1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1 THE 13TH FLOOK
Hujan turun tanpa henti sejak sore.Bus berwarna putih yang membawa siswa-siswi SMA Karunia melaju perlahan menembus jalan pegunungan. Kabut begitu tebal hingga lampu depan bus hanya mampu menerangi beberapa meter di depannya.
Di dalam bus, suasana masih ramai.
Ada yang tertidur sambil memeluk bantal leher, ada yang sibuk memotret pemandangan, dan ada pula yang bercanda tanpa henti karena akhirnya study tour yang mereka tunggu-tunggu benar-benar terlaksana.
"Katanya hotelnya bagus banget, ya?"
"Iya. Bintang lima katanya."
"Semoga kamarnya nggak angker."
Ucapan itu langsung disambut tawa.
Tak ada satu pun yang menyangka bahwa candaan itu akan menjadi kenyataan.
Bus akhirnya berhenti tepat pukul 22.47.
Di depan mereka berdiri sebuah hotel tua yang menjulang tinggi. Bangunannya megah, tetapi terlihat seperti sudah melewati puluhan musim hujan. Cat dindingnya kusam, sebagian jendelanya tampak gelap, dan papan namanya hanya menyisakan beberapa huruf.
Angin dingin berembus pelan.
Entah kenapa, halaman hotel terasa terlalu sunyi.
Tak ada suara serangga.Tak ada suara burung malam.Hanya suara hujan yang memukul atap.
Begitu mereka memasuki lobi, seorang
resepsionis tua menyambut dengan senyum tipis.
"Selamat datang."
Suaranya pelan, hampir berbisik.
Setelah semua menerima kunci kamar, resepsionis itu kembali berbicara.
"Ada satu peraturan yang harus kalian ingat."
Seluruh siswa menoleh.
"Jika suatu malam lift berhenti di lantai yang tidak memiliki tombol..."
Ia berhenti sejenak.
"...jangan pernah keluar."
Beberapa siswa saling pandang lalu terdengar tawa kecil.
"Mungkin itu cuma cerita buat nakut-nakutin tamu."
Resepsionis itu tidak tertawa.Tatapannya tetap kosong.
"Jangan melihat lorongnya."
"Jangan memanggil siapa pun yang berdiri di sana."
"Dan apa pun yang kalian dengar..."
"...jangan melangkah keluar."
Suasana mendadak hening.
Tak lama kemudian, guru pendamping mengajak semua siswa menuju kamar masing-masing.
Mereka menganggap ucapan resepsionis itu hanyalah bagian dari cerita hotel tua.
Malam semakin larut.
Jam digital di lobi menunjukkan pukul 00.13.
Tiba-tiba...
DING.
Suara lift bergema sendiri.Padahal...
Tak ada siapa pun yang menekan tombolnya.
Pintu lift perlahan terbuka.Di baliknya tidak terlihat lantai hotel biasa.Hanya sebuah lorong panjang yang dipenuhi cahaya redup.
Dan...
Seseorang berdiri di ujung lorong itu.Ia tersenyum.
Seolah sedang menunggu mereka.
Dering Tengah Malam
Malam pertama di Hotel Arunika terasa begitu panjang.
Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 23.58.
Alea masih belum bisa memejamkan mata. Entah kenapa, sejak mendengar peringatan resepsionis tua tadi, perasaannya terus gelisah. Hujan di luar sudah reda, tetapi kabut justru semakin tebal, menutupi seluruh jendela kamar.
Naya, teman sekamarnya, sudah tertidur lelap.
"Tik... tik... tik..."
Suara jam dinding terdengar semakin jelas.
Alea menarik selimut hingga ke dada.
"Ini cuma hotel tua," gumamnya pelan. "Nggak ada yang perlu ditakuti."
Tepat ketika jam menunjukkan 00.13...
DING...
Suara lift terdengar dari ujung lorong.
Alea langsung membuka mata lebar.
Beberapa detik kemudian...
Tok... tok... tok...
Ada seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
Pelan.Tiga kali Alea menoleh ke arah pintu.
"Naya..." bisiknya.
Naya tidak menjawab."Ia masih tertidur".
Ketukan itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
Dengan langkah pelan, Alea mendekati pintu.
Tangannya gemetar saat mengintip melalui lubang kecil di pintu.
Tidak ada siapa-siapa.Lorong hotel kosong.
Lampunya berkedip pelan.