Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kerusuhan kecil.
Ekor mata seorang pria melirik ke arah kerumunan orang yang sedang berjalan menuju lapangan utama kota untuk melihat atraksi demo terjun payung.
Disana ia melihat seorang pemuda nampak mencurigakan memasukan tangannya ke dalam saku dengan ekspresi wajah aneh.
'Dia laki?? Tapi kenapa gesture nya seperti perempuan?? Untuk apa dia mendekat pada garis larangan??'
"Mas... Cepetan donk..!!! Mana tissue nya." Tegur seorang ibu yang membeli dagangan darinya.
"Oiya Bu, maaf ya." Pria itu langsung memberikan tissue dari wadah kotak yang tergantung di leher.
"Berapa??"
"Ambil aja bu." Kata pria itu.
"Gratis???? Waahh.. Tumben ada pedagang baik. Eehh tong.. Lu tinggi bener dah, badannya bagus. Nape nggak jadi tentara bae, malah mangkal di mari." Celetuk ibu tersebut.
"Nggak rejeki jadi tentara, Bu. Takut, saya."
Pria berbaju loreng, berpangkat Prada yang berdiri tak jauh darinya pun menahan senyum.
Tak sengaja mata ibu itu tertuju pada sisi pinggang pria itu.
"Laahh.. Sekarang pedagang asongan juga bawa radio tangan??? Napa luu.. Iseng amat, mau cari lokasi yang ramean ya?? Ini mah dah rame bangaattt, tong."
Pria itu kelabakan menyimpan benda itu lebih rapat. "Eiya bu. Rejeki juga harus di jemput. Kita mah punya komunitas sendiri. SOANG.. Asongan saban Gang, gitu lah kira-kira." Celetuknya.
~
Bersembunyi di belang toilet gedung, pedagang asongan itu menyelipkan sesuatu pada pria berbaju loreng itu.
"Ijin, Dan. Tidak ada hal yang mencurigakan." Kata Prada Bono.
Plaaakk..
Pedagang asongan itu menepak kepala Prada Bono. "Coba ulangi..!!!!!! Kau mau penyamaran saya terbongkar??????" Ucapnya dengan gigi bergemeretak saking kesalnya.
"Siap salah, Dan." Bisiknya.
"Apaaaaa???" Mata pria tersebut sampai membulat besar.
"Iya, Afri_nald."
Barulah setelah itu pria itu melepasnya. Dia adalah Letnan Satu Dailago Pascal Wiradante, seorang anggota staff Intel di ibukota.
Sejatinya pria tersebut bernama lahir Afrinald. Nama 'DANTE' diberikan almarhum Bang Hernando untuk menyelamatkannya dari jaringan perdagangan bayi saat ia masih dalam kandungan, anak dari sepupunya yang terjerat kasus hukum.
"Jauh-jauh kau dari saya..!!!!" Bang Dante kemudian segera menjauh dan mencari sosok 'pria' yang tadi masuk pada area terlarang.
~
Mata Bang Dante memicing mengikuti langkah pria yang kini masuk dalam toilet pria yang sedang dalam perbaikan.
'Kalau dia bukan perusuh, dia tidak akan berani masuk toilet rusak, kan??'
Hati-hati sekali, Bang Dante menyelinap perlahan. Ia kemudian menyergap pria tersebut, namun celaka.... Dialah kini target yang sedang di sergap itu.
Sosok itu melompat, naik ke pahanya hingga roboh lalu menggulingkannya. Tak sulit bagi Bang Dante balas menyergap sosok tersebut. Ia menepak topinya dan membuka maskernya lalu membuka paksa jaketnya. Tak cukup dengan itu... Ia pun naik di atas kedua paha Bang Dante. Rambut hitam panjang itu terurai, menerpa wajahnya. Seketika gerakannya terhenti. Matanya membelalak tak percaya, di atas pahanya, bukan perusuh yang ia tangkap, melainkan seorang gadis.
Naas.. Kedua tangan Bang Dante parkir pada tempat tidak semestinya.
"S*it..!!" Bang Dante menarik tangannya.
Plaaaakk..
"Beraninya kau lakukan pelecehan. Kau mau apa disini??? Bukannya jualan." Pekik gadis itu.
"B******n, kau yang mau apa disini??? Ini toilet pria, rusak pula." Omel Bang Dante. " Turun....!!! Apa paha saya sangat nyaman?????"
"Iihh.. Nyaman apanya. Keras begitu." Celetuk gadis itu.
Seketika wajah Bang Dante memerah, tapi ia berusaha bersikap tenang dan santai.
"Jawab pertanyaan saya.. Siapa namamu, mau apa kau disini???"
"Mau tau aja, seperti petugas densus." Kata gadis itu melipat kedua tangan di depan dada dan sok pintar.
"Densus.. Kau pikir kita mau jinakin bom???Sensus kah maksudmu??"
"Hmm.. Itulah." Jawab gadis itu santai.
Bang Dante malas berdebat, ia mengambil HT dari pinggangnya. "Puma masuk.... Ada target."
"Siap, ijin.. Kasuari monitor." Jawab di seberang sana.
"Saya temukan ayam warna warni masuk toilet pria bagian barat. Amankan..!!" Kata Bang Dante.
...
Bang Dante menguarkan asap rokok. Rasanya sungguh jengkel menghadapi gadis di hadapannya itu. Gadis yang sejak tadi diam seribu bahasa tanpa mau memberikan penjelasan apapun.
"Kalau kau tau bakal dapat ayam warna warni semerepotkan ini, kenapa tidak kau pithes saja, minimal kau gencet, injak-injak dulu lah." Bisik Bang Jangkar.
Bang Dante mulai risih juga menghadapinya. "Sebenarnya apa maumu??" Seringainya khas.
"Aku nggak mau bicara dengan pedagang asongan sembarangan." Jawabnya.
Senyum geli Bang Jangkar mengembang namun ia masih memberi muka pada sahabatnya.
"Maaf ya, Mbak. Tapi hari ini ada demo resmi terjun payung. Kawasan ini harus steril. Boleh saya tau siapa nama mbaknya??" Potong Bang Jangkar karena situasi semakin memanas.
"Cherry."
"Apa alasan mbak nya bersembunyi tadi??" Tanya Bang Jangkar mencoba menengahi lagi.
"Bikin konten horror." Jawab gadis itu singkat.
"Konten horror??????" Bang Dante sampai mendelik mendengarnya. "Stress kau, ya??"
"Itu saja??"
"Sama mau tau wajah calon suamiku." Imbuh Cherry.
"Siapa lah pria tidak beruntung itu??" Gumam Bang Dante.
"Kau keluar saja, Dante. Ngopi sanaa..!! Jangan sampai malah yang begini ini jodohmu." Celetuk Bang Jangkar sambil menepuk pundak sahabatnya, tertawa renyah melihat wajah Dante yang entah kenapa tiba-tiba diam dan tak membalas sama sekali.
"Cckk.. kau ini." wajah Bang Dante mulai tak bersahabat. "Keluarkan identitasmu..!!" perintah Bang Dante pada Cherry.
Gadis itu seakan tidak mau tau hingga Bang Jangkar kembali turun tangan. "Boleh saya pinjam identitas nya??"
Tanpa banyak drama, Cherry langsung memberikannya dan Bang Jangkar segera menyerahkannya pada sahabatnya itu.
"Wijaya Kusuma?????? Darimana 'Cherry' nya??" selidik Bang Dante.
Lagi-lagi Cherry terdiam dan itu membuat Bang Dante geram.
"Aku mau di panggil Cherry atau jeruk, ya terserahku." kata gadis cantik itu.
"Kau itu lebih pantas di sebut nanas, manis asam buahnya tapi kelakuanmu sesuai dengan durimu." Gerutu Bang Dante. Ia lalu mengambil secarik kertas dari sakunya. "Tulis nomer HP mu..!!" perintahnya.
Bang Jangkar akhirnya berbalik badan sambil menahan tawa.
.
.
.
.
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara
ternyata udah adu tenaga dlm🤭🤭
ini si vivian...apa ga kapok yaaa...blm tau aja klo bang dante bertindak...ditumbuk jd bubuk😂