Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 - Tekad di Tangan Kecil
Pagi belum tinggi ketika suara Ibu terdengar dari balkon belakang rumah.
"Nak, baju-baju itu sudah kamu cuci?"
Walau terdengar seperti pertanyaan, tidak ada orang lain di rumah ini selain Intan. Siapa lagi yang akan mengerjakannya kalau bukan dirinya?
Intan mengangguk patuh. "Kompor tadi pagi sudah kubereskan. Baju yang kucuci itu memang punyaku sendiri dan tidak terlalu kotor."
Ibu sampai kehabisan kata. Sepasang suami istri itu bekerja keras dan pulang dalam keadaan lusuh setiap hari. Pakaian mereka selalu menumpuk menunggu giliran dicuci, dan beginilah ceritanya — ketika demamnya mereda, tubuh Intan sempat mengeluarkan banyak keringat hingga ia berganti dengan seperangkat pakaian bersih. Ibu berniat mencuci pakaian itu sambil membereskan dapur pagi-pagi. Ternyata gadis kecilnya sudah lebih dulu menyelesaikan semuanya, termasuk mencuci bajunya sendiri.
Mungkinkah anak ini baru benar-benar sadar dan rajin setelah sakit? Ibu tidak paham, Bapak pun tidak paham. Untungnya, sang putri tidak melakukan hal yang aneh-aneh, jadi mereka tidak memikirkannya lebih jauh.
Keesokan paginya, saat Intan masih berbaring di ranjang, Ibu sudah bangun lebih dulu. Rumah itu kecil dan sama sekali tidak kedap suara. Bunyi panci dan piring dari dapur terdengar jelas sampai ke kamar, bercampur dengan suara air yang dituang ke dalam teko. Intan mau tidak mau ikut bangun, lalu membersihkan diri. Ketika ia selesai membereskan meja, bubur dan lauk pauk sudah tersaji menghangat.
Ibu memanggil Bapak dan putrinya untuk sarapan. Bapak memakan bubur dengan lahap, dua mangkuk habis dalam waktu kurang dari lima menit. Melihat Intan masih mengunyah pelan-pelan, Bapak mengeluarkan uang lima ribu rupiah dari kantong lalu menyodorkannya ke arahnya.
"Simpan. Ini untuk ongkos. Bapak tersenyum simpul. Nanti jangan lupa sampaikan salam untuk kakek-nenek ya. Bakar juga kertas sembahyang untuk mereka."
Meski hanya beberapa lembar, uang itu terasa berat di genggaman Intan. Ia mengetahuinya: setiap rupiah yang Bapak sisihkan berasal dari keringat yang tak pernah dihitung-hitung.
Bapak bicara panjang lebar soal leluhur dan restu, Intan hanya bisa mengangguk. Setiap kali nama kakek disebut, hatinya mendadak sesak.
Nenek meninggal sebelum Intan lahir. Satu-satunya gambaran yang Intan kenal dari nenek hanyalah foto hitam-putih tua yang bergantung di ruang tengah rumah di kota. Dulu, karena orang tua harus bekerja mencari uang, Intan dan kakaknya, Dimas, diasuh oleh kakek. Di antara keduanya, Intanlah yang paling dekat dengan kakek. Sayangnya, pria tua itu terlalu keras bekerja dan pergi sebelum sempat menikmati rezeki banyak anak dan cucu. Setelah kakek meninggal, Bapak dan Ibu pinjam uang ke sana ke mari demi pendidikan kedua anaknya, lalu membeli rumah di kota dan pindah. Sejak pindah, mereka pulang ke kampung hanya pada saat hari besar, itu pun datang dan pergi di hari yang sama. Rumah tua sudah lama ditinggalkan, tidak ada satu pun tempat layak untuk ditiduri.
Setelah makan, Bapak berangkat bekerja. Ibu sengaja mengenakan pakaian paling layak miliknya, lalu memilihkan rok muda yang cantik untuk Intan sebelum berjalan keluar dengan hati puas.
Kampung halaman Intan adalah Desa Grugu, sebuah desa di dekat pusat Kabupaten Cilacap. Dari kota Cilacap menuju ke sana, mereka harus menumpang elf dari terminal. Lalu lintas saat itu belum seramai enam tahun kemudian. Jarang ada keluarga di kota kecil ini yang mampu membeli mobil; kebanyakan orang masih berjalan kaki atau menumpang angkutan menuju terminal lalu naik elf.
Elf jurusan kabupaten itu memakan waktu sekitar satu setengah jam. Begitu tiba di kabupaten, masih harus naik ojek untuk kembali ke desa. Total perjalanan hampir tiga jam, dan begitu tiba, hari sudah tengah hari. Kalau dijumlah pulang pergi, hampir enam jam hangus hanya untuk berada di jalan.
Dulu Intan tidak suka pulang kampung. Ia selalu merasa satu kali bolak-balik seperti merenggut separuh nyawa. Namun setelah terlahir lagi, rasa hormatnya kepada roh leluhur tumbuh besar. Ia selalu merasa bisa hidup kedua kalinya adalah berkah dari leluhur keluarga. Ia pun tidak hanya tidak mau lagi mengeluh, melainkan sangat bahagia.
"Kali ini harus benar-benar mengamati kampung halaman," gumamnya dalam hati. "Bakar kertas sembahyang lebih banyak untuk kakek-nenek, dan memberi hormat kepada leluhur keluarga dengan sepenuh hati."
Sesak berdesakan di dalam terminal, ibu dan anak itu akhirnya berhasil membeli tiket dan naik ke dalam elf. Antrean tiket mengular panjang, calo-calo bersahut-sahutan meneriaki tujuan sambil menarik-narik lengan calon penumpang yang ragu. Kursi di dalam elf keras, udaranya bercampur bau asap, gorengan, dan sedikit bau keringat para penumpang yang sudah duduk lebih dulu. Sebagian besar penumpang adalah warga kabupaten. Mendengar logat khas yang akrab itu, senyum puas merekah di wajah Intan. Ibu belum lama duduk sudah mengobrol dengan penumpang di sebelahnya soal kabar kampung halaman — siapa yang menikah, siapa yang melahirkan, siapa yang baru saja jatuh sakit — semuanya diceritakan dengan mata berbinar.
Intan bosan, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Pemandangan sawah dan kebun kelapa berlalu satu demi satu di balik kaca yang berdebu. Sepanjang jalan elf bergetar kencang; badan penumpang di dalamnya oleng ke kiri dan ke kanan mengikuti ayunan, tetapi kondektur berdiri dengan tegak dan tenang. Itu jelas hasil latihan bertahun-tahun. Intan meliriknya dan diam-diam mengagumi ketegarannya. Enam tahun lagi, jalan nasional ini akan direkonstruksi; jalan semen yang rusak dan bergelombang pasti diganti seluruhnya dengan aspal. Saat itu pemandangan seperti ini tidak akan terlihat lagi.
Sambil pikirannya mengembara, elf sudah sampai di kabupaten. Ibu menarik tangan Intan turun, lalu berbelanja di pasar dekat terminal: setumpuk roti manis dan biskuit, berikut beberapa ikat dupa serta uang kertas emas-perak untuk sembahyang. Uang kertas sembahyang itu dijual dalam lipatan rapi, mengilat di antara warna emas dan perak. Ibu memilih buah yang masih rapat dan segar, menawar senada dengan suara gemuruh pasar, lalu memasukkan semuanya ke dalam kresek tebal. Keduanya memikul barang besar dan kecil. Setelah belanjaan lengkap, mereka menghentikan sebuah ojek di tepi jalan dan bergegas menuju Desa Grugu. Jalan masuk desa yang menanjak membuat angin pantai menyambar rambut Intan; ia menegang di jok belakang sambil memeluk bungkusan belanjaan. Deru motor itu meraung di setiap tikungan, membawa mereka semakin jauh dari hiruk-pikuk pasar.
Di dalam ojek, Intan menatap tangannya yang mungil. Tangan sekecil inilah yang akan memegang segenap tekadnya: membawa keluarga bangkit dari keterpurukan, menjaga Ibu yang kerap sakit-sakitan, dan membalas setiap hinaan yang pernah meluncur deras ke arah keluarganya.
Desa Grugu saat itu masih desa kecil. Hampir setiap keluarga tinggal di rumah lempengan batu tulis; yang tergolong mampu membangun rumah batu dua lantai. Yang terlihat di sana-sini hanyalah rumah batu dan hamparan ladang. Beberapa ekor kambing tertambat di depan rumah, sesekali suara ayam memecah kesunyian. Dulu Intan tidak mengerti. Ia selalu menganggap rumah batu semacam itu berbahaya — bocor ketika hujan, dan tidak sebagus rumah bata merah yang banyak berdiri di pedesaan Cilacap. Setelah dewasa barulah ia paham. Kampung ini dekat dengan pantai. Hanya rumah lempengan batu yang bertahan lama di udara yang sarat garam itu.
Rumah tua itu pernah menjadi dunia paling aman baginya. Di halaman yang sama ia berlari tanpa alas kaki, mengejar layang-layang sampai gerah, lalu duduk di tepi sumur sambil menghitung bintang yang mulai terbit. Kakek selalu menyuruh mereka mencuci tangan dan makan dulu sebelum bermain, bahkan ketika badannya sendiri sudah payah menahan demam. Sejak rumah itu ditinggalkan, tidak ada lagi tempat yang terasa seperti itu.
Tukang ojek yang disewa hafal setiap desa. Ibu hanya menyebut satu nama tempat, dan ia langsung mengantar ibu dan anak itu sampai ke depan pintu rumah. Intan membayar ongkosnya dengan uang lima ribu rupiah pemberian Bapak. Ibu tidak berkata apa-apa.
Begitu keduanya menurunkan barang, seorang perempuan tua desa berjalan mendekat dengan kedua tangan di belakang punggung. "Ratmi bawa anak pulang untuk sembahyang, ya?"
Ibu menoleh dan tersenyum. "Nek, sudah makan?"
Intan menyapa sopan dari belakang, "Nek."
Perempuan tua itu tersenyum ramah, lalu berbicara pelan. "Aku memang baru mau pulang makan. Kalian baru saja tiba, tidak makan di rumahku saja?"
Ibu menolak pelan. "Kami sudah makan di jalan. Nek cepat pulang saja, jangan sampai makanannya dingin."
Perempuan tua itu tidak memaksa, berbalik dan pergi. Kebanyakan penduduk sepuh di Desa Grugu hidup terpisah dari anak-anak mereka dan memasak sendiri dengan kayu bakar; mereka terbiasa berhemat, apalagi orang-orang sepuh. Ibu tidak pernah menganggap serius basa-basi semacam itu.
Ibu mengeluarkan seikat kunci dari balik pakaian dan membuka pintu rumah tua. Rumah tua itu berupa halaman segi empat: tanah lapang yang dipadatkan di tengah, sumur tua dari susunan batu di salah satu sisi, dan bangunan yang berdiri mengelilingi empat penjuru. Atapnya rata-rata dari lempengan batu tulis yang ditumbuhi lumut. Sisi utara adalah ruang tengah yang tembus ke ruang tempat foto para leluhur dipajang; ruangan itu biasanya terkunci rapat dan hanya dibuka ketika sembahyang. Sisi barat adalah dapur dan gudang, tempat kayu bakar serta alat-alat pertanian dulu disimpan. Dua sisi lainnya adalah kamar tidur. Total ada empat ruangan.
Halaman seperti ini kelihatan bagus. Padahal di pedesaan, itu sama sekali bukan hal istimewa.
Setelah keduanya masuk, Ibu menutup pintu halaman. Dengan begitu, para tetangga yang kebetulan lewat tidak perlu singgah untuk sekadar mengobrol panjang.
Intan puas dengan tindakan Ibu. Ia sendiri tidak tahan berbincang dengan tetangga kampung — isinya selalu soal bekerja apa, gaji sebulan berapa, nilai anak bagaimana. Keluarga mereka keadaannya pas-pasan; rumah di kota pun baru dibeli Bapak dan Ibu dengan susah payah bertahun-tahun. Cicilannya bahkan belum lunas sampai sekarang. Bila dikatakan miskin, itu tidak berlebihan. Kalau sudah menyangkut uang, Ibu risi rasanya; kalau menyangkut pelajaran, Intan yang merasa malu. Dibicarakan dari mulut ke mulut oleh orang luar, bagaimana pun akan membuat tidak enak hati.
Lebih baik pintu terkunci. Biarlah ibu dan anak ini menikmati ketenangan.
Intan berdiri di tengah halaman, menatap sumur tua yang menelan cahaya siang dari bibirnya, lalu mengepalkan tangan kecilnya erat-erat. Tangan itu tidak gemetar; ia tahu persis ke mana langkah selanjutnya harus diarahkan. Di kampung inilah semua akan dimulai — dan ia sudah siap.