NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Pagi itu, langit Kota T menyuguhkan warna biru yang cerah, secerah senyum gadis yang tengah duduk di bawah rindang pohon mahoni samping kantin kampus. Di sana, Asyifa Humaira atau yang akrab disapa Syifa. Ia menikmati sisa waktu istirahatnya bersama dua sahabat karibnya, Adiba dan Jihan. Sesekali mereka menyesap minuman dingin sembari menertawakan impian-impian konyol setelah lulus nanti.

​"Aku tebak, Jihan pasti yang sebar undangan duluan. Dia kan paling semangat kalau bahas soal mahar," goda Adiba sembari menyenggol bahu Jihan.

​"Enak saja! Justru Syifa yang diam-diam menghanyutkan. Incarannya saja Mas Hasbi, kan?" balas Jihan tak mau kalah.

Syifa yang sedang menyesap minumannya hampir tersedak. Lesung pipinya menyembul saat ia tersipu. "Astaghfirullah, mengagumi itu bukan berarti harus memiliki, Jihan," jawabnya lembut, meski wajahnya mendadak hangat.

Di usianya yang genap 21 tahun, mahasiswi semester lima ini memang dikenal ceria dan rendah hati. Meski lahir dari keluarga sederhana, dengan ayah seorang wirausaha dan ibunya seorang ibu rumah tangga, Syifa tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah.

Jarak kampus yang jauh dari rumahnya di pinggiran kota tak pernah menyurutkan semangatnya untuk menuntut ilmu, sembari menyisihkan waktu untuk membantu ibunya mengajar mengaji anak-anak di salah satu TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an).

...(Ilustrasi tokoh Asyifa Humaira) ...

​Namun, di balik keceriaannya siang itu, pikiran Syifa sebenarnya sedang berkelana ke kejadian beberapa malam lalu di ruang tamu rumahnya.

~ Flashback ~

​"Cucuku, Asyifa Humaira. Ada yang ingin Kakek bicarakan. Duduklah di dekat orang tuamu," suara Kakek Ali terdengar lebih berat dari biasanya.

​Syifa yang baru saja selesai membuatkan teh untuk kakeknya, lantas duduk dengan patuh.

Suasana ruang keluarga yang biasanya hangat dengan suara TV, mendadak senyap. Tatapan Abi Musthofa dan Ummi Salwa tampak penuh arti, membuat jantung Syifa berdegup sedikit lebih kencang.

​"Tahun ini usiamu dua puluh satu tahun, Nak. Kakek rasa, kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui amanah ini," Kakek Ali menjeda kalimatnya, menyesap teh hangat buatan Syifa. "Kamu masih ingat Kakek Nizar?"

​"Tentu, Kek. Beliau sahabat terbaik Kakek, kan?"

​Kakek Ali mengangguk pelan.

"Sebelum beliau wafat, ada satu wasiat yang dititipkan pada Kakek. Beliau ingin menjodohkan cucunya."

​Syifa tertegun. Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk mencerna kalimat itu. "Maksud Kakek... Syifa diminta mencarikan jodoh untuk cucu Kakek Nizar?" tanya Syifa polos.

Tawa kecil pecah dari kakek dan abi Musthofa, memecah ketegangan sejenak.

​"Bukan begitu, Nduk" Kakek Ali tersenyum maklum. "Cucunya yang akan dijodohkan denganmu. Usianya memang terpaut sembilan tahun di atasmu, tapi dia pria yang sangat bertanggung jawab."

Dunia Syifa seolah berputar lebih lambat. Ia menoleh ke arah Ummi Salwa, mencari perlindungan lewat tatapan matanya. Ummi yang paham akan kegelisahan putrinya pun membuka suara,

"Maaf, Abah... apakah ini tidak terlalu mendadak? Syifa masih kuliah."

​"Dia seorang dosen dan pengusaha, Salwa. Dan dia sangat mendukung pendidikan calon istrinya. Selain itu, dialah yang ingin segera menunaikan wasiat kakeknya setelah kembali ke kota ini," jelas Kakek Ali mantap.

Lalu, sebuah lembar foto disodorkan. Syifa menerimanya dengan tangan yang sedikit bergetar. Di dalam foto itu, tampak seorang pria dengan tatapan tajam namun teduh.

Sebelum melanjutkan perkataanya, kakek Ali melirik putra dan menantunya. Seolah berbicara lewat isyarat mata.

"Nama pria ini, Muhammad Fadhlan Ganendra. Lulusan S1 dan S2 luar negeri. Mapan, tampan, pewaris keluarga ternama, tapi dia yatim piatu sejak remaja"

​"Boleh Syifa istikharah dulu, kakek, abi?" lirih Syifa akhirnya, menunduk dalam-dalam.

~Flashback End~

......................

​"Syif! Syifa! Malah melamun!" Jihan menepuk meja, membuyarkan lamunan Syifa.

​"Eh, iya? Kenapa?" Syifa mengerjapkan mata, menyadari Adiba sudah menatapnya khawatir.

​"Kamu pucat sekali. Kalau capek, kita ke kelas saja yuk," ajak Adiba.

Saat mereka hendak beranjak, sebuah suara rendah dan sopan menghentikan langkah mereka. "Assalamu’alaikum."

​Itu Yusuf, dan tepat di sampingnya berdiri Hasbi, pria yang tadi disebut Jihan. Hasbi tampak bersahaja dengan kemeja organisasinya. Pandangan pria itu sempat beradu dengan Syifa sebelum ia beralih bicara pada Jihan mengenai persiapan acara minggu depan.

​Syifa hanya bisa menunduk, meremas tali tasnya. Ada rasa kagum yang pernah singgah untuk Hasbi, namun bayangan foto pria yang di berikan oleh kakeknya tempo hari, seolah menjadi pembatas tak terlihat yang membuatnya merasa canggung.

"Mas, dicari sama Syifa nih" ujar Jihan cekikikan menggoda temannya.

"Jihan!" pekik Syifa mencubit pelan lengan Jihan, kemudian tersenyum kaku tanpa melihat wajah Hasbi.

Hasbi membalas senyuman Syifa, suasana canggung menyelimuti keduanya.

"Yuk Diba, kita duluan aja" ajak Syifa kembali menunduk ketika mengetahui Hasbi melihat ke arahnya, lalu langsung menarik lengan Adiba, meninggalkan Jihan.

"Ehh..ehh Syif bentaran, Mas Hasbi duluan ya, Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumussalam" jawab Hasbi dan Yusuf.

"Dihh kenapa itu bocah?" kata Yusuf merasa aneh dengan tingkah Syifa.

"Sudah, kita harus ke aula" ajak Hasbi berjalan meninggalkan Yusuf.

'Syifa ya namanya? Cantik, secantik orangnya' batin Hasbi merasakan satu getaran di hatinya.

...----------------...

Sore harinya, perjalanan pulang terasa lebih melelahkan. Syifa menyempatkan diri mampir ke sebuah minimarket untuk membelikan es krim titipan adik-adiknya. Saat jemarinya hendak meraih satu botol minuman favoritnya di rak pendingin, sebuah tangan lain juga meraih botol yang sama.

​Kulit bertemu kulit.

​Syifa tersentak seolah tersengat listrik. "Astaghfirullah!" ia menarik tangannya dengan cepat, jantungnya berpacu hebat.

​Di sampingnya berdiri seorang pria jangkung dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan ada aura dingin yang menguar darinya. Syifa segera menunduk, tak berani menatap lebih lama.

​"Jadi ambil atau tidak?" suara pria itu terdengar berat dan datar.

​"Silahkan... ambil saja," jawab Syifa gugup, nyaris berbisik.

​Pria itu mengambil botolnya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Namun, saat pria itu menjauh, Syifa melihat sesuatu berkilau di lantai.

Sebuah kalung perak dengan bandul yang unik. Syifa memungutnya, bermaksud mengejar pria tadi, namun sosok itu sudah hilang di balik pintu otomatis minimarket yang tertutup rapat.

...----------------...

​Suara deru motor yang berhenti di depan pagar seketika memutus diskusi berat antara Abi Musthofa dan Kakek. Keduanya serentak berdiri, menatap lurus ke arah pintu pagar dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan kegelisahan.

​Syifa melangkah pelan, kepalanya sedikit menunduk saat melihat dua pria yang paling ia hormati itu sudah berdiri tegak di teras bak penjaga gerbang.

​"Assalamu’alaikum," ucap Syifa lirih sembari meraih tangan Abi Musthofa untuk menyalaminya, lalu beralih ke tangan Kakek.

​"Wa’alaikumussalam," jawab Abi Musthofa. Suaranya berat, ada nada lega namun juga getaran amarah yang tertahan. "Kenapa baru pulang, Nak? Jam berapa ini?"

​"Emm.. itu, Bah. Tadi Syifa ta’ziah dulu sama teman-teman kampus ke rumah Pak Jinan," jawab Syifa, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba memberikan alasan yang jujur, meski kegugupan jelas terpancar dari jemarinya yang saling meremas.

​Kakek menghela napas panjang, tangannya yang sudah keriput mengusap dada. "Kenapa baru pulang cucuku? Kamu tahu tidak, hati Kakek rasanya seperti diremas melihat hari sudah hampir gelap tapi kamu belum juga sampai di depan mata?"

​"Maafkan Syifa, Kek. Tadi di sana ramai, jadi tidak enak kalau pulang duluan," jelas Syifa lagi, kini ia memberanikan diri menatap mata Kakek yang berkaca-kaca karena khawatir.

​Abi Musthofa mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, memperlihatkan layar yang penuh dengan daftar panggilan keluar. "Harusnya kamu kasih kabar, Nak. Jadi tidak membuat yang di rumah khawatir seperti ini. Abi telepon berkali-kali, kenapa tidak diangkat? Pesan Abi juga tidak ada yang kamu balas satu pun."

​Syifa tersentak, ia meraba tasnya dan baru tersadar. "Astagfirullah, maaf Abi. Tadi ponsel Syifa di-silent karena sedang di rumah duka, lalu Syifa lupa mengubahnya lagi. Syifa benar-benar tidak tahu kalau Abi menelepon."

​Abi Musthofa memejamkan mata sejenak, mencoba meredam detak jantungnya yang tadi berpacu kencang karena pikiran buruk. "Abi bukan ingin mengekangmu, Syifa. Tapi setidaknya beri kabar satu kalimat saja. Kami di sini..." Abi menggantung kalimatnya, melirik Kakek dengan isyarat mata yang penuh rahasia.

​"Iya Abi, Kakek, maaf. Syifa janji, lain kali Syifa tidak akan mengulangi lagi. Syifa akan selalu kabari kalau ada acara mendadak," jawab Syifa dengan senyum tulus, mencoba mencairkan suasana yang kaku.

​Kakek akhirnya mengangguk meski wajahnya masih tampak pucat. "Ya sudah, segera masuk. Temui Ummi-mu di dapur, dia juga tidak tenang sejak tadi. Jangan diulangi lagi ya, Nduk. Kakek... Kakek hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu lagi."

​Syifa tertegun sejenak mendengar kalimat terakhir Kakek. Sesuatu yang terjadi lagi? Namun, sebelum ia sempat bertanya, Abi Musthofa sudah berdehem keras, seolah memberi tanda pada Kakek untuk tidak bicara lebih jauh.

...****************...

1
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!