NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENJELASAN DARI ANGKASA

Pagi itu, suasana rumah Pak Bimo terasa sangat sepi dan sunyi. Pak Bimo dan Bu Saras pagi-pagi sekali sudah berangkat kondangan ke rekan kerja Pak Bimo yang punya pabrik di kota sebelah. Mereka berpesan pada Arum untuk menjaga rumah dan menerima tamu jika ada yang datang. Dan benar saja, belum lama orang tuanya pergi, Angkasa datang seperti biasa.

Arum yang sedang duduk di beranda sambil memegang buku, langsung menegang saat melihat mobil Angkasa berhenti di depan pagar. Dia berusaha bersikap biasa saja, meski hatinya selalu bergetar campur sakit dan rindu setiap kali melihat sosok itu.

Angkasa masuk dengan wajah yang sama sekali tidak cerah. Sudah berhari-hari dia menahan rasa bingung dan sakit hati melihat sikap Arum yang berubah drastis menjadi sedingin es. Hari ini, saat tahu hanya ada mereka berdua di rumah, Angkasa bertekad tidak akan pulang sebelum mendapat jawaban yang pasti.

Angkasa duduk di kursi yang agak jauh dari Arum, tapi tatapannya menatap tajam ke arah gadis itu. Suasana hening cukup lama, hanya ada suara angin yang berhembus pelan di antara daun-daun pohon.

"Masih sibuk sama tulisanmu?" tanya Angkasa akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar datar tapi ada beban berat di dalamnya.

Arum mengangguk pelan, matanya tetap menunduk ke buku yang bahkan tidak dibacanya. "Iya... lumayan banyak yang harus diselesaikan, Mas."

Angkasa menghela napas kasar. Ia sudah muak mendengar jawaban yang itu-itu saja. Sudah berhari-hari pertanyaannya dijawab dengan alasan yang sama, padahal matanya melihat jelas ada yang salah. Rasa frustasi dan rasa sakit yang ditahannya selama ini akhirnya meluap juga. Angkasa menatap tajam ke arah Arum, dan dengan nada suara yang tiba-tiba meninggi bukan marah, tapi karena sudah tidak tahan lagi dia bertanya.

"ARUM,BERHENTI BOHONG SAMA SAYA!!,SAMPAI KAPAN KAMU MAU KAYAK GINI KE SAYA?JAWAB SALAH SAYA APA SAMPE KAMU BERSIKAP DINGIN DAN MENGHINDAR DARI SAYA? JAWAB ARUM,JUJUR SAMA SAYA!!."

Suara tinggi Angkasa itu mengejutkan arum. Gadis itu tersentak kaget, kepalanya mendongak cepat menatap Angkasa dengan mata terbelalak. Selama ini, Angkasa selalu bicara lembut, selalu tenang, tidak pernah sekalipun meninggikan suara padanya. Mendengar nada tinggi itu, rasa sakit yang sudah tertumpuk berhari-hari di hati Arum akhirnya tumpah juga. Air mata bening langsung meluncur deras membasahi pipinya, tanpa bisa ia tahan lagi.

Pemandangan itu langsung membuat Angkasa diam seketika. Ia menyesal sudah meninggikan suara, tapi ia terpaku menunggu apa yang akan keluar dari mulut Arum selanjutnya.

Arum terisak pelan, bahunya berguncang menahan tangis yang makin keras. Ia menatap Angkasa dengan pandangan yang penuh luka dan kekecewaan yang mendalam. Semuanya tak lagi perlu disembunyikan. Semuanya harus keluar hari ini juga.

"Kamu nanya ada apa? Kamu tanya kenapa aku berubah?!" suara Arum terdengar bergetar di sela isak tangisnya, matanya menatap tajam lurus ke manik mata Angkasa.

"Mas Angkasa... kamu nggak sadar apa? Atau kamu emang sengaja pura-pura nggak tau?!"

Arum menghapus kasar air matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan dengan suara yang makin lantang dan menyakitkan bagi dirinya sendiri.

"Aku berubah gini karena aku bodoh, Mas! Aku bodoh banget karena udah jatuh cinta sama kamu! Aku jatuh cinta sama kamu sedalam-dalamnya! Aku nyaman, aku merasa aman, aku merasa jadi cewek paling berharga sedunia kalau sama kamu! Ternyata... itu cuma perasaanku doang kan? Itu cuma khayalanku doang kan?!"

Arum mengeratkan gigi menahan sesak di dadanya, bayangan kejadian di mal itu kembali terputar jelas di kepalanya.

"Kamu ingat waktu kita ke mall? Waktu kita beli kado buat rekanmu? Waktu aku izin ke toilet sebentar? aku gak langsung pulang pas hari itu. Aku udah balik lagi ke restoran, aku udah mau nyamperin kamu. Tapi belum sempat aku sampai ke meja kamu... aku denger semuanya, Mas! Aku denger sendiri apa yang kamu omongin sama cewek cantik yang duduk di depannya kamu itu!"

Air mata Arum makin deras mengalir, suaranya terdengar sangat pilu.

"Kamu bilang sama dia... aku ini cuma teman. Cuma anak rekan bisnis kamu. Cuma anak sahabat almarhum bapak kamu... nggak lebih. Kamu bilang kamu anggap aku teman aja! Itukah arti semua kebaikan kamu ke aku selama ini? Itukah arti semua jalan-jalan kita? Semua cuma karena urusan orang tua? Cuma karena rasa hormat sama mendiang Bapak kamu?!"

Arum menggelengkan kepalanya kuat-kuat, hatinya kembali terasa perih seperti ditusuk ribuan jarum.

"Aku nggak apa-apa kalau kamu emang nggak ada rasa sama aku, Mas. Tapi kenapa kamu kasih harapan? Kenapa kamu jagain aku seolah aku cewek spesial? Mas Angkasa...kamu cinta pertamaku. Baru kali ini aku ngerasain rasanya jatuh cinta, baru kali ini aku ngerasain perasaan sedalam ini buat seseorang... tapi kenapa harus sakit kayak gini? Kenapa kamu cuma nganggep aku sepele itu?"

Arum sudah tidak sanggup bicara lagi, ia membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangan, menangis sejadi-jadinya melepaskan segala beban yang selama ini dipendamnya sendirian.

Di hadapannya, Angkasa berdiri diam mematung. Air mata bening perlahan menetes jatuh dari sudut matanya, mengalir turun melewati pipi tegasnya. Hatinya rasanya hancur lebur, sakit sekali melihat wanita yang paling ia cintai menangis sesedih ini, menangis gara-gara perkataannya sendiri. Terlebih lagi mendengar fakta bahwa dirinya adalah cinta pertama Arum... rasanya Angkasa ingin memukul dirinya sendiri karena kecerobohannya itu.

Tanpa pikir panjang lagi, Angkasa melangkah cepat mendekat, menarik tubuh Arum ke dalam pelukannya,dia peluk erat. Dia membiarkan Arum menangis di dadanya, membiarkan gadis itu meluapkan semuanya. Tangan Angkasa mengusap lembut kepala dan punggung Arum, sementara air matanya sendiri terus menetes jatuh membasahi rambut gadis itu.

"Maaf... maafin saya, Arum... maafin saya..." bisik Angkasa berulang kali dengan suara parau dan penuh penyesalan.

Beberapa saat berlalu, sampai tangis Arum mulai mereda dan napasnya mulai teratur kembali, Angkasa masih memeluknya erat, tidak berniat melepaskan. Saat Arum mulai tenang dan berusaha melepaskan pelukan, Angkasa justru menahan bahu Arum, menatap wajah gadis itu lekat-lekat, menghapus sisa air mata di pipinya dengan ibu jarinya yang gemetar.

"Arum... dengarin saya baik-baik ya. Saya bakal jelasin semuanya, Tolong percaya sama saya," ucap Angkasa pelan namun tegas dan tulus. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, lalu mulai bercerita.

"Pertama... saya mau kamu tau satu hal yang paling penting. Arum... kamu bukan sekadar teman buat saya. Kamu bukan sekadar anak rekan bisnis saya. Dan kamu bukan cuma anak sahabat almarhum bapak saya... Kamu adalah segalanya buat saya. Dan dengerin ini baik-baik... kamu juga cinta pertama saya, Arum. Saya jatuh cinta sama kamu udah dari lama banget. Dari kita kuliah."

Mata Arum membelalak kaget, sisa air matanya masih ada tapi ia terpaku mendengar itu. Angkasa tersenyum sedih, matanya berkaca-kaca lagi.

"Ingat nggak waktu buku kita tertukar? Waktu itu pertemuan kedua kita,kita pertama kali bertemu saat masa kuliah. Kamu ingat sama laki laki yang udah kamu tolong karna buku dan dokumen yang laki laki itu bawa jatuh berserakan? Y itu saya arum,dari situ saya sudah terpesona sama kamu,saya berharap bisa ketemu kamu lagi tapi takdir kayaknya belum izinin kita buat ketemu lagi karna waktu itu saya benar benar sibuk dengan usaha peninggalan almarhum kedua orangtua saya dan tugas kuliah saya."

"Dan pertemuan kedua kita di kafe,saat kamu masuk ke kedai kopi waktu itu,saya langsung kenal sama wajah kamu,wajah wanita yang sudah bikin saya terpesona dan jatuh hati pada pandangan pertama,tapi saya cuma bisa merhatiin kamu dari jauh.sampe waktu itu buku kita gak sengaja tertukar dari situ saya langsung cari tau semua informasi tentang kamu. Kamu liat tatto di lengan kanan saya arum? Itu nama kamu,saya sengaja mengukir nama kamu di lengan saya karna saya benar benar tidak ingin melupakan kamu,saya cari informasi kamu ternyata kamu anak pak bimo yang punya pabrik dan perkebunan buah dari situ saya bikin alasan kalo saya mau kerjasama,itu semua juga sekalian biar saya bisa kenal kamu lebih dekat,dan saya gak nyangka ternyata ayah kamu sahabat kecil almarhum bapak saya."

"Arum saya bikin alasan-alasan itu, saya sering ke rumah, saya ajak kamu jalan... semua itu bukan karena urusan bisnis, tapi karena saya pengen terus ada di dekat kamu, saya pengen kamu juga kenal saya, Emangnya ada orang yang rela tatto tangannya sendiri dengan nama wanita yang belum dia ketahui semuanya?"

Angkasa menghela napas berat, lalu masuk ke bagian yang paling menyakitkan itu.

"Terus soal kejadian di mall... Arum, saya minta maaf banget. Saya minta maaf saya udah asal ngomong waktu itu, saya minta maaf kata-kata bodoh saya itu udah bikin kamu sakit hati sedemikian rupa. Cewek yang ada di depan saya waktu itu namanya Litta. Dia teman satu angkatan saya pas kuliah dulu. Sejak awal kita jadi mahasiswa baru, dia itu terobsesi banget sama saya, Arum. Dia ngejar saya, dia ganggu saya, dia mau jadi pacar saya. Tapi saya nggak pernah ada rasa sama dia sedikit pun. Saya selalu nolak dia, saya selalu hindari dia. Tapi dia gila, dia selalu cari cara buat deketin saya."

Wajah Angkasa berubah serius dan sedikit marah mengingat kejadian itu.

"Waktu di mall itu... saya kaget banget tiba-tiba dia muncul di depan saya. Saya tau dia pasti ngikutin saya dari parkiran. Saya udah males banget, Arum. Saya udah muak banget sama kelakuan dia. Pas dia nanya 'cewek yang sama kamu itu siapa, pacar kamu ya?', dia nanya dengan nada ngejek dan penasaran. Saya tau kalau saya jawab 'iya dia pacar saya', dia bakal makin ganggu, dia bakal makin nanya-nanya hal bodoh, dia bakal bikin keributan,"

"Makanya saya asal jawab aja, Arum... saya jawab 'cuma teman, anak rekan bisnis' cuma biar dia diem, cuma biar dia nggak nanya-nanya lagi, cuma biar dia cepet pergi dari hadapan saya. Saya jawab itu karena saya emosi sama dia, karena saya risih banget sama dia... sama sekali nggak ada maksud hati bikin kamu sakit, sama sekali nggak ada maksud jelekin posisi kamu. Saya sama sekali nggak tau kamu udah balik, saya sama sekali nggak tau kamu denger semuanya. Kalau saya tau kamu ada di sana, saya bakal usir dia langsung, saya bakal kenalin kamu ke dia sebagai wanita yang saya cintai!"

Angkasa kembali memegang kedua bahu Arum, menatap mata gadis itu dalam-dalam dengan penuh ketulusan.

"Arum... saya minta maaf banget. Maaf omongan saya yang asal ceplos itu udah bikin kamu sakit hati. Maaf saya bikin kamu nangis. Maaf saya bikin kamu ragu sama perasaan saya. Percayalah... di dunia ini, cuma kamu satu-satunya wanita yang ada di hati saya. Cuma kamu. Saya nunggu waktu yang pas buat ngungkapin semuanya, tapi ternyata emosi saya dan ketidaktahuan kita malah bikin kita sakit hati begini."

Arum yang mendengar semuanya dari awal sampai akhir, hatinya yang tadinya hancur perlahan kembali utuh. Rasa sakit itu berganti dengan rasa lega yang luar biasa. Ternyata... ternyata semua kekhawatirannya salah. Ternyata Angkasa juga menyayanginya, bahkan sudah sejak lama. Ternyata kata-kata itu cuma salah paham besar.

Air matanya yang tadi air mata kesedihan, sekarang berubah jadi air mata kebahagiaan. Arum kembali menangis, tapi kali ini sambil tersenyum. Ia langsung memeluk erat pinggang Angkasa, membenamkan wajahnya di dada bidang itu, mendengar detak jantung yang selama ini jadi tujuannya pulang.

"Maafin aku juga ya Mas... maaf aku sempat curiga sama kamu, maaf aku sempat menghindar, maaf aku sempat mikir jelek sama kamu..." isak Arum pelan.

Angkasa tersenyum lega, membalas pelukan itu sama eratnya, mengecup lembut puncak kepala Arum.

"gak apa-apa... semuanya beres sekarang kan? Semuanya udah jelas. Kita nggak perlu ada rahasia, nggak perlu ada salah paham lagi. Mulai sekarang... saya nggak bakal biarin kamu nangis lagi karena saya, Arum. Saya janji."

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!