NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:175.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi yang sama : 01

Setting, awal tahun 2000-an

...----------------...

“Bu, apa gak bisa kita di kota Kabupaten saja?” Biar Ayah yang sebulan sekali datang kemari?” tanya anak laki-laki berumur 11 tahun.

Wanita yang sedang melipat pakaian lalu dimasukkan ke dalam kardus, menghentikan kegiatannya. Ia menatap hangat putra sulungnya bernama Guntur Aryan.

“Guntur, kasihan Ayah sendirian ditempat baru. Dia pasti menahan rindu. Kangen hidup bareng kita,” ucapnya lembut memberi pengertian.

Anak laki-laki tadi balas menatap wajah ibunya yang paling cantik. Menurutnya. “Tapi aku gak suka tempat baru, terus harus nyari temen lagi, pindah sekolah juga.”

Hamima menutup atas kardus. Ia dekati anak laki-lakinya yang memiliki sifat pendiam, sedikit sulit bersosialisasi. Dipeluknya bahu sempit sampai kepala Guntur bersandar pada dada. “Ada Ibu, dan adikmu Pujiara. Kalau sekiranya kamu kesulitan mencari teman, jangan dipaksakan, pelan-pelan saja, Nak.”

Dalam dekapan hangat cinta pertamanya, suara Guntur terdengar parau, ia tengah menahan tangis. “Apa kita gak bisa pindah ke desa nenek dan kakek saja, Bu? Kan, disana juga dekat dengan sekolah dasar.”

“Ya gak bisa, Guntur. Ayah pindah tugas mengajarnya bukan di desa nenek dan kakekmu, Nak.” Hamima mengurai pelukan mereka, meletakkan tangan di pundak putranya. “Semua akan baik-baik saja, awalnya memang sedikit tidak nyaman. Setelah nanti kamu bisa beradaptasi, Ibu yakin … Guntur langsung betah, enggan pindah lagi.”

Sepasang mata berkaca-kaca menatap ragu. Ia pun mengungkapkan kegundahan hatinya. Hanya kepada sang ibu dirinya mau bercerita apa saja.

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Sejenak Hamima termangu, lalu mencoba menyalurkan energi positif lewat sorot mata penuh percaya diri tanpa menyinggung perasaan sensitif Guntur. “Nak, gak semua mimpi menjadi kenyataan, bisa jadi hanya bunga tidur, efek kamu kelelahan sebab seharian bermain kejar-kejaran bersama temanmu.”

Jika sudah seperti ini, anak beranjak remaja tersebut tidak lagi mau berbicara. Dia mengangguk pelan, kembali mengemasi buku-buku sekolah kedalam kardus.

“Bu, Buuu ….” celoteh bayi perempuan yang sudah bosan bermain memukul lantai menggunakan sendok, menarik atensi wanita memiliki fisik sedikit gemuk karena masih masa menyusui.

“Adek Ara bosan ya? Main sama mas Guntur dulu, Nak. Ibu mau beresin pakaian kalian, biar besok pas mobil yang dikirim Ayah untuk jemput kita tiba, bisa langsung berangkat.” Dielusnya pelan rambut lembut kepala si bungsu yang baru berumur jalan 11 bulan.

Guntur langsung meninggalkan pekerjaannya, ia menggendong bayi berbadan berisi, memakai rok tutu dan kaos singlet. Membawa Ara bermain di teras.

Tinggallah Hamima atau sering dipanggil Mima. Hembusan napas terasa berat, ia pandangi ruang tengah hunian sudah belasan tahun ditinggali.

“Sebenarnya Ibu juga enggan pindah dari sini Guntur. Tapi apa mau dikata, ayahmu dipindahtugaskan ke pelosok desa, dan disanalah kini tempatnya mengabdi sebagai guru olahraga,” gumamnya pelan.

Suami Hamima — Galih Aryan, adalah seorang guru pegawai negeri sipil. Tiga bulan yang lalu beliau sudah lebih dulu pindah ke tempat baru. Memastikan apa di sana nyaman serta aman untuk membawa keluarganya tinggal.

Dua jam kemudian, kardus-kardus sudah diisolasi bagian penutup, bertumpuk rapi di dekat pintu utama rumah. Tidak banyak barang yang dibawa, sebab hunian baru mereka di desa sudah lengkap dengan perabotannya.

Malam pun semakin beranjak, Hamima dan kedua anaknya berbaring di ranjang kayu berukuran besar.

Esok, mereka akan memulai kehidupan baru ditempat asing, dan rumah ini berpindah kepemilikan. Telah laku dijual.

Hihihihi … hihihihi ….

“Ibu tolong, Bu! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!”

Akhh!

Heuuha heuhaa ….

“Guntur!” Mima tersentak dari tidurnya, langsung terduduk, dan merasa pusing, kepalanya berdenyut-denyut.

Wajah Guntur memucat, berkeringat, dan badannya menggigil. Tatapan kosong dengan napas tersengal-sengal.

Lengkingan tangis Pujiara memenuhi kamar, memecah keheningan malam yang sunyi.

“Kenapa, Nak? Kamu mimpi itu lagi?” Mima bergeser mendekati putra sulungnya sambil menggendong si bungsu.

“I—ya, Bu. Ada suara perempuan tertawa keras, mengejarku di lorong bercahaya temaram, dindingnya banyak bercak darah segar,” suaranya bergetar dengan mata bergerak liar memandangi kamar, ingin memastikan bahwa tadi hanya mimpi, bukan nyata.

Hamima menyisir rambut lembab putranya menggunakan jemari, lalu mengusap wajah berkeringat, ia tarik pelan belakang leher Guntur, membawanya ke dalam dekapan menenangkan.

“Jangan dipikirkan, cobalah anggap cuma mimpi. Ayo tidur lagi, Nak. Ibu jaga kamu sampai terlelap.”

“Iya, Bu.” Dia menarik diri, lalu berbaring lagi. Memaksakan mata untuk terpejam meski bayang-bayang wanita berjubah putih, rambut terurai menyapu lantai, menari-nari dalam kepala.

Sambil menyusui Pujiara, Hamima menepuk paha putranya yang tertutup selimut. Hatinya gundah, ini bukan pertama kali Guntur bermimpi buruk. Dalam dua bulan terakhir, sudah tak terhitung lagi.

Malam semakin larut, Mima melihat jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Ia pun meletakkan putrinya di atas kasur, lalu memperhatikan sang putra yang sudah terlelap lagi. Dikecupnya kening permata hatinya secara bergantian, kemudian mencoba untuk tertidur.

***

Keesokan harinya. Pada pukul sepuluh pagi, mobil pickup kiriman dari desa yang disewa suaminya sudah tiba.

Pak sopir mulai mengangkat sembilan kardus dengan dibantu tetangga Hamima.

Perpisahan dengan para tetangga yang sudah berteman selama belasan tahun mengharu biru, tangis kesedihan pun tidak terelakkan.

Guntur melambaikan tangan ke para sahabatnya. Matanya memerah menahan tangis.

Kunci rumah diserahkan ke tetangga yang membeli huniannya dan sudah dibayar lunas. Hamima bertahan di kota kabupaten sampai Guntur naik kelas, baru pindah ke desa.

Brak!

Pintu mobil bagian depan ditutup. Guntur mencondongkan badan sampai kepalanya keluar dari jendela, ia melambaikan tangan kepada ketiga sahabatnya yang berlari mengikuti laju mobil pickup.

“Guntur! Jangan lupain kami ya?!” seru salah satu dari mereka.

Sepasang tangannya mengerucut di tepian mulut, lalu berteriak kencang. “Iya! Kalian juga jangan lupain aku!”

Sesudahnya kaca jendela ditutup. Hamima merangkul pundak putranya, menghibur hati tengah bersedih.

Perjalanan dari kota kabupaten ke desa Windu Asri memakan waktu kurang lebih 5 jam lamanya. Dari melewati jalanan aspal sampai ban mobil melindas tanah padat lalu bebatuan kecil.

***

Pada sore hari, saat sinar matahari tidak lagi begitu terik, mobil pickup berhenti di jalanan menyempit cukup satu kendaraan roda empat saja.

“Nak, bangun! Itu Ayah menunggu kita!” Hamima mengguncang lengan putranya.

Pria memakai setelan pakaian olahraga, berlari kecil dari ujung jalan, lalu membuka pintu mobil, dan langsung menggendong putranya yang baru saja terjaga dari tidur selama dari pertengahan perjalanan.

“Ayah kangen sekali sama mas Guntur dan dek Ara!” Ia angkat tubuh kurus putranya, lalu diputar pelan sampai wajah remaja tersebut menghadap hunian baru dibeli sebulan lalu.

Deg!

Badannya kaku, pupil mata membesar, dan bulu lengan meremang.

.

.

Bersambung.

1
FiaNasa
jgn langsung dibunuh y pak Yadi keenakan soalnya,,bikin Bagyo menderita dulu hingga dia yg meminta kematiannya sendiri padamu
FiaNasa
dengan begini Mima kan bisa ada pelindung ini..ayo ndoro Arum balaskan dendammu segera
FiaNasa
ayo cepat temukan tengkorak kepala ayu jgn sampai kalian ketangkap si sarkam n Mbah Geneng..bahaya
Aprisya
bagyoooo kejutan demi kejutan telah menanti kamu
Betri Betmawati
hari pembalasan baru mau dimulai bersiap lh kalian manusia durja untuk menerima hukuman dan balasan dari orang yg kalian bunuh
mmh nengmuti
ayo Yadi cincang aja tuh s Bagyo jadikan makanan binatang
Mumtaz Zaky
mampus luh....
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
ngeri² sedap 😱
mamaqe
mulai lg ni deg deg an nya ...ditunggu ditungguuuu
Fera Susanti
vote senen nya buat Mima dech bukan buat niya😁
Fera Susanti
serrruuu
Bulan-³ M⃟3💋
duhhh cepetan itu tengkorak ayu ditemukan sebelum sarkam dan Geneng detang, jangan sampai ketahuan dan usaha dokter sia2
ismi
akhirnya bisa kasih vote buat mima,,biar semngat buat menghajar galih mokodobitu😄😄😄
Engkar Sukarsih
makasih kak cublik.... updatenya dah banyak hari ini 🥰🥰🥰tapi aku sedih ibu tilinya bang Ardan yang ganteng libur hari ini 🥺🥺🥺🥺
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
di pikirin...pusing kepala 🤣🤣🤣gak di pikirin...nambah gede kepala lakimu mima.dasar galih kampret... preeet sepanjang jalan 🤪🤪🤪🤪
Engkar Sukarsih
bangun... bangunlah Mima....hajar suami laknatmu mima🤔🤔🤔 pastinya si galih lagi ajojing terus sama istri muda kampretnya si Sintia 🙄🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
ayo pak Yadi bunuh tuh orang yang bernama Bagiyo.tuntaskan dendammu sampai ke akar -akarnya🤔🤔🤔🤔
Eli Rahma
pembalasan dimulai..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!