11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ditengah koloseum jantung yg tak berhenti berdetak
Di tengah luasnya arena Koloseum yang terbuka, debu tanah berterbangan tertiup angin. Dua sosok berdiri berhadapan di tengah lingkaran luas itu — satu adalah Panglima Aloska yang legendaris, dan satu lagi adalah pemuda muda yang penuh semangat, Yuse Yattama. Sudah disepakati sebelumnya: pertarungan ini hanya untuk menguji kemampuan, tidak akan ada yang kehilangan nyawa.
Yuse berdiri tegak, tak ada sedikit pun rasa takut di matanya. Namun jantungnya berdegup kencang tak terkendali — bukan karena gentar, melainkan karena rasa haru dan sukacita yang luar biasa. Akhirnya ia berdiri sejajar dengan sosok yang paling ia kagumi, sosok yang menjadi alasan ia melangkah di jalan ini. Bagi Yuse, momen ini adalah hal paling berharga yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya.
Namun belum sempat ia menikmati perasaan itu lebih lama, suara berat Aloska bergema memenuhi seluruh penjuru arena.
"HEI ANAK MUDA! SUDAH SIAPKAH KAU?!"
Mata Yuse menajam terang, seulas senyum penuh semangat terukir di bibirnya. Ia langsung memasang kuda-kuda yang kokoh, tangannya mencengkeram erat gagang pedang hingga buku jarinya memutih.
Aloska yang melihat kesiapan itu tersenyum puas. Tanpa bicara lagi, ia pun memasang posisi siaga, menggenggam gagang gada besarnya yang terbuat dari besi murni yang sangat berat.
"MULAI!!!"
Teriakan penanda berbunyi nyaring, dan seketika Aloska melangkah maju dengan kecepatan yang tak sebanding dengan tubuh besarnya. Gada besi itu berayun turun membawa angin kencang, menghantam ke arah Yuse seolah-olah seluruh berat dunia sedang menimpanya.
BRAKK!!!
Yuse merasa seolah tertimpa batu raksasa saat menahan serangan itu. Tulang-tulangnya bergetar hebat, rasa ngilu menjalar dari tangannya ke seluruh badan. Gempuran demi gempuran datang tanpa henti, cepat dan padat, tak menyisakan sedikit pun celah untuk bernapas. Yuse terus menghindar dan menangkis sekuat tenaga, kakinya menggeser cepat di atas tanah, meninggalkan jejak-jejak panjang.
DUARRR!!!
Salah satu ayunan gada meleset dari sasaran dan menghantam tanah. Debu dan kerikil melayang ke udara, menciptakan lubang besar yang cukup dalam, membuat siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri.
Dari atas podium tempat mereka duduk menyaksikan, Brisa dan Cindy saling berpandangan dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran. Jantung mereka ikut berdegup kencang setiap kali gada itu bergerak, takut kalau-kalau satu pukulan saja mengenai tubuh Yuse.
"Kok dia terus-terusan bertahan saja… kapan dia bakal menyerang balik?" gumam Cindy cemas.
Tiba-tiba mata Yuse berkilat. Ia akhirnya menemukan celah yang ia cari. Tanpa buang waktu, ia melemparkan pedangnya lurus ke arah dada Aloska sekuat tenaga, lalu dengan cepat berlari mendekati sang panglima.
Melihat pedang yang melayang datang, Aloska dengan santai mengayunkan gaganya untuk memukulnya jatuh ke tanah. Namun ia tak sadar, itu hanyalah bagian pertama dari jurus yang dipersiapkan Yuse.
Saat pedang itu hampir terpukul, Yuse memutar pergelangan tangannya di udara — dan seketika pedang itu berbalik arah seolah memiliki nyawa sendiri. Dengan cahaya menyilaukan yang membentuk garis lengkung indah, pedang itu berputar naik lalu menukik tajam ke bawah, jatuh secepat dan seberat batu meteor yang menghantam bumi, tepat ke arah kepala Aloska.
Menyadari bahaya itu, Aloska sedikit terkejut. Ia segera memutar badannya, lalu mengayunkan gaganya ke atas dengan kekuatan penuh untuk menangkis serangan itu.
TINGGGGGG!!!
Suara benturan logam yang nyaring memekakkan telinga terdengar di mana-mana.
Di saat yang sama, Yuse yang sudah berlari mendekat tepat di bawah bayangan pedang itu, bersiap melancarkan serangan keduanya ke arah tubuh Aloska yang sedang sibuk menahan pukulan dari atas.
Melihat itu, wajah Brisa dan Cindy seketika berubah cerah. Rasa khawatir mereka berubah menjadi sukacita. Mereka saling berpegangan erat, bahkan tanpa sadar saling memeluk penuh semangat.
"Dia berhasil! Dia dapat celahnya!" seru Cindy riang.
Namun pengalaman dan naluri perang Aloska ternyata jauh melampaui dugaan siapa pun. Di tengah tekanan berat dari pedang itu, matanya menangkap pergerakan Yuse yang mendekat. Tanpa menurunkan pertahanan sedikit pun, dengan satu gerakan cepat ia mengangkat kakinya dan menendang kuat ke arah perut Yuse.
BUKKK!!!
Tubuh Yuse terpental jauh di udara sebelum ia sempat melancarkan serangannya, jatuh berguling beberapa kali di atas tanah sebelum akhirnya berhenti. Sementara itu, dengan satu pukulan kuat terakhir, Aloska berhasil memukul pedang yang bercahaya itu hingga melayang jauh dan jatuh tak berdaya ke sisi lapangan.
Dengan napas yang masih teratur dan tatapan yang tajam, Aloska berdiri tegak kembali, sementara debu perlahan turun menyelimuti arena yang sepi hening.
****
Debu halus perlahan turun menyelimuti arena yang hening. Yuse bangkit perlahan dari tanah, meskipun tubuhnya terasa nyeri dan masih sedikit goyah, tapi matanya tetap menyala penuh semangat dan rasa hormat. Ia segera membungkuk dalam-dalam ke arah Aloska, tanda bahwa ia mengakui keunggulan sang panglima.
Aloska meletakkan gaganya ke bahu, menatap pemuda di depannya dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya — kini penuh kekaguman dan rasa bangga. Senyum lebar terukir jelas di wajahnya yang keras dan berkerut itu.
"Bagus! SANGAT BAGUS!!!" seru Aloska dengan suara beratnya yang bergema ke seluruh penjuru koloseum. "Aku sudah bertarung puluhan tahun, melawan banyak ksatria hebat, tapi jarang sekali ada anak muda seumuranmu yang punya bakat dan akal secerdas ini!"
Ia melangkah mendekat sedikit, matanya menatap lekat-lekat Yuse.
"Teknik pedang yang tadi kau gunakan… melemparnya seolah-olah serangan biasa, tapi tiba-tiba berubah arah dan turun secepat meteor. Kau berhasil membuatku lengah sejenak. Itu bukan sekadar kecepatan atau kekuatan, tapi akal dan strategi yang luar biasa! Kau layak disebut seorang ksatria sejati, Yuse Yattama."
Mendengar pujian langsung dari idola yang paling ia kagumi, hati Yuse terasa meluap-luap penuh rasa haru dan bahagia. Matanya sedikit berkaca-kaca, rasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya seketika lenyap tak berbekas.
"Terima kasih, Panglima!" jawab Yuse dengan suara yang tegas namun bergetar. "Segala kemampuan yang aku miliki ini terinspirasi dari kegagahan dan kehebatan Tuan. Mendengar pujian seperti ini dari mulut Tuan adalah kehormatan terbesar seumur hidupku!"
Dari atas podium, Brisa dan Cindy yang mendengar itu langsung tersenyum lega sekaligus bangga. Rasa khawatir yang tadi menyesakkan dada kini berubah menjadi rasa bangga yang luar biasa. Mereka saling berpandangan, sama-sama melihat kebahagiaan di mata satu sama lain.
Aloska tertawa lebar, suara tawanya yang berat terdengar sangat bersahabat. Ia menepuk bahu Yuse dengan cukup keras, membuat pemuda itu sedikit terhuyung, tapi senyumnya tak pernah luntur sedikit pun.
"Teruslah latih dirimu, anak muda! Teruslah asah bakat yang luar biasa ini. Aku yakin suatu hari nanti, namamu akan bergema lebih keras daripada namaku sekarang, dan kau akan menjadi pelindung yang jauh lebih hebat dari siapa pun!"
Dengan itu, Aloska mengangkat tangannya memberi tanda bahwa pertarungan telah usai. Para penonton dan prajurit yang menyaksikan seketika bertepuk tangan riuh, suara sorak sorai dan pujian memenuhi seluruh tempat.
Hari itu, di tengah debu dan angin koloseum, Yuse tidak hanya berhasil menarik perhatian panglima terhebat di negeri ini — tapi juga berhasil menanamkan namanya sebagai bibit ksatria luar biasa yang akan bersinar terang di masa depan. Momen pertemuan dan pertarungan ini menjadi tonggak penting yang mengubah jalan hidupnya selamanya, menuju takdir besar yang menantinya di depan mata.