NovelToon NovelToon
Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Tahta Dendam Lady Aurelia: Dari Selir Terbuang Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Klarina_za29

Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Berprovokasi di Hutan Istana

Dua hari menjelang Perayaan Musim Panas, tradisi tahunan Berburu Kerajaan digelar di kawasan Hutan Pinus Istana—sebuah area perburuan pribadi yang membentang luas di kaki pegunungan utara. Udara pagi terasa sangat dingin dan dipenuhi aroma embun basah serta daun pinus yang menyengat. Panji-panji emas berlogo serigala kerajaan berkibar megah di sepanjang pelataran kemah utama para bangsawan.

Para menteri, duke, dan selir-selir bergaun kain tebal berkumpul di sekitar panggung kehormatan. Raja Julian duduk di atas kuda hitam perkasa berselimut pelana kulit merah, mengenakan zirah ringan berlapis emas dengan busur besar melingkar di bahunya. Aura keberanian dan ketampanan sang Raja memikat perhatian seluruh tamu yang hadir.

Di samping panggung utama, Aurelia berdiri tegap dengan gaun penunggang kuda berpotongan tegap berwarna biru tua (navy) berlapis bulu rubah putih. Tangannya menggenggam busur panah kecil berukir perak—hadiah langsung yang dikirimkan oleh Julian pagi itu ke Pavilion Timur.

Dari seberang panggung, Lady Genevieve menatap Aurelia dengan senyuman anggun yang teramat palsu. Di samping Genevieve, beberapa bangsawan militer dari Faksi Vance tampak berbisik-bisik sembari memeriksa ikatan anak panah mereka.

"Hati-hati di dalam hutan, Lady Aurelia," sapa Genevieve seraya melangkah mendekat dengan kuda putihnya. "Hutan Pinus ini sangat luas dan liar. Sering kali ada binatang buas atau... kecelakaan tak terduga yang menimpa mereka yang terlalu percaya diri."

Aurelia mengusap surai kuda cokelatnya dengan tenang, menatap Genevieve dengan binar mata yang sedingin es. "Terima kasih atas peringatan Anda yang sangat penuh perhatian, Lady Genevieve. Namun biasanya, mereka yang berniat menyiapkan kecelakaan untuk orang lainlah yang justru terperosok ke dalam lubangnya sendiri."

Genevieve menyempitkan matanya, namun sebelum ia sempat membalas, terompet tanda dimulainya perburuan bergema nyaring memenuhi lembah.

"Perburuan dimulai!" seru Komandan Pengawal Utama.

Puluhan kuda berpacu melintasi padang rumput menuju rimbunnya Hutan Pinus. Julian memacu kuda hitamnya di barisan paling depan, dilindungi oleh puluhan prajurit zirah perak. Aurelia sengaja melambatkan laju kudanya, membiarkan rombongan besar melaju mendahuluinya hingga ia terpisah di area lereng timur hutan yang lebih sepi, ditemani oleh dua pengawal pribadi dan Marta yang menunggu di perbatasan luar.

Suasana hutan mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya ada gema gemertak ranting kering yang terinjak kaki kuda Aurelia dan desir angin malam yang berembus di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi.

Aurelia menarik tali kekang kudanya, menghentikan langkah di sebuah celah bukit kecil yang dikelilingi semak belukar tebal. Naluri kewaspadaannya yang terasah tajam sejak kehidupan masa lalu seketika berdesir hebat. Keheningan hutan ini terasa terlalu pekat—tidak ada kicauan burung atau pergerakan hewan liar.

"Nona Muda..." bisik pengawal zirah perak di sampingnya, tangannya bergerak cepat meraih gagang pedang di pinggangnya. "Ada yang tidak beres di area ini."

Sebelum pengawal itu selesai berbicara, desatan angin yang amat tajam membelah udara dari arah semak-semak tinggi!

SSSWT!

Sebuah anak panah bertali hitam meluncur dengan kecepatan mengerikan menuju dada Aurelia!

Dengan refleks cepat yang luar biasa, pengawal zirah perak memutar kudanya dan menyabetkan pedangnya ke udara. TAK! Anak panah itu terbelah dua dan jatuh ke tanah.

Namun dari balik kegelapan rimba pinus, lima sosok pria berpenutup muka hitam melompat keluar dengan belati dan busur terpasang di tangan! Ini bukan lagi gertakan politik; ini adalah percobaan pembunuhan langsung yang sengaja dirancang oleh Faksi Vance di tengah riuhnya acara berburu kerajaan!

"Lindungi Lady Aurelia!" teriak pengawal zirah perak seraya mencabut pedangnya dan memacu kuda menghantam dua pembunuh bayaran pertama. Dentang besi beradu nyaring bergema di tengah kesunyian hutan pinus, memicu jeritan kuda yang meringkik panik.

Aurelia tidak panik. Matanya yang dingin meneliti pergerakan para penyerang dengan presisi tinggi. Ia menarik kekang kudanya hingga berputar membelakangi bukit, menghindari jangkauan sabetan belati penyerang ketiga. Dengan gerakan luwes dan cepat, Aurelia meraih busur panah perak pemberian Julian di bahunya, memasang anak panah, dan menarik talinya hingga sejajar dengan pipi pualamnya.

SSSWT!

Anak panah Aurelia meluncur tegap dan menancap tepat di bahu pembunuh bayaran yang mencoba mendekatinya, membuat pria itu melolong kesakitan dan jatuh tersungkur di atas tanah basah.

Namun dari atas dahan pohon pinus tinggi di sebelah kirinya, seorang pemanah tersembunyi telah mengarahkan busurnya tepat ke leher Aurelia!

SSSWT!

Anak panah kedua meluncur deras. Pengawal pribadi Aurelia yang sedang bertarung sengit di bawah tidak sempat memotong jalurnya. Dalam hitungan detik yang amat kritis, Aurelia membanting tubuhnya ke samping di atas pelana kuda.

Anak panah hitam itu melintas hanya sepermili meter dari pipinya, menggores kulit leher jenjangnya secara tipis sebelum menancap dalam pada batang pohon pinus di belakangnya!

Darah segar berwarna merah pekat menetes perlahan dari goresan tipis di leher Aurelia, membasahi kerah bulu rubah putih pada gaunnya.

Di saat yang bersamaan, gema gemuruh derap kaki kuda yang amat kencang terdengar mendekat dari balik bukit. Julian memacu kuda hitamnya bagaikan badai, pedang kerajaannya terangkat tinggi dan berkilat mematikan di bawah sinar matahari!

"BERANI-BERANINYA KALIAN!" geram Julian dengan suara menggelegar bagaikan petir.

Hanya dalam hitungan detik, Julian menebas pembunuh bayaran di atas dahan dengan satu sabetan mematikan, sementara dua penyerang tersisa buru-buru melarikan diri ke dalam kegelapan rimba liar.

Julian melompat turun dari kudanya bahkan sebelum kudanya berhenti sepenuhnya. Wajah sang Raja yang biasanya sedingin es kini dipenuhi oleh amarah luar biasa dan ketakutan yang terselubung saat melihat ceceran darah di kerah gaun Aurelia.

"Aurelia!" panggil Julian, tangannya yang gemetar menyangga bahu Aurelia saat wanita itu turun dari kuda. "Kalian semua! Kejar para pembunuh itu dan bawa kepala mereka padaku!"

"Baik, Yang Mulia!" teriak para prajurit yang baru tiba, memacu kuda mereka melintasi rimba.

Julian meraih sapu tangan sutranya, menahannya pada goresan tipis di leher Aurelia. "Kau terluka... Tabib Kerajaan harus memeriksa ini sekarang juga!"

Namun, Aurelia menahan lengan Julian. Meskipun lehernya tergores dan berdarah, tidak ada sedikit pun riak ketakutan atau kesakitan di mata cokelat mewahnya. Aurelia memutar tubuhnya, berjalan mendekati batang pohon pinus di mana anak panah pembunuh tadi menancap dalam.

Dengan gerakan mantap, Aurelia mencabut anak panah bertali hitam itu dari kayu pinus. Ia menatap ujung mata panah yang terbalut cairan kental berwarna kebiruan yang menyengat.

"Racun Vipera..." bisik Aurelia dingin, menyunggingkan senyum memikat yang amat berbahaya.

Ia memutar tubuhnya menghadap Julian, mengacungkan anak panah beracun itu tepat di hadapan mata sang Raja.

~ To Be Continue

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!