NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Kicau burung bersahutan di dahan pohon mangga saat matahari mulai naik.

​Adit memanjat pohon besar itu dengan hati-hati sambil membawa kamera pengawas dari sistem.

​Dia meletakkan alat kecil itu di dahan tertinggi yang menghadap langsung ke seluruh area kebun.

​"Sistem, pasang kamera CCTV tak kasat mata di titik ini," batin Adit memberi perintah.

​[Kamera Pengawas CCTV Bertenaga Surya Tak Kasat Mata berhasil dipasang.]

​[Menghubungkan pandangan kamera dengan layar pikiran Tuan... Selesai.]

​Tiba-tiba benda kecil di tangan Adit itu berkedip sekali lalu menghilang sepenuhnya dari pandangan.

​Sebuah layar biru kecil muncul di sudut pandangan mata Adit menampilkan gambar kebunnya dengan sangat jernih.

​"Canggih sekali, gambar dari sistem ini bahkan lebih jelas dari siaran televisi," gumam Adit takjub.

​Adit segera turun dari pohon dan berjalan menuju area lahan sayuran di dekat sungai.

​Di sana, Bang Jarwo dan Bang Sopo sudah berdiri mematung menatap isi kebun dari balik pagar bambu.

​"Kalian kenapa diam saja di luar, Bang?" tegur Adit sambil menepuk pundak Bang Jarwo.

​Bang Jarwo menoleh perlahan dengan mulut setengah terbuka.

​"Dit, tolong bangunkan Paman kalau ini cuma mimpi," ucap Bang Jarwo dengan suara bergetar.

​Adit melihat ke arah lahan dan pura-pura memasang wajah kaget.

​Padahal dalam hati, dia sudah tahu bahwa pupuk dan bibit dari sistem pasti tumbuh gila-gilaan.

​Hanya dalam waktu beberapa hari, bibit tomat dan sawi itu sudah tumbuh setinggi pinggang orang dewasa.

​Daun sawinya sangat lebar dan hijau pekat, sementara buah tomatnya besar-besar dan merah merona.

​"Ini keajaiban dunia, Dit, tanah bapakmu ini pasti diberkahi malaikat," tambah Bang Sopo menggelengkan kepala tak percaya.

​"Alhamdulillah, Bang, sepertinya resep rahasia Bapak memang paling cocok ditanam di tanah dekat sungai," jawab Adit berkilah.

​"Kalau begini ceritanya, pagi ini juga kita bisa panen semuanya, Dit," kata Bang Sopo sangat antusias.

​"Iya, Bang, tolong siapkan keranjang lagi ya, kita panen semuanya hari ini," perintah Adit tersenyum.

​Keresek! Keresek!

​Ketiga pria itu segera masuk ke dalam area kebun dan mulai mencabut sawi serta memetik tomat dengan cepat.

​Aroma segar khas sayuran dataran tinggi langsung tercium kuat memenuhi udara di sekitar mereka.

​Hanya butuh waktu satu jam, lima keranjang bambu besar sudah terisi penuh dengan hasil panen yang luar biasa itu.

​Tin! Tin!

​Suara klakson mobil tiba-tiba terdengar nyaring dari arah depan rumah panggung Adit.

​Adit dan kedua pamannya saling berpandangan dengan penuh tanda tanya.

​"Siapa yang bawa mobil bagus ke gubuk kita ini, Dit?" tanya Bang Jarwo kebingungan.

​"Biar saya cek dulu ke depan, Bang," Adit segera mencuci tangannya di sungai kecil lalu berjalan ke depan rumah.

​Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam mengkilap terparkir rapi di halaman depan yang berdebu.

​Pintu penumpang terbuka dan seorang wanita berpakaian elegan keluar dari dalam mobil.

​Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai tertiup angin desa.

​"Nona Riana? Sedang apa Anda di sini?" sapa Adit sedikit terkejut melihat rekan bisnis barunya itu.

​Riana melepas kacamata hitamnya dan tersenyum manis ke arah Adit.

​"Pagi, Adit, maaf kalau saya datang tiba-tiba tanpa mengabari lebih dulu," jawab Riana ramah.

​"Tentu saja tidak apa-apa, Nona, tapi dari mana Anda tahu alamat rumah saya?" Adit mengerutkan kening penasaran.

​"Saya bertanya pada beberapa pedagang di pasar kota kemarin setelah kamu pulang," jelas Riana sambil melangkah mendekat.

​"Saya tidak sabar menunggu kamu menghubungiku, jadi saya memutuskan untuk datang langsung."

​"Silakan duduk dulu di teras, Nona Riana, rumah saya memang agak berantakan," Adit mempersilakan tamunya.

​Riana menggeleng pelan dan menatap Adit dengan mata penuh harap.

​"Tidak usah repot-repot, Adit, tujuan utama saya ke sini ingin melihat langsung kebun milikmu."

​"Kebetulan sekali, Nona, kami baru saja selesai memanen sayuran segar," ucap Adit sambil menunjuk ke arah belakang rumah.

​Mata Riana langsung berbinar mendengarnya.

​"Sayuran apa yang kamu panen hari ini? Boleh saya lihat sekarang?" tanyanya antusias.

​"Tentu saja, mari saya antar ke belakang," Adit berjalan memandu Riana menuju kebun.

​Sesampainya di belakang, Riana langsung terpaku melihat tumpukan tomat dan sawi di dalam keranjang bambu.

​Asisten pria yang menyetir mobilnya segera menyusul dan ikut tercengang melihat ukuran sayuran tersebut.

​Riana mendekati keranjang tomat dan mengambil satu buah yang paling besar.

​Kres!

​Tanpa ragu, Riana menggigit tomat merah itu layaknya menggigit buah apel biasa.

​Air sari tomat yang sangat segar mengalir dari sudut bibirnya.

​"Luar biasa manis dan segar, teksturnya juga sangat renyah tanpa rasa asam yang menyengat," puji Riana dengan wajah sangat puas.

​Dia kemudian mengambil selembar daun sawi dan merobeknya sedikit.

​"Daun sawi ini juga sangat tebal, warnanya hijau sempurna tanpa ada satupun bekas gigitan ulat," tambah Riana.

​"Bagaimana menurut Nona? Apakah sayuran ini masuk kriteria restoran Anda?" tanya Adit dengan tenang.

​Riana berbalik menatap Adit dengan pandangan yang sangat serius.

​"Ini bukan sekadar masuk kriteria, Adit, ini sayuran dengan kualitas terbaik yang pernah saya temukan di negara ini."

​Riana menyeka sudut bibirnya dengan sapu tangan lalu menatap lurus ke mata Adit.

​"Saya mau membuat kontrak kerja sama jangka panjang denganmu hari ini juga."

​Bang Jarwo dan Bang Sopo yang mendengarkan dari tadi saling menyenggol lengan dengan girang.

​"Kontrak kerja sama seperti apa yang Nona maksud?" Adit mencoba tetap profesional meski hatinya bersorak.

​"Saya akan memborong seluruh hasil panenmu setiap minggunya, apa pun jenis sayurannya," jelas Riana mantap.

​"Tentu saja harganya akan saya beli jauh di atas harga pasaran asalkan kamu hanya memasok ke restoran saya."

​"Itu tawaran yang sangat menarik, Nona Riana," Adit tersenyum menyetujui.

​"Sebagai tanda keseriusan, asisten saya akan mentransfer uang muka sebesar sepuluh juta rupiah hari ini juga," lanjut Riana.

​Adit menelan ludah mendengar angka yang disebutkan oleh wanita cantik di hadapannya itu.

​Sepuluh juta rupiah adalah jumlah yang sangat besar untuk ukuran orang desa seperti dirinya sekarang.

​"Nona sangat murah hati, saya sepakat dengan kontrak ini," jawab Adit sambil mengulurkan tangannya.

​Riana menyambut uluran tangan Adit dengan senyum manis yang membuat wajahnya semakin menawan.

​"Kerja sama yang bagus, Adit, saya yakin restoran saya akan semakin terkenal dengan bahan darimu," ucap Riana.

​Setelah asisten Riana menimbang semua sayuran dan memindahkannya ke bagasi mobil besar itu, mereka kembali ke halaman depan.

​"Oh iya, Adit, ada satu hal lagi yang ingin saya bicarakan denganmu," langkah Riana tiba-tiba terhenti di dekat pintu mobil.

​"Ada masalah apa, Nona?" tanya Adit menatap Riana heran.

​Riana mencondongkan tubuhnya sedikit dan merendahkan suaranya agar tidak didengar paman Adit.

​"Saya dengar dari informan saya di pasar, Pak Kumis sedang merencanakan sesuatu yang buruk padamu," bisik Riana khawatir.

​"Dia sangat marah karena kamu menolak menjual cabaimu padanya kemarin dan merasa diremehkan."

​Adit tersenyum tipis mendengar peringatan tersebut, mengingat kejadian semalam yang hampir menghancurkan kebunnya.

​"Terima kasih atas informasinya, Nona Riana, tapi Anda tidak perlu khawatir," jawab Adit tenang.

​"Saya sudah tahu niat buruknya dan saya punya cara sendiri untuk menghadapinya."

​Riana menatap Adit dengan rasa kagum yang diam-diam tumbuh di hatinya.

​Pemuda di hadapannya ini terlihat sangat sederhana, namun memiliki ketenangan yang luar biasa.

​"Baiklah kalau kamu sudah siap, tapi kalau kamu butuh bantuan keamanan, jangan ragu hubungi saya," tawar Riana.

​"Saya akan ingat tawaran Anda, Nona," Adit mengangguk sopan.

​Brumm!

​Mobil SUV hitam itu perlahan meninggalkan halaman rumah Adit, menyisakan kepulan debu tipis di jalanan desa.

​Adit menatap layar ponselnya yang baru saja berbunyi menandakan notifikasi masuk.

​Ting!

​"Transfer masuk sebesar sepuluh juta rupiah," baca Adit dalam hati dengan senyum lebar.

​[Pemberitahuan Sistem: Misi Jual Hasil Panen Kedua Berhasil Selesai.]

​[Kemitraan Jangka Panjang Terbentuk.]

​[Hadiah Misi: 500 Poin Pengalaman, 1 Kartu Perluasan Lahan Ajaib, dan 1 Resep Pakan Ternak Super.]

​Rentetan hadiah dari sistem kembali memenuhi pikirannya membuat semangat Adit semakin membara.

​"Bang Jarwo, Bang Sopo! Ayo kita bersiap, siang ini kita makan enak di warung desa!" teriak Adit penuh kegembiraan.

​"Wah, asyik! Juragan muda kita baru dapat rezeki nomplok rupanya!" sahut Bang Sopo sambil berlari mendekat membawa goloknya.

​Malam itu, setelah makan besar merayakan kesuksesan panen kedua, Adit kembali duduk sendirian di kamarnya.

​Dia memantau layar CCTV tak kasat mata melalui pikirannya sambil menyusun rencana.

​"Pak Kumis sudah menyerang duluan semalam, sekarang giliranku yang membalas," batin Adit dingin.

​Adit membuka fitur Toko Sistem yang sudah lama terbuka sejak level satu.

​Dia mencari sebuah barang spesifik yang bisa memberikan pelajaran telak kepada tengkulak licik tersebut tanpa harus mengotori tangannya sendiri.

​"Akan kubuat kau memohon ampun padaku, Pak Kumis," gumam Adit sambil menekan tombol beli di layar sistemnya.

​Sebuah botol kecil berwarna hitam pekat tiba-tiba muncul di telapak tangan Adit.

​Konflik antara petani muda dari desa dengan preman pasar kota baru saja akan memasuki babak pembalasan yang sesungguhnya.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!