"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak jantung yang terjeda
Langkah kaki yang terburu-buru menghancurkan keheningan subuh di sayap barat Kastil Obsidian. Pintu gerbang utama dihantam terbuka bukan dengan ketukan seremonial, melainkan dengan tendangan kasar yang mencerminkan kepanikan absolut. Para pelayan yang baru saja terbangun untuk memulai tugas pagi mereka langsung membeku di tempat, menjatuhkan sapu dan nampan kuningan ke atas lantai batu.
Panglima Sylus Qinche berjalan melewati koridor dengan langkah lebar yang menyebarkan aura kegelapan begitu pekat hingga obor-obor Aether di sepanjang dinding meredup, nyaris padam. Di dalam dekapannya yang kokoh, tubuh Evelyne Rochie terkulai tak bertenaga. Kepala gadis itu terkulai lemas di ceruk leher Sylus, rambutnya yang kusut dan bernoda debu kristal menjuntai ke bawah. Wajahnya tidak lagi memiliki rona kehidupan; kulitnya sewarna lilin putih, dan bibirnya yang beberapa jam lalu sempat merasakan kehangatan ciuman Sylus kini membiru, dingin menakutkan.
"Panggil seluruh tabib! Kosongkan aula penyembuhan dan bawa instrumen Aether-Infusion ke kamar pribadiku sekarang!" raung Sylus. Suaranya tidak lagi menyembunyikan getaran. Itu adalah suara seorang penguasa yang melihat dunianya sendiri sedang meluncur jatuh ke dalam jurang kehancuran.
Luke dan Kieran mengikuti dari belakang dengan zirah yang hancur dan tubuh berselimut jelaga. Wajah Luke dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam. Ia tidak lagi melihat Evelyne sebagai ancaman, melainkan sebagai pahlawan yang mengorbankan seluruh eksistensinya demi pria yang paling ia hormati.
"Kieran, siapkan lingkaran penstabil jiwa," perintah Sylus tanpa menoleh saat ia menendang pintu kamar pribadinya sendiri—sebuah ruangan sakral yang selama ratusan tahun tidak pernah diizinkan dimasuki oleh siapa pun.
Sylus meletakkan tubuh Evelyne di atas ranjang beludru hitam besarnya dengan kelembutan yang teramat kontras dengan kepanikannya. Ia berlutut di tepi ranjang, jemarinya yang gemetar menyentuh pergelangan tangan Evelyne. Denyut nadinya begitu tipis, seolah-olah seutas benang rapuh yang siap putus kapan saja oleh embusan angin terkecil.
Tabib senior kastil, seorang pria tua berpakaian jubah abu-abu, datang dengan terengah-engah. Namun, setelah memeriksa mata Evelyne dan menempelkan kristal diagnosa ke dadanya, sang tabib melangkah mundur dengan wajah pucat dan menggelengkan kepala penuh keputusasaan.
"Maafkan hamba, Panglima... Jiwanya telah terkuras melampaui batas kemanusiaan," bisik tabib itu dengan suara bergetar. "Resonansi Jiwa Ganda yang ia lakukan telah membakar seluruh jalur Aether di dalam tubuhnya. Wadah fisiknya menolak aliran sihir penyembuhan luar. Ini bukan lagi sekadar luka fisik, melainkan kekosongan eksistensial. Nona Evelyne... sedang memudar dari dimensi ini."
"Aku tidak memanggilmu untuk mendengar ramalan kematian!" Sylus mencengkeram kerah jubah tabib itu, sepasang mata merah darahnya menyala dengan kemarahan yang dipicu oleh ketakutan terdalamnya. "Sembuhkan dia, atau aku akan memastikan seluruh menara medis ini runtuh menjadi debu!"
"Panglima, tenanglah! Amarah Anda tidak akan mengembalikan energinya," Kieran menyela, melangkah maju dan meletakkan tangannya di atas pundak Sylus yang menegang. Wajah Kieran tampak sangat serius. "Tabib benar dalam satu hal: sihir medis biasa akan ditolak oleh sisa energi dimensi di tubuhnya. Satu-satunya cara untuk menahannya di dunia ini adalah dengan metode yang tidak biasa. Kita harus menyatukan sihir penstabil jiwaku dengan pasokan energi Aether murni yang konstan dari seseorang yang memiliki ikatan jiwa dengannya."
Kieran menatap lurus ke dalam mata merah Sylus. "Itu artinya Anda, Sylus. Anda harus mentransfer energi kehidupan Anda sendiri ke dalam tubuhnya secara terus-menerus, tanpa jeda, melalui kontak fisik langsung. Tapi risiko bagi Anda sangat besar. Jika jiwanya menolak atau jika Anda melampaui batas, Anda bisa kehilangan keabadian Anda sendiri."
"Lakukan," jawab Sylus tanpa keraguan sedikit pun. Jangankan keabadiannya, jika ia harus menukar seluruh detak jantungnya demi melihat mata kelabu Evelyne terbuka kembali, ia akan melakukannya pada detik itu juga.
Proses penyembuhan yang menyiksa pun dimulai. Kamar pribadi Sylus diubah menjadi sebuah ruang isolasi magis yang pekat dengan aroma darah dan sihir kuno. Kieran duduk di sudut ruangan, memejamkan mata sambil merapalkan mantra penstabil spasial, mempertahankan sisa-sisa benang dimensi Evelyne agar tidak terputus sepenuhnya dari Aetheria.
Di atas ranjang, Sylus tidak pernah melepaskan dekapannya. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, menarik tubuh dingin Evelyne ke dalam pelukannya. Tangan kanannya menggenggam erat telapak tangan Evelyne yang kaku, sementara tangan kirinya menempel pada dada gadis itu, tepat di atas Soul-Bind Amulet yang retak.
Sylus memejamkan mata, memfokuskan seluruh kehendak batinnya. Ia membuka gerbang Aether intinya sendiri, membiarkan energi kehidupan berwarna merah darah mengalir keluar dari telapak tangannya, menembus kulit pucat Evelyne, dan memaksa masuk ke dalam jalur sihir gadis itu yang telah hancur.
"Ugh..." Sylus mengerang rendah saat proses transfer itu mulai menguras energinya sendiri. Sensasinya seperti memiliki ribuan jarum es yang ditarik keluar dari sumsum tulangnya secara perlahan. Luka bakar magis di dadanya sendiri yang belum sembuh total dari pertempuran di Solis kembali berdenyut menyakitkan, mengeluarkan darah segar yang merembes ke kemeja hitamnya.
Namun, Sylus menolak untuk melepaskan genggamannya. Satu jam menjadi satu malam. Satu malam berubah menjadi tiga hari penuh siksaan abadi.
Selama tiga hari itu, Sylus tidak makan, tidak minum, dan tidak memejamkan mata sedetik pun. Wajahnya yang teramat tampan kini tampak kuyu, dengan lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya. Rambut silver ash-nya berantakan, dan kulitnya yang biasanya pucat sehat kini tampak sekusam salju yang tercemar. Setiap kali Luke masuk untuk memohon agar Sylus beristirahat selama beberapa menit, Sylus hanya memberikan satu tatapan tajam yang membungkam seluruh argumen ksatria tersebut.
Di duniaku dulu, tidak ada yang pernah menggenggam tanganku saat aku jatuh, batin Evelyne yang tersesat di dalam kegelapan komanya berbisik tanpa sadar. Namun di kamar yang sunyi ini, energi Sylus bertindak seperti ribuan pelita kecil yang mencarinya di dalam labirin kekosongan, memeluk jiwanya yang ketakutan, dan berbisik dengan nada yang teramat posesif namun lembut: Kembalilah padaku, Evelyne. Jangan berani-berani meninggalkanku sendirian di kegelapan ini.
Sementara sang Panglima mempertaruhkan nyawanya di dalam kamar pribadi, badai lain mulai berkumpul di luar dinding Kastil Obsidian. Berita bahwa Sylus Qinche telah meninggalkan gerbang Perpustakaan Pusat yang sudah terbuka lebar demi menyelamatkan seorang gadis pelayan dari bumi telah menyebar seperti api yang ditiup angin topan ke seluruh penjuru Aetheria.
Di aula pertemuan luar kastil, riuh rendah suara perdebatan politik memecah keheningan. Dewan Militer Tertinggi dan para pemimpin klan sekutu berkumpul dengan wajah-wajah yang dipenuhi kemarahan dan ketidakpuasan.
"Ini adalah penghinaan terhadap seluruh perjuangan kita!" seru Lord Vane, pemimpin Klan Sayap Perak, sambil memukulkan tinjunya ke meja batu. "Ratusan prajurit kita mati demi membuka jalur ke Perpustakaan Pusat! Gerbang itu sudah ada di depan mata, seluruh pengetahuan semesta ada di balik kristal itu! Dan Panglima Sylus memilih untuk berbalik arah hanya karena seorang budak dimensi yang rapuh?"
"Dia telah kehilangan ketegasannya!" timpal Jenderal klan pemberontak yang telah bersekutu. "Sylus Qinche yang kita kenal adalah pedang yang tak memiliki belas kasihan. Tapi sekarang? Dia membiarkan dirinya dilemahkan oleh cinta. Seorang penguasa yang dikendalikan oleh emosi seorang wanita adalah ancaman bagi keselamatan kita semua!"
Luke berdiri di gerbang aula, tangannya bertumpu pada gagang pedangnya. Mendengar penghinaan tersebut, kemarahan berkecamuk di dalam dadanya. Ia melangkah maju ke tengah aula, memancarkan aura ksatria yang menekan.
"Jaga ucapanmu, Lord Vane!" suara Luke menggelegar, membungkam ruangan sejenak. "Nona Evelyne bukan budak biasa. Dialah yang menghancurkan Aeon Warden yang gagal kalian sentuh dengan pasukan penuh kalian! Tanpa pengorbanannya, gerbang itu tidak akan pernah terbuka. Panglima Sylus tidak kehilangan ketegasannya; beliau hanya melindungi aset paling berharga yang kita miliki!"
"Aset atau kekasih?" Lord Vane mendengus sinis. "Jika Sylus Qinche tidak keluar dari kamar itu dalam dua hari dan memimpin pasukan kembali ke perpustakaan, kami akan menganggap Orde Bayangan telah kehilangan pemimpinnya. Klan sekutu tidak akan tunduk pada seorang pria yang menyerahkan takdir perang demi air mata seorang wanita. Ini adalah awal mula pemberontakan jika dia tidak bisa membuktikan prioritasnya!"
Ancaman pemberontakan internal itu nyata.
Hubungan politik yang dibangun di atas dasar kekuatan kini berada di ambang keruntuhan karena semua orang menganggap Sylus telah memiliki kelemahan yang bisa dihancurkan.
Di dalam kamar pribadi, keheningan malam keempat terasa begitu menekan. Kieran telah pingsan karena kelelahan beberapa jam lalu di sudut ruangan, menyisakan Sylus sendirian yang terus mempertahankan aliran energinya.
Napas Sylus kini terdengar putus-putus. Tubuhnya gemetar hebat, dan sisa Aether di dalam tubuhnya berada di titik kritis. Pandangannya mulai berbayang abu-abu, tanda bahwa kesadarannya sendiri berada di ambang batas untuk padam. Namun, cengkeraman tangannya pada jemari Evelyne justru kian mengencang.
"Evelyne..." bisik Sylus, suaranya begitu lirih, kehilangan seluruh keangkuhannya. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya yang dingin pada punggung tangan Evelyne yang berada di dalam genggamannya. "Kau berjanji... kau berjanji duniarmu ada di mana pun aku berada. Jangan berbohong padaku... Bangunlah..."
Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun kehidupannya yang abadi, setitik air mata murni jatuh dari sudut mata merah darah Sylus Qinche. Air mata itu mengalir melewati pipinya yang tirus, jatuh tepat di atas permukaan kristal Soul-Bind Amulet yang retak di dada Evelyne.
Seketika, sebuah keajaiban magis yang lahir dari kemurnian kesedihan terjadi.
Retakan pada liontin itu mendadak berpendar dengan cahaya merah keunguan yang sangat lembut. Desiran energi kehidupan dari air mata Sylus seolah menjadi potongan teka-teki terakhir yang dibutuhkan oleh jiwa Evelyne yang tersesat. Aliran Aether di dalam tubuh gadis itu yang semula hancur, perlahan-lahan mulai menyatu kembali, berputar mengikuti ritme detak jantung Sylus yang ada di dekatnya.
Deg.
Dada Evelyne bergerak naik. Sebuah tarikan napas yang dalam dan panjang keluar dari bibirnya yang mulai kembali berwarna merah muda.
Jari-jari tangan Evelyne yang berada di dalam genggaman Sylus memberikan gerakan refleks kecil—sebuah remasan balasan yang sangat tipis, namun terasa seperti ledakan besar bagi kesadaran Sylus.
Sylus mendongak dengan cepat, napasnya tertahan.
Perlahan, kelopak mata Evelyne bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka dengan sangat lambat. Sepasang manik mata kelabunya yang indah, yang selama empat hari ini tertutup es kegelapan, kembali menatap dunia. Pandangannya awalnya kabur, memantulkan pendar obor kamar yang redup, sebelum akhirnya terfokus sepenuhnya pada sosok pria yang berada di atasnya.
Evelyne tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Pria di hadapannya ini... apakah benar dia adalah Sylus Qinche, sang Panglima Orde Bayangan yang agung? Wajah tampan yang biasanya memancarkan kesempurnaan yang dingin kini tampak begitu hancur, lelah, dan penuh penderitaan. Pakaian hitamnya dipenuhi noda darah kering, dan sepasang mata merah darah yang selalu mengintimidasinya kini menatapnya dengan binar kelegaan yang begitu rapuh, seolah-olah pria itu baru saja kembali dari neraka terdalam hanya untuk memastikan keberadaannya.
"Sylus..." suara Evelyne keluar bagai bisikan angin, sangat parau dan lemah.
Mendengar namanya dipanggil, pertahanan emosional Sylus runtuh sepenuhnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menarik tubuh Evelyne ke dalam pelukan yang sangat erat namun protektif, menyembunyikan wajah kuyu di ceruk leher gadis itu. Evelyne bisa merasakan tubuh tegap Sylus gemetar hebat di dalam dekapannya, dan ia bisa merasakan kebasahan hangat dari sisa air mata pria itu yang merembes ke kulit bahunya.
"Kau kembali..." bisik Sylus, suaranya teredam oleh rambut Evelyne. "Kau benar-benar kembali, Gadis Dimensi..."
Evelyne perlahan mengangkat tangan kanannya yang masih terasa lemas, melingkarkannya di punggung Sylus, mengusap helai rambut silver ash pria itu dengan kelembutan yang teramat dalam. Rasa haru dan kesedihan yang manis membubung di dalam dadanya.
"Berapa lama aku tertidur?" tanya Evelyne lembut.
"Empat hari," sebuah suara kaku dari pintu mengejutkan mereka. Luke berdiri di sana dengan mata yang berkaca-kaca, menatap mereka dengan rasa hormat yang mutlak. "Panglima Sylus tidak meninggalkan sisi ranjang Anda sedetik pun, Nona Evelyne. Beliau mentransfer energi kehidupannya sendiri untuk menahan Anda di sini."
Evelyne membelalakkan matanya, menatap Sylus yang kini perlahan melepaskan pelukannya namun tetap memegangi kedua sisi wajah Evelyne dengan jemarinya.
"Anda... Anda menguras energi Anda sendiri demi aku?" air mata Evelyne mulai mengalir bebas di pipinya. "Tapi gerbang Perpustakaan Pusat... pengetahuan kuno yang Anda cari selama ini... Anda membiarkannya?"
Sylus menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu Evelyne, sebuah senyuman tipis, tulus, dan penuh kehangatan yang menggetarkan jiwa muncul di bibirnya yang pucat.
"Aku bisa membuka seribu perpustakaan lagi di masa depan, Evelyne," ucap Sylus dengan nada rendah yang mengunci seluruh kebenaran romantis di antara mereka. "Tapi semesta ini hanya memiliki satu Evelyne Rochie. Dan pengetahuan apa pun di dalam katedral kristal itu tidak akan ada gunanya bagiku jika aku harus membacanya sendirian tanpa dirimu di sisiku."
Mendengar konfirmasi romantis yang begitu absolut, Evelyne merasa seluruh penderitaan dan penolakan yang ia terima sepanjang hidupnya di bumi menguap tanpa sisa. Di duniaku dulu, ia hanyalah pilihan terakhir yang selalu dikorbankan. Namun di dunia yang keras ini, di hadapan pria yang paling ditakuti di seluruh daratan, ia adalah prioritas tertinggi yang mengalahkan nilai dari seluruh rahasia semesta. Ia telah dicintai dengan cara yang begitu megah dan berbahaya.
Evelyne menarik leher Sylus ke bawah, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dipenuhi oleh rasa syukur atas kehidupan yang kembali, rasa sakit dari pengorbanan yang terjawab, dan komitmen yang kini telah mengakar lebih dalam dari fondasi Kastil Obsidian itu sendiri. Ciuman itu adalah segel mutlak dari penyatuan jiwa mereka.
Namun, saat mereka saling melepaskan pandangan dengan debaran yang kian pekat, Luke melangkah maju dengan wajah yang kembali menegang.
"Panglima... hamba mohon maaf karena harus merusak momen ini," ucap Luke dengan nada berat. "Namun dewan militer dan klan sekutu telah berkumpul di aula luar. Mereka menganggap Anda telah lemah dan mengancam akan memulai pemberontakan internal jika Anda tidak segera memimpin pasukan kembali ke perbatasan."
Sylus perlahan bangkit dari ranjang, membantu Evelyne untuk bersandar pada bantal beludru. Kelelahan di wajahnya mendadak lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin, kejam, dan penuh otoritas yang biasa ia tunjukkan pada musuh-musuhnya. Pedang besarnya yang berada di lantai batu ia panggil kembali ke dalam genggamannya menggunakan sisa sihir kegerlapannya.
"Biarkan mereka menggonggong, Luke," ucap Sylus dingin, memalingkan wajahnya kembali ke arah Evelyne dan memberikan kecupan lembut di kening gadis itu. "Istirahatlah, wanitaku. Aku akan pergi keluar sebentar untuk mengingatkan mereka... kenapa mereka memilihku sebagai pemimpin mereka sejak awal."
Evelyne mengangguk dengan binar mata yang penuh kepercayaan. Ia menggenggam erat liontin kristal di dadanya yang kini telah menyatu kembali dengan energinya dan energi Sylus. Badai politik dan militer mungkin sedang berkumpul di luar dinding kastil, dan klan pemberontak siap menghancurkan hubungan mereka. Namun malam ini, dengan kekuatan cinta yang telah teruji melewati batas kematian, Evelyne Rochie siap berdiri di samping Sylus Qinche, menghadapi apa pun bahaya yang akan dibawa oleh takdir baru mereka di daratan Aetheria.
Bersambung