Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 017: Benang yang Mengarah ke Atas
Pagi berikutnya, meja rapat Kantor Hukum Adiwangsa berubah menjadi papan bedah perkara.
Di kiri: Gugatan Class Action Ketenagakerjaan Anwar Halim vs MakanYuk.
Di kanan: botol infus bersegel dalam foto, catatan obat, jadwal perawat, screenshot pesan Yanti, dan daftar waktu Suster Melly muncul di lorong RS Kota.
Gunawan berdiri di ujung meja. "Kalau kita bawa ini ke polisi, pertanyaannya sederhana: apa bukti niat membunuh?"
"Belum cukup," jawab Alexander.
"Bagus. Jangan pernah membawa emosi sebagai bukti."
Alexander menggeser satu lembar matriks. "Tapi cukup untuk laporan dugaan percobaan pembunuhan atau setidaknya permintaan penyelidikan. Ada objek mencurigakan, akses tidak sah, target spesifik, dan motif potensial."
"Motif?"
"Anwar adalah wajah gugatan. Setelah gugatan didaftarkan, Robert Salim menatapnya, lalu dalam beberapa jam muncul anomali obat kedua."
Gunawan mengangkat alis. "Tatapan bukan bukti."
"Saya tidak akan tulis tatapan sebagai bukti. Saya tulis urutan waktu."
Kali ini Gunawan tidak membantah.
Alexander membuka laptop. Pengumpulan Bukti menyusun garis waktu dalam kepalanya seperti benang ditarik dari simpul.
Ting! Pengumpulan Bukti menyusun korelasi kronologis.
Pukul 10.20: gugatan diterima registrasi awal.
Pukul 10.43: Robert Salim bertemu Anwar di lorong pengadilan.
Pukul 12.05: Anwar kembali ke RS Kota.
Pukul 16.40: entri pergantian infus muncul dengan akun perawat lain.
Pukul 17.12: Yanti melaporkan Suster Melly mondar-mandir di depan kamar.
Pukul 18.03: botol infus batch berbeda ditemukan sebelum dipasang.
"Ini cukup untuk membuat polisi tidak bisa menyapu laporan sebagai kekhawatiran keluarga," kata Alexander.
Gunawan menunjuk foto ponsel Melly di lorong. "Lalu yang ini?"
"Saya tidak bisa membuka isi ponsel. Tapi saya bisa meminta rumah sakit mengamankan CCTV koridor dan log Wi-Fi tamu jika ada. Untuk keuangan, saya sudah minta keluarga cek mutasi rekening yang mereka tahu."
"Keluarga Melly?"
"Bukan. Rekening yang pernah menerima pembayaran dari Anwar? Tidak ada. Tapi ada satu petunjuk dari sumber berbeda."
Alexander mengeluarkan print kecil dari seorang pengemudi MakanYuk yang semalam menghubunginya. Pengemudi itu pernah melihat Suster Melly di pos pengemudi dan menyimpan nomor kontaknya karena ia membagikan minuman "pemeriksaan kesehatan". Nomor itu memakai dompet digital atas nama Melly Chandra.
"Ini bukan data bank resmi," kata Alexander. "Hanya bukti awal bahwa nomor Melly aktif menerima transfer. Salah satu pengemudi pernah melihat notifikasi masuk dari nama pengirim 'R.S. Konsultan' saat Melly membuka ponsel di pos."
Gunawan menatapnya tajam. "R.S. bisa apa saja."
"Saya tahu. Bisa nama orang, bisa nama usaha, bisa umpan. Karena itu saya tulis sebagai petunjuk, bukan kesimpulan."
"Bagus."
Mereka berangkat ke Polres Kota Cahaya sebelum pukul sepuluh.
Penyidik yang menerima mereka bukan polisi muda yang pernah meremehkan Alexander di awal kasus Anthony. Pria ini lebih tua, wajahnya lelah, matanya terbiasa melihat orang datang membawa rasa takut.
"Dugaan percobaan pembunuhan di rumah sakit?" katanya setelah membaca ringkasan.
"Dugaan awal," jawab Alexander. "Kami meminta penerimaan laporan dan pengamanan bukti, terutama sampel infus, CCTV koridor, audit akun perawat, dan catatan farmasi."
Penyidik mengetuk meja dengan pulpen. "Hasil lab infus belum keluar?"
"Belum."
"Kalau begitu unsur racun atau dosis berbahaya belum terbukti."
"Benar."
"Suster yang Anda sebut belum tertangkap basah memasang infus?"
"Benar."
"Lalu kenapa saya harus menganggap ini bukan sengketa keluarga pasien dengan rumah sakit?"
Gunawan diam, memberi ruang.
Alexander mendorong matriks waktu ke depan.
"Karena anomali ini tidak berdiri sendiri, Pak. Pasien baru menjadi penggugat utama melawan perusahaan besar. Sebelumnya ada tekanan tanda tangan pelepasan hak, ancaman terhadap karier kuasa hukum, pengawasan terhadap wawancara pengemudi, dan kini akses obat yang tidak sesuai prosedur. Kami tidak meminta Bapak langsung menetapkan tersangka. Kami meminta bukti tidak hilang."
Penyidik membaca lebih pelan.
"Siapa yang Anda curigai sebagai dalang?"
Alexander menahan nama itu satu detik.
"Saat ini, yang punya motif langsung untuk melemahkan Anwar adalah pihak yang dirugikan oleh gugatan. Nama Robert Salim muncul sebagai Direktur Hukum MakanYuk dan pihak yang berkonfrontasi langsung. Tetapi kami belum punya bukti langsung bahwa ia memerintah Suster Melly."
Penyidik menatapnya.
"Jarang ada pelapor datang sambil membatasi tuduhannya sendiri."
"Tuduhan yang terlalu jauh membuat bukti yang dekat ikut tampak lemah."
Pulpen penyidik berhenti mengetuk meja.
"Baik. Saya terima laporan awal sebagai dugaan tindak pidana percobaan pembunuhan atau setidaknya perbuatan membahayakan nyawa pasien, menunggu hasil pemeriksaan. Tapi jangan berharap penangkapan hari ini."
"Kami tidak meminta penangkapan hari ini. Kami meminta surat permintaan pengamanan bukti ke RS Kota secepatnya."
Penyidik tersenyum tipis. "Anda datang bukan untuk bercerita, ya?"
"Saya datang supaya botol infus itu tidak berubah menjadi 'kesalahan administrasi' besok pagi."
Penyidik menandatangani tanda terima laporan.
Satu pintu lagi terbuka.
Ting! Basis Data Hukum dan Pengumpulan Bukti bekerja serentak.
Ting! Level meningkat: Lv7 Advokat Pemula.
Di luar ruang penyidik, Gunawan baru berbicara.
"Kamu sengaja tidak menuduh Robert terlalu keras."
"Kalau saya sebut dia dalang tanpa bukti, polisi bisa fokus pada kelemahan tuduhan. Saya ingin mereka fokus pada botol infus."
"Dan R.S. Konsultan?"
"Benang. Belum tali."
Gunawan mengangguk pelan. "Kalau benang itu ditarik, Melly mungkin menyeret orang lain jatuh."
Ponsel kantor Gunawan bergetar. Ia membaca pesan masuk, lalu wajahnya mengeras.
"Apa?" tanya Alexander.
Gunawan memperlihatkan layar.
Pesan tanpa nomor tersimpan:
Pak Gunawan, firma kecil sebaiknya tidak mengajarkan anak magang bermain api. Gugatan bisa dicabut. Nyawa juga bisa selamat.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada logo.
Tetapi Alexander tidak perlu logo untuk mencium sumber tekanan.
MakanYuk mulai bicara bukan sebagai perusahaan yang yakin akan menang.
Mereka mulai bicara seperti orang yang takut benangnya ditarik sampai ke atas.