Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 — Final di Bawah Langit Cerah
Satu hari jeda diberikan sebelum babak final Kingdom Tournament, waktu yang digunakan sebagian besar peserta untuk beristirahat dan memulihkan energi setelah rangkaian pertarungan yang melelahkan.
Kael menghabiskan sebagian besar hari itu untuk meditasi ringan, memastikan cadangan Qi-nya kembali penuh sebelum menghadapi Lyra di final.
Namun menjelang malam, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kerajaan yang dibuka khusus untuk para peserta turnamen selama masa istirahat.
Taman itu indah, dipenuhi bunga-bunga malam yang mekar hanya di bawah cahaya bulan, menciptakan aroma manis yang menenangkan di udara.
Kael berjalan sendirian, menikmati ketenangan langka di tengah kehebohan turnamen, sampai dia menemukan sosok familiar duduk di bangku taman dekat kolam kecil yang memantulkan cahaya bulan dengan sempurna.
"Putri Lyra," Kael menyapa, sedikit terkejut menemukannya di sana.
Lyra menoleh, senyum tipis menghiasi wajahnya yang sempurna. "Kael. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
"Aku juga tidak," Kael mengakui, "tapi aku senang bertemu. Boleh aku duduk?"
Lyra mengangguk, menggeser sedikit untuk memberi ruang. Mereka duduk dalam diam sejenak, menikmati suasana tenang taman malam itu sebelum Lyra akhirnya memulai percakapan.
"Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu selama turnamen ini," katanya.
"Bakat yang tidak bisa diukur, kemampuan adaptasi yang legendaris, bahkan gosip tentang asal-usulmu yang misterius."
"Kebanyakan benar, sayangnya," Kael menjawab dengan senyum kecil.
"Dari mana sebenarnya kau berasal, Kael?" Lyra bertanya, matanya yang hijau zamrud menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tulus, bukan kecurigaan seperti yang biasa dia terima dari orang lain.
Kael mempertimbangkan jawabannya sejenak. Ada sesuatu tentang ketenangan Lyra yang membuatnya merasa bisa lebih jujur daripada biasanya. "Aku berasal dari dunia yang sangat berbeda dari Elyndra. Aku... meninggal di sana, dan seorang dewa memberiku kesempatan untuk hidup kembali di sini, dengan tubuh yang baru."
Dia menunggu reaksi terkejut atau skeptis, tetapi Lyra hanya mengangguk pelan, seolah informasi itu tidak sepenuhnya mengejutkannya.
"Ras Elf memiliki legenda kuno tentang jiwa-jiwa yang melintasi dunia," katanya.
"Kami menyebutnya Pengembara Bintang, jiwa yang terlahir kembali di dunia asing karena benang takdir yang lebih besar dari yang bisa dipahami makhluk biasa. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan salah satunya secara langsung."
"Kau percaya begitu saja?" Kael bertanya, sedikit terkejut dengan penerimaannya yang begitu cepat.
"Ras kami hidup sangat lama, Kael," Lyra menjawab dengan senyum bijaksana yang melampaui usianya yang tampak muda.
"Kami belajar untuk tidak terlalu cepat menolak kemungkinan yang tampak mustahil bagi ras yang berumur lebih pendek."
Kael merasa lega mendengar penerimaan itu, dan percakapan mereka berlanjut dengan lebih santai, membahas berbagai topik—kehidupan di Sylvariel Kingdom, keindahan World Tree yang menjadi sumber energi kehidupan bagi seluruh kerajaan Elf, dan pengalaman Kael sendiri sejak tiba di Death Forest.
"Kau benar-benar bertahan hidup sendirian di sana?" Lyra bertanya dengan mata melebar mendengar cerita tentang pertarungan melawan Blood Bear dan penemuan Crimson Moon Dungeon.
"Tidak sepenuhnya sendirian," Kael menjawab, teringat Seraphina yang mungkin sedang mengawasinya dari kejauhan seperti biasa.
"Aku menemukan seorang teman di sana, yang sudah menemaniku sejak saat itu."
"Teman yang seperti apa?" Lyra bertanya, nada suaranya menunjukkan rasa ingin tahu yang halus namun jelas.
Kael tersenyum, menyadari ini adalah pertanyaan kedua kalinya yang serupa yang dia terima dalam beberapa minggu terakhir, kali ini dari orang yang berbeda. "Teman yang sangat berharga, yang telah mengajariku banyak hal tentang dunia ini."
Lyra menatapnya lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik jawaban diplomatisnya, sebelum akhirnya tersenyum dan mengalihkan topik.
"Aku menantikan pertarungan kita besok, Kael. Aku belum pernah bertemu lawan yang membuatku benar-benar harus mengeluarkan seluruh kemampuanku."
"Aku merasakan hal yang sama," Kael menjawab jujur.
"Pertarunganmu melawan Reyes benar-benar mengesankan."
"Kekuatan alam adalah warisan ras kami," Lyra berkata dengan bangga yang halus.
"Tapi aku penasaran bagaimana kekuatan adaptasimu yang legendaris akan menghadapi sesuatu yang terus berubah dan tidak terprediksi seperti alam itu sendiri."
"Kita akan segera tahu," Kael menjawab dengan senyum penuh antisipasi.
Mereka duduk dalam diam yang nyaman untuk beberapa saat lagi, menikmati ketenangan malam sebelum badai pertarungan besar esok hari. Akhirnya, Lyra berdiri, memberikan hormat anggun yang khas Elf.
"Sampai jumpa di arena, Kael dari Heavenly Sword Sect."
"Sampai jumpa, Putri Lyra."
Ketika Lyra pergi, meninggalkan Kael sendirian di taman yang kini terasa lebih sunyi tanpanya, Seraphina muncul dari balik pepohonan tempat dia bersembunyi mengawasi percakapan itu dari jarak yang cukup jauh untuk tidak terdengar, namun cukup dekat untuk memastikan keselamatan Kael.
"Kau mengawasi seluruh percakapan itu," Kael berkata tanpa menoleh, sudah cukup terbiasa dengan kehadiran Seraphina yang sering tersembunyi.
"Aku selalu mengawasi," Seraphina menjawab, duduk di sebelahnya menggantikan posisi Lyra sebelumnya. Ada nada dalam suaranya yang sedikit berbeda dari biasanya, sesuatu yang Kael belum pernah dengar sebelumnya.
"Ada yang mengganggumu?" Kael bertanya, memperhatikan ekspresinya yang lebih tertutup dari biasanya.
"Tidak," Seraphina menjawab cepat, mungkin terlalu cepat.
"Hanya... memikirkan pertarungan besok. Lyra terlihat sangat kuat."
"Kau khawatir aku akan kalah?"
"Aku khawatir tentang banyak hal, Kael," Seraphina menjawab, meski nada suaranya menunjukkan bahwa mungkin bukan hanya hasil pertarungan yang mengganggu pikirannya malam ini.
Kael menatapnya lama, mencoba memahami apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kata-katanya, tetapi memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh malam itu. "Apa pun yang terjadi besok, aku akan memberikan yang terbaik."
"Aku tahu kau akan melakukannya," Seraphina berkata dengan senyum kecil yang kembali menghangat, meski sesuatu yang samar masih tersisa di matanya.
"Kau selalu memberikan yang terbaik, dalam segala hal."
Mereka duduk bersama di bawah cahaya bulan, menikmati momen tenang sebelum final besar esok hari, sementara di kejauhan, persiapan terakhir untuk pertarungan yang akan menentukan juara Kingdom Tournament terus berlangsung di seluruh Grandis.
---
Hari final Kingdom Tournament tiba dengan langit yang cerah sempurna, seolah alam sendiri ingin memberikan panggung terbaik untuk pertarungan puncak yang telah dinantikan seluruh Elyndra selama berminggu-minggu.
Arena Kerajaan Grandis dipenuhi hingga kapasitas maksimalnya, bahkan raja dan para bangsawan tinggi dari berbagai kerajaan hadir di tribun kehormatan untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
Kael berdiri di salah satu sisi arena, mengenakan jubah putih Holy Son yang kini sudah menunjukkan beberapa tanda pertempuran dari rangkaian pertandingan sebelumnya, sementara di sisi berlawanan, Lyra berdiri dengan keanggunan yang tidak berkurang sedikit pun meski telah melalui pertarungan sengit di babak sebelumnya.
"Selamat datang di final Kingdom Tournament!" pembawa acara mengumumkan dengan suara yang menggelegar ke seluruh arena.
"Kael dari Heavenly Sword Sect, Holy Son dengan bakat yang tidak bisa diukur, melawan Putri Lyra Sylvariel, jenius sihir alam dari Kerajaan Elf!"
Sorak-sorai riuh memenuhi arena, dan Kael bisa merasakan berat harapan ribuan penonton yang menantikan pertarungan ini.
"Aku senang akhirnya kita sampai di sini," Lyra berkata dengan senyum tenang, mempersiapkan diri untuk pertarungan yang akan menentukan.
"Aku juga," Kael menjawab, menghunus pedangnya dengan sikap penuh hormat terhadap lawan yang telah dia kenal lebih dalam malam sebelumnya.
Wasit mengangkat tangannya, dan keheningan sesaat menyelimuti arena sebelum tanda dimulainya pertandingan diberikan.
"Mulai!"
Lyra bergerak lebih dulu, tubuhnya berkilau sesaat sebelum menghilang dalam kilatan cahaya hijau—teleportasi instan yang telah terbukti sulit diprediksi dalam pertandingan sebelumnya.
Namun kali ini, Kael sudah mempersiapkan diri dengan lebih baik, menggunakan waktu istirahatnya untuk menganalisis pola energi yang tersisa sesaat sebelum teleportasi terjadi.
[Adaptation terhadap Sihir Teleportasi Elf: 3%.]
Dia merasakan sedikit perubahan tekanan udara di belakangnya dan langsung berputar, pedangnya sudah siap menangkis serangan Lyra yang muncul dari arah yang diperkirakannya dengan tepat.
*TRANG!*
Lyra tampak terkejut melihat serangannya tertangkis dengan presisi yang tidak biasa. "Kau bisa merasakan kedatanganku?"
"Sedikit," Kael mengakui dengan senyum kecil.
"Aku sudah belajar mengenali perubahan tekanan udara sebelum teleportasi."
"Menarik," Lyra berkata, matanya berkilat dengan semangat kompetitif yang tulus.
"Maka aku harus lebih kreatif."
Dia mundur beberapa langkah, mengangkat kedua tangannya, dan energi hijau yang jauh lebih besar mulai berkumpul di sekitarnya.
Tanah di seluruh arena mulai bergetar, dan tunas-tunas kecil mulai muncul dari celah-celah marmer yang seharusnya tidak memungkinkan tumbuhan apa pun tumbuh.
"Hutan Ilusi," Lyra mengucapkan mantranya, dan seketika seluruh arena berubah wujud secara visual—dinding-dinding pohon raksasa muncul di sekeliling mereka, menciptakan labirin hijau yang tampak nyata meski Kael tahu itu hanya ilusi yang dilapisi dengan elemen nyata dari kekuatan alam Lyra.
Namun kali ini, berbeda dengan ilusi Moonlight Sect yang pernah dia hadapi, ilusi Lyra terasa jauh lebih meyakinkan—ada bau tanah yang lembap, suara gemerisik dedaunan yang nyata, bahkan sensasi angin yang berhembus melalui labirin pohon palsu itu.
[Peringatan: Ilusi Kompleks Terdeteksi. Elemen nyata tercampur dengan ilusi visual.]
"Ini berbeda," Kael bergumam, mencoba menggunakan pengalamannya di Death Forest untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi, namun kali ini jauh lebih sulit karena Lyra benar-benar menggabungkan sihir dengan manipulasi elemen alam yang sesungguhnya.
Dari kedalaman labirin ilusi itu, serangan mulai datang dari berbagai arah—panah cahaya, sulur tanaman yang mencoba melilit, dan sesekali kemunculan singkat Lyra sendiri yang menyerang lalu menghilang kembali sebelum Kael sempat membalas dengan efektif.
[Adaptation terhadap Hutan Ilusi: 15%.]
Kael mulai kewalahan, menerima beberapa luka dari serangan yang datang terlalu cepat untuk dihindari sepenuhnya, meski Absolute Regeneration terus bekerja untuk memulihkan kerusakan itu secepat mungkin.
Dia menyadari bahwa mencoba melawan ilusi ini dengan cara konvensional tidak akan efektif.
Alih-alih terus mencoba membedakan realitas dari ilusi secara visual, dia menutup matanya sepenuhnya, mengandalkan indra lain yang telah dia latih tajam selama bulan-bulan pengembaraannya.
Dia mendengarkan.
Merasakan aliran Qi di udara.
Merasakan getaran tanah di bawah kakinya.
[Adaptation terhadap Hutan Ilusi: 34%.]
Perlahan, dia mulai bisa membedakan sumber energi asli Lyra dari ilusi-ilusi yang dia ciptakan—sumber aslinya selalu membawa konsentrasi Qi yang jauh lebih padat dan hangat, berbeda dari ilusi yang terasa lebih dingin dan kosong meski secara visual identik.
Ketika serangan berikutnya datang, Kael tidak mencoba menghindar secara acak.
Dia bergerak langsung menuju sumber Qi asli yang telah dia identifikasi, matanya masih tertutup, mengandalkan sepenuhnya pada indra dalamnya.
Lyra, yang muncul dari balik "pohon" untuk melancarkan serangan jarak dekat, terkejut mendapati Kael sudah menunggu tepat di posisinya, pedangnya terangkat siap menangkis.
"Bagaimana—" dia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Kael membuka matanya, tersenyum tipis.
"Aku belajar mendengarkan, bukan hanya melihat," katanya, dan dengan gerakan cepat dia menangkap pergelangan tangan Lyra sebelum serangannya benar-benar mendarat, mirip dengan cara dia mengalahkan Reyes di duel pertamanya.
Ilusi hutan di sekitar mereka mulai memudar seiring konsentrasi Lyra yang terganggu oleh kejutan itu, mengembalikan arena ke bentuk aslinya yang penuh sorak-sorai penonton yang menyaksikan momen menegangkan itu dengan napas tertahan.
"Kau..." Lyra berbisik, matanya melebar dengan campuran keterkejutan dan kekaguman yang tulus.
"Menyerah?" Kael bertanya dengan lembut, tidak ingin mempermalukannya di depan seluruh arena.
Lyra menatapnya lama, lalu tersenyum—senyum yang tulus dan penuh penerimaan yang anggun. "Ya. Aku menyerah. Kau benar-benar layak menjadi juara, Kael."
Wasit segera mengumumkan kemenangan Kael, dan seluruh arena meledak dalam sorak-sorai yang menggelegar, menandai berakhirnya Kingdom Tournament dengan seorang juara yang telah membuktikan dirinya melalui pertumbuhan yang konsisten dan luar biasa sepanjang seluruh rangkaian pertandingan.
Kael melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Lyra dengan lembut, membungkuk hormat kepadanya. "Terima kasih untuk pertarungan yang luar biasa, Putri Lyra."
"Terima kasih kembali," Lyra menjawab, membalas hormatnya dengan keanggunan yang tidak berkurang meski baru saja mengalami kekalahan pertamanya dalam waktu yang sangat lama.
"Aku menantikan kesempatan untuk bertarung bersamamu di masa depan, bukan melawanmu."
Di tribun kehormatan, Raja Valtherion berdiri untuk memberikan ucapan selamat resmi, sementara di kejauhan tribun penonton biasa, Seraphina menyaksikan kemenangan Kael dengan mata berkaca-kaca, campuran kebanggaan dan kelegaan yang begitu besar hingga hampir tidak bisa dia tahan.
Kingdom Tournament telah usai, dan Kael, pemuda yang beberapa bulan lalu masih berjuang untuk bertahan hidup di Death Forest, kini berdiri sebagai juara di hadapan seluruh Elyndra—sebuah pencapaian yang akan membawa konsekuensi jauh lebih besar daripada yang bisa dia bayangkan sepenuhnya saat ini.