NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Zilia yang tidak mempunyai baju ganti, ia segera menghubungi Davin untuk mengantarkan satu stel baju lengkap cowok ke kamarnya.

Davin segera mengambil baju dikamar dikamarnya, dan membawa ke kamar Zilia.

"Untuk siapa bajunya?"

Zilia cuma menunjuk ke arah kamar mandi. Davin segera masuk dengan membawa paperbag.

"Davin! kamu."

"Udah sini bajunya. Keburu kedinginan akunya."

"Nih!" Ekhem. Habis ngapain kamu dikamar adikku? kamu tidak melanggar aturan kan?"

"Sedikit."

"Apa?! Sedikit katamu. Emang kamu ya."

Rafael yang sedang mengenakan baju ganti. Buru-buru mengganti pakaiannya.

"Makasih sudah mengantarkan baju ganti untukku."

"Emang ada masalah apa kamu?"

"Lora, dia mau menjebakku. Sudahlah, gak perlu dibahas. Adikmu yang sudah menyelamatkan ku."

"Hem. Ya sudah aku keluar duluan. Biar tidak ada yang mencurigaimu. "

Davin segera keluar. Kini tinggal Rafael sama Zilia.

"Kamar kamu nyaman juga rupanya."

"Sudah ngomongnya? kalau sudah, buruan keluar."

"Terimakasih sudah menolongku."

"Iya,"

"Maaf, sudah lancang. Aku akan menebus kesalahanku setelah kita nikah."

"Maksudnya?"

"Nanti kamu akan tahu sendiri. Ya sudah, aku keluar."

Zilia buru-buru menutup pintunya setelah Rafael keluar.

Rafael yang baru saja keluar dari kamar Zilia, rupanya diketahui Vio.

"Kamu, ngapain ke kamarnya Zilia, ha!"

"Dia calon istriku, ada hak apa kamu ingin tahu, ha?"

Bug!

Bug!

"Aku peringatkan sama kamu. Jangan sentuh Zilia."

"Aku sudah menyentuhnya, bahkan menciumnya. Bibirnya sangat manis." Bisik Rafael sengaja memanasi.

Bug!

Sudut bibirnya sampai pecah dan mengeluarkan darah. Suasana menjadi riuh dan mencekam.

Zilia yang baru saja keluar, pun kaget.

"Ada apa, sih? Kok ramai?"

Rasa tidak enak tiba-tiba menyelimuti hatinya.

Tanpa berpikir panjang, ia berlari kecil menuruni anak tangga. Semakin dekat ke arah balkon, langkahnya semakin cepat.

Begitu melihat kerumunan orang, jantungnya berdegup kencang.

Dan...

Dugaannya benar.

Di sana berdiri Vio dan Rafael saling berhadapan.

"Astaga..."

Zilia spontan menepuk dahinya pelan.

"Pasti gara-gara aku."

Ia langsung menyibak kerumunan.

"Rafael!"

"Vio!"

Kedua pria itu serempak menoleh ke arahnya.

Melihat wajah Zilia yang tampak cemas, sorot mata Rafael sedikit melunak.

Sedangkan Vio, dadanya kembali bergemuruh.

Ia baru saja hendak melangkah.

"Zil..."

Belum sempat kalimat itu selesai...

Zilia sudah lebih dulu meraih lengan Rafael.

"Rafael, sudah. Astaga, bibirnya pecah."

Ucapan itu membuat Vio mematung.

Belum cukup sampai di situ.

Tanpa sadar, Zilia menggandeng tangan Rafael, seolah ingin menariknya menjauh dari keributan.

"Ayo. Kita pergi dari sini."

Rafael hanya menatap tangan Zilia yang menggenggam lengannya.

Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa pun. Kemudian ia mengikuti langkah gadis itu.

Pemandangan itu...

Bagaikan pisau yang perlahan mengiris dada Vio.

Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas.

"Dulu... tangan itu selalu menggenggam tanganku."

"Sekarang..."

"Dia justru menggandeng pria lain."

Napas Vio memburu.

Aleena yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan raut wajah suaminya.

Ia tersenyum hambar.

"Masih berharap dia kembali?"

Vio tidak menjawab.

Tatapannya tak pernah lepas dari punggung Zilia.

Sementara itu...

Di sudut lain ruangan, Lora menggigit bibir bawahnya.

Tatapannya dipenuhi rasa iri.

"Bahkan di depan semua orang... Kak Rafael membiarkan Zilia menggandeng tangannya."

Rasa cemburu di dalam dirinya semakin membara.

Tanpa sadar, kukunya mencengkeram telapak tangannya sendiri.

"Kenapa? Kenapa harus dia? Apa kurangnya aku?"

Di sisi lain, Davin yang sejak tadi mengamati hanya menggeleng pelan.

"Bahaya... Kalau begini terus, cepat atau lambat semuanya bakal meledak."

Rafael menghentikan langkahnya.

Ia menoleh kepada Zilia yang masih menggenggam lengannya.

"Sudah tenang?"

Zilia baru menyadari apa yang dilakukannya.

Seketika ia melepaskan genggamannya.

"Maaf... Aku cuma takut kalian berkelahi lagi."

Rafael tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja. Yang penting kamu jangan ikut terluka."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun cukup keras hingga masih bisa didengar oleh Vio yang berdiri beberapa meter dari mereka.

Seketika sorot mata Vio berubah semakin dingin. Di dalam hatinya tumbuh satu keyakinan.

Jika ia terus diam...

Maka suatu hari nanti, Zilia benar-benar akan menjadi milik Rafael.

Dan hal itu...

Adalah kenyataan yang paling tidak sanggup ia terima.

Keesokan paginya, suasana di kediaman Tuan Adrian tampak jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya.

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela ruang makan yang luas. Di atas meja panjang, berbagai hidangan telah tersaji rapi.

Zilia duduk bersebelahan dengan Davin. Di seberang mereka, Tuan Adrian menikmati secangkir kopi. Sementara Lora tampak memainkan sendoknya dengan wajah yang masih terlihat masam.

"Silakan dimakan dulu," ujar Tuan Adrian dengan tenang.

Tak ada yang banyak berbicara.

Suasana hening itu justru terasa menegangkan.

Beberapa menit kemudian, sarapan pun selesai. Para pelayan segera membersihkan meja, menyisakan keluarga itu di ruang makan.

Tuan Adrian meletakkan cangkir kopinya.

"Ada sesuatu yang ingin Papa sampaikan."

Zilia dan Lora serempak mengangkat kepala.

Tatapan Davin pun ikut tertuju kepada pamannya.

"Semalam Papa sudah berbicara dengan keluarga Rafael."

Zilia langsung memiliki firasat buruk.

"Semua persiapan pertunangan berjalan sesuai rencana. Sekarang tinggal mempersiapkan pernikahan kalian."

Zilia terdiam.

"Lalu... kapan?" tanyanya pelan.

"Dua bulan setelah wisudamu."

Jantung Zilia seakan berhenti berdetak sesaat.

"Dua bulan?"

Tuan Adrian mengangguk.

"Itu keputusan yang sudah disepakati kedua keluarga."

"Setelah resmi menikah, kamu dan Rafael akan berangkat ke luar negeri."

"Papa sudah mengurus seluruh proses keberangkatanmu."

"Kamu akan melanjutkan pendidikan sekaligus belajar mengelola investasi keluarga."

"Rafael juga akan mendampingimu selama di sana."

Zilia menundukkan kepala.

Ia masih belum siap menerima semua keputusan itu.

Namun ia juga tahu, membantah saat ini hanya akan memperpanjang perdebatan.

Melihat putri sulungnya diam, Tuan Adrian kembali melanjutkan.

"Papa tidak memaksamu untuk langsung mencintai Rafael."

"Tapi Papa yakin, dia laki-laki yang mampu menjaga dan menghormatimu."

Davin hanya mengangguk kecil.

Menurutnya, Rafael memang jauh lebih dewasa dibanding kebanyakan pria seusianya.

Kemudian Tuan Adrian mengalihkan pandangan kepada Lora.

"Dan untuk kamu."

Lora yang sejak tadi diam langsung menatap ayahnya.

"Mulai sekarang hentikan semua hal yang tidak penting."

"Maksud Papa?"

"Fokus menyelesaikan kuliahmu."

"Soal pasangan hidup, Papa belum memikirkannya."

Kalimat itu membuat wajah Lora langsung berubah.

"Kenapa?"

"Aku juga sudah dewasa!"

"Aku juga bisa menikah!"

Tuan Adrian menggeleng tegas.

"Tidak."

"Lora, kamu masih harus menyelesaikan pendidikanmu."

"Kenapa Kak Zilia boleh menikah, sedangkan aku tidak?"

"Karena kondisinya berbeda."

"Apa bedanya?"

"Lalu kenapa harus Kak Rafael?" suara Lora mulai meninggi.

"Kenapa bukan aku yang dijodohkan dengannya?"

Ruangan seketika hening.

Zilia menoleh pelan ke arah adik tirinya.

Ia tidak menyangka Lora akan mengucapkannya secara terang-terangan.

Tuan Adrian menghela napas panjang.

"Lora."

"Jangan mencampurkan perasaan pribadi dengan keputusan keluarga."

"Tapi aku mencintai Kak Rafael! Sejak dulu! Aku lebih dulu mengenalnya daripada Kak Zilia! Tidak adil!"

Brak!

Tuan Adrian menepukkan telapak tangannya ke atas meja.

Suara itu membuat semua orang terkejut.

"Cukup!"

Untuk pertama kalinya pagi itu, nada suara Tuan Adrian terdengar begitu keras.

"Rafael bukan hadiah yang bisa diperebutkan. Dan pernikahan bukan ditentukan oleh siapa yang lebih dulu mengenal."

Lora menggigit bibirnya.

Air mata mulai menggenang.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi. Papa sudah mengambil keputusan. Dan keputusan itu tidak akan berubah."

Lora berdiri dengan kasar hingga kursinya bergeser.

"Papa selalu pilih kasih! Sejak Kak Zilia pulang... Papa tidak pernah melihatku lagi!"

"Lora!"

Namun gadis itu sudah berlari meninggalkan ruang makan sambil menangis.

Brak!

Suara pintu yang dibanting menggema di seluruh rumah.

Keheningan kembali menyelimuti ruang makan.

Tuan Adrian memejamkan mata sejenak.

"Aku berharap suatu hari nanti dia mengerti, bahwa tidak semua yang diinginkan bisa dimiliki."

Sementara itu, di balik pintu kamarnya, Lora menyandarkan tubuhnya.

Tangisnya pecah.

Namun di balik air mata itu, tekadnya justru semakin bulat.

"Kalau Papa tidak berpihak kepadaku..."

"Maka aku akan memperjuangkan Rafael dengan caraku sendiri."

Setelah suasana ruang makan kembali tenang, Zilia memilih duduk di ruang keluarga sambil membaca beberapa berkas perusahaan yang sempat dibawanya.

Namun, baru beberapa menit berlalu, rasa bosan mulai menghampiri.

Ia menoleh ke arah Tuan Adrian yang sedang membaca laporan bisnis.

"Pa."

"Hm?"

"Boleh Zilia keluar sebentar?"

Tuan Adrian menurunkan kacamatanya.

"Mau ke mana?"

"Ketemu teman."

"Tidak."

Jawaban singkat itu langsung membuat wajah Zilia mengerucut.

"Pa... Zilia cuma keluar sebentar."

"Tetap tidak."

"Kamu baru saja kembali ke rumah ini."

"Papa belum ingin kamu berkeliaran sendiri."

Zilia mengembuskan napas panjang.

"Pa, Zilia bukan anak kecil."

"Kamu memang bukan anak kecil. Tapi kamu tetap putri Papa. Keamananmu lebih penting."

Zilia hanya bisa menundukkan kepala. Ia tahu sifat ayahnya sangat sulit dibantah.

Melihat putrinya tampak kecewa, Davin yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut angkat bicara.

"Om."

Tuan Adrian menoleh.

"Kalau Zilia mau keluar, biar aku yang antar. Tapi nanti siang. Pagi ini aku masih ada rapat di kantor."

Tuan Adrian berpikir sejenak.

"Lalu setelah rapat?"

"Aku jemput dia. Ke mana pun dia pergi, aku yang tanggung jawab."

Beberapa detik kemudian, Tuan Adrian mengangguk pelan.

"Baik."

"Tapi jangan terlalu lama. Dan jangan pergi tanpa pengawalan."

Wajah Zilia yang semula murung langsung berubah cerah.

"Serius, Pa?"

"Iya."

"Asal bersama Davin."

Zilia tersenyum lebar.

"Terima kasih, Pa."

Davin terkekeh melihat perubahan ekspresi sepupunya itu.

"Tuh, senyum juga akhirnya. Tapi sabar dulu. Aku masih harus ke kantor."

"Iya, Kak."

"Nanti siang baru kita berangkat."

Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, ponsel Zilia yang berada di atas meja tiba-tiba berdering.

Nama Rara muncul di layar.

Zilia segera mengangkat panggilan itu.

"Hai, Ra."

"Iya. Zil, aku sama Edo hari ini mau pulang."

"Oh... secepat itu?"

"Iya, liburannya sudah selesai. Nah, sekalian aja pulang bareng kita."

Zilia terdiam beberapa saat. Andai keadaannya masih seperti dulu, tentu ia akan langsung mengiyakan.

Namun sekarang...

Segalanya sudah berubah.

"Maaf ya, Ra. Kayaknya aku belum bisa pulang. Soalnya masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan di sini."

Rara tidak terdengar kecewa.

"Oh, ya sudah. Gak apa-apa kok. Yang penting kamu baik-baik saja."

"Iya."

"Tapi sebelum kalian pulang... gimana kalau kita ketemu dulu nanti siang?"

"Aku lagi nunggu Kak Davin selesai kerja. Nanti dia yang nganter aku."

"Siap. Aku sama Edo tunggu di kafe yang kemarin aja, gimana?"

"Boleh."

"Nanti aku kabarin kalau sudah berangkat."

"Oke."

"Hati-hati ya."

"Iya, Ra."

Panggilan pun berakhir.

Zilia memandang layar ponselnya sejenak.

Ia tersenyum tipis.

Meski hidupnya kini dipenuhi berbagai masalah, setidaknya ia masih memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada untuknya.

Di sisi lain, Davin yang sudah berdiri sambil mengenakan jas kerjanya tersenyum kecil.

"Sudah janjian?"

"Iya."

"Kalau begitu, tunggu Kakak selesai rapat. Nanti kita berangkat."

Zilia mengangguk semangat.

"Siap, Pak Sopir."

Davin tertawa kecil.

"Enak saja. Kakak ini direktur, bukan sopir."

"Iya, iya... Direktur rasa sopir."

"Hati-hati, nanti Kakak batalin izinnya."

"Ih, jangan!"

Suasana yang sejak pagi terasa tegang akhirnya sedikit mencair, diiringi tawa kecil keduanya sebelum Davin berangkat menuju kantor.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!