Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Di Tingkat Bulan Atau Planet
Sikapnya yang patuh dan nada bicaranya yang penuh hormat membuat Jing Yan sangat terkesan. Setidaknya, ia sendiri tidak akan berlutut dan bersujud seperti itu.
Namun, ia juga sedikit kebingungan. "Jelas-jelas aku yang menghancurkan Batu Warisan Pedang. Jadi kenapa Yang Mulia Pedang justru langsung menerimanya sebagai murid dan menghadiahinya Pil Laut Ilahi begitu tiba di sini?"
Semua tatapan penuh iri kini tertuju kepada Fang Zhelan!
"Zhelan, biarkan aku melihat Jiwa Pedangmu," kata Yang Mulia Pedang sambil tersenyum.
Fang Zhelan segera memperlihatkan Jiwa Pedangnya.
"Yang Mulia Pedang, Jiwa Pedang Bulan Es inilah yang telah melampaui batas Batu Warisan Pedang hingga menyebabkan batu itu meledak!" seru Ning Ziyi yang berdiri di belakang Yang Mulia Pedang, suaranya dipenuhi kekaguman.
"Hm." Yang Mulia Pedang mengangguk sambil mengusap bilah pedang itu.
Lapisan embun beku langsung terbentuk di ujung jarinya.
Sekilas kebingungan melintas di matanya, tetapi segera menghilang. Ia berkata, "Sepanjang sejarah, kualitas tertinggi Jiwa Pedang Bulan Es hanyalah tingkat Bintang Atas. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa di dunia ini masih ada Jiwa Pedang Bulan Es yang kualitasnya melampaui itu."
"Jangan-jangan... tingkat Bulan? Dalam sejarah Sekte Pedang Roh Biru, belum pernah ada seorang jenius dengan Jiwa Pedang tingkat Bulan!" Ning Ziyi begitu terkejut. Dalam hatinya ia menambahkan, ‘Bahkan Tang Long pun tidak memiliki Jiwa Pedang tingkat Bulan!’
"Mungkin bahkan lebih tinggi dari itu." Ucapan Yang Mulia Pedang membuat Ning Ziyi semakin tercengang.
"Batu Warisan Pedang milik Sekte Pedang Roh Biru hanyalah Batu Warisan Pedang Tingkat Dua. Secara logika, sekalipun Jiwa Pedangnya berada di tingkat Bulan, batu itu seharusnya tidak akan sampai hancur," ujar Yang Mulia Pedang sambil menatap Jiwa Pedang Bulan Es dengan saksama.
"Kalau begitu... tingkat Planet?" Ning Ziyi berucap dengan napas yang hampir tercekat.
Kini semuanya masuk akal baginya. Inilah alasan Yang Mulia Pedang langsung menerima Fang Zhelan sebagai murid dan menghadiahkan Pil Laut Ilahi—harta yang selama ini didambakan semua muridnya—pada pertemuan pertama mereka!
Jenius tingkat Bintang sudah dianggap sebagai anak langit. Namun jika mencapai tingkat Planet, itu berarti telah memasuki ranah legenda.
Senyuman tipis muncul di sudut bibir Yang Mulia Pedang ketika mendengar kata tingkat Planet.
"Dengan Batu Warisan Pedang yang telah hancur, aku harus meminta Batu Warisan Pedang Tingkat Empat dari Laut Pedang. Apakah Jiwa Pedangmu berada pada tingkat Bulan atau Planet, Batu Warisan Pedang Tingkat Empat akan mengungkap semuanya," gumam Yang Mulia Pedang sambil mengacak-acak lembut rambut Fang Zhelan.
Fang Zhelan tampak menikmati belaian itu.
"Berapa lama lagi sampai batu itu tiba?" tanya Ning Ziyi dengan penuh harap. Ia sudah tak sabar menyaksikan cahaya Jiwa Pedang Bulan Es menerangi langit.
"Dalam tiga hari, saat Pertemuan Tujuh Pedang dimulai, batu itu seharusnya sudah tiba," jawab Yang Mulia Pedang dengan tenang.
"Kalau begitu, mengapa tidak diumumkan saja pada hari pertarungan terakhir Pertemuan Tujuh Pedang? Seluruh Sekte Pedang Roh Biru akan menjadi saksi lahirnya jenius pertama yang melampaui tingkat Bintang," usul Ning Ziyi.
"Ning Ziyi, kau memang pandai membangun suasana dan membuat orang penasaran," kata Yang Mulia Pedang sambil meliriknya sekilas.
"Fang Zhelan adalah murid langsungmu, Guru. Keberhasilannya juga merupakan kehormatan bagimu," balas Ning Ziyi dengan senyum manis yang sedikit menggoda.
"Baiklah! Kita akan menguji Jiwa Pedang Zhelan pada hari Pertemuan Tujuh Pedang," katanya sambil tertawa lepas.
"Seluruh Sekte Pedang Roh Biru akan menyaksikan kebangkitanku?" Fang Zhelan begitu terharu hingga merasa jiwanya seakan melayang.
Pertemuan Tujuh Pedang! Itu adalah acara terbesar Sekte Pedang Roh Biru yang bahkan dikenal oleh rakyat biasa. Dan acara itu tinggal tiga hari lagi! Mungkinkah dirinya, yang hanyalah putri seorang Perdana Menteri, benar-benar memiliki Jiwa Pedang yang melampaui tingkat Bintang?
"Apa-apaan ini...?" Jing Yan akhirnya tersadar dan sedikit tercengang.
"Tunggu sebentar," Jing Yan menoleh kepada Tetua Ran di sampingnya, "Jiwa Pedang kami sama-sama diuji, jadi kenapa aku malah diperlakukan seperti hantu?"
Tetua Ran yang masih berkeringat deras akibat pengungkapan bakat Fang Zhelan berusaha menenangkan diri.
"Perlihatkan Jiwa Pedangmu," katanya dengan suara serak sambil mengulurkan tangan.
Jing Yan dengan hati-hati memperlihatkan Jiwa Pedangnya. "Hati-hati, jangan sampai tersayat."
Jiwa Pedang Pengubur Langit memang tidak berbahaya saat digenggam. Namun, jika sedikit saja melukai seseorang, luka itu akan mengikis daging dan darah korbannya.
Tetua Ran hanya melirik sekilas sebelum melambaikan tangan dengan acuh tak acuh.
"Lalu?" tanya Jing Yan.
"Tidak ada yang istimewa," jawab Tetua Ran sambil mengangkat bahu.
"Apa maksudmu?" tanya Jing Yan.
Tetua Ran mengusap dahinya dengan kesal lalu berkata, "Bukankah ini hanya Jiwa Pedang Teratai Hijau? Jiwa Pedang tingkat Meteor dengan kelangkaan rendah yang sangat umum. Di Puncak Pedang Ketujuh milikku saja, kurasa ada hampir seratus Kultivator Pedang yang memiliki Jiwa Pedang seperti ini."
Jing Yan langsung terdiam. ‘Jiwa Pedang Teratai Hijau? Hampir seratus orang memilikinya?’
Memang benar-benar biasa saja. Tidak heran tak seorang pun menganggapnya istimewa. Dari tampilannya saja, Jiwa Pedang itu memang jauh kalah mencolok dibandingkan kemegahan Jiwa Pedang Bulan Es yang dingin dan anggun.
"Tiga hari lagi menuju Pertemuan Tujuh Pedang!" kata Tetua Ran dengan nada penuh kekaguman tanpa lagi memedulikan Jing Yan. Ia menatap gadis muda itu dengan rasa hormat dan takjub. "Begitu diuji menggunakan Batu Warisan Pedang Tingkat Empat, entah dia mencapai tingkat Bulan ataupun tingkat Planet yang mengerikan, namanya pasti akan tercatat dalam sejarah Sekte Pedang Roh Biru!"
Jing Yan merenung dalam diam. "Mungkin saat acara nanti mereka akan mengujiku lagi?"
Ia bertanya-tanya, apakah Batu Warisan Pedang Tingkat Empat mampu menahan Jiwa Pedangnya.
Lagi pula, selama ia tidak dipasangkan dengan Fang Zhelan, gadis itu akan memperlihatkan kualitasnya yang sebenarnya. Saat itu tiba, semua orang yang sekarang begitu percaya diri akan menjadi bahan tertawaan. Terutama Fang Zhelan yang selalu bersikap tinggi hati.
"Semakin tinggi dia melayang sekarang," pikir Jing Yan sambil tersenyum tipis, "semakin keras pula dia akan jatuh tiga hari lagi."
"Hanya ada satu masalah," bisik Bintang Biru dari dalam pelukannya. "Karena ulahmu, sekarang dia memiliki satu Pil Laut Ilahi tambahan."
"Gagak boleh saja menelan ribuan pil burung phoenix, tetapi tetap saja ia hanyalah seekor gagak." Jing Yan terkekeh. Lalu ia berkata dengan senyum penuh keyakinan, "Setinggi apa pun dia terbang, satu ayunan pedangku sudah cukup untuk menjatuhkannya.”