kejauhan, memilih untuk mengamati dulu daripada ikut campur. "Kau harus melawannya dengan Qi, bukan sekadar kekuatan otot."
"Aku belum tahu cara menggunakan Qi untuk menyerang," Kael berkata sambil menghindari tusukan kedua.
"Maka inilah saatnya belajar."
Kael menggertakkan gigi. Dia memang bisa merasakan Qi mengalir di dalam tubuhnya sejak mencapai Body Tempering, tetapi selama ini dia hanya menggunakannya secara pasif untuk memperkuat tubuh dan mempercepat regenerasi. Menyalurkannya ke senjata adalah hal yang berbeda.
Tombak roh itu menusuk lagi. Kael memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru: alih-alih hanya menghindar, dia memusatkan aliran Qi ke lengan dan pedangnya saat menangkis serangan itu.
*TRANG!*
Kali ini bilah pedangnya tidak menembus tombak seperti asap, melainkan benar-benar bertabrakan dengannya, memercikkan cahaya kebiruan di titik pertemuan.
[Adaptation terhadap penyaluran Qi: 3%.]
"Ternyata bisa," gumam Kael dengan mata berbinar.
Dia mengulanginya lagi dan lagi, setiap kali serangan roh itu datang, memaksa dirinya untuk memusatkan aliran Qi lebih cepat dan lebih tepat. Prosesnya menyakitkan—setiap kesalahan penyaluran membuat lengannya kesemutan hebat, kadang mati rasa sesaat—tetapi Absolute Regeneration memastikan efek itu tidak bertahan lama.
[Adaptation: 15%.]
[Adaptation: 29%.]
Roh prajurit itu mulai menyerang lebih agresif, seolah merasakan bahwa lawannya semakin mampu menandinginya. Tombaknya berputar cepat, menciptakan pola serangan yang rumit—tusukan, sabetan, lalu tusukan ganda yang nyaris mustahil dihindari sekaligus.
Kael terkena dua kali, luka tembus di bahu dan paha yang terasa jauh lebih dingin daripada luka fisik biasa, seperti bagian dari jiwanya ikut tergores.
"Luka roh tidak sembuh secepat luka fisik," Seraphina memperingatkan, kini mulai mendekat dengan raut khawatir. "Regenerasimu mungkin butuh waktu lebih lama untuk—"
"Aku baik-baik saja," Kael memotong, meski giginya bergemeletuk menahan dingin yang menjalar dari lukanya. Dia bisa merasakan Absolute Regeneration bekerja lebih keras dari biasanya, seolah harus mencari cara baru untuk menyembuhkan jenis luka yang belum pernah dia alami.
[Absolute Regeneration beradaptasi dengan kerusakan jiwa.]
[Proses pemulihan: 8% ... 21% ... 45%.]
"Bahkan regenerasiku belajar," Kael tertawa kecil di tengah rasa sakit, meski terdengar sedikit gila untuk tertawa dalam situasi seperti ini.
Dia memusatkan seluruh perhatiannya pada pola serangan lawan. Tusukan, sabetan, tusukan ganda. Tiga gerakan yang berulang, meski dengan variasi kecepatan yang membuatnya sulit diprediksi tanpa pengamatan cermat.
[Adaptation: 47%.]
[Adaptation: 63%.]
Ketika roh itu melakukan tusukan ganda untuk ketiga kalinya, Kael sudah siap. Dia memutar tubuhnya, membiarkan satu tusukan melewati sisi kirinya sementara dia menangkis yang kedua dengan Qi terpusat penuh di pedangnya, lalu membalas dengan tebasan diagonal yang menembus dada roh itu.
*SRAAASH!*
Cahaya kebiruan meledak dari titik tebasan, dan roh prajurit itu mengeluarkan jeritan tanpa suara yang menggetarkan udara sebelum akhirnya terurai menjadi partikel cahaya yang menghilang ke langit.
[Restless Spirit Warrior dikalahkan.]
[Adaptation terhadap penyaluran Qi: 78%.]
[Body Tempering 5★ — Progres: 40%.]
Kael jatuh berlutut, napasnya terengah-engah, tetapi senyum lebar terpasang di wajahnya. "Itu ... itu luar biasa."
Seraphina berlari mendekat, memeriksa lukanya dengan cermat. "Kau nekat sekali. Kalau tusukan roh itu mengenai jantungmu, bahkan regenerasimu mungkin tidak akan cukup cepat."
"Tapi tidak mengenai," Kael menjawab ringan, meski menghargai kekhawatiran di suara Seraphina. "Dan sekarang aku tahu cara menyalurkan Qi ke senjataku. Itu sepadan."
Seraphina menghela napas panjang, campuran frustrasi dan sesuatu yang lebih hangat yang tidak ingin dia akui. "Kau benar-benar akan membuatku beruban sebelum waktunya, kalau vampir bisa beruban."
"Kudengar kalian abadi. Jadi tidak perlu khawatir soal itu."
"Itu bukan intinya, Kael."
Mereka beristirahat sejenak di antara reruntuhan, dan sepanjang hari itu, dua Restless Spirit Warrior lain muncul dari kedalaman Lembah Abu, masing-masing memberikan pelajaran baru dan kemajuan yang signifikan pada penyaluran Qi Kael.
Menjelang senja, ketika mereka mendirikan perkemahan sederhana di antara reruntuhan tembok kuno, Kael menatap layar kemajuannya dengan puas.
[Body Tempering 5★ — Progres: 91%.]
[Teknik Penyaluran Qi Dasar — Pemula 34%.]
"Satu tingkat lagi menuju Qi Gathering," gumamnya.
"Dan setelah itu, dunia kultivasi yang sesungguhnya baru akan dimulai," Seraphina menambahkan, duduk di sampingnya sambil menatap bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit Lembah Abu. "Body Tempering hanyalah gerbang. Qi Gathering adalah langkah pertama yang sesungguhnya."
Kael menatap bintang-bintang yang sama, merasakan campuran lelah dan semangat yang aneh namun menyenangkan. "Kalau begitu, aku tidak sabar untuk melangkah lebih jauh."
Seraphina melirik ke arahnya, cahaya bintang memantul di matanya yang merah, dan untuk sesaat, ekspresinya melembut menjadi sesuatu yang hampir menyerupai kekaguman tulus.
"Aku juga," bisiknya pelan, cukup pelan hingga Kael hampir tidak mendengarnya.
---
Sepuluh hari di Lembah Abu mengubah Kael lebih dari yang dia sadari.
Setiap roh prajurit yang dia kalahkan mengajarkannya sesuatu yang baru: cara menyalurkan Qi lebih efisien, cara membaca niat lawan lewat pergerakan energi sebelum serangan fisik terjadi, cara bertahan dalam pertarungan berkepanjangan tanpa membiarkan rasa sakit mengganggu fokus.
Pada hari kesebelas, di tengah reruntuhan sebuah menara pengawas kuno yang separuh runtuh, Kael dan Seraphina menemukan sesuatu yang berbeda.
"Rasakan itu?" Seraphina berhenti tiba-tiba, matanya menyipit menatap ke arah puncak menara yang masih berdiri.
Kael memusatkan indranya, yang kini jauh lebih tajam dibanding beberapa minggu lalu. Ada sesuatu di sana—bukan sekadar monster biasa, tetapi konsentrasi energi yang jauh lebih padat, berdenyut dengan ritme yang hampir seperti detak jantung raksasa.
[Peringatan: Konsentrasi energi tinggi terdeteksi.]
[Sumber: Tidak diketahui.]
"Ini bukan roh prajurit biasa," Seraphina berkata pelan. "Ini terasa seperti ... jenderal. Salah satu pemimpin dari perang seribu tahun lalu."
Mereka mendaki puncak menara dengan hati-hati. Di sana, duduk bersila di tengah reruntuhan dengan mata tertutup, seorang sosok transparan mengenakan zirah jenderal lengkap dengan jubah compang-camping, pedang besar tergeletak di pangkuannya.
[General's Remnant — Roh Jenderal Kuno.]
[Perkiraan kekuatan: Spirit Core Realm.]
Kael menelan ludah. Itu dua tingkat penuh di atas kemampuannya saat ini.
Mata sosok itu terbuka perlahan, menyala biru pucat, dan menatap langsung ke arah mereka berdua.
"Pengganggu," suaranya bergema seperti berasal dari kejauhan yang sangat jauh. "Selama seribu tahun, tidak ada yang berani mendaki menara ini. Kalian berdua ... berani, atau bodoh."
"Mungkin sedikit dari keduanya," Kael menjawab, mencoba terdengar tenang meski tubuhnya menegang penuh waspada.
Roh jenderal itu bangkit perlahan, tinggi badannya hampir mencapai tiga meter dalam wujud transparannya. "Aku Jenderal Vorn Aldric, pemimpin pasukan ketujuh Kerajaan Valtherion dalam Perang Lembah Abu. Aku gugur di tempat ini, mempertahankan menara ini sampai napas terakhir, dan dendamku terhadap para pengkhianat yang meninggalkan pasukanku masih belum padam."
"Kedengarannya berat," Kael berkata jujur.
"Kau meremehkan penderitaan seribu tahun, bocah," geram Vorn, meski tidak ada kemarahan sungguhan dalam nadanya—lebih seperti kelelahan yang mendalam. "Tapi ... ada sesuatu yang berbeda darimu. Auramu ... aneh. Tidak seperti manusia biasa."
"Aku memang bukan manusia biasa," Kael mengakui.
Vorn menatapnya lama, matanya yang bercahaya menyipit seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam diri Kael. "Aku akan memberimu satu ujian, pengembara aneh. Kalahkan aku, dan aku akan mewariskan tekniknya kepadamu, agar setidaknya sisa kekuatanku tidak sia-sia terkubur di sini selamanya. Gagal, dan kau akan bergabung dengan pasukanku yang telah gugur."
"Kael, ini terlalu berbahaya," Seraphina memperingatkan cepat, tangannya sudah bersiap di dekat Crimson Moon Chalice miliknya. "Kekuatannya dua tingkat di atasmu."
"Aku tahu," Kael menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari sang jenderal. "Tapi aku juga tahu satu hal: aku tidak akan pernah menjadi lebih kuat kalau selalu memilih lawan yang aman."
Vorn mengangkat pedang besarnya, dan udara di sekitar menara bergetar hebat. "Bersiaplah."
Pertarungan itu berbeda dari apa pun yang pernah Kael alami sebelumnya. Setiap ayunan pedang Vorn membawa tekanan Qi yang begitu besar hingga bisa memotong udara menjadi gelombang tajam yang terlihat mata. Kael berkali-kali terlempar, tulang-tulangnya patah lebih sering dalam satu jam dibanding sepanjang minggu terakhir.
[Absolute Regeneration bekerja tanpa henti.]
[Peringatan: Cadangan energi regenerasi menipis.]
Peringatan itu membuat Kael waspada. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Elyndra, dia merasakan batas dari kemampuannya sendiri—bukan batas atas pertumbuhannya, tetapi batas kecepatan pemulihannya dalam satu pertarungan.
"Kau mulai melambat," Vorn berkata, meski nada suaranya tidak mengejek, lebih seperti mengamati dengan objektif. "Regenerasimu luar biasa, tetapi bukan tanpa batas dalam jangka pendek."
"Aku tahu," Kael menjawab sambil bangkit lagi, kali ini lebih pelan. "Tapi itu berarti aku harus berhenti mengandalkan regenerasi dan mulai benar-benar menghindar."
Dia mengubah pendekatannya. Alih-alih membiarkan dirinya terkena serangan lalu sembuh, dia mulai membaca pola Vorn dengan lebih cermat—setiap ayunan pedang besar itu memiliki jeda sepersekian detik sebelum gelombang Qi terlepas, waktu yang cukup untuk berpindah posisi jika Kael cukup cepat.
[Adaptation terhadap teknik Jenderal Vorn: 8%.]
Serangan demi serangan, Kael belajar membaca jeda itu semakin tepat. Dia mulai menghindar alih-alih menahan, menyimpan energi regenerasinya, dan sesekali menyerang balik ketika celah muncul.
[Adaptation: 19%.]
[Adaptation: 34%.]
Vorn mulai tersenyum tipis di tengah pertarungan, ekspresi yang aneh untuk sesosok roh yang telah lama mendendam. "Kau belajar cepat, bocah. Lebih cepat dari murid terbaikku dahulu."
"Aku punya guru yang baik," Kael menjawab sambil menghindari tebasan lain. "Meski gurunya sedikit menyeramkan."
Vorn tertawa, suara tawanya bergema aneh di antara reruntuhan. "Berani juga kau menghina jenderal yang sedang mencoba membunuhmu."
Pertarungan berlanjut hingga bulan mencapai puncak langit. Kael terus beradaptasi, terus belajar, sampai akhirnya dia bisa membaca pola serangan Vorn dengan cukup baik untuk mulai menemukan celah nyata, bukan sekadar menghindar.
[Adaptation: 61%.]
[Teknik Pedang Dasar — Mahir 47%.]
Ketika Vorn melancarkan serangan besar terakhirnya—tebasan vertikal penuh dengan seluruh sisa kekuatannya—Kael melihat celah yang telah lama dia cari: sepersekian detik ketika seluruh fokus Vorn terkumpul pada satu titik, meninggalkan sisi kanannya benar-benar terbuka.
Kael melesat, menyalurkan seluruh Qi yang tersisa ke pedangnya, dan menebas dari samping tepat ke titik lemah itu.
*BLAAAR!*
Ledakan cahaya biru dan merah bertabrakan, dan untuk sesaat dunia di sekitar mereka seolah membeku.
Ketika cahaya itu mereda, Vorn berdiri terhuyung, tubuh transparannya mulai retak seperti kaca. Namun alih-alih marah, wajahnya menunjukkan kepuasan yang tulus.
"Bagus," bisiknya. "Sangat bagus."
Roh jenderal itu mengangkat tangan, dan dari dadanya keluar bola cahaya kecil berwarna keemasan yang melayang perlahan ke arah Kael.
"Terimalah, Warisan Pedang Jenderal," ucap Vorn, suaranya semakin melemah.
"Teknikku, Tebasan Seribu Prajurit, kuwariskan kepadamu. Gunakan untuk melindungi mereka yang tidak bisa melindungi diri sendiri, bukan untuk kekuasaan semata."
"Aku janji," Kael menjawab serius, menerima bola cahaya itu ke dadanya.
[Warisan diterima: Tebasan Seribu Prajurit — Teknik Tingkat Tinggi.]
[Adaptation terhadap teknik Jenderal Vorn: 100%.]
[Body Tempering 5★ — Progres: 100%.]
[Tembus ke Qi Gathering 1★.]
Vorn tersenyum sekali lagi, tubuhnya mulai menghilang menjadi partikel cahaya yang melayang ke langit malam. "Akhirnya ... aku bisa beristirahat."
"Terima kasih, Jenderal," Kael membungkuk hormat.
"Jaga dirimu, bocah aneh," suara Vorn bergema untuk terakhir kalinya sebelum sepenuhnya menghilang.
"Dunia ini akan membutuhkan seseorang sepertimu, lebih dari yang kau sadari sekarang."
Kesunyian menyelimuti puncak menara. Kael berdiri diam, merasakan aliran Qi baru yang jauh lebih kuat mengalir di dalam tubuhnya sekarang setelah menembus Qi Gathering Realm.
Seraphina mendekat perlahan, menatapnya dengan campuran kekaguman dan kekhawatiran yang sudah menjadi ekspresi khasnya belakangan ini.
"Kau benar-benar tidak pernah berhenti mengejutkanku," katanya pelan.
Kael menoleh, tersenyum lelah namun puas. "Aku baru saja mulai."
Di bawah cahaya bulan purnama yang menyinari reruntuhan Lembah Abu, dua sosok itu berdiri berdampingan, satu langkah lebih dekat menuju dunia yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang bisa mereka bayangkan sebelumnya.