NovelToon NovelToon
Gairah Musuhku

Gairah Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Teen / Nikahmuda / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: HyMaira

Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.

Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.

Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Mobil Rey melesat masuk ke basement Fakultas Bisnis dan berhenti di parkiran.

“Reyy, gawat…” bisik Emily panik.

“Gawat apanya?” Rey menoleh datar.

“Itu liat…” Emily menunjuk ke arah motor yang berjejer.

Rey mengangkat alis. “Kenapa?”

“Mereka sengaja nungguin lo…” ucap Emily cemas.

"Mungkin,, jawab Rey singkat

“Terus gue gimana, Rey?”

“Ya tinggal keluar. Apa perlu gue gendong sampe ke kelas?” Rey menyeringai.

“Ga gitu konsepnya! Kalau mereka tau kita semobil gimana?” Emily makin resah.

“Ya nggak gimana-gimana. Tinggal jawab bareng berangkat, beres.” Rey cuek.

“Reyyyy…” Emily mendengus sebal.

Rey tersenyum sinis. “Bilang aja ban motor lo kempes, terus nebeng gue. Clear, kan? Ribet amat lo, Ily.”

Emily mendesah pasrah. “Hmm, oke…”

“Eitss, lo boleh ngaku gitu… tapi ada syarat.”

“Hhh apa lagi, Rey?”

“Morning kiss dulu.” Rey nyengir jail.

“Ihhh gue udah pake lipstik, bego! Ntar kelamaan malah dicurigain.” Emily manyun, lalu buru-buru turun dari mobil.

Begitu keluar, Bara yang berdiri nggak jauh langsung nyeletuk, “Ehhh, Queen! Lo bareng si Bos?”

“Numpang gue. Tadi ban motor gue kempes di jalan. Lagi pula bentar lagi kelas mulai, kan? Daripada kesiangan,” jawab Emily cepat.

“Tapi lo nggak diapapain kan sama si Bos? Takut aja, soalnya dia jomlo ngenes…” ledek Ezra ngakak.

“Pala lo peang! Cepet deh, 15 menit lagi dosen killer dateng,” sahut Emily sewot.

“Hhha, iya-iya Queen,” Bara terkekeh.

Tak lama Rey keluar dari mobil dengan wajah santai, tanpa beban.

“Beuh, Bos… abis ngapain lo? Tumben amat masukin betina ke mobil,” goda Gio.

“Dia kempes ban. Lagian kita sekelas, ngapain ribet. Mau diem terus di sini apa cabut?” Rey menatap dingin.

“Ehh Bos, tapi pertanyaannya belum dijawab. Lo nggak ngapa-ngapain si Queen, kan? Soalnya dia incaran gue,” ledek Bara sengaja manas-manasin.

Rey hanya menatapnya dengan sinis, tanpa kata.

Bara langsung ngakak, “Wuih, tatapan maut Bos keluar, bahaya nih!”

Saat kelas berlangsung, Emily tampak murung. Perutnya kembali terasa nyeri. Padahal biasanya hari kedua haid tidak separah ini, tapi kali ini rasa sakitnya makin menjadi. Ia mencoba menutupi dengan bercanda tipis bersama teman-temannya, tapi wajah pucatnya tetap kelihatan jelas.

“Lo kenapa, Ily? Pucet banget. Maraton drakor ya lo?” tanya Ziva, melirik curiga.

“Gue lagi haid, nyeri parah, bego,” jawab Emily lesu.

“Nah, kenapa lo nggak libur aja?” sahut Ziva.

“Gue bosen di apartemen. Nanti malah bad mood,” gumam Emily pelan.

“Tapi daripada pucet gitu. Lagi deras ya kayaknya?” Ziva makin kepo.

“Iya, egge. Gue lupa bawa pembalut lagi. Hadehh…” Emily menunduk.

“Coba cek lagi di tas deh,” kata Ziva.

“Oke, nanti pas selesai kelas.”

Saat kelas selesai, semua mahasiswa langsung beranjak keluar. Teman-teman Emily pun bersiap ke kantin sebelum jadwal kuliah berikutnya.

“Ily, ayo ke kantin,” ucap Nara.

“Duluan aja…” Emily menggeleng lemah.

“Lo kenapa, Ily? Sakit perut?” tanya Dion.

“Enggak, gue cuma ngantuk, Yon…” Emily mengelak.

“Mau gue beliin pembalut? Udah dicari nggak?” tanya Ziva khawatir.

“Ohhh si Queen lagi PMS ya? Queen…” ledek Caca.

“Bacot lo, Ca! Sakit egge,” omel Emily sambil meringis.

“Kalian duluan aja, nanti gue nyusul,” katanya lirih.

“Ya udah. Nanti gue bawain makanan ke sini gimana?” tawar Ziva lagi.

“Nggak usah. Gue merem lima menit aja, abis itu nyusul ke kantin,” balas Emily.

“Oke, tapi jangan lama-lama ya beb. Nanti gue khawatir,” ucap Nara lembut.

Oke iya Nara sayang,,

Teman-temannya akhirnya keluar, menyisakan Emily yang masih duduk dengan kepala tertelungkup di meja. Ruangan jadi sepi.

Tiba-tiba dari arah belakang, Rey muncul. Ia menyodorkan sesuatu sambil menepuk lembut pundak Emily.

“Ganti dulu. Nanti bocor,” ucap Rey tenang.

Emily langsung menengok, agak kaget. “Hah? Lo dapat dari mana, Rey?”

“Tadi ketinggalan di meja gue. Gue bawa aja,” jawab Rey santai.

Emily mengambilnya cepat. “Ohh… my good Thanks, Rey.”

“Lo kalau sakit, pulang aja. Istirahat. Atau nggak, ke ruang kesehatan,” kata Rey pelan.

“Nggak. Bentar lagi juga enakan kok, Rey. Makasih ya.

Gue ke toilet dulu,” sahut Emily sambil tersenyum tipis.

,,

Selesai dari toilet, Emily segera menyusul teman-temannya ke kantin. Ternyata di meja sahabatnya sudah ada Alex yang ikut nimbrung.

“Akhirnya lo datang. Gue pikir lo nyenyak di kelas, Ily,” ledek Caca.

“Gue bilang sebentar. Ngantuk doang, lemes banget gue. Pesan jus kali ya, biar stamina balik,” ucap Emily.

“Lo kenapa, beb? Sakit lagi?” tanya Alex mencondongkan badan.

“PMS,” jawab Emily singkat.

“Lo kenapa cuek gitu?” tanya Alex lagi.

“Gue lagi PMS. Jangankan lo, temen gue aja gue cuekin. Gue cuma pengen yang seger-seger.” Emily menghela napas.

“Ya udah gue pesenin ya, beb—”

“Udah gue pesan,” potong Emily.

“Hhahaha… perhatian lo basi, Alex,” Dion tertawa.

“Apa sih lo, nimbrung aja, Beti,” balas Alex sewot.

“Kalian kalau mau adu bacot, mending di lapangan sekalian jotos. Jangan di sini, pening kepala gue. Ribet banget sih,” ucap Emily malas.

“Noh, denger tuh. Kalau si Queen udah bersabda, berarti kalian semua diem,” sahut Caca ketawa.

“Lo juga, cempreng. Diam,” Alex balas melotot.

“Ily, kok nggak liat grup? Mau nonton nggak nanti malam Minggu?” tanya Ziva, mengalihkan topik.

“Hah, nonton apa?” Emily melirik.

“BLR sama WK kan mau balapan malam Minggu. Minggu depannya langsung tanding basket. Edan, nggak tuh?” jawab Nara semangat.

“What? Serius? Gue ketinggalan info,” ucap Emily kaget.

“Lo terlalu sibuk, beb. Ngapain aja sih sampai sering close grup?” tanya Alex curiga.

“Ya lo tau kan, kalau gue lagi nggak mood. Boro-boro pegang HP, males. Yang ada makin bad mood,” Emily mendengus.

“Jadi gimana, kalau mau nonton?” desak Ziva.

“Mau lah. Masa gue skip? Pengen tau kali ini siapa yang kalah,” Emily terkekeh.

“Pasti kalau dibanding, lo-lo lagi yang menang, beb,” ucap Alex meyakinkan.

“Itu udah pasti,” timpal Dion sambil ngacungin jempol.

Mereka masih asik mengobrol ringan, sedangkan Emily diam-diam melirik arah meja Rey yang pembicaraan nya  sama—tentang malam Minggu yang bakal ada balapan. Tapi tiba-tiba pandangannya teralihkan saat Elea dan gengnya datang lalu numpang duduk di samping meja geng Rey.

“Hai, boleh aku numpang duduk nggak? Kantin ini penuh loh,” ucap Elea dengan senyum manis.

“Lo bukan anak fakultas bisnis, ngapain ikutan nimbrung di sini?” ucap Gio ketus.

“Ya pengen nyobain aja masakan kantin bisnis yang katanya enak-enak. Emang salah ya?” timpal Alice sambil manyun.

“Nggak salah sih, cuma kelihatan aja caper. Hhhaa,” ledek Tama.

“Bangku luas, duduk aja. Lagian ini bukan kampus milik gue, umum kan,” ucap Rey simple tanpa banyak ekspresi.

Ezra langsung menahan tawa melihat tingkah geng mereka yang kadang suka nge-abaikan tapi ujung-ujungnya tetap nerima juga.

Emily yang sedari tadi diam cuma mendelik sebentar ke arah Elea, lalu pura-pura sibuk mengaduk jusnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!