NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Rachmandi

Keesokan harinya ....

Saat suara alarm berbunyi nyaring, keinginan terbesar Rosella adalah mematikannya lalu tidur lagi. Setelah rasa tegang dan adrenalinnya hilang, seluruh tubuhnya terasa sangat lemas. Tapi hari ini dia tidak boleh bermalas-malasan. Sebelum makan siang bersama ayahnya, dia masih harus menyelesaikan satu urusan penting.

Rosella bangkit dari kasur lalu melihat kembali luka kecil di tangannya. Lukanya dangkal dan tidak parah, cukup ditutup dengan plester biasa saja. Kalau ada yang bertanya nanti, dia akan bilang terluka saat sedang berlatih memasak.

Ya, saat ini dia memang sedang berpura-pura belajar menjadi wanita yang sopan dan baik-baik. Semua ini dia lakukan karena ulang tahun Dahlia tinggal sebulan lagi. Dan itu artinya, proses pencarian calon suami untuk Rosella akan segera dimulai.

Dia berpakaian rapi lalu keluar kamar tanpa sempat sarapan. Rosella mengendarai mobil Mini Cooper miliknya sampai ke toko kue kesukaan mendiang ibunya. Dia membeli beberapa kue manis dan satu botol susu stroberi untuk dibawa.

Hari itu cuaca sangat cerah. Awal musim penghujan membuat kota Jakarta tampak hijau segar, dan langitnya bersih berwarna biru muda.

Sesampainya di pemakaman San Diego Hills, Rosella memarkirkan mobilnya lalu mengambil kantong plastik berisi makanan yang sudah dibelinya tadi.

Dia berjalan langsung ke makam ibunya, meski sempat melewati deretan makam istri mafia lain yang bernasib serupa. Perempuan-perempuan itu meninggal muda dan dimakamkan di sini.

Saat duduk di samping batu nisan ibunya, Rosella menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Burung-burung berkicau pelan, dan udara hangat terasa nyaman di kulit. Dia sangat suka cuaca seperti ini. Belum terlalu panas, jadi dia masih bisa pakai kemeja lengan panjang tanpa kepanasan atau kedinginan.

"Hai, Mama. Maaf baru bisa datang lagi. Aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini," katanya pelan sambil mengeluarkan alat pengacak sinyal dari tas mahalnya.

Ini bukan kali pertama polisi pasang alat sadap di tempat sepi seperti pemakaman. Dia tidak mau ada satu pun percakapannya terekam oleh siapa pun.

"Kita berhasil selamatkan satu orang lagi, lho. Kali ini untung banget ada orang gila yang lagi bikin rusuh, dia baru aja menusuk seseorang pakai pisau. Nanti pas mayat Kenn ketemu, semuanya bakal dituduh ke orang itu."

Rosella ambil kue lalu menggigitnya. Dia usap bibir pakai tisu dari kantong, baru setelah itu menyesap minuman susu stroberinya pelan-pelan.

"Papa mau ngomong sama aku hari ini. Aku udah tahu apa yang mau dia omongin. Cuma ada waktu satu bulan lagi sebelum dia mulai cariin calon suami buat aku."

"Kadang aku kesel banget, Ma. Mama sendiri tahu kan gimana aturan keluarga kita buat perempuan? Tapi Mama malah milih punya empat anak perempuan semua, hufttt!"

"Itu emang alasannya Mama dulu ngelakuin semuanya."

Suara dari belakang membuat Rosella kaget sampai ia harus sedikit meloncat dari duduknya. Dia langsung menoleh dan melihat Suster Ambbu berdiri di situ, baru muncul dari balik pepohonan.

Rosella langsung tersenyum lega. Wanita itu umurnya hampir seratus tahun, tapi gerakannya gesit seperti orang enam puluhan, semangatnya pun masih muda sekali.

"Maksud Suster apa ya?" tanya Rosella penasaran.

Suster Ambbu cuma melirik kue dan minuman di pangkuan Rosella. Ternyata suster tua itu juga suka makanan manis, sama persis seperti dirinya. Rosella langsung ambil satu kue lagi dan kasih ke suster itu.

"Keluargamu itu bagian dari aliran Bataviarch. Keluarga Rachmandi udah ada dan terlibat di sana dari beberapa generasi lalu," kata Suster Ambbu.

"Aku tahu kok," jawab Rosella singkat.

Ayahnya bahkan rela buang nama keluarganya sendiri demi pakai nama belakang ibunya, Rachmandi, yang jauh lebih berpengaruh dan dihormati.

"Susah banget jadi perempuan di dunia kita ini," lanjut si suster. "Kita nggak pernah bisa milih mau nikah sama siapa. Satu-satunya pilihan bebas itu cuma kalau kita milih jadi pelayan Tuhan."

Rosella agak terkaget mendengar itu. Dia tahu suster ini paham urusan keluarganya, tapi tidak menyangka kalau asal-usulnya pun sama-sama dari lingkungan mafia.

"Itulah sebabnya mamamu dulu ngelakuin itu. Dia sengaja punya anak perempuan sebanyak mungkin supaya kalian semua punya waktu lebih lama buat cari jalan hidup masing-masing. Kamu sekarang umur dua puluh enam tahun, tahu nggak? Kamu dapat tambahan waktu enam tahun lebih lama dibanding teman-temanmu yang lain sebelum akhirnya dipaksa nikah."

Rosella diam dan merenung.

Kata-kata itu benar sekali. Dia sama sekali tidak pernah melihat hal itu dari sudut pandang begitu sebelumnya.

Ternyata ibunya sudah kasih mereka semua kesempatan dan waktu. Meski Rosella sendiri bingung bagaimana ibunya bisa yakin sekali kalau semua anaknya akan perempuan.

"Emang nggak ada cara lain ya buat lolos dari pernikahan itu?" tanya Rosella pelan, masih berharap ada jalan keluar.

Seumur hidup, dia sudah tahu nasibnya akan nikah sama laki-laki pilihan keluarga. Dia sebenarnya bisa saja melawan aturan keluarga, tapi terlalu beresiko. Dia akan dibuang dan dicoret dari silsilah keluarga. Itu sama saja seperti dihukum mati di dunia ini.

Beberapa tahun lalu, Rosella dan Verlis sempat membuat rencana nekat. Mereka ingin membunuh ayah mereka sendiri.

Tapi dipikir-pikir lagi, itu pun belum tentu selesai masalahnya. Kemungkinan besar mereka cuma akan berakhir dinikahkan sama laki-laki bodoh lainnya yang cuma mengincar kekayaan dan nama besar keluarga Rachmandi.

Jadi, satu-satunya jalan terbaik adalah membuat calon suami masing-masing berpihak dan membantu mereka menjatuhkan Ayahnya sendiri.

Mereka sadar ini tidak mudah. Mereka juga paham akan banyak hal kotor dan menjijikkan yang harus dijalani demi tujuan itu. Tapi cuma cara itulah yang aman buat menyingkirkan Ayahnya tanpa membahayakan nyawa mereka berempat.

"Mamamu dulu udah coba banyak cara, tapi nggak ada yang cukup kuat buat bikin orang dengerin dan percaya," kata Suster Ambbu lagi. "Tapi sebelum kakekmu meninggal, mamamu sempat bikin dia setuju satu hal penting."

"Apa itu?" tanya Rosella penasaran.

"Karena sadar nggak bakal punya anak laki-laki, mamamu bujuk kakekmu. Isinya, semua usaha yang sekarang dipegang papamu bakal dijadiin mas kawin buat calon suami kalian nanti."

Rosella langsung mengernyit bingung. Dia sama sekali belum pernah dengar soal hal ini.

"Maksudnya gimana ya?"

"Papamu kayaknya udah siapin semua ini dari lama banget," jawab si suster tenang. "Dan aku yakin, laki-laki yang dia pilih buat kalian nanti pasti orang-orang yang sangat setia sama dia."

Sial. Kalau benar begitu, rencananya sama Verlis bisa hancur.

"Aku masih kurang ngerti intinya, Suster."

"Demi mencegah Papamu pakai nama Rachmandi lewat anak laki-laki yang bukan darah dagingnya, kakekmu paksa dia tanda tangan perjanjian. Isinya, setiap laki-laki yang nikah sama anak perempuannya bakal dapat satu cabang usaha."

Rosella mendengarnya baik-baik tanpa memotong pembicaraan.

"Papamu tetep dapat sebagian besar untungnya, tapi dia nggak boleh ngelola langsung. Nanti usaha itu bakal turun ke anak-anak kalian masing-masing."

"Sial ...." gumam Rosella pelan.

Suster Ambbu malah mengangguk sambil tersenyum tipis, paham betapa rumitnya situasi itu.

Mereka ngobrol cukup lama sampai Rosella sadar dia sudah telat buat makan siang bersama Ayahnya. Dia buru-buru pamit, terus jalan secepat mungkin meski memakai sepatu hak tinggi.

Saat masuk ke mobil, Rosella langsung menelepon Ayahnya buat lapor kalau dia terlambat datang.

"Aku nyampe sepuluh menit lagi ya, Pa," katanya cepat saat telepon diangkat.

"Papa nggak peduli," jawab Ayahnya dingin. "Papa udah kasih tau jamnya, tapi kamu tetep nggak ada di sini."

Tangan Rosella mengepal erat di atas kemudi.

"Satu bulan lagi, urusan kamu bukan tanggung jawab Papa lagi."

"Maksud Papa apa sih?"

"Nanti pas pesta ulang tahun adikmu, kita bukan cuma rayain ulang tahunnya yang ke dua puluh," suara Ayahnya datar. "Di situ Papa bakal adain semacam lelang untuk cari suami buat kamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!