"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008: Keluarga Korban Datang Berterima Kasih
Tiga hari setelah Hendra Wijaya ditetapkan sebagai tersangka, Arka Pratama kembali mencuci botol spesimen di IKF.
Bedanya, kali ini tidak ada teknisi yang tertawa.
Salah satu dari mereka bahkan mengambil alih ember dari tangannya. "Biar saya saja, Dok. Dok Arka masih harus bantu Dokter Suherman cek laporan, kan?"
Arka menatap ember itu, lalu menatap teknisi yang sama yang dulu menertawakannya.
"Tidak apa-apa, Mas. Ini bagian dari pekerjaan juga."
Teknisi itu tampak canggung. "Iya, Dok. Tapi... kemarin saya kurang sopan."
Arka tidak memperpanjang. "Kita kerja saja."
Di meja belakang, dr. Suherman Priyanto sedang membaca draft catatan medis pendukung. Namanya tetap berada di bagian tanda tangan utama. Arka hanya tercatat sebagai Dokter Muda yang membantu pemeriksaan.
Itu sesuai prosedur.
Dan untuk saat ini, cukup.
Menjelang siang, berita singkat tentang perkara Sari sudah muncul di beberapa akun media lokal. Tidak ada nama Arka disebut lengkap, hanya kalimat "hasil pemeriksaan forensik mengubah dugaan bunuh diri menjadi pembunuhan". Namun di IKF, semua orang tahu siapa yang membuka temuan pertama.
Seorang teknisi yang kemarin paling banyak bicara kini menaruh kopi sachet di meja Arka. "Dok, ini buat jaga mata. Laporan Hendra pasti panjang."
Arka melihat kopi itu. "Terima kasih. Tapi jangan panggil saya Dok terlalu berat. Saya masih Dokter Muda."
"Justru karena itu, Dok," jawab teknisi itu canggung. "Dokter Muda yang kemarin membuat kami semua diam."
Arka tidak membalas. Ia kembali ke laporan.
Pukul tiga sore, seorang petugas administrasi masuk dengan wajah gugup. "Dok Arka, ada keluarga korban mencari Anda di lobi Polrestabes. Bu Iptu Adira juga sudah diberi tahu."
"Keluarga Sari?"
"Iya, Dok. Ibunya dan adiknya. Mereka membawa bunga."
dr. Suherman mengangkat wajah dari laporan. "Pergilah. Tapi ingat, jangan menerima apa pun selain ucapan terima kasih."
"Baik, Dokter Suherman."
Lobi Polrestabes lebih ramai dari biasanya. Beberapa anggota piket menoleh ketika Arka turun. Di lantai dua, Adira berdiri dekat pagar pembatas, mengamati dari atas tanpa ikut turun.
Di tengah lobi, seorang perempuan paruh baya mengenakan kerudung abu-abu berdiri sambil memegang buket bunga putih. Di sampingnya, gadis remaja dengan mata sembap memegang map kecil.
Begitu melihat Arka, perempuan itu langsung maju.
"Dok Arka?"
"Iya, Bu. Saya Arka."
Perempuan itu menggenggam kedua tangan Arka dengan kuat. Ia menunduk dalam, hampir seperti hendak jatuh ke lantai.
Arka cepat menahan lengannya. "Ibu, jangan begitu. Tolong berdiri."
"Saya ibunya Sari," kata perempuan itu dengan suara pecah. "Nama saya Sri. Kalau Dokter tidak membuka kebenaran itu, anak saya akan dikubur sebagai orang yang bunuh diri. Kami... kami mungkin akan menyalahkan dia seumur hidup."
Kata-kata itu membuat lobi mendadak lebih sunyi.
Arka menjawab pelan, "Bu Sri, yang menangani perkara ini banyak orang. Bu Iptu Adira, Pak Bambang, Inafis, Dokter Suherman. Saya hanya melakukan bagian saya."
"Tapi bagian Dokter yang pertama membuat semua orang melihat." Bu Sri mengangkat buket bunga. "Hadiah ini sederhana. Hanya tanda terima kasih. Mohon diterima."
Bunga boleh diterima. Tidak ada nilai uang besar. Tidak mengubah perkara.
Arka menerimanya dengan dua tangan. "Terima kasih, Bu. Semoga keluarga diberi kekuatan."
Gadis di samping Bu Sri melangkah maju. "Saya adiknya Sari. Nama saya Rina."
"Rina," Arka mengangguk.
Rina membuka map kecil dan mengeluarkan satu lembar kertas berbingkai sederhana. Bukan piagam resmi. Hanya tulisan tangan rapi: Terima kasih telah membantu Sari pulang dengan kebenaran.
"Kami tidak tahu harus memberi apa," kata Rina. "Jadi saya tulis ini."
Arka menerimanya. Kali ini ia butuh satu detik lebih lama untuk menjawab.
"Ini cukup. Terima kasih."
Bu Sri lalu mengeluarkan amplop cokelat dari tas.
Arka langsung melihat arah masalah itu.
"Bu, kalau itu uang, saya tidak bisa menerima."
Bu Sri membeku. "Dok, perkara sudah selesai. Ini hanya terima kasih dari keluarga, tanpa maksud memengaruhi apa pun. Tidak banyak, cuma Rp 10.000.000. Kami ikhlas."
Beberapa petugas piket mulai saling pandang.
Arka menggeleng. "Saya paham niat Ibu. Tapi saya terlibat dalam proses hukum. Menerima uang dari keluarga korban tetap tidak boleh. Kalau Ibu ingin membantu, gunakan uang itu untuk tahlilan keluarga, biaya pemakaman, atau kebutuhan Rina."
"Tapi kami merasa berutang."
"Kebenaran Sari bukan utang kepada saya, Bu. Itu hak Sari."
Bu Sri menutup amplop itu pelan.
Di lantai dua, Adira masih diam. Tapi Arka melihat sudut mulutnya bergerak sedikit.
Bu Sri menekan amplop ke dadanya. Air matanya jatuh, tapi ia tidak memaksa lagi.
"Kalau begitu, izinkan saya mengatakan ini saja." Ia menatap Arka. "Terima kasih, Dok. Anak saya tidak bisa bicara lagi. Tapi Dokter membuat orang yang membunuhnya bicara."
Kalimat itu tidak keras.
Namun bagi Arka, efeknya lebih berat daripada ucapan Gunawan di lantai lima.
Selama ini ia belajar forensik sebagai ilmu: luka, darah, jaringan, waktu kematian, laporan. Hari itu ia melihat bentuk lain dari pekerjaannya. Di depan seorang ibu, satu garis sayatan yang tepat bisa mengubah cara keluarga mengingat anaknya.
Rina ikut menunduk. "Terima kasih, Dok Arka."
Arka membalas dengan angguk pendek. "Jaga Ibu, Rina. Dan kalau penyidik masih membutuhkan keterangan, bantu Bu Iptu Adira sejujur mungkin. Itu juga cara menjaga Sari."
"Iya, Dok."
Setelah Bu Sri dan Rina pergi, lobi perlahan kembali bergerak. Petugas piket yang tadi melihat ikut menunduk kecil kepada Arka. Tidak berlebihan. Tapi berbeda dari hari pertama.
Adira turun dari tangga.
"Amplopnya ditolak?"
"Iya, Bu Iptu."
"Bagus. Kalau Anda terima, saya yang menyeret Anda ke Propam meski Anda bukan polisi."
"Saya sudah cukup banyak diseret minggu ini."
Adira menatapnya satu detik, lalu tertawa pendek. "Mulai bisa menjawab, ya."
Arka tidak tahu apakah itu pujian atau peringatan.
Ponsel Adira berbunyi. Ia membaca pesan, lalu kembali serius. "BAP Hendra masuk tahap final. Barang bukti kabel sudah ditemukan. Laporan Anda membantu."
"Baik, Bu."
"Kembali ke IKF. Jangan buat masalah satu hari saja."
"Saya usahakan."
Arka kembali ke ruang autopsi membawa bunga dan kertas terima kasih itu. Di dalam, meja stainless sudah dibersihkan. Botol spesimen sudah berjajar rapi. Namun di meja pemeriksaan lain, sebuah kantong jenazah baru menunggu jadwal pemeriksaan sore.
Arka meletakkan bunga di meja administrasi agar ruang autopsi tetap bersih dari urusan pribadi.
Ia menatap kantong jenazah itu sebentar.
Tidak ada label merah muncul. Belum.
Tapi ia tahu sekarang: setiap tubuh yang diam mungkin meninggalkan seseorang di luar sana yang menunggu jawaban.
Dan selama jawaban itu bisa ditemukan, ia tidak boleh hanya menjadi anak magang yang menunduk.