NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Cermin besar di ruang ganti itu memantulkan sesosok wanita dengan gaun malam berwarna krem yang anggun.

Vanessa menyentuh gaun rancangan desainer ternama itu dengan ujung jarinya yang dingin. Malam ini adalah pesta ulang tahun perusahaan Carlton Group, dan sebagai tunangan resmi Jordan Carlton, Vanessa telah menghabiskan waktu lima jam untuk memastikan penampilannya tampak sempurna.

Tidak ada sehelai rambut pun yang boleh keluar dari tatanannya. Tidak ada cacat yang boleh terlihat di hadapan publik.

Sebab, bagi Jordan, Vanessa bukanlah seorang manusia dengan perasaan. Vanessa hanyalah sebuah barang pameran, sebuah trofi dari perjodohan paksa yang wajib tampil tanpa celah.

"Kenapa kau lama sekali?"

Suara berat yang dingin itu memecah kesunyian. Jordan berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas hitam yang dipotong sangat rapi.

Matanya menatap Vanessa dari atas ke bawah, bukan dengan binar kagum, melainkan dengan penilaian yang kritis dan menghakimi.

"Maaf, Jordan. Aku hanya memastikan gaun ini tidak..."

"Ganti gaunmu," potong Jordan tanpa ragu, suaranya tajam tanpa intonasi.

Vanessa terpaku. "Apa? Tapi pesta akan dimulai tiga puluh menit lagi. Gaun ini yang kau pilihkan minggu lalu."

Jordan berjalan mendekat, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Yessika baru saja memberi tahu bahwa dia mengenakan warna yang senada. Aku tidak ingin melihatmu menyaingi warnanya atau membuat Yessika merasa tidak nyaman di pesta pertamanya bersama keluarga Carlton."

Napas Vanessa tercekat. Yessika. Nama itu lagi. Anak haram dari ayahnya sendiri, seorang wanita yang tiba-tiba hadir dua tahun lalu dan dengan cepat merebut perhatian semua orang.

"Jordan, ini pesta resmi perusahaanmu. Aku adalah tunangan resmimu," ujar Vanessa, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.

"Kenapa aku yang harus mengalah hanya karena Yessika memilih warna yang sama dengan gaunku?"

Jordan maju satu langkah, menatap Vanessa dengan tatapan merendahkan.

"Vanessa, jangan mulai bersikap egois. Yessika baru saja sembuh dari sakitnya, dan ayahmu meminta aku untuk menjaganya malam ini. Kau sudah memiliki segalanya. Status, nama besar, dan posisi sebagai calon istriku. Bisakah kau mengalah sedikit saja untuk adikmu?"

Vanessa mengepalkan tangannya di balik lipatan kain gaunnya. Kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan.

"Baiklah," ucap Vanessa halus, menurunkan pandangannya. "Aku akan menggantinya."

Jordan tersenyum tipis, Sebuah senyuman penuh kemenangan yang terbiasa ia dapatkan dari Vanessa.

"Bagus. Jangan buat aku malu malam ini."

Setelah Jordan pergi, Vanessa mengganti gaunnya dengan gaun hitam polos yang terkesan buru-buru. Dengan langkah perlahan, ia berjalan menyusuri koridor lantai atas hotel menuju aula pesta.

Namun, langkahnya terhenti saat melewati sebuah ruangan VIP yang pintunya tidak tertutup rapat.

Suara desahan napas yang berat, hela napas terengah-engah, dan gesekan kain terdengar samar dari dalam.

Vanessa membeku. Rasa curiga merayapi benaknya, memaksanya untuk melangkah mendekat dan mengintip melalui celah pintu yang terbuka sedikit.

Pemandangan di dalam ruangan itu menghantam dada Vanessa bagaikan godam berat.

Di atas sofa kulit berukuran besar, Jordan dan Yessika sedang beradu peluh, tenggelam dalam keintiman yang liar dan penuh gairah.

Pakaian mereka acak-acakan. Jordan memeluk pinggang Yessika dengan erat, sementara Yessika menyandarkan kepalanya di bahu Jordan dengan napas memburu.

Di tengah pergulatan dosa itu, mata Yessika tiba-tiba terbuka. Tatapannya mengarah lurus ke celah pintu, tepat ke arah mata Vanessa.

Bukannya terkejut atau panik, bibir Yessika justru mengukir senyuman mengejek yang sangat tipis. Dengan sengaja, Yessika makin mengeratkan pelukannya di leher Jordan, mengelus rambut pria itu dengan penuh kepemilikan.

"Mmm... Jordan..." bisik Yessika dengan suara manja yang sengaja dikencangkan.

"Aku penasaran... sebenarnya, siapa yang lebih nikmat di atas ranjang? Aku... atau Kakakku, Vanessa?"

Jordan terkekeh rendah, suara napasnya yang berat terdengar begitu jelas di telinga Vanessa yang berdiri mematung di luar.

Pria itu mendaratkan ciuman kasar di leher Yessika sebelum menjawab tanpa ragu, "Tentu saja kau, Yessika. Kenapa kau malah membandingkan dirimu dengan wanita kaku seperti dia?"

"Tapi dia tunanganmu," goda Yessika sambil mengusap dada Jordan. "Masa kau tidak pernah menyentuhnya sama sekali?"

"Aku belum pernah menyentuhnya dan sama sekali tidak tertarik padanya," sahut Jordan dingin, suaranya penolakannya begitu lugas.

"Vanessa itu membosankan. Kalau bukan karena perjodohan konyol keluarga, aku tidak akan pernah sudi meliriknya."

Yessika mendesah puas, matanya yang tajam tetap melirik ke arah celah pintu, menikmati setiap detik kehancuran di wajah Vanessa.

"Tapi sebentar lagi aku juga harus dijodohkan dengan Alessio, kan? Ayahmu sudah merencanakannya..."

Jordan mendengus kasar. Matanya menyipit penuh keangkuhan.

"Tenang saja. Begitu aku resmi diangkat menjadi Kepala Keluarga Carlton, aku pasti akan membatalkan pernikahanmu dengan Alessio. Aku tidak akan membiarkan anak tak berguna seperti Alessio menyentuhmu. Kau akan tetap bersamaku. Aku memang akan menjadikanmu simpananku, tapi posisimu di hatiku dan di rumah Carlton akan jauh lebih tinggi dibanding Vanessa. Dia hanya akan jadi formalitas, sedangkan kau yang akan memegang kekuasaan sejati."

"Benarkah? Janji ya?" Yessika tertawa manja, menyembunyikan wajahnya di dada Jordan saat peraduan peluh mereka berlanjut kembali.

Di balik pintu, Vanessa berdiri kaku. Dingin menyergap seluruh tubuhnya hingga ke tulang.

Tangannya yang memegang tepi dinding bergetar hebat, menahan gejolak emosi dan rasa jijik yang luar biasa. Ia meremas gaun hitamnya kuat-kuat, berusaha sekuat tenaga untuk tidak berteriak atau menerobos masuk.

Vanessa membalikkan badan dan melangkah mundur secara perlahan. Setiap langkahnya terasa sangat berat.

Ia menelan seluruh kepahitan itu dalam diam, memaksa jiwanya untuk tetap tenang dan bersikap sebiasa mungkin ketika berjalan menuju aula pesta.

Ia tahu betul realitas hidupnya saat ini. Ia tidak memiliki kemampuan apa pun untuk melancarkan perlawanan terbuka.

Jika malam ini ia mengamuk, membatalkan perjodohan, atau membongkar perselingkuhan itu, tidak ada seorang pun yang akan berdiri di sampingnya.

Keluarga Carlton yang berkuasa pasti akan membungkamnya demi menjaga nama baik. Dan yang paling parah, ayahnya sendiri, Benny Grey, pasti akan langsung menyalahkannya dan memaksa Vanessa menelan penghinaan itu bulat-bulat.

Vanessa bahkan tidak memiliki uang yang cukup untuk melarikan diri dan memulai hidup baru.

Pikiran Vanessa melayang pada kenangan pahit beberapa bulan terakhir. Benny Grey, ayahnya yang serakah, tidak pernah memberinya uang yang cukup sejak ibu kandungnya meninggal.

Pria itu memangkas seluruh akses finansial Vanessa demi memanjakan Yessika.

Bahkan uang tunjangan bulanan yang seharusnya dikirimkan oleh keluarga Carlton untuk kebutuhan Vanessa sebagai calon menantu, selalu direbut oleh Jordan.

“Kau tidak butuh uang sebanyak ini, Vanessa,” kata Jordan waktu itu dengan nada meremehkan saat memblokir kartu kreditnya dan menyerahkan amplop jatah bulanan itu kepada Yessika.

“Kau hanya tinggal di rumah, tidak ada pergaulan penting. Yessika lebih membutuhkan uang ini untuk pengobatan dan gaun-gaun mewahnya agar tidak memalukan nama keluarga Grey.”

Vanessa terkurung sepenuhnya dalam sangkar emas tanpa kunci. Tanpa uang, tanpa dukungan keluarga, dan tanpa kekuasaan.

Namun, di tengah keputusasaan yang membakar dadanya, sebuah percakapan samar yang tak sengaja ia dengar di koridor kediaman Carlton beberapa hari lalu mendadak melintas di kepalanya.

“Tuan Muda Kedua, Alessio Carlton... dikabarkan akan kembali dari luar negeri dalam beberapa hari ini.”

Alessio Carlton.

Anak kedua keluarga Carlton yang dibuang dan diasingkan ke luar negeri selama sepuluh tahun terakhir. Pria yang selalu dicap sebagai produk gagal, tidak berguna, dan tidak pernah diakui oleh keluarga Carlton sendiri.

Sebuah senyuman dingin dan sarat akan bahaya perlahan terukir di bibir Vanessa. Matanya yang tadinya penuh kesedihan kini memancarkan kilatan tekad yang tajam.

Rencana gila mulai terbentuk di dalam benaknya.

Bukankah syarat perjodohan keluarga Grey dan Carlton hanya menyatakan bahwa aku harus menikah dengan 'putra keluarga Carlton'? pikir Vanessa. Siapa pun calonnya, bukankah itu sama saja?

Lagi pula, Vanessa tahu sebuah rahasia besar yang disembunyikan rapat-rapat oleh keluarga Carlton. Sebuah rahasia yang ia ketahui dari mendiang ibunya.

Semua orang mengira Jordan adalah putra mahkota yang sempurna, sementara Alessio adalah anak terbuang. Padahal kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.

Alessio adalah satu-satunya putra sah yang memiliki darah murni keluarga Carlton.

Sementara Jordan? Jordan hanyalah anak haram hasil perselingkuhan Ayah Jordan dengan seorang wanita penghibur. Jordan baru dijemput pulang dan diakui sebagai anak pertama setelah ibu kandung Alessio meninggal dunia secara mendadak akibat keracunan yang penuh teka-teki.

Jordan mengira dia adalah raja yang tak tertandingi. Dia mengira bisa menginjak-injak Vanessa dan menjadikan Yessika ratunya di atas penderitaan Vanessa.

"Kau ingin menjadikan Yessika simpananmu dan membuangku setelah mengambil segalanya, Jordan?" bisik Vanessa sangat pelan saat kakinya menyentuh anak tangga menuju aula pesta yang megah.

Matanya menatap lurus ke arah kerumunan lampu kristal di bawah sana.

"Kalau begitu, aku akan memastikan anak haram sepertimu akan kehilangan seluruh takhta yang sangat kau banggakan. Dan aku akan menyerahkannya langsung ke tangan musuh abadimu... Alessio."

1
ryuka
bagusss vanesaa.. mati kutu kan kamu yesika
Mundri Astuti
kalo sebaliknya berarti Jordan yg merat 😛
Titi Liana
suka
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
Tri Handayani
seru semakin seru, up lagi donk kak
rurry Irianty
KK outhor up banyak² yaaa
Muft Smoker
aaaaaa gregeeet ,,

lanjuut kak ,,
ryuka
adduuhhh alesioo semoga rencana kamu berhasil ya
Tri Handayani
up lagi kpn thor🤭🤭🤭
ryuka: 🤭🤭🤭🫠🫠 ku tunggu up nya thoorrr
total 1 replies
Muft Smoker
kata aq mh udh aj pergi Vanessa toh klo 22 ny gx nikah ma km ,, 22 ny juga gx bakal dpat tahta yg mereka ingin kan ,,
Allea
ahh percuma vanes ngancam2 si arthur😅
Ayu Padi
jgn mau Vanessa
Mundri Astuti
kayanya ada sesuatu yg disembunyikan Arthur y, apa Jordan anak Arthur sama emaknya Kunti yak🤔
ryuka
gilaaa.. gillaaaa.. bpak nya gila
Muft Smoker
mungkin tuan Arthur bisa tutup mata dg kelakuan Jordan,, tp tanpa dsadari ia telah membangunkan singa yg sdang tidur ,,
Muft Smoker
ke tunggu peperangan tu terjadi ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏
Muft Smoker
karena hanya aq yg peduli dg harta mu ,,, hrus ny km ngomong ny bgtu yessika ,, 😏😏😏😏
Mundri Astuti
makin seru ini
ryuka
manttaaabbb alesiooo 🔥🔥🔥
Tri Handayani
ku tunggu up selanjutnya ka😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!