NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI KOTA YANG TIDAK MENGENAL KAMI

Pesawat mendarat di Singapura pukul 09.10.

Alya melihat keluar jendela.

Gedung-gedung tinggi berdiri rapat.

Jalanan terlihat sibuk.

Semuanya bergerak cepat.

Berbeda dengan Bali.

Berbeda dengan rumah.

Berbeda dengan kehidupan yang selama ini mereka kenal.

Raka duduk di sebelahnya.

“Gugup?”

“Sedikit.”

“Takut?”

Alya tersenyum.

“Lumayan.”

Raka menggenggam tangannya.

“Kita mulai dari nol.”

Alya menggeleng.

“Bukan dari nol.”

Raka menatapnya.

“Kita membawa semua yang sudah kita pelajari.”

Alya tersenyum.

“Benar.”

Pesawat akhirnya berhenti.

Mereka turun.

Dan tanpa mereka sadari, sejak hari itu kehidupan mereka memasuki fase baru.

HARI PERTAMA

Apartemen yang disediakan perusahaan berada di pusat kota.

Tidak terlalu besar.

Namun nyaman.

Alya meletakkan koper.

Raka membuka tirai.

Pemandangan kota terlihat dari lantai tinggi.

“Bagaimana?”

Alya berdiri di sampingnya.

“Bagus.”

“Kamu suka?”

“Ya.”

Raka tersenyum.

“Berarti kita bisa tinggal.”

Alya menatapnya.

“Jangan senang dulu.”

“Kenapa?”

“Saya belum tahu dapurnya.”

Raka tertawa.

“Prioritas sekali.”

“Jelas.”

Mereka mulai membongkar barang.

Tidak ada suasana romantis berlebihan.

Tidak ada adegan sempurna.

Hanya dua orang yang sibuk mencari tempat untuk menyimpan pakaian.

Namun justru hal sederhana itu membuat Alya tersenyum.

Mereka benar-benar sedang membangun kehidupan baru.

HARI KEDUA

Hari pertama Alya sebagai CEO Asia Pasifik dimulai pukul 07.30.

Dia masuk ke kantor dengan langkah tenang.

Tidak ada yang mengenalnya secara pribadi.

Tidak ada yang tahu bahwa dia pernah menjadi asisten eksekutif.

Tidak ada yang tahu siapa suaminya.

Yang mereka tahu hanya satu:

Alya Anindita adalah orang yang ditunjuk untuk memimpin ekspansi regional.

Dia menyukai itu.

Tidak ada nama Raka.

Tidak ada nama Mahendra.

Tidak ada masa lalu.

Hanya kemampuannya.

Rapat pertama berlangsung dua jam.

Target regional.

Struktur tim.

Anggaran.

Negosiasi.

Semua dibahas langsung.

Salah satu keputusan pertama Alya adalah mengubah target ekspansi.

Bukan mengejar pertumbuhan tercepat.

Tetapi pertumbuhan yang bisa dipertahankan.

“Kenapa targetnya diturunkan?” salah satu anggota tim bertanya.

Alya menjawab,

“Karena saya tidak ingin kita terlihat sukses selama enam bulan lalu gagal setelahnya.”

Ruangan diam.

Alya melanjutkan,

“Pertumbuhan bukan perlombaan.”

Dia menunjuk angka di layar.

“Kita membangun sistem yang bisa bertahan.”

Keputusan itu diterima.

Sementara itu — RAKA

Hari pertama Raka tidak jauh berbeda.

Dia bekerja dari kantor regional Mahendra Group.

Namun ada satu masalah.

Selama bertahun-tahun, hampir semua keputusan penting berakhir di mejanya.

Sekarang dia harus mulai mendelegasikan.

Laporan datang bertubi-tubi.

Persetujuan menunggu.

Telepon dari Bali terus masuk.

Raka akhirnya mematikan sebagian notifikasi.

Dia memandang layar laptop.

“Kalau semuanya harus melalui saya…”

Dia bersandar.

“Berarti saya gagal membangun tim.”

Kalimat itu membuatnya berpikir.

Hari itu Raka mengambil keputusan besar.

Mulai bulan berikutnya, tiga kepala divisi akan diberikan kewenangan penuh atas operasional harian.

Raka hanya menerima laporan strategis.

Bukan keputusan kecil.

Ini tidak mudah.

Namun dia tahu—

kalau ingin memiliki kehidupan bersama Alya, dia tidak bisa terus menjadi orang yang harus mengurus semuanya sendiri.

MALAM PERTAMA

Alya pulang pukul 21.00.

Raka sudah lebih dulu sampai.

Dia sedang memasak.

Alya membuka pintu.

“Bau apa itu?”

“Masakan.”

Alya melihat dapur.

“Bisa dimakan?”

Raka menatapnya.

“Kalau kamu mau menghargai suami, jawabannya bisa.”

Alya tertawa.

“Baik.”

Mereka makan bersama.

Untuk beberapa menit tidak ada pembicaraan pekerjaan.

Sampai akhirnya Alya berkata,

“Bagaimana hari kamu?”

“Berantakan.”

Alya tertawa.

“Saya juga.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Berarti kita sama-sama belajar.”

Alya tersenyum.

Kemudian dia berkata,

“Saya suka di sini.”

Raka menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena tidak ada yang mengenal saya.”

Raka terdiam.

Alya melanjutkan,

“Saya bisa membuktikan siapa saya tanpa membawa masa lalu.”

Raka tersenyum.

“Dan saya suka itu.”

Alya mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena saya ingin melihat kamu berhasil bukan karena saya.”

Alya menggenggam tangannya.

“Dan saya ingin kamu juga begitu.”

TIGA BULAN KEMUDIAN

Kehidupan baru mulai terbentuk.

Alya semakin sibuk.

Raka juga.

Mereka mulai memiliki rutinitas masing-masing.

Pagi berangkat bersama.

Siang bekerja terpisah.

Malam bertemu di rumah.

Namun semakin besar tanggung jawab Alya, semakin sering dia pulang larut.

Awalnya pukul 20.00.

Kemudian 21.00.

Kemudian 23.00.

Raka tidak pernah mengeluh.

Tetapi Alya mulai menyadari sesuatu.

Setiap kali pulang, lampu ruang tengah masih menyala.

Raka menunggunya.

Suatu malam pukul 00.15, Alya membuka pintu.

Raka masih duduk di sofa.

Laptop di pangkuan.

“Kamu belum tidur?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Nunggu kamu.”

Alya meletakkan tas.

“Kamu tidak perlu.”

Raka tersenyum.

“Saya tahu.”

“Lalu?”

“Saya mau.”

Alya duduk di sampingnya.

“Raka.”

“Hm?”

“Saya takut.”

Raka menutup laptop.

“Takut apa?”

“Kita mulai kembali ke pola lama.”

Raka mengerutkan kening.

“Pola lama?”

“Sibuk. Jarang bicara. Jarang makan bersama.”

Raka diam.

Alya melanjutkan,

“Saya tidak mau pernikahan kita menjadi seperti itu.”

Raka mengangguk.

“Berarti kita perlu memperbaikinya sekarang.”

“Bagaimana?”

Raka berpikir.

Kemudian berkata,

“Mulai besok, pukul delapan malam tidak ada pekerjaan.”

Alya tertawa kecil.

“Kita CEO dan direktur.”

“Justru karena itu.”

“Kalau ada keadaan darurat?”

“Darurat boleh.”

“Kalau rapat?”

“Rapat bisa menunggu.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Mereka membuat aturan baru.

Pukul 20.00 adalah waktu rumah.

Tidak ada laptop.

Tidak ada laporan.

Tidak ada telepon kecuali keadaan darurat.

HASILNYA

Minggu pertama berjalan baik.

Minggu kedua lebih baik.

Minggu ketiga—

Alya menerima telepon dari kantor pukul 19.55.

Masalah besar terjadi di Kuala Lumpur.

Salah satu proyek hampir gagal.

Alya melihat jam.

20.00.

Dia menatap Raka.

Raka langsung berkata,

“Jawab.”

Alya menggeleng.

“Kesepakatan kita.”

Raka tersenyum.

“Kesepakatan kita bukan berarti mengabaikan pekerjaan.”

Dia mengambil ponselnya.

“Jawab.”

Alya mengangkat telepon.

Masalah tersebut diselesaikan dalam empat puluh menit.

Setelah itu dia kembali ke ruang tengah.

“Maaf.”

Raka menggeleng.

“Tidak perlu.”

“Kesepakatan kita gagal.”

“Tidak.”

Raka menunjuk jam.

“Jam delapan bukan aturan untuk membuat kita merasa bersalah.”

Alya tersenyum.

“Lalu?”

“Jam delapan adalah pengingat bahwa setelah pekerjaan selesai, kita pulang kepada satu sama lain.”

Alya terdiam.

Kemudian duduk di sampingnya.

“Terima kasih.”

ENAM BULAN DI SINGAPURA

Evaluasi pertama dilakukan.

Hasilnya luar biasa.

Ekspansi regional tumbuh lebih cepat dari target.

Alya berhasil membangun tim lokal yang kuat.

Raka juga berhasil mengubah struktur Mahendra Group sehingga sebagian besar operasional tidak lagi bergantung kepadanya.

Artinya—

mereka bisa kembali ke Bali lebih sering.

Malam itu mereka merayakan keberhasilan tersebut di balkon apartemen.

Alya membawa dua gelas jus.

“Enam bulan.”

Raka mengangguk.

“Cepat.”

“Kamu menyesal ikut saya?”

“Tidak.”

“Serius?”

“Serius.”

Alya tersenyum.

“Saya juga tidak menyesal.”

Raka menatap kota.

“Kita berhasil.”

Alya menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Kita baru membuktikan bahwa kita bisa bekerja bersama.”

Raka menoleh.

“Lalu?”

Alya tersenyum.

“Sekarang kita harus membuktikan bahwa kita bisa hidup bersama.”

Raka tertawa.

“Bukankah kita sudah?”

“Belum sepenuhnya.”

“Kenapa?”

Alya menatapnya.

“Karena kita masih terlalu sibuk.”

Raka berpikir.

Kemudian mengangguk.

“Benar.”

KEPUTUSAN PULANG

Mereka memutuskan tidak memperpanjang masa tinggal permanen di Singapura.

Alya tetap menjadi CEO regional.

Namun sistem sudah dibangun.

Dia bisa memimpin dari Bali dan melakukan perjalanan sesuai kebutuhan.

Raka juga kembali fokus pada kantor pusat.

Bukan karena mereka gagal.

Justru karena mereka berhasil membuat sistem yang tidak bergantung pada kehadiran mereka setiap hari.

Sebelum pulang, Alya berdiri di balkon apartemen.

“Tempat ini akan saya rindukan.”

Raka berdiri di belakangnya.

“Kenapa?”

“Karena di sini kita belajar sesuatu.”

“Apa?”

“Bahwa cinta tidak cukup hanya dengan perasaan.”

Raka mengangguk.

“Kita harus punya waktu.”

“Dan batas.”

“Dan kepercayaan.”

“Dan kehidupan masing-masing.”

Raka tersenyum.

“Berarti kita lulus?”

Alya tertawa.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Ujiannya baru dimulai.”

KEMBALI KE BALI

Rumah mereka masih sama.

Namun mereka sudah berbeda.

Lebih matang.

Lebih tenang.

Lebih tahu apa yang mereka inginkan.

Alya membuka pintu.

Raka masuk membawa koper.

“Pulang.”

Alya tersenyum.

“Pulang.”

Dia berjalan ke ruang tengah.

Kemudian melihat sesuatu di meja.

Sebuah amplop.

Namanya tertulis di sana.

Untuk Alya Anindita.

Alya mengambilnya.

Raka ikut melihat.

“Dari siapa?”

Alya membuka.

Isinya bukan ancaman.

Bukan masalah perusahaan.

Bukan dokumen hukum.

Sebuah undangan.

Forum Pengusaha Perempuan Indonesia — Penghargaan Pemimpin Bisnis Tahun Ini.

Nama Alya tercantum sebagai salah satu kandidat.

Alya menatap Raka.

“Serius?”

Raka tersenyum.

“Sepertinya kamu akan dapat penghargaan.”

Alya tertawa.

“Jangan terlalu yakin.”

Raka memeluknya dari belakang.

“Saya sudah yakin sejak kamu pertama kali membantah saya di kantor.”

Alya tertawa.

“Jadi semua berawal dari pertengkaran?”

“Sepertinya.”

“Kalau waktu itu saya tidak melawan?”

Raka berpikir.

“Mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa perempuan yang paling sering membuat saya kesal ternyata adalah orang yang paling saya butuhkan.”

Alya tersenyum.

“Tapi sekarang saya tidak mau menjadi orang yang kamu butuhkan.”

Raka menatapnya.

“Lalu?”

“Saya ingin menjadi orang yang kamu pilih.”

Raka mencium keningnya.

“Saya pilih.”

EPISODE 35 BERAKHIR

Enam bulan di Singapura mengubah cara Alya dan Raka memandang pernikahan.

Mereka tidak menjadi pasangan yang selalu bersama.

Mereka justru belajar bahwa ruang pribadi, karier, dan waktu bersama bisa berjalan berdampingan.

Namun kepulangan mereka ke Bali membawa fase baru.

Alya mulai mendapatkan pengakuan atas namanya sendiri.

Dan sebuah penghargaan akan membawanya ke panggung nasional.

Di sana, untuk pertama kalinya, Alya akan berdiri di depan publik bukan sebagai istri Raka Mahendra, bukan mantan asisten, dan bukan bagian dari keluarga Mahendra.

Hanya sebagai:

Alya Anindita.

Dan justru ketika karier Alya mulai mencapai puncaknya, Raka akan menghadapi keputusan yang membuatnya bertanya:

“Kalau suatu hari karier istri saya jauh lebih besar daripada saya, apakah saya benar-benar siap menerimanya?”

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!