NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Arena Latihan

Di sepanjang perjalanan, Tetua Xu menjelaskan secara singkat mengenai khasiat cairan hijau yang baru saja dijalani Huang. Ramuan itu tidak meningkatkan kultivasi secara langsung, tetapi memperkuat tubuh dari dalam dan luar. Otot, tulang, meridian, bahkan daya tahan terhadap tekanan spiritual akan meningkat perlahan jika seseorang mampu bertahan melewati rasa sakitnya.

"Jangan menganggap latihan itu sebagai hukuman ataupun ujian," ujar Tetua Xu sambil berjalan santai. "Banyak kultivator ingin memperoleh ramuan seperti itu, tetapi tidak memiliki kesempatan. Mereka hanya melihat manfaatnya, tetapi tidak sanggup menanggung resikonya."

Huang mengangguk pelan. "Murid mengerti."

Setelah beberapa waktu berjalan, mereka kembali tiba di paviliun Tetua Xu. Tetua Xu berhenti dan berbalik menatap Huang.

"Sekarang kau benar-benar menjadi muridku."

Huang segera menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih, Guru."

Tetua Xu mengangkat tangannya. "Namun jika ingin mendapatkan latihan khusus dariku, kau masih harus melewati dua ujian lagi."

Tetua Xu menatap dalam. "Ini bukan guru tidak menepati ucapan beberapa minggu lalu, tetapi guru perlu melihat seberapa layak dirimu."

Huang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Murid mengerti guru. Kalau begitu, murid siap melanjutkan ujian berikutnya."

Tetua Xu justru menggeleng. "Dalam seminggu ke depan aku akan pergi bersama Pemimpin Sekte. Kami akan menghadiri pertemuan dengan beberapa klan besar dan sekte besar lainnya."

Huang sebenarnya ingin bertanya mengenai tujuan perjalanan itu, namun ia menahan diri. Tidak semua hal pantas ditanyakan murid kepada gurunya.

"Baik, Guru."

Tetua Xu tersenyum tipis. "Selama aku pergi, manfaatkan waktumu. Berlatihlah di arena latihan, ikut misi bersama kakak seperguruanmu, atau pergi ke Aula Kitab."

"Aula Kitab?" tanya Huang.

Tetua Xu mengangguk. "Di sana tersimpan banyak catatan. Tingkatan binatang spiritual, sejarah wilayah, peta pegunungan, lautan, reruntuhan kuno, serta berbagai pengetahuan yang akan berguna bagimu di masa depan. Kultivator yang hanya tahu bertarung biasanya tidak hidup lama."

Huang menangkupkan kedua tangannya. "Terima kasih atas petunjuk Guru. Murid jadi mengetahui apa yang harus dilakukan."

Tetua Xu mengangguk puas. "Bagus."

Begitu kata itu selesai keluar dari mulutnya, sosok Tetua Xu langsung menghilang.

Huang berkedip, kemudian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Kapan aku bisa menghilang seperti itu..."

Tatapannya perlahan terangkat ke langit. Tidak berselang lama senyumnya memudar.

"Ayah... Ibu..." Suara Huang menjadi lirih. "Huang merindukan kalian."

Dadanya terasa sedikit sesak. Namun beberapa saat kemudian ia menarik napas panjang dan menenangkan dirinya.

"Tidak boleh seperti ini."

Huang berbalik dan mulai berjalan menuju area utama sekte.

Setelah beberapa waktu, ia tiba di pelataran yang cukup ramai. Murid-murid dalam lalu-lalang sambil membawa pedang, kitab, atau menuju aula masing-masing.

"Huang!"

Suara lembut memanggilnya.

Huang menoleh ke kiri. Di sana berdiri Ning Su dan Qiou Rin. Bersama mereka terlihat seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun. Penampilannya anggun, namun matanya tajam.

Huang sedikit tertegun sebelum segera menangkupkan kedua tangannya.

"Nona Ning, Nona Qiou, dan..."

Ning Su tersenyum. "Ini guruku. Tetua Jiajia."

Huang segera membungkuk hormat. "Salam, Tetua. Maafkan murid yang tidak mengenali Tetua."

Tetua Jiajia menyipitkan matanya sebentar. "Tidak masalah. Kau masih baru di sekte dalam. Wajar jika belum mengenal para tetua."

Huang mengangguk.

Setelah itu Qiou Rin berbicara tanpa memandangnya.

"Perkembanganmu sangat cepat. Kami tertinggal satu langkah darimu."

Huang menoleh, mengamati kedua wanita itu.

Pada saat itu dia bisa melihat jelas, Qiou Rin dan Ning Su kini telah mencapai Ranah Fondasi Tahap Awal.

Huang tersenyum kecil. "Saya hanya beruntung mendapatkan hadiah kompetisi. Tanpa pil pembentukan fondasi dan batu roh itu, saya tidak mungkin berkembang secepat ini."

Tetua Jiajia mendengus. "Omong kosong."

Huang berkedip.

Tetua Jiajia melanjutkan, "Bahkan dengan sumber daya seperti itu, menerobos dari Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung ke Ranah Fondasi Tahap Menengah dalam lima belas hari... itu terhitung sangat cepat."

Ning Su mengangguk setuju. "Guru benar."

Huang menggaruk kepalanya. "Tetua terlalu memuji murid."

Tetua Jiajia kembali mendengus, Qiou Rin juga mendengus.

Huang mengernyitkan dahinya. 'Kenapa Tetua dan Nona Qiou selalu mendengus?'

Ning Su yang melihat ekspresi Huang hampir tertawa. "Kebetulan kami sudah menunggumu sejak kemarin."

Huang menatapnya. "Menunggu saya?"

Ning Su mengangguk. "Iya. Aku dan Qiou Rin ingin mengajakmu sparing."

Tetua Jiajia menyilangkan tangannya. "Dan aku ingin melihat sendiri bagaimana kalian bisa kalah darinya."

Qiou Rin langsung memalingkan wajah. "Itu karena aku ceroboh."

Ning Su segera menimpali. "Aku juga."

Tetua Jiajia tertawa pendek. "Kalian berdua benar-benar kompak."

Huang diam sejenak. Tatapannya berpindah dari Tetua Jiajia ke Ning Su lalu ke Qiou Rin. Guru dan murid benar-benar akrab.

Tiba-tiba ia teringat Tetua Mo.

Kalau Tetua Mo menjadi tetua sekte dalam... Huang membayangkan dirinya duduk bersama Tetua Mo sambil memegang kendi arak.

Huang langsung menggeleng. "Itu akan terlihat aneh."

Tetua Jiajia menyipitkan matanya. "Apa yang kau gumamkan?"

Huang tersadar. "Tidak ada, Tetua."

Tetua Jiajia menatap tajam Huang. "Jadi bagaimana? Berani atau tidak?"

Huang segera menangkupkan kedua tangannya. "Murid tentu tidak berani menolak ajakan Tetua."

"Bagus." Tetua Jiajia langsung berbalik. "Kalau begitu ikut aku."

"Baik tetua."

Mereka segera berjalan menuju arena latihan. Sepanjang perjalanan, Ning Su tampak bersemangat, berbeda dengan Qiou Rin yang tetap dingin seperti biasanya.

"Nanti jangan menahan diri," kata Ning Su.

Huang tersenyum. "Nona Ning juga."

Qiou Rin mendengus. "Aku tidak akan kalah dua kali."

Huang hanya tersenyum sopan.

Beberapa saat kemudian mereka tiba di arena latihan sekte dalam. Tempat itu jauh lebih besar, puluhan panggung batu berdiri berjajar. Di berbagai sudut, murid-murid dalam sedang bertarung, berlatih teknik, atau bertukar pengalaman kultivasi.

Saat Huang memasuki area itu, beberapa murid langsung mengenalinya.

"Itu Huang."

"Pemenang kompetisi murid luar."

"Aku dengar dia sudah Ranah Fondasi Tahap Menengah."

"Secepat itu?"

Bisik-bisik segera menyebar.

Di salah satu arena, Huang melihat sosok yang tidak asing. Lei Shan sedang memegang pedang besar sambil membimbing beberapa murid.

"Lebih rendah! Kuda-kudamu terlalu tinggi! Kalau seperti itu, satu tendangan saja sudah jatuh!"

Seorang murid mengeluh. "Tapi Kakak Senior Lei, kakiku sudah gemetar."

Lei Shan tertawa keras. "Kalau baru gemetar sudah mengeluh, bagaimana nanti menghadapi binatang spiritual?"

Tidak jauh dari sana, Luo Mei sedang mengawasi latihan pedang beberapa murid perempuan.

"Salah."

"Salah lagi."

"Salah terus."

"Semakin salah."

Murid-murid di depannya hampir menangis.

Saat Luo Mei melihat Huang datang bersama Ning Su dan Qiou Rin, alisnya sedikit terangkat.

Lei Shan juga memperhatikan mereka. Ia segera melambaikan tangannya.

"Huang!"

Huang menangkupkan kedua tangannya.

"Kakak Senior Lei."

Lei Shan berjalan mendekat. "Kau akhirnya keluar dari pelatihan Guru."

Huang mengangguk.

Tatapan Lei Shan segera berpindah ke Ning Su dan Qiou Rin, kemudian ke Tetua Jiajia.

Lei Shan langsung membungkuk hormat.

"Salam Tetua Jiajia."

Tetua Jiajia mengangguk.

Lei Shan lalu menyeringai. "Kalian mau apa?"

Ning Su menjawab. "Kami ingin sparing dengan Huang."

Lei Shan langsung tertawa. "Haha! Bagus! Aku juga penasaran seberapa kuat Huang sekarang."

Luo Mei yang ikut mendekat berkata datar. "Kalau begitu cepat naik arena. Jangan menghalangi jalan."

Qiou Rin menatap Luo Mei. "Kau juga ingin melihat?"

"Tentu." Jawaban Luo Mei singkat.

Tetua Jiajia mengangguk puas melihat semakin banyak orang berkumpul. "Kalau begitu lebih baik." Ia menunjuk salah satu arena batu kosong. "Kalian bertiga naik."

Huang berkedip. "Bertiga?"

Tetua Jiajia tersenyum tipis. "Ning Su dan Qiou Rin melawanmu."

Lei Shan langsung tertawa terbahak-bahak.

"Haha! Menarik!"

Qiou Rin sedikit mengernyit. Ning Su juga tampak terkejut. Sedangkan Huang hanya bisa menghela napas pelan sebelum menangkupkan kedua tangannya.

"Kalau itu keputusan Tetua... murid akan menurut."

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!