Up di jam yang sama 12.00 WIB
Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.
Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Balik Jendela Kaca London
Kehadiran Adnan di London mengubah apartemen kecil Martha menjadi tempat paling hangat di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Hari-hari berikutnya diisi dengan kebersamaan yang terasa begitu surealis bagi Martha. Mereka berjalan menyusuri tepian Sungai Thames yang diselimuti kabut tipis, menyesap kopi panas di kafe sudut kota yang bersejarah, dan menghabiskan malam dengan membaca draf naskah The Javanese Resonance bersama di dekat radiator.
Bagi Martha, ini adalah puncak kebahagiaan yang selama bertahun-tahun hanya ia impikan dalam cerita fiksi buatannya sendiri. Adnan adalah pria yang memperlakukan setiap detik kebersamaan mereka dengan kesabaran luar biasa. Pria Jawa itu mendengarkan setiap celotehan Martha tentang seluk-beluk kota London dengan mata yang memancarkan keteduhan mutlak.
Namun, indahnya musim dingin di luar jendela tidak serta-merta membekukan realitas pahit yang sejak lama bersembunyi di balik bayang-bayang.
Malam itu, lampu meja kerja Martha menyala temaram. Di atas meja tersaji dua cangkir teh kamomil yang mengepulkan uap hangat. Adnan duduk di kursi kayu berhadap-hadapan dengan Martha, sementara wanita itu tampak memandangi layar ponselnya dengan ekspresi gelisah yang sulit disembunyikan. Ibu jari Martha terus menggulir sebuah pesan panjang yang baru saja masuk dari ibunya, Lady Eleanor Giorgiana.
“Martha, ayahmu mendengar dari koleganya bahwa ada seorang pemuda asing asal Asia yang saat ini tinggal bersamamu di apartemen. Apa arti semua ini? Kita sudah merencanakan masa depanmu di Eropa, di lingkaran sosial yang sepadan dengan keluarga kita. Jangan mengambil keputusan gegabah yang akan menghancurkan masa depanmu sendiri.”
Kalimat-kalimat itu terasa seperti tusukan jarum es yang langsung menembus dada Martha. Ia menutup layar ponselnya dengan kasar, lalu mengembuskan napas panjang yang gemetar.
Adnan, dengan kepekaan yang luar biasa, langsung menyadari perubahan drastis pada gerak-gerik wanita di hadapannya. Ia mengulurkan tangan, perlahan menggenggam jemari Martha yang terasa dingin di atas meja.
"Pesan dari ibumu?" tanya Adnan pelan. Suaranya rendah, tenang, namun menyiratkan ketegasan seorang pria yang siap menghadapi kenyataan terburuk sekalipun.
Martha mendongak. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya yang berwarna biru-kehijauan. Ia merasa sesak, terjepit di antara dua dunia yang saling bertolak belakang.
"Mereka tahu, Adnan," bisik Martha parau, suaranya bergetar hebat. "Ayah dan ibuku tahu kau di sini. Dan... mereka tidak menyukainya. Ibuku mengirim pesan peringatan. Bagi mereka, latar belakang kita terlalu jauh berbeda. Keluargaku... mereka mengharapkan seseorang dari kalangan sosial yang sama, yang memahami tradisi barat, budaya bisnis, dan lingkaran pergaulan mereka. Mereka tidak akan pernah merestui hubungan kita."
Adnan tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas perlahan, lalu menatap lurus ke dalam bola mata Martha. Tidak ada kepanikan di wajah Adnan, tidak ada pula kilat kemarahan. Yang ada hanyalah ketenangan seorang pria Jawa yang telah mempersiapkan hatinya untuk menghadapi badai sejak hari pertama ia memutuskan melangkah jauh menyeberangi samudra.
"Apakah kau terkejut, Martha?" tanya Adnan balik dengan nada suara yang begitu lembut.
Martha menggelengkan kepala dengan cepat, air matanya tumpah membasahi pipi. "Tidak... bukan itu. Aku hanya takut, Adnan. Aku takut kehilanganmu, tapi di sisi lain, aku juga takut mengecewakan keluargaku. Di duniaku, restu orang tua adalah fondasi. Dan jika mereka menolakmu... aku tidak tahu bagaimana cara memperjuangkannya tanpa harus menghancurkan separuh hidupku."
Adnan merapatkan duduknya. Ia meraih kedua tangan Martha, membawanya ke dalam genggaman tangannya yang kokoh dan hangat. Sentuhan itu selalu berhasil meredakan gemuruh di dada wanita tersebut.
"Martha," panggil Adnan, menyebut nama itu dengan penuh penekanan yang menenangkan. "Sejak awal kita sepakat bahwa kisah kita bukan kisah yang mudah. Kita hidup di dua dunia yang berbeda—beda negara, beda adat, dan beda cara pandang. Mengharapkan restu dari orang tua yang dibesarkan dengan standar Eropa tanpa ada keraguan sedikit pun... itu adalah hal yang naif."
Martha tertegun, menatap pria di hadapannya dengan perasaan teriris. "Lalu... apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menyerah pada takdir yang dibuat oleh orang tuaku?"
Adnan tersenyum tipis. Senyuman itu tidak terlihat pesimistis, melainkan menyiratkan keteguhan jiwa yang luar biasa.
"Menyerah tidak pernah ada di dalam kamus hidup saya, Martha," ucap Adnan tegas, namun tetap lembut. "Orang tua Anda berhak merasa khawatir. Mereka melihat masa depan Anda dari kacamata pengalaman dan pelindungan mereka. Tugas kita bukan melawan kemarahan mereka, melainkan membuktikan bahwa apa yang kita miliki di sini—ketulusan, kesabaran, dan rasa hormat—jauh lebih kuat daripada sekat status sosial atau perbedaan budaya."
Adnan melepaskan salah satu tangannya sebentar untuk menyentuh lembut pipi Martha, menghapus jejak air mata wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Besok," lanjut Adnan dengan suara yang mantap, "saya ingin Anda mengatur pertemuan dengan orang tua Anda. Saya ingin menghadap mereka secara langsung. Sebagai seorang pria Jawa yang dibesarkan untuk menghormati orang tua, saya akan meminta izin mereka dengan cara yang paling terhormat—bukan dengan perdebatan, melainkan dengan ketulusan hati."
Jantung Martha berdegup kencang mendengar keberanian itu. Gagasan untuk mempertemukan Adnan dengan kedua orang tuanya—terutama ayahnya yang terkenal keras dan konservatif—terasa seperti berjalan menuju medan perang tanpa pelindung. Namun di sisi lain, ada rasa kagum yang membuncah di dadanya. Adnan bukan tipe pria yang lari dari masalah atau bersembunyi di balik layar ponsel. Ia adalah pria sejati yang berdiri tegak menghadapi badai.
"Kau serius, Adnan?" tanya Martha lirih, suaranya sarat akan kekhawatiran. "Kau tahu ayahku bisa saja bersikap sangat dingin atau bahkan mengusirmu dari rumah."
"Biar waktu dan ketulusan yang menjawabnya," jawab Adnan tenang, menggenggam kembali tangan Martha erat-erat. "Wong wani berjuang, bakal nemokake dalan." (Barang siapa yang berani berjuang, pasti akan menemukan jalannya).
Malam itu, di bawah langit London yang dipenuhi salju lebat, kecemasan belum sepenuhnya hilang dari dada Martha. Namun, tatapan mata teduh Adnan memberinya keberanian baru—keberanian untuk menulis bab paling sulit dalam kisah cinta mereka, sebuah ujian nyata apakah cinta beda dunia ini sanggup bertahan di hadapan dinding tebal restu orang tua.
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.
Salam paseduluran rek❤️❤️