“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Bab 7: Hangat di Tengah Badai
Hujan lebat mengguyur kota tanpa ampun, mengubah jalanan aspal menjadi sungai kecil dengan kilatan petir yang menyambar-nyambar di langit kelabu. Di atas motor sport hitam yang melaju kencang, Keisha membenamkan wajahnya semakin erat ke punggung bidang Rangga. Dinginnya air hujan nyaris menembus lapisan jaket kulit tebal yang ia kenakan, namun dekapan erat tangannya di pinggang pria itu memberikan satu-satunya sumber kehangatan di tengah badai sore itu.
Rangga mengemudikan motornya dengan konsentrasi penuh. Meskipun pandangan jalanan tertutup oleh lebatnya curahan air hujan, instingnya sebagai penguasa jalanan tetap tajam. Ia tahu jika mereka melanjutkan perjalanan langsung ke rumah Keisha di gang sempit, kondisi gadis itu bisa jatuh sakit parah karena kedinginan. Tanpa pikir panjang, ia mengambil belokan tajam menuju sebuah ruko dua lantai di kawasan komersial sepi—tempat safe house pribadi milik anak-anak Black Raven.
Begitu motor masuk ke garasi tertutup di bawah naungan atap ruko, Rangga langsung mematikan mesinnya. Suara deru knalpot yang tadinya menderu kini berganti dengan suara derai air hujan yang menghantam seng bangunan.
Rangga segera turun, membuka kaca helm visor-nya, lalu berbalik untuk membantu Keisha. "Turun, Keisha. Kita berteduh di sini dulu. Badan lo gemetar hebat."
Keisha melepas helmnya dengan tangan kaku akibat kedinginan. rambutnya basah, dan kacamata berbingkai tipisnya dipenuhi titik-titik air hujan. Saat kakinya menapak ke lantai semen garasi, tubuhnya sempat terhuyung karena lemas.
Sebelum Keisha sempat jatuh, tangan kokoh Rangga dengan sigap merangkul bahunya, menopang tubuh mungil itu agar tetap berdiri tegak. "Jangan paksain jalan sendiri kalau lutut lo udah lemas begitu," suara rendah Rangga terdengar penuh perhatian, jauh dari kesan galak atau dingin yang biasa ia tunjukkan pada orang lain.
Rangga membimbing Keisha masuk melalui pintu samping menuju lantai dua ruko tersebut yang berfungsi sebagai tempat istirahat darurat. Suasana di dalam ruangan itu cukup bersih, terdapat sebuah sofa panjang, beberapa lemari kayu, dan sebuah kamar mandi dalam.
"Duduk di sofa," titah Rangga lembut sambil menuntun Keisha ke arah sofa empuk di dekat dinding. "Gua ambilkan handuk kering dan baju ganti di lemari cadangan."
Keisha duduk dengan lesu, memeluk kedua lututnya sendiri untuk meredam rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia menatap sekeliling ruangan dengan pandangan kabur karena kacamatanya basah. Tidak lama kemudian, Rangga kembali dengan membawa sehelai handuk kering bersih dan sebuah hoodie hitam polos berukuran besar.
Rangga menyerahkan handuk tersebut kepada Keisha. "Keringkan rambut dan muka lo dulu. Di kamar mandi dalam ada air hangat kalau lo mau bilas muka biar nggak pusing. Ini pakai hoodie gua dulu buat ganti jaket basah lo supaya nggak masuk angin."
Keisha menatap handuk dan hoodie besar di tangan Rangga dengan perasaan berkecamuk. Air mata kelelahan dan rasa haru hampir menetes di pipinya. Ia tidak menyangka pemuda berandalan yang selama ini ditakuti satu sekolah bisa bersikap selembut dan secermat ini kepadanya.
"Terima kasih, Kak..." bisik Keisha parau, menerima handuk tersebut dengan tangan gemetar.
"Udah, nggak usah banyak mikir. Cepat bersih-bersih, gua tunggu di luar ruangan," ujar Rangga sambil berbalik dan melangkah keluar menuju teras lantai atas, menutup pintu rapat-rapat untuk memberikan privasi penuh kepada gadis itu.
Keisha menghela napas panjang dalam kesendirian ruangan tersebut. Ia beranjak menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air hangat, lalu mengenakan hoodie hitam milik Rangga. Aroma parfum pria itu yang khas langsung menguar lembut, memberikan rasa nyaman dan aman yang seketika melunturkan sisa-sisa rasa takut akibat kejaran musuh tadi siang.
Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Keisha melangkah keluar dengan mengenakan hoodie kebesaran yang menenggelamkan telapak tangannya. Rambutnya yang sedikit lembap dibiarkan tergerai.
Rangga yang sedang berdiri di dekat jendela memerhatikan kedatangan Keisha. Pria itu melepas jaket kulit basahnya, menyisakan kaos hitam pas badan yang, mencetak otot-otot bidang di tubuhnya. Matanya menatap tajam ke arah gadis di hadapannya, menilai apakah masih ada sisa-sisa ketakutan di wajah manis itu.
"Udah lebih enakan?" tanya Rangga sambil melangkah mendekat, lalu menyodorkan sebuah gelas kertas berisi teh hangat mengepul yang ia ambil dari dispenser kecil di sudut ruangan. "Minum ini biar badan lo hangat."
Keisha menerima gelas tersebut dengan kedua tangannya, merasakan kehangatan menjalar dari dinding kertas gelas ke telapak tangannya. "Makasih, Kak. Kakak sendiri nggak basah? Kenapa malah repot-repot nyiapin ini semua buat aku?"
Rangga mendengus pelan, lalu duduk di ujung sofa seberang, menatap lurus ke arah Keisha. "Gua nggak repot. Kalau sampai lo sakit atau kenapa-kenapa gara-gara ikutan terseret masalah geng gua, urusannya bakal makin panjang."
Meskipun diucapkan dengan nada datar, Keisha tahu persis ada ketulusan di balik kalimat ketus itu. Ia menyeruput teh hangat tersebut perlahan, membiarkan cairan manis itu menghangatkan tenggorokannya yang terasa kering.
Suasana di dalam ruangan mendadak senyap, hanya menyisakan suara deru hujan deras di luar jendela dan detak jam dinding tua yang berdetak monoton. Di bawah temaram lampu ruangan, jarak di antara mereka terasa begitu dekat sekaligus sarat akan ketegangan emosional yang tak terucapkan.
Rangga memecah keheningan dengan suara rendahnya. "Keisha... kenapa waktu lu di lorong perpus tadi lu nggak langsung lari ke arah gerbang depan aja? Kenapa malah nekat masuk ke area sayap timur yang sepi?"
Keisha menunduk, menatap permukaan teh di dalam gelasnya. "Aku... aku tadi mau nyari buku referensi biologi buat tugas kelompok minggu depan. Aku nggak tahu kalau anak-anak Viper bakal nungguin aku di sana..." Suaranya melelan, menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. "Semua ini gara-gara aku ya, Kak? Kalau waktu itu aku pura-pura nggak lihat apa-apa di parkiran, Kakak nggak perlu repot-repot ngelindungin aku dari mereka."
Mendengar nada penyesalan yang begitu jujur dari suara gadis itu, Rangga bangkit dari duduknya. Langkah kakinya mendekati sofa tempat Keisha duduk, lalu ia berjongkok tepat di hadapan gadis tersebut, menyetarakan tinggi mata mereka berdua.
Keisha terkesiap kaget, reflek mengangkat wajahnya hingga manik matanya langsung beradu pandang dengan sorot mata kelam Rangga yang kini tampak begitu teduh.
"Dengerin gua, Keisha," ucap Rangga dengan suara bariton yang lembut namun penuh ketegasan mutlak. "Lo nggak perlu nyesal atas apa yang nggak sengaja lo lihat. Dunia gua emang kotor, penuh ancaman, taruhan, dan musuh di setiap sudut jalanan. Tapi itu urusan gua sama Viper. Kehadiran lo di hidup gua bukan sebuah kesalahan... justru, di saat semua orang di sekitar gua pakai topeng cuma buat cari muka atau takut sama nama besar gua, lo adalah satu-satunya orang yang natap gua apa adanya."
Jantung Keisha seolah berhenti berdetak mendengar pengakuan jujur itu. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tidak pernah ada seorang pun—bahkan keluarganya sendiri—yang berbicara sedemikian rupa kepadanya. Pria berandalan yang ditakuti seluruh sekolah ini, kini berlutut di hadapannya, menawarkan perlindungan mutlak dengan ketulusan yang teramat nyata.
"Kak..." cicit Keisha pelan, air mata haru akhirnya menetes tak tertahan di pipinya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Rangga mengangkat tangan kanannya, lalu mengusap sisa air mata di pipi Keisha menggunakan ibu jarinya—gerakan yang begitu lembut, menghapus jarak terakhir di antara benteng pertahanan hati mereka berdua.
"Jangan nangis," bisik Rangga serak. "Gua paling benci lihat air mata cewek, apalagi air mata lo."
Hujan di luar sana masih turun dengan derasnya, menyapu bersih jalanan kota dari segala kotoran dan kebisingan dunia luar. Namun di dalam ruangan kecil yang hangat itu, di bawah lindungan sang penguasa jalanan, dua hati yang berasal dari dunia yang berbeda kini resmi menyatu dalam ikatan rasa yang tak lagi bisa diingkari.