NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *1

Hujan turun perlahan malam itu. Bukan hujan badai yang menggelegar atau memaksa siapa pun berlari mencari perlindungan. Hanya rintik-rintik halus yang jatuh lembut dari langit kelabu, mengetuk-ngetuk permukaan kaca jendela apartemen mereka dengan irama yang menenangkan. Suara itu terdengar seperti nyanyian kecil alam, menciptakan suasana hangat, damai, dan nyaman.

Suasana yang selalu menjadi favorit Merlin. Di balik kaca yang sedikit berembun itu, kota besar di luar sana tampak samar, hanya berupa bayangan cahaya lampu jalan yang berkilauan dan garis-garis cahaya kendaraan yang bergerak pelan di tengah rintik air.

Di dapur kecil yang berukuran pas-pasan itu, aroma kuah kaldu yang gurih, campuran jahe, bawang, dan potongan ayam empuk, memenuhi seluruh ruangan. Uap putih mengepul perlahan dari mulut panci di atas kompor listrik, membawa kehangatan yang menyebar ke setiap sudut ruangan.

Merlin berdiri diam di sana, tangannya bergerak lambat mengaduk isian panci itu sesekali, memastikan bumbunya meresap sempurna. Matanya sesekali melirik ke arah jam dinding yang tergantung di dekat pintu. Jarum panjangnya sudah berada di angka dua belas, jarum pendeknya menunjuk angka sembilan.

Sudah hampir pukul sembilan malam. Dan seperti kebiasaan belakangan ini, Reyno belum pulang. Namun berbeda dari malam-malam biasanya, di mana Merlin akan mulai gelisah, mengecek ponsel berkali-kali, atau sedikit kesal karena menunggu terlalu lama. Malam itu hatinya terasa damai, tenang, dan penuh harapan. Ia justru tersenyum kecil sendiri di depan kompor, matanya berbinar bahagia seolah ada pesta besar yang sedang ia persiapkan sendirian.

Hari itu bukan hari biasa. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kedua.

Dua tahun yang lalu, di tanggal yang sama, mereka berjanji untuk saling memiliki, saling menjaga, dan saling menjadi rumah satu sama lain seumur hidup. Dan sejak pagi tadi, Reyno sudah berkali-kali mengirim pesan, menelepon, bahkan sempat menyempatkan diri berhenti sebentar di rumah hanya untuk meminta maaf.

Pekerjaan di kantor sedang menumpuk, ada proyek besar yang harus diselesaikan minggu ini, dan kemungkinan besar suaminya itu akan pulang lebih larut dari jam biasanya.

«Maaf ya, Sayang. Hari ini pasti pulang telat banget. Ada rapat tambahan yang gak bisa ditinggal. Tapi aku janji gak bakal lama, nanti pas pulang aku langsung cari kamu, ya?»

Kalimat itu, nada suara itu, dan penyesalan tulus di mata Reyno pagi tadi masih teringat jelas di kepala Merlin, berputar terus seperti kaset kesayangan. Dan seperti biasa, Merlin mempercayainya sepenuhnya.

Selama dua tahun mereka menikah, Reyno memang sering sibuk, sering lembur, sering pulang larut malam. Tapi laki-laki itu selalu berusaha menepati setiap janji yang ia ucapkan. Tidak pernah sekalipun ia lupa tanggal penting mereka. Tidak pernah sekalipun ia pergi terlalu lama tanpa kabar. Reyno selalu pulang. Reyno selalu kembali. Dan Reyno selalu berusaha membuat Merlin merasa dicintai, meski dengan cara-cara sederhana.

Merlin mematikan kompor, lalu mengangkat panci itu perlahan ke atas alas kayu di meja makan. Ia berjalan pelan menuju meja makan kecil yang terletak tepat di samping jendela besar, tempat mereka biasa menghabiskan waktu berdua. Di sana, sejak sore tadi, ia sudah menyiapkan segalanya dengan rapi.

Dua piring keramik putih polos.

Dua pasang sendok dan garpu.

Dan di tengah meja, tiga batang lilin kecil berwarna krem yang sudah disusun membentuk garis lurus, lengkap dengan korek api di sampingnya.

Sederhana sekali. Tidak ada pesta mewah, tidak ada dekorasi mahal, tidak ada kue besar bertingkat. Hanya makan malam hangat, cahaya lilin yang lembut, dan kehadiran satu sama lain. Tapi bagi Merlin, kesederhanaan inilah yang paling berharga. Cukup. Sudah lebih dari cukup untuk membuat rumah kecil mereka ini terasa begitu hangat dan berharga.

Di dinding tepat di belakang meja makan itu, beberapa bingkai foto tergantung rapi berjejer. Merlin berhenti sejenak, menatap satu per satu foto itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ada foto pernikahan mereka, di mana mereka berdua berdiri berdampingan dengan senyum paling lebar dan paling bahagia di dunia. Ada foto saat mereka baru pertama kali pindah ke apartemen ini, duduk bersila di lantai yang masih kosong, dikelilingi kardus-kardus barang yang belum dibongkar. Ada foto liburan singkat ke pantai, saat matahari terbenam dan bayangan mereka berdua terlihat saling berpegangan tangan di pasir.

Namun matanya berhenti pada satu foto di sudut bawah. Foto yang membuatnya tertawa kecil setiap kali melihatnya.

Di sana tercetak wajah Reyno yang tertidur pulas di atas sofa ruang tamu, mulutnya sedikit terbuka, rambutnya berantakan ke segala arah, dan tangannya erat memeluk bantal persegi panjang dengan motif bunga yang sebenarnya agak konyol untuk dipeluk laki-laki dewasa.

Wajahnya terlihat sangat damai, sangat lelah, namun juga sangat tenang. Merlin ingat betul saat itu. Waktu itu Reyno baru pulang dari perjalanan dinas jauh, kelelahan luar biasa, lalu langsung terlelap begitu duduk sebentar di sofa.

Merlin diam-diam mengambil kamera dan memotretnya. Saat Reyno terbangun dan menyadari foto itu ada di galeri, laki-laki itu marah besar, menganggap fotonya jelek dan memalukan.

Tapi akhirnya, justru Reyno sendiri yang menempelkan foto itu ke dinding, sambil bergumam pelan, "Yaudah, biar ada kenangannya. Biar ingat kalau gue capek pun, ada lo di sana nemenin."

"Dasar nyebelin," gumam Merlin pelan, tapi suaranya penuh kasih sayang. Ia menyentuh permukaan kaca bingkai itu pelan, seolah sedang menyentuh wajah suaminya sendiri.

Suara kunci diputar di lubang pintu depan terdengar jelas memecah keheningan. Klik.

Jantung Merlin langsung berdegup lebih kencang. Matanya berbinar cerah, seolah ada lampu yang baru saja dinyalakan di dalam sana. Ia buru-buru berjalan cepat keluar dari ruang makan, menuju ruang tamu yang menghadap pintu depan.

Dan benar saja, pintu terbuka perlahan, dan sosok tinggi besar itu berdiri di sana. Reyno.

Jas kerjanya sedikit basah terkena rintik hujan, rambut depannya agak lepek menempel di dahi, dan wajahnya terlihat sangat lelah. Lingkaran gelap di bawah matanya terlihat jelas, dan bahunya tampak berat seolah memikul beban dunia di atasnya.

Namun, begitu matanya menangkap sosok Merlin yang berdiri menunggunya, seluruh kelelahan itu seolah menguap begitu saja. Ekspresi kaku dan tegang itu langsung melembut, berganti menjadi tatapan hangat yang selalu sama.

"Hey ...." Senyumnya muncul pelan, menyungging di bibirnya, senyum yang hanya dimiliki Merlin seorang.

Merlin berjalan mendekat dengan langkah cepat, lalu berhenti tepat di hadapan suaminya. Ia mendongak sedikit agar bisa menatap mata itu lekat-lekat.

"Kamu lama banget," katanya, nada protesnya terdengar kecil, manja, dan sama sekali tidak berisi kemarahan. Hanya rindu yang terselip di sana.

Reyno tertawa pelan, suara beratnya terdengar renyah di ruang sempit itu. Ia mengangkat kedua tangannya seolah mengaku kalah.

"Maaf, maaf ya. Tadi ada klien yang ngobrolnya panjang banget. Gak enak kalau dipotong," jawabnya lembut.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!