NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Pagi itu langit mendung, awan kelabu menutupi matahari sepenuhnya. Aku datang lebih awal dari biasanya, mobil tuaku berhenti di tempat biasa, wajahnya masih tenang, senyum tipis tak hilang saat melihat Shella sudah menunggu di dekat pintu masuk.

"Pagi..." sapaku lembut.

Shella menatapku, hatinya terasa diremas. Matanya sembab, bekas menangis semalam. "Pagi..." suaranya hampir tak terdengar.

Belum sempat aku masuk ke ruangan, suara tajam memecah udara.

"Kamu..! Ikut saya sekarang..!"

Arif berdiri di lorong, wajahnya gelap, menunjuk ke arah wajahku. Orang-orang yang baru datang melirik, berhenti melangkah, takut-takut mendekat.

Di ruangannya, Arif membanting selembar kertas ke meja. "Brakkk...!!!"

"Lihat ini..! Laporan yang kamu kerjakan kemarin! Ada kesalahan di angka utama! Kamu tahu kerugiannya berapa?!" suaranya menggelegar.

Aku melangkah mendekat, menatap kertas itu. Angkanya jelas, rapi, benar. Dia tahu itu. Dia periksa berulang kali.

"Pak... angka ini benar. Saya sudah cek tiga kali." jawabku pelan

"Berani kamu membantah saya?!" Arif maju selangkah "Tap". wajahnya merah padam. "Kamu kira saya bodoh?! Kamu sengaja salahkan supaya terlihat saya yang salah..! Kamu ingin merusak nama baik saya di depan pimpinan..!" sanggah Arif tajam.

"Saya tidak begitu, Pak. Bapak bisa periksa ulang. Bisa minta tim keuangan periksa."

"Suruh mereka periksa? Supaya kamu terlihat hebat?!" Arif merobek kertas itu di depan wajahku. "Sreeeett..!" Potongan kertas jatuh ke lantai seperti kepingan harapan yang hancur.

"Kerjakan ulang..!" bentak Arif.

"Semua, Dari awal..! Dan hari ini sebelum kantor tutup harus selesai! Kalau tidak, kemas barangmu dan pergi!" lanjut Arif sembari menatap mataku penuh hinaan.

Aku diam. Menunduk pelan. "Baik, Pak. Saya kerjakan ulang."

Aku membungkuk lalu "Tap" mengambil potongan kertas itu, menyusunnya sebisanya, lalu berjalan keluar. "klik" Pintu tertutup pelan di belakangnya. Arif berdiri di tempat yang sama, napasnya memburu, tersenyum tipis — tujuannya bukan membenarkan angka. Tujuannya membuat diriku hancur.

Sepanjang hari, kekejaman itu terus berulang.

Arif datang ke mejaku setiap jam. Menjatuhkan pulpen, menumpahkan sedikit air ke atas berkas, menegur di depan rekan kerja sekecil apa pun kesalahan — bahkan hal yang bukan kesalahan.

"Kamu lambat sekali!"

"Kamu tidak paham instruksi dasar ya?!"

"Malu-maluin saja kamu di sini!" cerca Arif setiap Dia datang ke mejaku.

Setiap kata seperti cambuk. Aku tidak menjawab. Tidak menatap balik. Tidak membela diri. Hanya menunduk, memperbaiki, menyelesaikan, memulai lagi dari awal.

Dari mejanya, Shella melihat semuanya.

Dia melihat tangan yang gemetar saat mengetik. Melihat bagaimana aku menelan ludah setiap kali dimaki. Melihat aku membersihkan tumpahan air dengan sapu tangan sendiri, seolah itu salahnya. Melihatku tidak makan siang, tidak minum, tidak beranjak, hanya bekerja agar tidak diusir.

Hati Shella terasa seperti diremas sampai hancur.

Siang saat ruangan sepi sebentar, Shella mendekat ke mejaku. Membawa sepotong roti dan segelas air.

"Maxy..." suaranya bergetar. "Makanlah... sebentar saja."

Aku mendongak, tersenyum tipis, senyum yang menyakitkan. "Terima kasih, Shella. Nanti saja. Takut Pak Arif datang dan marah lagi." jawabku lembut.

"Biarkan dia!" Shella menahan isak tangis. "Dia tidak berhak memperlakukan kamu seperti ini! Kamu tidak salah apa-apa!" ucap Shella, airmatanya mulai menetes.

Aku menatapnya lembut, tangannya menyentuh lengan Shella pelan.

"Aku tahu. Tapi kalau aku melawan, dia makin marah. Nanti kamu juga kena. Aku mau kamu aman di sini." ucapku menjelaskan.

"Kamu... kamu membiarkan dirimu dihancurkan supaya aku aman?" Air mata Shella jatuh. "Itu tidak adil, Maxy! Tidak adil buat kamu!"

"Gak apa-apa. Aku kuat kok." Dia tersenyum lagi, senyum yang membuat dada Shella perih. "Selama kamu tidak kesal sama aku, itu sudah cukup."

Shella berlari kembali ke mejanya, menutup wajah dengan kedua tangan. Dia tidak tahan melihatnya. Tidak tahan melihat seseorang berkorban sendirian, sementara dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Sore makin gelap. Hujan turun deras, memukul kaca jendela. Arif kembali ke mejaku, menatap tumpukan berkas yang sudah selesai dikerjakan ulang — rapi, lengkap, benar.

"Masih ada kesalahan," ucapnya dingin, tanpa melihat isinya.

"Kerjakan lagi....!"

Aku mendongak, mataku lelah luar biasa.

"Pak... ini sudah benar. Saya sudah periksa berkali-kali." jawabku

"Kamu menentang perintah saya?!" Arif menatap tajam, suaranya ditinggikan agar terdengar seluruh ruangan. "Mau dipecat kamu?!"

Aku menunduk kembali. Bahu terasa turun pasrah. "Baik, Pak. Saya kerjakan lagi."

Saat Arif pergi, Shella berdiri gemetar di tempatnya. Dia melihat punggung Maxy yang membungkuk di atas meja, kedua tangan menutup wajah sejenak, seolah menahan rasa sakit yang tak terucap. Lalu perlahan, dia kembali bekerja.

Saat itulah pikiran itu muncul di kepala Shella — tajam, menyakitkan, tapi tak bisa diusir.

"Kalau kami menjauh... kalau kami tidak lagi berbicara, tidak lagi menunggu, tidak lagi terlihat bersama... mungkin Arif akan berhenti. Mungkin Maxy akan dibiarkan tenang. Mungkin dia tidak perlu dihancurkan setiap hari.."

"Kalau kehadiranku adalah alasan penderitaan ini... bukankah lebih baik aku pergi?"

Pikiran itu menusuk sampai ke tulang. Rasanya seperti merobek bagian paling dalam dari dirinya sendiri. Tapi melihat Maxy — lelah, dihina, dipaksa menyerah — dia tidak bisa membiarkan ini berlanjut.

Menjelang sore, saat hampir semua orang pulang, Shella mendekat lagi. Suasananya hening, hanya suara hujan di luar.

"Maxy..." panggilnya pelan.

Aku mendongak, mataku bercahaya lembut saat melihatnya. "Belum pulang, Shella?"

"Belum..." Dia menelan ludah, menahan benjolan yang menyakitkan di tenggorokan. "Maxy... jangan dekat-dekat aku lagi ya."

Maxy terdiam. Tangan yang memegang pulpen berhenti bergerak. "Apa?"

"Kita... kita sebaiknya menjaga jarak. Mulai besok." Suaranya bergetar hebat, setiap kata terasa seperti dipaksa keluar.

"Jangan tunggu aku. Jangan duduk sama aku. Jangan bicara padaku, kita bicara hanya kalau soal pekerjaan."

"Kenapa??.. Apa aku salah??" tanyaku lembut dengan wajah memucat perlahan. "Kenapa...

"Bukan kamu yang salah!" Shella memalingkan wajah agar tidak terlihat menangis. "Tapi karena aku... kamu diperlakukan seperti ini! Setiap kali kamu dekat sama aku, Pak Arif makin kejam! Kalau kita menjauh... mungkin dia berhenti!"

"Shella, aku gak takut sama dia..."

"Tapi aku takut..!" potong Shella menoleh kembali, air mata mengalir deras. "Aku takut kamu dipecat! Aku takut kamu pergi! Aku takut suatu hari kamu tidak tahan lagi dan menghilang! Dan semua itu gara-gara aku!"

"Tap" Aku berdiri pelan, mendekat. "Aku tidak akan pergi. Aku janji."

"Kamu tidak tahu itu!" Dia mundur selangkah, menjaga jarak yang baru saja dia sebutkan. "Dia manajer, Maxy. Dia bisa melakukan apa saja. Kalau aku terus bersamamu, dia akan menghancurkanmu pelan-pelan setiap hari. Dan aku tidak sanggup melihatnya."

"Biarkan aku yang menjauh!" suaranya meninggi, lalu melemah kembali. "Aku rela... asal kamu tidak disakiti lagi. Itu sudah cukup buatku."

Aku terdiam diam dengan mata berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Hanya kesedihan yang dalam, tenang, dan menyakitkan.

"Jadi..." suara pelan, bergetar, "kamu mau menjauh supaya aku aman?" tanyaKu lembut

"Iya." Shella menunduk, air mata menetes ke lantai. "Maafkan aku... maafkan aku tidak bisa berdiri di sampingmu."

"Kamu tidak perlu minta maaf." Aku tersenyum sedih, senyum yang mematahkan hati siapa pun yang melihatnya. "Aku mengerti. Kalau itu yang membuatmu tenang... aku akan lakukan."

Aku mengambil selembar kertas kecil, menulis sesuatu, lalu meletakkannya di tepi meja Shella.

Dia berjalan keluar, langkahnya pelan, berat, seolah membawa beban seluruh dunia. Di lorong yang sepi, dia berhenti, menutup mulut dengan tangan agar isaknya tidak terdengar.

Maafkan aku, Maxy... maafkan aku...

Hujan di luar makin deras. Langit menangis bersamanya.

 

DING!

PEMBERITAHUAN SISTEM

Hubungan dengan Maxy: 50% (-6%)

Hubungan dengan Roxy: 51% (Tetap)

Sumber: Bukan berkurang karena tidak sayang. Tapi karena Shella memaksa diri menjauh demi melindungi. Rasa cinta tidak hilang — justru makin dalam, tersembunyi di balik ketakutan dan pengorbanan. Angka turun, tapi hati tetap tinggal.

 

Di dalam kantor yang makin gelap, Maxy sendirian di meja kerjanya. Dia tidak menangis. Dia hanya menatap pintu yang baru saja ditutup, lalu kembali menunduk bekerja. Setiap gerakannya pelan, berat, seolah ada bagian dari dirinya yang ikut pergi bersama Shella.

Dan di jalan pulang, di bawah hujan yang membasahi segalanya, Shella berjalan sendirian, kertas itu digenggam erat di dada, air mata bercampur air hujan, berdoa agar keputusan yang menyakitkan ini menyelamatkan orang yang paling tulus pernah dia kenal.

 "Arif, kamu sudah keterlaluan.. Liat.. Besok apa yang akan terjadi padamu..." gumamku penuh dendam..

1
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!