NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembukaan dan Pecah Ketuban

Hari ke-277.

Kehamilan Evelyn masuk minggu ke-32.

Kontraksi palsu udah jadi rutinitas.

Datang malam, hilang pagi.

Tapi malam ini beda.

Jam 1 pagi, Evelyn kebangun karena rasa “pecah” di bawah.

Hangat. Basah.

Dia langsung duduk.

“Matthias... air ketuban gue pecah.”

Matthias langsung melek.

Nggak panik.

Dia udah hafal SOP dari dr. Laras.

“Gue ambil tas. Lo jangan gerak. Telpon dr. Laras.”

Telepon diangkat.

“Bu Evelyn, langsung ke RS sekarang. Jangan makan minum.

Pak Matthias, bawa handuk besar buat alas duduknya.”

15 menit kemudian mereka udah di mobil.

Hujan rintik-rintik.

Matthias nyetir pelan, satu tangan pegang tangan Evelyn yang dingin.

“Takut nggak?” tanya Matthias pelan.

Evelyn ngangguk.

“Tapi lebih takut kalau lo nggak pegang tangan gue.”

Matthias genggam lebih erat.

“Gue nggak bakal lepas.”

---

Sampai IGD, suster langsung bawa Evelyn ke ruang bersalin.

Cek pembukaan: 3 cm.

Denyut jantung Relia 148. Normal.

“Bu, kita observasi dulu. Kalau kontraksi makin teratur, kita siapin untuk persalinan.”

Evelyn diinfus. Dipasang CTG buat pantau Relia.

Matthias duduk di kursi samping ranjang.

Nggak tidur.

Nggak minum.

Cuma ngeliatin Evelyn.

Jam 3 pagi, kontraksi mulai datang tiap 3 menit.

Sakitnya naik level.

Evelyn gigit bibir tiap kali datang.

Matthias hitungin napasnya.

“Masuk... tahan... buang. Bagus, Sayang.”

Evelyn nangis pelan.

“Gue nggak kuat, Mat.”

Matthias jongkok di samping ranjang, pegang kedua tangannya.

“Lo kuat. Lo udah nahan ini 32 minggu.

Gue ada. Gue nggak ke mana-mana.”

---

Jam 5 pagi, dr. Laras datang cek lagi.

Pembukaan: 4 cm.

“Kita kasih epidural ya, Bu? Biar Ibu bisa istirahat.”

Evelyn ngangguk.

Anestesi datang, pasang epidural.

Rasa sakitnya turun 70%.

Evelyn akhirnya bisa napas lega.

Matthias duduk di pinggir ranjang, pegang tangannya.

“Gimana? Mendingan?”

Evelyn ngangguk.

“Berkat lo. Lo nggak tidur kan?”

Matthias senyum capek.

“Nanti tidur kalau lo udah pegang Relia.”

---

Jam 8 pagi, Nyonya Alina dan Om Dimas datang.

Bawa bubur, teh jahe, dan baju bayi yang udah disetrika.

Nyonya Alina langsung peluk Evelyn.

“Kamu hebat, Nak. Tahan ya.”

Om Dimas salaman sama Matthias.

“Tenang, Mat. Gue jaga di luar. Lo fokus di dalem.”

Matthias ngangguk.

Dia nggak bisa ngomong banyak.

Takut kalau ngomong, suaranya pecah.

---

Jam 10 pagi, pembukaan 6 cm.

Evelyn udah bisa ngobrol dikit.

Dia cerita ke Nyonya Alina kalau Relia suka cegukan tiap malam.

Nyonya Alina ketawa.

“Kayak bapaknya. Dulu juga gitu.”

Matthias di pojok ruangan pura-pura ngatur tas.

Padahal dia nggak berhenti ngeliatin Evelyn.

Jam 12 siang, kontraksi makin kuat lagi.

Epidural mulai berkurang efeknya.

Evelyn genggam tangan Matthias erat.

“Mat... sakit.”

Matthias nggak ngomong apa-apa.

Dia cuma cium keningnya.

“Gue ada. Terus aja napas.”

---

Jam 2 siang, pembukaan 8 cm.

Suster panggil dr. Laras.

“Pak, Ibu, siap-siap ya. Kemungkinan 2-3 jam lagi lahiran.”

Matthias langsung berdiri.

Dia tarik napas dalam.

“Gue boleh masuk ruang bersalin kan?”

Dr. Laras senyum.

“Boleh. Tapi jangan pingsan ya, Pak.”

Matthias ketawa kecil.

“Nggak. Gue janji.”

---

Jam 3 sore, Evelyn dipindah ke ruang bersalin.

Lampu terang. Peralatan lengkap.

Evelyn takut.

Tapi pas dia liat Matthias pakai baju OK, masker, dan duduk di samping kepalanya, dia tenang.

“Lo nggak usah liat ke bawah,” bisik Matthias.

“Lihat gue aja.”

Evelyn ngangguk.

Kontraksi datang.

Dr. Laras ngasih aba-aba.

“Ngejan ya, Bu. Pelan-pelan. Jangan teriak. Simpan tenaga.”

Evelyn ngejan.

Sakitnya luar biasa.

Tapi dia nggak lepasin tangan Matthias.

“Bagus, Bu! Kepala udah kelihatan!” kata suster.

Matthias genggam tangannya lebih erat.

“Relia, Papa ada di sini. Keluar ya, Sayang.”

---

Jam 4.12 sore, tangisan pertama pecah.

Kencang. Sehat.

Relia lahir.

2,8 kg. 48 cm. Perempuan. Sehat.

Evelyn nangis.

Matthias nangis juga.

Dia nggak peduli maskernya basah.

Suster letakin Relia di dada Evelyn.

Kulit ke kulit.

Hangat. Kecil. Wangi.

Relia berhenti nangis.

Diam. Dengerin detak jantung mamanya.

Evelyn usap kepala Relia pelan.

“Hai, Sayang. Mama di sini.”

Matthias di sampingnya, nggak bisa ngomong.

Cuma bisa bisik:

“Hai, Relia. Papa udah nunggu lama banget.”

---

Nyonya Alina dan Om Dimas di luar dengar tangisan itu.

Mereka langsung peluk satu sama lain.

Nangis.

Jam 5 sore, Relia dibawa ke ruang bayi buat cek lengkap.

Evelyn dijahit.

Matthias duduk di sampingnya, pegang tangannya terus.

“Gue bangga sama lo,” katanya pelan.

Evelyn senyum capek.

“Gue juga bangga sama lo. Lo nggak pingsan.”

Matthias ketawa kecil.

“Hampir.”

---

Jam 7 malam, Evelyn pindah ke ruang rawat inap.

Relia dibawa masuk 1 jam kemudian.

Tidur di box kecil di samping ranjang.

Evelyn nggak bisa tidur.

Dia cuma ngeliatin Relia.

Matthias juga sama.

“Dia mirip lo,” kata Matthias pelan.

Evelyn ketawa.

“Nggaaak. Hidungnya mirip lo.”

Matthias senyum.

“Bagus. Biar pinter.”

Mereka ketawa pelan.

Takut bangunin Relia.

---

Malam itu, Evelyn nggak tidur.

Tapi dia nggak capek.

Karena tiap kali dia ngeliat Relia, rasanya kayak semua sakit 3 tahun terakhir dibayar lunas.

Matthias ketiduran di kursi jam 2 pagi.

Kepala sandar ke ranjang Evelyn.

Evelyn selimutin dia pelan.

Dia bisik ke Relia:

“Lihat, Sayang. Papa lo hebat.

Dia nggak tidur semalaman buat jagain kita.”

Relia nggak jawab.

Tapi dia gerak dikit.

Kayak ngerti.

---

Hari ke-278.

Pagi harinya, foto pertama Relia di-upload.

Cuma tangan kecil Relia genggam jari Matthias.

Caption:

_4.12 PM. 2.8 kg. 48 cm.

Halo dunia, ini Relia Virel._

Komentar langsung banjir.

_“Selamat, Pak Matthias!”_

_“Evelyn hebat!”_

_“Welcome to the world, Relia!”_

Clarissa nggak komentar.

Tapi akunnya tiba-tiba follow akun Relia.

---

Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis di diarynya:

_“Hari ini gue ngerti apa itu cinta yang sebenarnya.

Nggak muluk.

Cuma 2,8 kg, nangis kencang, dan tidur di dada gue.”_

Dia tutup buku.

Matiin lampu.

Tidur di samping Matthias dan Relia.

Di luar, dunia masih ribut.

Tapi di dalam kamar 312 itu, semuanya damai.

---

Bersambung –

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!