Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Memanggil Mama dalam Mimpi
Pada larut malam, jam di dinding ruang kerja Alvin menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh menit.
Layar laptop masih menyala. Beberapa dokumen terbuka di hadapannya. Seperti malam-malam sebelumnya, Alvin masih sibuk bekerja.
Semenjak Kania meninggal, hampir seluruh waktunya ia habiskan di balik meja kerja.
Bekerja.
Bekerja.
Dan terus bekerja.
Baginya, selama pikirannya dipenuhi urusan perusahaan, ia tidak perlu memikirkan kehilangan yang pernah mengubah hidupnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Alvin tidak langsung mengangkat wajah. “Masuk.”
Pintu terbuka. Pengasuh Keanu berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas.
“Pak Alvin…”
Alvin masih membaca dokumen. “Ada apa?”
“Maaf mengganggu, Pak. Tapi Keanu demam, sejak siang tadi."
Gerakan tangan Alvin berhenti. Ia langsung mengangkat wajah. “Demam?”
“Iya, Pak. Tadi sudah saya kompres, tetapi sepertinya malam ini jadi semakin tinggi.”
Alvin segera berdiri. “Kenapa baru bilang?”
“Saya pikir bisa ditangani, Pak. Tapi sekarang Keanu terus saja mengigau.”
Alvin tidak menjawab lagi. Ia langsung keluar dari ruang kerja. Langkahnya semakin cepat ketika mendengar suara kecil dari kamar putranya.
“Ma…”
Alvin berhenti di depan pintu.
“Mama…”
Suara Keanu terdengar lirih.
Alvin segera masuk menemukan tubuh kecil Keanu terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya memerah karena demam.
Alvin langsung mendekat. “Keanu.”
Tangannya menyentuh dahi putranya. Panas. Suhunya sangat panas.
“Sayang…” Ketenangan pria itu runtuh begitu saja.
Ia duduk di pinggir ranjang lalu mengangkat tubuh Keanu ke dalam pelukannya. “Bagaimana ini?”
Suara Alvin bergetar. Ia mengusap rambut putranya berkali-kali.
“Papa di sini.”
Namun, Keanu tidak membuka mata. Bibir kecilnya justru kembali bergerak.
“Mama…”
Alvin terdiam.
“Mama…”
Pelukan Alvin mengerat. Dalam benaknya, wajah Kania kembali muncul. Senyum istrinya. Suara lembut dan manjanya.
Dan, hari ketika Kania pergi untuk selamanya setelah melahirkan Keanu. Alvin menutup mata. Selama ini ia selalu berusaha menjadi ayah yang kuat.
Tetapi malam itu, ketika melihat putranya sakit dan memanggil sosok yang sudah tidak mungkin kembali, pertahanannya runtuh. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya.
“Sayang…” Ia mencium rambut Keanu. “Papa di sini.”
Namun Keanu kembali mengigau. “Mama Cynara…”
Alvin membeku.
“Mama…” Keanu menggeliat dalam pelukannya. “Keanu mau peluk Mama…”
Pengasuh yang berdiri di samping ranjang menundukkan kepala. Ia sudah menduga Alvin akan terkejut. Alvin perlahan melepaskan pelukannya.
“Mama Cynara?”
Keanu tidak menjawab. “Mama…”
Alvin menatap wajah putranya. Ia teringat kejadian di mall beberapa hari lalu.
Bagaimana Keanu begitu cepat dekat dengan Cynara. Bagaimana anak itu enggan berpisah.
Dan bagaimana Naren dengan polosnya mengizinkan Keanu memanggil Cynara dengan sebutan Mama.
Saat itu Alvin menganggapnya hanya kedekatan sesaat. Ternyata tidak. Keanu benar-benar merindukannya.
Alvin mengambil ponselnya. Layar menunjukkan pukul 00.03. Ia membuka daftar kontak.
Jarinya berhenti. Nama Cynara ada di sana. Mereka memang pernah bertukar nomor untuk urusan pekerjaan.
Namun, selama ini tidak pernah ada satu pun percakapan pribadi. Alvin menatap nama itu cukup lama. Gengsinya berteriak untuk berhenti.
Bagaimana mungkin ia menelepon seorang perempuan tengah malam hanya karena putranya ingin bertemu?
Terlebih hubungan mereka selama ini hanya sebatas urusan bisnis. Namun, suara Keanu kembali terdengar.
“Mama Cynara…”
Alvin mengembuskan napas panjang. Akhirnya, ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Alvin hampir memutuskan sambungan. Kemudian terdengar suara mengantuk dari seberang.
☎️ “Halo?”
Alvin langsung terdiam. Terdengar suara serak Cynara, di seberang panggilan. Ia menelan ludah.
“Cy-Cynara…”
☎️ “Hm?”
“Maaf.”
Cynara yang masih setengah mengantuk langsung membuka mata.
☎️ “Pak Alvin?”
“Iya.”
☎️ “Bapak menelepon saya tengah malam begini… ada apa?”
Alvin menoleh kepada Keanu yang masih berada dalam pelukannya. Ia menarik napas.
“Apakah saya mengganggu?”
Cynara duduk di tempat tidurnya.
☎️ “Tidak. Ada sesuatu?”
Alvin terdiam beberapa detik. Kemudian suaranya terdengar lebih rendah.
“Keanu sakit.”
Cynara langsung terjaga sepenuhnya.
☎️ “Keanu?”
“Iya.”
☎️ “Demam?”
“Iya, cukup tinggi.”
☎️ “Sudah dibawa ke dokter?”
“Belum.”
☎️ “Pak Alvin, kalau demamnya tinggi, sebaiknya segera diperiksa.”
“Aku tahu.”
Alvin berhenti. Kali ini, suaranya terdengar bukan seperti seorang CEO dingin yang kaku. Melainkan seorang ayah yang sedang kebingungan.
“Masalahnya…” Ia menatap Keanu. “Dia terus memanggilmu.”
Cynara terdiam.
“Mama Cynara.”
Jantung Cynara seperti tersentuh saat mendengar suara lirih itu.
Ia teringat wajah kecil Keanu ketika bermain bersama Naren di pusat perbelanjaan. Anak itu memang begitu cepat dekat dengannya.
☎️ “Dia sadar?”
“Tidak.” Alvin menunduk. “Dia mengigau.”
Cynara menggigit bibirnya.
☎️ “Pak Alvin…”
“Ya?”
☎️ “Keanu masih memanggil saya?”
“Iya.”
Hening beberapa detik. Kemudian Alvin berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Dia ingin memelukmu.”
Cynara memejamkan mata. Ada rasa kasihan yang begitu dalam, kembali memenuhi hatinya. Ia teringat cerita pengasuh Keanu tentang Kania. Perempuan penolongnya itu, yang tak bisa menemani putranya dalam sakit seperti ini.
Dan sekarang... putra perempuan itu sedang memanggilnya.
“Mama…”
Cynara mengembuskan napas.
☎️ “Bapak sekarang di rumah?”
“Iya.”
☎️ “Kalau begitu…” Ia berhenti sebentar. “Boleh saya datang?”
Alvin terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka Cynara akan menawarkan diri.
“Sekarang?”
☎️ “Iya.”
“Tapi sudah tengah malam.”
☎️ “Aku tahu.”
Cynara bangkit dari tempat tidur.
☎️ “Keanu sedang sakit. Saya tidak mungkin membiarkannya menangis sendirian.”
Alvin menunduk. Untuk beberapa saat, ia tidak mampu mengatakan apa-apa. Kemudian sebuah jawaban akhirnya keluar.
“Terima kasih.”
Dua kata sederhana. Tetapi malam itu terasa begitu berat bagi Alvin untuk mengucapkannya. Di atas ranjang, Keanu yang masih memejamkan mata tiba-tiba bergumam.
“Mama…”
Alvin menatap putranya dengan sendu.
“Sebentar lagi, Nak.”
Ia mengusap rambut Keanu. “Sebentar lagi Mama datang.”
*bersambung*