NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:116k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jabat Tangan Takdir

Gao Rui langsung menelan ludah. Ia buru-buru berdiri dari kursinya.

"...Si-silakan, Senior."

Pria bertubuh tinggi besar itu mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Tanpa banyak bicara, ia menarik kursi di hadapan Gao Rui lalu duduk dengan tenang. Kursi kayu itu bahkan sedikit berderit ketika menerima berat tubuhnya.

Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri meja mereka.

"Tuan ingin memesan apa?"

Pria itu melihat daftar hidangan sebentar sebelum menjawab dengan santai.

"Satu ekor bebek panggang."

"Seporsi besar daging sapi rebus."

"Dua mangkuk mi."

"Lima bakpao isi daging."

"Tiga piring nasi."

"Sup ayam."

"Dan... tambahkan semua makanan penutup yang ada."

Pelayan itu berkedip.

"...Ba-baik."

Ia segera mencatat semuanya sebelum bergegas menuju dapur. Sementara itu, Gao Rui hanya bisa memandang pria tersebut dengan wajah sedikit tercengang.

"..."

Menu yang pria ini pesan banyak sekali. Ia sempat mengira pria itu sedang memesan makanan untuk sepuluh orang. Namun dari tadi, pria itu datang sendirian.

Pria bertubuh besar itu seolah menyadari tatapan Gao Rui. Ia tertawa.

"Aku memang saat ini, ingin sedikit lebih banyak makan. Hahaha...."

Gao Rui hanya mengangguk pelan.

"...begitu ya."

Beberapa saat kemudian, setelah pelayan benar-benar pergi, pria itu kembali menatap Gao Rui.

"Ngomong-ngomong... terima kasih."

Gao Rui berkedip.

"...?"

Pria itu melanjutkan dengan nada tenang.

"Semalam. Karena dirimu, para pendekar penjaga penginapan itu tidak menggangguku."

Gao Rui sedikit terkejut.

"Senior... tahu?"

Pria itu mengangguk kecil.

"Aku tahu. Walaupun saat itu aku sedang larut dalam pikiranku, bukan berarti aku tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarku."

Tatapannya terlihat tulus.

"Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin aku sudah diusir sebelum sempat menyelesaikan urusanku."

Gao Rui langsung melambaikan kedua tangannya.

"Ah... tidak masalah. Aku juga sebenarnya hanya kebetulan."

Pria itu memiringkan kepala.

"Kebetulan?"

Gao Rui mengangguk cepat.

"Iya. Aku sebenarnya hendak kembali ke kamar." Lalu bertemu para penjaga penginapan."

"Aku hanya meminta mereka untuk tidak menuju taman dulu untuk sementara waktu."

Ia tersenyum canggung. Jelas Gao Rui beralasan agar kebaikannya tidak diketahui pria ini.

Pria bertubuh besar itu menatap Gao Rui beberapa saat. Lalu...

"Hahaha!"

Ia tertawa cukup keras hingga beberapa tamu lain sempat menoleh ke arah mereka.

"Kau bocah yang menarik."

Gao Rui hanya ikut tersenyum malu.

Beberapa saat kemudian, pria itu kembali merendahkan suaranya.

"Ada satu hal lagi."

Ia menatap lurus ke arah Gao Rui.

"Aku berharap kau bisa merahasiakan kedatanganku. Tentang portal dimensi semalam."

"Aku tidak ingin membuat keributan."

Gao Rui hampir tanpa berpikir langsung menganggukkan kepala.

"Baik, Senior."

Entah mengapa, sejak semalam ia sama sekali tidak merasa pria ini datang dengan niat buruk. Sebaliknya, ia justru merasa pria itu sedang pulang. Pulang ke tempat yang sangat ia rindukan.

Keheningan kembali menyelimuti meja mereka beberapa saat. Akhirnya Gao Rui memberanikan diri bertanya.

"Senior... Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"

Pria itu mengangguk.

"Tanyakan saja."

Gao Rui menarik napas pelan.

"Apakah Senior berasal dari Kekaisaran Zhou?"

"Dan... tempat yang Senior datangi semalam..."

"...benarkah itu makam kedua orang tuamu?"

Pria bertubuh besar itu terdiam cukup lama. Kemudian ia mengangguk perlahan.

"Benar. Aku memang berasal dari kekaisaran ini."

"Dan tempat itu..."

Ia berhenti sejenak.

"...seharusnya memang makam kedua orang tuaku."

Gao Rui langsung menangkap satu kata yang terasa janggal.

"Seharusnya?"

Pria itu tersenyum pahit.

"Aku sudah meninggalkan tempat ini sangat lama. Sangat... sangat lama."

"Baru sekarang aku sempat kembali."

Tatapannya menerawang ke luar jendela.

"Dulu... di tempat berdirinya penginapan ini... pernah berdiri sebuah sekte. Orang tuaku dimakamkan di sana."

"Namun sayang, sekte itu telah hancur.."

Gao Rui hanya mengangguk pelan. Ia memang bukan penduduk asli Ibukota, Kota Weiyang.

Selama ini ia hanya mengetahui tempat ini, Penginapan Kayu Mawar sebagai salah satu penginapan terbaik di kota. Tentang sejarahnya, ia sama sekali tidak tahu.

Pria itu kembali bercerita. Tentang sekte yang dahulu berdiri megah. Tentang para murid yang hidup bersama. Tentang kehancuran yang akhirnya datang.

Ia juga menceritakan tentang dirinya yang akhirnya meninggalkan sektenya. Tentang perjalanan yang berlangsung bertahun-tahun.

Gao Rui hanya mendengarkan. Sesekali ia mengangguk. Sesekali matanya membelalak.

Cerita itu terdengar begitu luar biasa. Bahkan lebih pantas disebut legenda daripada kisah nyata.

Dalam hati Gao Rui mulai memiliki satu keyakinan.

“Orang ini... jelas bukan orang biasa.”

Tiba-tiba pria bertubuh besar itu tersenyum kecil.

"Kalau dipikir-pikir... Dulu..."

"...akulah orang terkuat di Kekaisaran Zhou."

Gao Rui yang sedang meminum tehnya hampir tersedak.

"Uhuk!"

Ia buru-buru meletakkan cangkirnya. Alisnya langsung berkerut. Orang terkuat?

Setahunya, orang terkuat di Kekaisaran Zhou saat ini adalah Naga Langit, Yan Luo. Sedangkan sebelum era Yan Luo, gelar itu berada di tangan Hakim Langit, Yuang Dao.

Tatapan Gao Rui kembali jatuh kepada pria di hadapannya. Jangan-jangan pria misterius ini berasal dari generasi yang bahkan lebih tua daripada Yan Luo dan Yuang Dao?

Waktu berlalu tanpa terasa. Satu per satu hidangan di atas meja akhirnya habis. Bebek panggang yang semula utuh kini hanya menyisakan tulangnya. Mangkuk mi telah kosong, begitu pula sup ayam, bakpao, dan berbagai makanan penutup yang tadi memenuhi meja.

Gao Rui sempat beberapa kali melirik pria bertubuh besar itu. Ia benar-benar heran. Dengan tubuh sebesar itu, ternyata semua makanan tersebut benar-benar habis dimakan sendirian. Pelayan yang sejak tadi beberapa kali datang untuk menuangkan teh pun diam-diam ikut tercengang.

Tidak lama kemudian, suasana kembali tenang. Obrolan mereka yang sejak tadi mengalir tanpa henti akhirnya perlahan berakhir.

Pria bertubuh besar itu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengembuskan napas lega.

"Haa..."

Ia kemudian menatap Gao Rui sambil tertawa kecil.

"Hahaha... Sepertinya... aku terlalu banyak bercerita, ya."

Tawanya terdengar ringan, jauh berbeda dengan tangis yang diperlihatkannya semalam.

Gao Rui segera menggeleng sopan.

"Tidak, Senior. Justru aku merasa mendapatkan banyak pengetahuan dari cerita Senior."

Ia tersenyum tulus.

"Selama ini aku belum pernah mendengar kisah seperti itu."

Pria bertubuh besar tersebut memandang Gao Rui beberapa saat. Tatapannya tampak sedikit lebih hangat dibanding sebelumnya. Kemudian ia tertawa kecil.

"Hahaha... Bocah."

"Aku dari tadi terus bercerita."

"Tapi lucunya... aku bahkan belum tahu siapa namamu."

Gao Rui langsung duduk lebih tegak. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya memberi salam hormat.

"Namaku Gao Rui, Senior."

Pria itu mengangguk pelan.

"Gao Rui..."

Ia mengulang nama itu perlahan.

"Nama yang bagus."

Kini giliran Gao Rui yang bertanya.

"Kalau boleh tahu... siapa nama Senior?"

Pria bertubuh tinggi besar itu terdiam sesaat. Lalu senyum lebar perlahan muncul di wajahnya.

"Hahaha..."

Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Gao Rui.

"Namaku... Sha Nuo."

Tatapannya terlihat tenang.

"Salam kenal, Bocah."

Gao Rui segera menyambut uluran tangan itu.

"Salam kenal juga, Senior Sha Nuo."

Keduanya saling berjabat tangan. Tidak ada ledakan aura, hanya sebuah jabat tangan sederhana.

Namun tidak satu pun dari mereka menyadari, momen yang tampak biasa itu, takdir dua pendekar dari generasi yang berbeda mulai saling terhubung.

Salah satunya adalah murid kesayangan Boqin Changing. Sedangkan yang lainnya adalah pengikut paling setia dari orang yang sama. Keduanya saling mengenal tanpa tahu latar belakang mereka yang saling terkait.

1
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yayat
bantai jangn kash ampun tujukan pada paman nou rui murid dr boqin
Adek Darmansyah
udh mulai menyebalkan ni authorr...
Nanik S
Bantai semua dan ambil semua Cincin ruang musuh seperti biasanya
Nanik S
Rui... tunjukan pada Paman Nuo, bahwa mampu membantai mereka dan tidak selembut hatinya🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Ridwan Pasirjambu
😍😍😍😍
budiman
satu mawar 🌹
Raju
tiba dilokasi, bertatap muka, mengetahui tingkt kultivasi musuh, di izinkan bertarung seraya mencabut pedang... udah.... slsai....🤣🤣🤣
tariii
jangan remehkan bocil itu, wooooyyyyy.... jangan lihat tampangnya yg polos, dia itu monster kecil yg siap membant*i kalian para perampokk...🤭🤭🤭😂😂😂
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Muantebz
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz 🔥🌽
kute
super seru enak alur ceritanya tidak membosankan
alexander
bagus ceritanya rekomen untuk dibaca
y@y@
👍🏻🌟👍🏾🌟👍🏻
y@y@
💥⭐👍🏼⭐💥
y@y@
👍🏿🌟👍🏾🌟👍🏿
y@y@
⭐💥👍🏼💥⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!