NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog & Bab 1

​Prolog: Bangkitnya Sang Hantu

……………………………………………………………………

……………………………………………………………………………

​Panas.

​Itu adalah hal terakhir yang mendominasi ingatannya. Panas dari pertempuran yang menghancurkan bumi. Panas dari lahar dan api yang membakar medan perang. Panas dari kekuatan yang meluap di dalam nadinya.

​Dia adalah dewa. Dia telah mencapai puncaknya.

​Matahari telah digantikan oleh cahaya merah yang abadi. Cahaya dari Bulan Mata Merah yang agung. Pohon Suci telah mekar. Rencananya selama puluhan tahun akhirnya terwujud sempurna. Kedamaian yang dia janjikan kepada dunia telah tiba. Tidak ada lagi penderitaan. Tidak ada lagi perang. Semua orang tertidur dalam mimpi yang indah.

​Mugen Tsukuyomi telah aktif.

​Dia berdiri di udara. Angin malam yang membawa bau darah dan abu menyapu rambut putihnya. Dia menatap ke bawah. Dia melihat Hashirama yang terjebak. Dia melihat sisa-sisa perlawanan yang sia-sia. Dia merasakan kekuatan Ekor Sepuluh berdenyut selaras dengan detak jantungnya.

​Semuanya sudah berakhir. Dia telah menang. Dia adalah penyelamat dunia ini.

​Lalu datanglah rasa dingin itu.

​Rasa dingin yang tajam dan tidak masuk akal. Rasa dingin yang menembus dada kirinya. Menembus jantungnya. Menembus seluruh eksistensinya sebagai makhluk terkuat di dunia.

​Dia menunduk perlahan. Matanya yang memiliki kekuatan dewa melebar. Dia melihat sebuah tangan hitam legam menembus dadanya dari belakang. Tangan itu bukan milik musuhnya. Tangan itu milik bayangannya sendiri. Tangan milik tekadnya sendiri.

​Zetsu Hitam.

​“Kau bukanlah penyelamat dunia ini, Madara.”

​Suara itu terdengar di dekat telinganya. Suara yang serak, mengejek, dan dipenuhi oleh kemenangan kelam. Suara dari makhluk yang dia ciptakan. Atau setidaknya, makhluk yang dia pikir telah dia ciptakan.

​Madara mencoba bergerak. Dia mencoba menggunakan kekuatannya. Tetapi rasa dingin itu menyebar terlalu cepat. Kekuatan Ekor Sepuluh memberontak di dalam dirinya. Chakranya disedot keluar secara paksa. Tubuhnya terasa kaku. Matanya kehilangan fokus.

​“Mimpimu hanyalah ilusi. Kau hanyalah batu pijakan. Sebuah alat yang sangat berguna untuk membangkitkan ibuku.”

​Kata-kata itu menghancurkan segalanya. Menghancurkan keyakinannya. Menghancurkan harga dirinya. Menghancurkan setiap pengorbanan yang telah dia lakukan sejak dia masih kecil. Batu tulis Uchiha yang dia baca. Rencana panjang di dalam gua yang gelap. Pengorbanan Obito. Semuanya.

​Semuanya adalah kebohongan.

​Dia, Uchiha Madara, pria yang memanipulasi seluruh dunia, ternyata adalah orang yang paling lama dimanipulasi.

​Tubuhnya membengkak. Kesadarannya memudar. Rasa sakit fisik tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam jiwanya. Kemarahan meledak di dalam batinnya, tetapi dia tidak memiliki suara untuk berteriak. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

​Cahaya merah dari bulan memudar dari pandangannya. Berganti dengan kegelapan yang pekat. Kegelapan yang menelan segalanya.

​'Apakah ini akhirnya?'

​Pertanyaan itu mengapung di dalam benaknya yang mulai hancur.

​'Mati sebagai alat. Mati sebagai orang bodoh.'

​Kegelapan itu menyelimuti dirinya sepenuhnya. Tidak ada lagi suara. Tidak ada lagi cahaya. Tidak ada lagi rasa sakit. Hanya ada kehampaan. Kehampaan yang mutlak dan abadi. Dia membiarkan dirinya tenggelam. Menginginkan agar eksistensinya dihapus sama sekali dari sejarah.

​Dia tidak pantas mendapatkan kedamaian.

​Namun, kehampaan itu tidak berlangsung abadi.

​Sesuatu mulai menyentuh kulitnya. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang basah.

​Suara yang sangat asing mulai menembus telinganya. Suara gemuruh yang konstan dan berirama. Bukan suara ledakan. Bukan suara teriakan manusia. Bukan pula suara derak kayu dari jutsu Hashirama.

​Itu adalah suara air. Air yang bergerak.

​Sebuah aroma aneh memenuhi hidungnya. Bau garam. Bau rumput laut. Bau kehidupan liar.

​Ke mana perginya bau abu? Ke mana perginya bau darah?

​Kesadarannya ditarik kembali secara perlahan. Sangat lambat. Seperti ditarik dari dasar jurang yang dalam. Dia tidak ingin bangun. Dia ingin tetap berada di dalam kehampaan. Tetapi tubuhnya bereaksi di luar kendalinya.

​Dadanya bergerak. Udara segar masuk ke dalam paru-parunya dengan paksa. Dia terbatuk. Air asin keluar dari mulutnya. Tenggorokannya terasa perih.

​Rasa sakit itu nyata.

​Dia masih hidup.

………………………………………………………………

……………………………

​Bab 1: Dunia Tanpa Chakra, Puing-Puing Ilusi

​Sensasi dingin adalah hal pertama yang dia rasakan secara utuh.

​Air sedingin es menyapu sisi kiri wajahnya. Membasahi rambutnya. Menarik-narik pakaiannya. Butiran pasir yang kasar dan tajam menempel di pipinya. Menggores kulitnya dengan lembut setiap kali air bergerak mundur.

​Madara membiarkan matanya tertutup selama beberapa saat. Dia mencoba menganalisis situasi. Insting shinobi-nya bekerja secara otomatis.

​'Aku berbaring di tanah. Tidak, di pasir. Ada air yang bergerak secara berkala. Ombak.'

​Dia tidak berada di medan perang. Tidak ada hawa panas dari lahar. Tidak ada tekanan chakra yang mengerikan dari Aliansi Shinobi.

​Sunyi. Sangat sunyi. Hanya ada suara ombak dan pekikan burung di kejauhan.

​Jemarinya bergerak sedikit. Menyentuh pasir yang basah. Butiran pasir itu menyelinap di sela-sela jarinya. Terasa sangat nyata.

​'Ilusi?'

​Pikiran itu muncul begitu saja. Apakah Zetsu Hitam melemparnya ke dalam ilusi? Atau apakah ini bagian dari penyatuan dengan Kaguya?

​Dia harus memastikan.

​Madara menarik napas panjang. Dia mencoba mengalirkan chakra di dalam tubuhnya. Dia ingin mengaktifkan matanya. Dia ingin menghancurkan ilusi ini dengan kekuatan Rinnegan miliknya.

​Dia memusatkan pikirannya. Mencari lautan chakra yang selama ini menjadi sumber kekuatan dewanya. Mencari energi tanpa batas dari Ekor Sepuluh.

​Kosong.

​Napas Madara terhenti di tenggorokan. Matanya yang tertutup berkedut keras.

​Dia mencoba lagi. Lebih keras. Lebih dalam. Dia mencari ke setiap sudut jaringan chakranya. Ke setiap titik aliran di tubuhnya.

​Tidak ada Ekor Sepuluh. Tidak ada chakra Enam Jalur. Tidak ada chakra alam.

​Bahkan chakra murni miliknya sendiri pun terasa sangat salah.

​Lautan chakra yang selalu bergejolak di dalam dirinya kini hilang. Aliran sungai besar yang menjadi nyawanya telah mengering. Yang tersisa hanyalah aliran kecil. Sangat kecil dan lemah. Seperti parit kecil setelah hujan reda.

​'Apa yang terjadi?'

​Jantungnya berdetak lebih cepat. Ketenangan yang selalu dia jaga mulai goyah.

​Madara membuka matanya secara tiba-tiba.

​Cahaya terang menyilaukan pandangannya. Dia menyipitkan mata. Menyesuaikan diri dengan cahaya tersebut.

​Bukan langit malam yang merah. Bukan langit yang dipenuhi awan debu peperangan.

​Langit di atasnya berwarna biru cerah. Biru yang sangat jernih. Dihiasi oleh awan putih yang bergerak pelan. Burung-burung berbulu putih terbang berputar-putar di udara. Memekik dengan suara yang belum pernah dia dengar.

​Madara menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Mendorong dirinya untuk duduk.

​Tubuhnya terasa sangat berat. Pakaian yang dia kenakan basah kuyup. Dia menunduk. Matanya menangkap warna merah yang sangat dia kenal.

​Armor pelindung dada merah. Armor khas klan Uchiha yang selalu dia pakai. Armor itu utuh. Tidak ada lubang di dadanya. Tidak ada noda darah hitam.

​Tangan yang menopang tubuhnya di atas pasir terlihat berbeda. Madara mengangkat tangan kanannya. Memperhatikannya dengan saksama.

​Kulitnya pucat dan mulus. Tidak ada kerutan usia. Tidak ada retakan kertas seperti saat dia dibangkitkan dengan Edo Tensei. Tangan itu kecil. Tulangnya belum terbentuk sempurna seperti pria dewasa.

​Itu adalah tangan seorang remaja.

​Madara meraba wajahnya sendiri. Pipinya terasa lebih kencang. Garis rahangnya belum terlalu tajam. Rambutnya basah dan panjang, menempel di punggung dan pundaknya. Rambut hitam yang pekat. Bukan rambut putih keabu-abuan.

​Dia menggerakkan kakinya. Berdiri secara perlahan. Kakinya sedikit gemetar karena rasa dingin dan kelelahan yang aneh. Pasir basah menempel di celana hitamnya.

​Angin laut meniup wajahnya. Membawa bau garam yang sangat kuat.

​Dia menatap ke depan. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan air berwarna biru. Lautan lepas yang tidak memiliki ujung. Ombak bergulung pelan dan pecah di ujung kakinya.

​Dia berbalik. Di belakangnya hanya ada garis pantai yang panjang. Dibatasi oleh tebing batu yang tinggi dan hutan hijau yang lebat. Tidak ada desa. Tidak ada mayat. Tidak ada senjata yang tertancap di tanah.

​Tempat ini bersih. Tempat ini damai. Tempat ini sangat asing.

​Madara melangkah gontai meninggalkan garis ombak. Kakinya meninggalkan jejak di atas pasir yang basah. Dia berjalan menuju sekumpulan batu karang besar di dekat tebing.

​Di sela-sela batu karang itu, air laut terjebak dalam sebuah genangan yang tenang. Bening seperti cermin.

​Madara berhenti di tepi genangan itu. Menundukkan wajahnya.

​Permukaan air memantulkan bayangannya.

​Seorang pemuda balas menatapnya. Pemuda dengan rambut hitam panjang yang tajam di bagian ujung. Pemuda dengan mata hitam kelam yang dalam. Wajah yang sangat familier. Wajah yang selalu dia lihat di permukaan sungai Naka puluhan tahun yang lalu.

​Itu adalah wajahnya. Wajah Madara Uchiha saat dia berusia enam belas tahun.

​'Usia saat kematian Izuna semakin dekat,' batinnya.

​Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa sakit kecil itu menegaskan satu hal.

​Ini bukan ilusi. Ini adalah realitas.

​Dia menatap bayangan matanya. Dia mencoba mengalirkan sedikit chakra yang tersisa ke arah matanya.

​Iris hitamnya berubah menjadi merah darah. Tiga tanda koma hitam berputar pelan di sekitar pupilnya.

​Sharingan biasa. Tiga Tomoe.

​Bukan Mangekyou. Bukan Eternal Mangekyou. Bukan Rinnegan.

​Hanya mata terkutuk dasar dari klannya.

​Madara memejamkan matanya kembali. Menghentikan aliran chakra. Menghemat energi yang kini terasa sangat berharga. Mata merahnya kembali menjadi hitam.

​Dia berdiri tegak. Mengambil napas dalam-dalam. Menenangkan pikirannya yang bergejolak. Dia adalah Uchiha Madara. Kepanikan adalah emosi milik orang lemah.

​Jika tubuhnya kembali muda, jika kekuatannya hilang, maka dia hanya perlu mencari tahu di mana dia berada.

​Madara memusatkan pikirannya. Dia memperluas kesadarannya. Menggunakan sisa-sisa kemampuan sensoriknya untuk meraba dunia di sekitarnya.

​Dia mencari sesuatu yang familier. Sesuatu yang bisa menjadi patokan.

​'Di mana kau, Hashirama?'

​Tidak ada jawaban. Chakra kayu yang hangat dan menenangkan itu tidak ada.

​'Tobirama? Bocah Uzumaki itu? Uchiha terakhir yang sombong itu?'

​Tidak ada. Kosong.

​Bahkan chakra samar dari orang-orang biasa pun tidak dia temukan. Dunia ini terasa kosong dari chakra.

​Namun, bukan berarti dunia ini mati.

​Madara merasakan hal lain. Sesuatu yang berbeda. Udara di sekitarnya tidak mengandung energi alam, Senjutsu yang biasa dia serap. Udara ini murni. Bebas.

​Ada suatu jenis kekuatan yang mengalir di setiap makhluk hidup di sini, tetapi bentuknya sangat berbeda. Itu bukan penyatuan antara energi fisik dan spiritual seperti chakra. Itu terasa lebih liar. Lebih primal.

​Ada perasaan kebebasan mutlak yang berhembus bersama angin laut. Kebebasan yang aneh. Kebebasan yang membuat Madara merasa jijik karena dia tidak memahaminya.

​Dia membuka matanya. Menatap lautan luas di hadapannya.

​Dia sendirian. Terputus dari segala sesuatu yang dia kenal. Tidak ada perang. Tidak ada klan. Tidak ada Zetsu.

​Dan tidak ada impian.

​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Uchiha Madara tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

​Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya merencanakan masa depan. Menggerakkan bidak catur dalam bayang-bayang. Menyusun skenario demi skenario. Semuanya demi mencapai satu tujuan akhir yang ternyata adalah sebuah kebohongan besar.

​Sekarang, tujuan itu sudah tidak ada. Papan caturnya telah dihancurkan.

​Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin bergema di dalam kepalanya. Suara itu tidak memiliki intonasi. Sangat datar dan kuno.

​[Inisialisasi Sistem Legenda Uchiha. Tuan Rumah: Uchiha Madara. Status Fisik: Remaja (Terkunci). Kapasitas Chakra: Jonin Bawah (Terkunci). Misi Utama: Tidak ada. Hiduplah sesukamu.]

​Madara terdiam. Tubuhnya menegang sejenak. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, mencari sumber suara.

​Tidak ada siapa-siapa. Suara itu benar-benar berasal dari dalam kepalanya.

​Sebuah layar semi transparan berwarna biru redup melayang di udara, tepat di depan wajahnya. Teks berwarna putih tertulis di sana, persis dengan apa yang baru saja disuarakan di dalam kepalanya.

​Madara menatap tulisan itu dalam diam.

​Tuan Rumah. Status Terkunci. Misi Utama.

​Kata-kata yang sangat absurd. Kata-kata yang mencoba mendefinisikan dirinya. Mencoba memberinya label. Mencoba memberinya batasan.

​Kenangan tentang tangan hitam yang menembus dadanya kembali berkelebat. Kenangan tentang bagaimana dia dijadikan alat oleh tekad orang lain.

​Sudut bibir Madara perlahan terangkat. Membentuk sebuah senyuman. Bukan senyuman gembira. Bukan senyuman hangat.

​Itu adalah senyuman sinis. Senyuman yang dipenuhi oleh keangkuhan dan rasa muak yang luar biasa.

​Bahu Madara mulai berguncang pelan. Tawa pelan keluar dari bibirnya. Tawa itu semakin lama semakin keras. Memecah keheningan pantai yang damai. Suara tawanya bergema di dinding tebing. Membawa nuansa dingin dan menakutkan yang membuat burung-burung di sekitar sana beterbangan menjauh karena panik.

​Madara tertawa menatap layar biru di hadapannya.

​“Diatur oleh takdir palsu di duniaku,” suaranya serak namun penuh dengan ketajaman yang mematikan. “Dan kini sebuah benda tak kasatmata mencoba mengaturku di dunia baru?”

​Dia mengangkat tangan kanannya. Mengayunkannya dengan keras ke arah layar biru itu, seolah ingin membelahnya menjadi dua. Tangannya menembus proyeksi cahaya itu tanpa menyentuh apa pun. Layar itu hanya beriak sedikit sebelum kembali diam.

​“Jangan bercanda.”

​Madara menurunkan tangannya. Tawa itu berhenti sepenuhnya. Berganti dengan tatapan sedingin es. Mata hitamnya menatap layar itu dengan intensitas yang bisa membunuh pria lemah hanya dengan tatapan.

​“Aku tidak butuh misi. Aku tidak butuh arahan. Dan aku pasti tidak butuh izin dari benda aneh sepertimu untuk hidup sesukaku.”

​Layar biru itu tidak memberikan respons. Hanya melayang diam di udara.

​Madara membuang muka. Merasa muak melihat benda aneh itu. Dia berjalan menjauh dari genangan air. Berjalan kembali ke arah pantai yang terbuka.

​Dia tidak memedulikan layar biru yang akhirnya memudar dan menghilang dari pandangannya.

​Angin laut bertiup semakin kencang. Mengibarkan ujung rambut panjangnya. Armor merahnya terasa semakin berat karena air laut yang mulai mengering dan meninggalkan kerak garam.

​Madara menatap garis horizon di mana laut bertemu dengan langit.

​Dunia ini asing. Kekuatannya dirantai. Tubuhnya kembali muda.

​Tetapi dia tetaplah Uchiha Madara.

​Tidak ada dewa yang bisa mengaturnya. Tidak ada sistem yang bisa merantainya.

​Jika dunia ini memberinya kehidupan kedua tanpa tujuan, maka dia akan menciptakan tujuannya sendiri. Dia akan berjalan di dunia ini, melihat apa yang bisa dunia ini tawarkan.

​Dan jika dunia ini berani menghalangi jalannya, maka dia akan menghancurkannya. Sama seperti yang biasa dia lakukan.

​Langkah pertamanya di pasir dunia baru meninggalkan jejak yang dalam. Jejak dari seorang hantu yang bangkit dari kematian. Hantu yang tidak lagi mencari kedamaian ilusi, melainkan realitas yang bisa dia injak di bawah kakinya.

​Perjalanan Uchiha Madara, di dunia lautan yang tak berujung ini, baru saja dimulai.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!