NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Terlepas

Denyut jantung Putra terasa seakan meledak di dalam dadanya. Pandangannya tak berkedip sedikit pun menatap sosok pria tua yang duduk tenang di balik meja kayu usang itu. Suara yang baru saja terdengar, luka bekas tusukan di dahi, sikap tenang yang penuh wibawa semuanya perlahan menyusun satu gambaran nyata yang tak ingin ia akui, namun tak bisa ia sangkal lagi. Darahnya terasa mendidih bercampur rasa tak percaya yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

“Kolonel... Kolonel Bayu?” suara Putra keluar bergetar, nyaris tak terdengar, namun cukup jelas menggema di seluruh ruangan luas itu. Tangannya yang sedari tadi menggenggam gagang pistol di pinggang kini mengepal begitu erat hingga buku‑buku jarinya memutih, urat‑urat nadinya menonjol keras. “Tidak mungkin... tidak mungkin ini benar. Kau adalah orang yang membesarkanku, orang yang menggantikankan posisi Ayah setelah ia tiada! Kau yang menangkap Aditya dan Ratih, kau yang berjuang bersama kami... bagaimana mungkin kau adalah Tuan Bayangan itu?”

Kolonel Bayu atau yang kini harus dipanggil sebagai Tuan Bayangan tersenyum tipis, senyum yang tak lagi terasa hangat seperti biasanya, melainkan penuh dengan kepahitan dan rahasia yang telah terpendam selama puluhan tahun. Ia meletakkan foto lama di pangkuannya ke atas meja, lalu menatap tajam ke arah Putra dan Citra yang berdiri kaku bagaikan patung. Para pengawal bersenjata yang mengelilingi ruangan tetap mengarahkan moncong senapan mereka tanpa berkedip, namun tak ada yang berani menembak sebelum mendapat perintah langsung darinya.

“Kau lihat, Nak? Akal sehatmu akhirnya mulai bekerja meski di tengah ketakutan,” sahut Kolonel Bayu tenang, suaranya terdengar sama persis seperti saat ia memberi perintah di lapangan latihan militer, tegas dan tak terbantahkan. “Selama ini kau percaya sepenuhnya padaku, dan kau tak salah. Aku memang orang yang melindungimu, orang yang membesarkanmu... tapi aku juga orang yang telah merencanakan segalanya jauh sebelum kau lahir ke dunia ini.”

Citra berdiri di samping suaminya, tubuhnya sedikit condong ke depan, matanya yang tajam sebagai dokter mengamati setiap gerak‑gerik Kolonel Bayu, mencoba membaca apakah ada celah kelemahan atau kebohongan dalam nada bicaranya. Ia merasa dunia seakan terbalik 180 derajat. Sosok yang selama ini mereka anggap sebagai penyelamat, tameng terkuat mereka, ternyata adalah otak di balik semua penderitaan yang mereka alami sejak awal mulai dari perjodohan terpaksa, tuduhan fitnah, hingga ancaman terhadap nyawa Andi. Namun anehnya, tatapan mata lelaki tua itu tak sepenuhnya memancarkan kejahatan, melainkan kesedihan yang begitu dalam, seolah ia dipaksa memainkan peran paling kejam demi sebuah tujuan yang lebih besar.

“Mengapa?” tanya Citra lantang, suaranya bergetar namun tetap berisi keberanian yang tak kunjung padam. “Jika kau benar‑benar menyayangi Mas Putra seperti anak kandungmu sendiri, mengapa kau buat dia menderita sedemikian rupa? Mengapa kau paksa kami menikah di saat kami saling membenci? Mengapa kau jadikan Andi sebagai sasaran buruan? Apa sebenarnya yang kau inginkan dari kami semua?”

Kolonel Bayu menarik napas panjang, lalu perlahan berdiri dari kursinya. Sosoknya yang tegap dan gagah masih terlihat sama persis seperti dulu, namun aura yang memancar kini jauh lebih dahsyat, seolah ia adalah penguasa mutlak atas segala nasib yang terjalin di tempat ini. Ia melangkah perlahan mengelilingi meja, matanya tak pernah lepas dari wajah Putra yang kini memerah menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Di sudut ruangan, suara tangis Andi kembali terdengar, kali ini lebih keras, namun tertahan kuat seolah bocah itu ditutup mulutnya.

“Andi... bawa dia ke sini,” perintah Kolonel Bayu singkat.

Beberapa detik kemudian, dua orang pengawal membawa masuk sosok mungil yang sedang meronta‑ronta. Wajah Andi basah oleh air mata, matanya yang bulat penuh ketakutan langsung tertuju pada Putra dan Citra. Begitu melihat kedua orang tuanya, tangisnya semakin pecah, memanggil‑panggil nama mereka dengan suara parau.

“AYAH! IBU! Tolong Andi!”

“Andi!” seru Putra hampir kehilangan kendali, hendak melangkah maju menyambut anak kesayangannya, namun seketika puluhan moncong senapan langsung diarahkan tepat ke arah jantungnya. Satu gerakan salah saja, nyawa mereka bertiga bisa melayang seketika. Putra terpaksa berhenti, giginya gemeretak menahan gejolak emosi yang membakar hatinya. Ia tak peduli nyawanya sendiri, namun ia takkan rela melihat Citra dan Andi terluka sedikit pun.

Kolonel Bayu mengangkat tangan kanannya sedikit, seketika para pengawal menurunkan sedikit posisi senjata mereka. Ia berjalan mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Putra, hanya berjarak beberapa langkah saja. Tatapan matanya yang tajam kini melembut, namun tetap menyimpan rahasia yang tak terungkapkan.

“Kau tanya mengapa aku melakukan semua ini? Dengarkan baik‑baik, Nak. Dua puluh lima tahun yang lalu, di tambang ini pula, ayahmu Letnan Jenderal Agus dan aku sama‑sama menemukan sesuatu yang tak seharusnya diketahui siapa pun. Bukan hanya emas, bukan hanya kekayaan, melainkan jejak pengkhianatan raksasa yang merambah hingga ke puncak kepemimpinan militer dan negara. Kami menemukan bukti bahwa sekelompok orang berkuasa ingin menguasai kekayaan alam negeri ini sekaligus memusnahkan keturunan yang memiliki hak sah atas warisan leluhur tempat ini keturunan darah biru yang mengalir kuat di tubuh ayahmu, lalu ke tubuhmu, dan kini mengalir sempurna di tubuh Andi.”

Kolonel Bayu berhenti sejenak, menoleh ke arah Andi yang masih terisak, lalu kembali menatap Putra dengan pandangan penuh keseriusan.

“Ayahmu gugur bukan karena kecelakaan tambang, melainkan dibunuh secara sengaja karena ia menolak bekerja sama dengan kelompok jahat itu. Aku selamat dengan membawa luka tusukan di dahi ini, hanya karena ayahmu rela mengorbankan nyawanya demi melindungiku dan menyuruhku lari membawa bukti. Sejak saat itu, aku bersumpah akan menyelesaikan misi yang ia tinggalkan, sekaligus melindungi nyawamu dari kejaran pembunuh bayaran yang takkan pernah berhenti mencarimu.”

“Lalu apa hubungannya dengan pernikahan kami?” potong Citra cepat, pikirannya mulai berpacu menyusun kemungkinan‑kemungkinan logis.

“Karena kau, Citra, adalah satu‑satunya orang yang kutemukan memiliki ketahanan fisik dan mental luar biasa, serta latar belakang medis sempurna yang bisa melindungi dan menjaga kelangsungan darah suci ini,” jawab Kolonel Bayu tegas. “Aku tahu kalian akan saling membenci di awal. Aku tahu jalan yang kulalui terasa kejam dan penuh penderitaan. Tapi aku sengaja menciptakan berbagai cobaan, sengaja membuat kalian terjebak dalam situasi yang sulit, agar ikatan di antara kalian teruji hingga ke akar terdalam. Hanya cinta yang tumbuh di tengah kepahitanlah yang akan cukup kuat melindungi kalian dan Andi saat bahaya terbesar akhirnya datang menyerang. Aditya dan Ratih hanyalah pion kecil yang kujadikan umpan, sementara peranku sebagai Tuan Bayangan... hanyalah topeng yang kupakai untuk mengelabui musuh sesungguhnya yang jauh lebih berbahaya dan lebih berkuasa.”

Mata Putra membelalak lebar. Kata‑kata itu perlahan masuk ke benaknya, meredakan sebagian amarahnya namun justru menimbulkan kebingungan yang jauh lebih besar. “Maksudmu... kau bukan musuh sebenarnya? Kau hanya berpura‑pura menjadi dalang jahat demi melindungi kami? Lalu di mana letak bahaya sesungguhnya? Siapa sebenarnya yang sedang kau lawan selama ini?”

Kolonel Bayu tersenyum pahit, lalu perlahan membuka jaket seragamnya, memperlihatkan perangkat pelacak yang tersemat di dadanya, dan di baliknya terlihat luka‑luka lama bekas serangan yang hampir merenggut nyawanya berkali‑kali.

“Musuh sesungguhnya bukanlah aku. Mereka adalah orang‑orang yang kini tengah mengelilingi kawasan tambang ini saat kita berbicara. Mereka yang sudah tahu rahasia Andi, mereka yang sudah curiga bahwa aku hanyalah aktor yang memainkan peran. Mereka sedang bergerak mendekat dengan pasukan besar, dan mereka sudah tahu bahwa saat topengku terlepas seperti ini... pertarungan terakhir pun takkan bisa dihindari lagi.”

Belum sempat Putra dan Citra memahami sepenuhnya makna kalimat itu, tiba‑tiba terdengar suara ledakan keras mengguncang seluruh dinding tambang, diikuti sirine peringatan yang melengking nyaring dari arah pintu masuk utama. Langit‑langit ruangan bergetar hebat, debu‑debu batu beterbangan ke mana‑mana. Para pengawal yang tadinya mengikuti perintah Kolonel Bayu kini saling berpandangan dengan panik, sebagian di antaranya tiba‑tiba berbalik arah dan mengarahkan senjata tepat ke arah Kolonel Bayu, Putra, serta keluarga kecilnya. Wajah mereka yang tadinya setia kini berubah dingin dan kejam.

Kolonel Bayu segera menarik Putra dan Citra bersembunyi di balik tiang penyangga besar, sementara Andi langsung ditarik masuk ke dalam pelukan Citra dengan erat. Ia menatap tajam ke arah pengawal yang berkhianat itu, lalu berteriak di tengah kegemuruh suara.

“Lihatlah, Nak! Di sinilah kebenaran sesungguhnya mulai terlihat! Di antara orang‑orang yang kau percayai, di antara barisan prajurit yang kau anggap saudara... justru di situlah duri‑duri beracun bersembunyi selama ini! Mereka sudah lama tahu rahasia kita, dan mereka sengaja membiarkan aku membawa kalian ke sini, bukan untuk mendengar penjelasanku, melainkan untuk membinasakan kita semua sekaligus agar tak ada saksi yang tersisa!”

Putra menggenggam erat tangan Citra, matanya berkilat penuh amarah sekaligus kebanggaan yang perlahan tumbuh kembali. Di tengah kekacauan yang mematikan ini, benih‑benih kebenaran mulai bersemi, namun bahaya yang kini mengancam nyawa mereka bertiga jauh lebih nyata dan lebih mematikan daripada apa pun yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!