Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Malam yang panjang itu rupanya belum mau melipat tirainya. Udara di lorong-lorong dingin Mansion Utama Vale-Knight seakan menyimpan gema jeritan penyesalan Cathez yang baru saja ditinggalkan di ruang tahanan bawah tanah.
Di dalam kamar utama sayap timur, Rossi terbangun perlahan. Tenggorokannya terasa kering menyengat. Saat ia hendak menggeser tubuhnya, tangan tegap Rowan yang melingkari pinggangnya melonggar sedikit.
Dengan gerakan sangat pelan agar tidak membangunkan suaminya yang masih terlelap lelah, Rossi menyibakkan selimut dan merosot turun dari ranjang.
Ia mengenakan jubah piyama sutra longgar berwarna gading, lalu melangkah keluar kamar tanpa suara untuk mencari segelas air hangat di dapur utama.
Namun, saat Rossi menyusuri koridor lantai bawah yang sepi, pendengarannya yang tajam menangkap suara samar-samar—derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan gemerincing besi di lorong belakang dekat tangga pelayan.
Rasa ingin tahu mendorong Rossi untuk mengintip. Di sana, dua pengawal berbadan besar sedang membimbing—atau lebih tepatnya menyeret—seorang wanita bergaun acak-arakan yang tangannya terikat di depan.
Rambut wanita itu kusut, wajahnya yang penuh bekas air mata nampak pucat pasi di bawah temaram lampu lorong.
Rossi menghentikan langkahnya di balik pilar marmer. Matanya membelalak kecil.
Itu Cathez Widmer.
Wanita yang selama empat tahun ini menjadi mimpi buruk bagi Rowan, wanita yang namanya selalu membayangi ikatan mereka, kini berdiri hanya beberapa meter darinya dalam keadaan yang begitu menyedihkan.
Cathez baru saja dibawa keluar dari ruang bawah tanah oleh para pengawal atas perintah Kaelor, hendak dipindahkan ke ruang isolasi sebelum diserahkan ke pihak kepolisian saat fajar menyingsing.
"Tunggu sebentar," bisik Cathez dengan suara serak yang nyaris habis pada para pengawal.
Matanya yang sembap dan liar tak sengaja menangkap bayangan sosok wanita yang berdiri di dekat pilar.
Kedua pengawal itu ikut berhenti, menoleh dan terkejut saat melihat Rossi. "Nyonya Muda..." sapa salah satu pengawal dengan menundukkan kepala penuh hormat.
Cathez membeku. Kata 'Nyonya Muda' yang terucap dari mulut pengawal setia keluarga Knight bagaikan petir yang menyambar kesadarannya. Ia menatap Rossi dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Rossi yang berdiri anggun, bersih, dan memancarkan aura ketenangan yang teramat alami dalam balutan pakaian mewah keluarga Vale-Knight.
"Kau..." cicit Cathez, suaranya bergetar antara rasa tak percaya dan dendam yang tersisa. "Bukankah kau... Rossi Widmer?"
Rossi melangkah keluar dari balik pilar, menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di hadapan Cathez. Tidak ada rasa takut di mata Rossi. Yang ada hanyalah pendar ketenangan dan iba yang dingin.
"Ya, ini aku," jawab Rossi halus namun tegas.
Cathez tertawa mengejek, sebuah tawa sumbang yang dipaksa di tengah keputusasaannya. Air mata kembali menetes di pipinya yang kotor.
"Rupanya...Rowan Benar-benar manjadikanmu Mesin pencetak anak," desis Cathez dengan mata menyipit tajam. "Adikku yang terbuang... anak yang dibuang Ayah ke desa! Beraninya kau berdiri di sini dengan pakaian mewah itu?!"
"Jaga mulutmu!" tegur pengawal keras, hendak menyeret Cathez lagi.
Namun Rossi menghentikan pengawal itu dengan lambaian tangan pelan. "Biarkan dia bicara."
Cathez menyeringai sinis, mencoba menegakkan tubuhnya meski kedua tangannya terikat. .
"Kau pikir kau menang, Rossi? Kau pikir kau berhasil merebut Rowan dariku?! Pria itu kaku, dingin, dan tidak punya hati! Selama empat tahun dia membiarkanku membusuk! Kau hanya akan nasibnya sama denganku! Dia tidak akan pernah mencintaimu... kau hanya dimanfaatkan oleh keluarga ini!"
Rossi mendengarkan seluruh makian itu dengan wajah tenang tanpa riak.
Tidak ada amarah yang terpancar dari wajahnya. Rossi menatap wanita di depannya dengan tatapan yang justru membuat Cathez merasa begitu kecil dan hina.
"Kau salah, Cathez," bisik Rossi pelan, suaranya mantap membelah keheningan malam. "Rowan tidak dingin. Dia memiliki hati yang teramat hangat, hati yang sanggup mencintai dan melindungi dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya."
Rossi mengambil satu langkah mendekat, menatap lurus ke dalam mata Cathez yang liar.
"Alasan kenapa dia dingin padamu selama empat tahun terakhir ini..." lanjut Rossi dengan nada penuh keprihatinan, "bukan karena dia tidak punya hati. Tapi karena hatinya menolak untuk disentuh oleh wanita yang penuh dengan kepalsuan dan darah sahabatnya sendiri."
Deg.
Kalimat Rossi menghantam dada Cathez begitu telak. Wajah Cathez yang tadinya dipenuhi kepura-puraan angkuh seketika berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat.
"K-kau..." gagap Cathez, lidahnya mendadak kaku.
"Aku tahu semuanya, Cathez," potong Rossi dingin. "Aku tahu bagaimana kau memalsukan wasiat Reagen, bagaimana kau menjebak Rowan dalam pernikahan tanpa cinta, dan bagaimana kau memanfaatkan rasa bersalahnya selama bertahun-tahun demi ambisi dan kesenangan pribadimu."
Rossi menggelengkan kepalanya pelan, menatap Cathez dengan pandangan iba yang paling dalam.
"Kau yang menghancurkan dirimu sendiri, Cathez. Kau memiliki segalanya—nama besar keluarga Widmer, kekayaan, dan kesempatan untuk hidup jujur. Tapi kau memilih jalan kejahatan. Kau yang mengunci dirimu sendiri dalam penjara dingin itu, bahkan sebelum polisi menangkapmu malam ini."
"Tutup mulutmu! Tutup mulutmu!" jerit Cathez histeris, air matanya merebak deras. Tubuhnya gemetar hebat, runtuh sepenuhnya di hadapan ketenangan adik tirinya.
Rasa iri, benci, dan penyesalan yang terlambat membakar dada Cathez.
Wanita yang dulu ia anggap gembel terbuang di desa kini berdiri menjulang tinggi di atasnya—bukan dengan kekerasan atau amarah, melainkan dengan martabat dan ketulusan yang tak pernah dimiliki Cathez seumur hidupnya.
"Bawa dia," perintah Rossi pelan pada kedua pengawal. "Biarkan hukum yang menyelesaikan sisanya."
kedua pengawal itu mengangguk patuh, kembali menyeret Cathez yang kini menangis tersedu-sedu tanpa sisa keangkuhan lagi. Suara ratapan Cathez perlahan memudar seiring langkah mereka yang makin jauh menelusuri koridor malam.
Rossi berdiri sendirian di koridor yang hening, menghela napas panjang. Rasa berat yang sempat mengganjal di dadanya perlahan-lahan menguap bersama angin malam.
Tiba-tiba, sepasang lengan tegap merengkuh pinggang Rossi dari belakang. Kehangatan dada berotot yang sangat ia kenal menyapu dinginnya udara malam.
Rowan berdiri di sana. Pria itu rupanya tersadar saat Rossi meninggalkan ranjang dan menyusulnya ke bawah.
Rowan membenamkan wajahnya di leher Rossi, memeluk istrinya erat-erat setelah menyaksikan seluruh percakapan itu dari kejauhan.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?" bisik Rowan halus, mengusap bahu Rossi.
Rossi membalikkan tubuhnya di dalam pelukan Rowan, menyunggingkan senyuman manis dan tulus yang memancarkan kedamaian sejati. Ia menyandarkan kepalanya di dada tegap suaminya, mendengarkan detak jantung Rowan yang teratur.
"Aku tidak apa-apa, Rowan," jawab Rossi lembut. "Malam ini... semuanya benar-benar sudah berakhir, kan?"
Rowan mengecup puncak kepala Rossi dengan kehangatan yang melimpah, melingkarkan kedua tangannya semakin erat.
"Ya, Sayang..." bisik Rowan mantap. "Malam ini bayangan masa lalu telah musnah. Mulai besok, hanya ada kita dan masa depan kita."
Di bawah naungan Mansion Utama Vale-Knight, dalam heningnya malam yang kian larut, dua jiwa yang sempat terluka itu akhirnya menemukan kedamaian utuh yang tak akan mampu digoyahkan oleh siapa pun lagi.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰