“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Baca itu!” Haikal melempar sebuah kertas ke wajah Tiara, istrinya.
Kertas itu jatuh ke lantai, Tiara menatap dengan dahi berkerut. Di atas kertas tertulis dengan jelas nama rumah sakit tempat mereka melakukan pemeriksaan kesehatan beberapa hari lalu. Tangannya perlahan meraih kertas itu. Namun sebelum sempat membacanya, suara Haikal terdengar dingin.
"Kau memang tidak bisa diandalkan!" Haikal menatap tajam. Tidak ada kelembutan yang biasanya terlihat ketika ia memandang Tiara.
“Apa ini, Mas?” tanya Tiara lirih sambil memungut kertas itu.
“Hasil pemeriksaan.”
Jantung Tiara berdegup lebih cepat. Ia mulai membaca baris demi baris. Semakin jauh matanya bergerak, semakin pucat wajahnya. Diagnosis pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan kesuburan pada dirinya. Sementara hasil pemeriksaan Haikal menunjukkan bahwa kondisi reproduksinya normal dan tidak ditemukan penyakit yang mengganggu kesuburan.
Tiara terdiam. Seisi ruangan seolah mendadak kehilangan suara.
“Aku...” Bibirnya bergetar. “Aku mandul?” Tiara tak percaya dengan kenyataan pahit itu.
Tidak ada jawaban dari Haikal. Jawaban itu sudah tertulis di tangannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Tiara.
Selama ini ia selalu bermimpi memiliki anak bersama Haikal. Ia membayangkan rumah mereka dipenuhi suara tawa seorang anak. Ia bahkan sering diam-diam memilih nama untuk calon buah hati mereka. Ternyata semua itu mungkin hanya akan menjadi angan-angan.
“Jadi selama ini...” suara Tiara tercekat. “Aku yang bermasalah?"
“Jangan berpura-pura bodoh!” bentak Rumi dari sofa.
Tiara tersentak. Ibu mertuanya sejak tadi duduk dengan wajah merah penuh kemarahan.
“Sudah bertahun-tahun Haikal menunggu keturunan darimu! Sekarang baru ketahuan ternyata kau tidak bisa memberikan anak!”
“Bu...” Haikal memperingatkan. Namun Rumi tidak peduli.
“Kenapa kau masih membelanya?” Rumi menunjuk Tiara dengan tatapan merendahkan. “Wanita seperti dia tidak berguna, Haikal!”
Tiara menundukkan kepala. Air matanya jatuh satu per satu.
Rumi semakin kejam. “Dari awal aku sudah bilang, jangan menikahi wanita dari keluarga miskin seperti dia. Tidak berpendidikan, tidak punya jabatan, mandul pula!”
“Cukup, Bu.”
“Tidak! Ibu tidak akan diam!” Rumi berdiri.
“Kau pengusaha kaya. Namamu dikenal banyak orang. Perusahaanmu besar. Apa yang kau dapat dari wanita seperti Tiara?”
Tiara menggigit bibir. Setiap perkataan itu terasa seperti pisau yang menusuk harga dirinya.
“Ceraikan dia,” kata Rumi tegas. “Kau masih muda. Cari wanita lain. Nikahi wanita yang bisa memberimu keturunan.”
Ruangan mendadak sunyi. Tiara mengusap air matanya. Dalam hati, ia sudah bersiap mendengar Haikal menyetujui perkataan ibunya. Bukankah itu alasan paling masuk akal? Seorang pria seperti Haikal tentu menginginkan keturunan. Terlebih lagi setelah mengetahui dirinya tidak mampu memberikan anak.
Namun ternyata, suara Haikal justru terdengar berbeda. “Aku tidak akan menceraikan Tiara.”
Tiara perlahan mengangkat kepala. Rumi menatap putranya dengan tidak percaya.
“Apa katamu?”
“Aku tidak akan menceraikannya.”
“Haikal!”
“Pernikahan bukan permainan, Bu,” ujar Haikal tegas. “Kami menikah bukan untuk bercerai hanya karena menghadapi masalah.”
Rumi menggeleng-gelengkan kepala. “Kau mau mengorbankan masa depanmu demi wanita mandul?”
“Tiara adalah istriku.” Haikal menatap Tiara. Untuk sesaat, tatapan itu membuat dada Tiara terasa hangat. “Aku mencintainya,” lanjut Haikal.
Air mata Tiara kembali jatuh. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu. Di tengah rasa hancur yang memenuhi dadanya, Haikal masih memilih bertahan.
Tiara mengusap pipinya. “Terima kasih.”
Haikal terdiam.
“Terima kasih karena tidak meninggalkanku,” lanjut Tiara dengan suara bergetar. “Aku tahu aku punya kekurangan. Aku tahu mungkin aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan.”
Ia tersenyum getir. “Tapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa kau benar-benar mencintaiku.”
Rumi mendengus. “Cinta tidak akan membuatnya memiliki anak!”
Haikal tidak menjawab.
Tiara justru melangkah mendekati suaminya. “Aku akan berusaha menerima semuanya,” katanya. “Kalau memang aku tidak bisa memiliki anak, mungkin kita bisa menjalani hidup berdua.”
Haikal memandangnya cukup lama. Kemudian pria itu menarik napas dalam-dalam.
“Aku memang tidak akan menceraikanmu, Tiara."
Senyum Tiara mengembang tipis.
Namun kalimat berikutnya membuat senyum itu perlahan menghilang.
“Tapi aku mau menikah lagi."
“Menikah lagi?" Tiara terkejut.
Haikal menatap lurus ke matanya. “Aku ingin kau mau menerima keinginanku untuk berpoligami.”
Tiara membeku. Dadanya terasa begitu sesak hingga terasa sulit untuk bernafas.
“Aku berjanji akan bersikap adil padamu, juga pada istri keduaku. Dalam hal apapun, materi, perhatian dan lain-lain." Lanjut Haikal.
Rumi justru tersenyum puas. Tak Masalah baginya Haikal tetap mempertahankan wanita tak berguna seperti Tiara, yang penting ia bisa memiliki menantu lain yang akan memberikannya banyak cucu dimasa depan.
“Haikal membutuhkan keturunan, Tiara. Kau tau dengan jelas hal itu kan? Jadi, jangan pernah berpikir buruk pada anakku karena dia memutuskan untuk berpoligami. Masih untung dia masih mau mempertahankan kau juga kan?" Sambung Rumi.
Tiara mundur selangkah.
“Aku tidak mau dimadu, Mas. Aku tidak sanggup berbagi cinta dengan wanita manapun."
"Mau tidak mau, kau harus mau menerima keputusanku ini, Tiara. Keputusanku sudah final, dan tidak bisa diganggu gugat."
Lalu Haikal mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Kau pasti bisa akur dengan wanita ini, karena kalian saling kenal dengan baik."
Tiara menatap foto tersebut, wajahnya seketika berubah pucat. Wanita yang ingin dinikahi oleh Haikal ternyata bukan orang asing bagi Tiara. Ternyata wanita itu adalah...
Bersambung....