Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Sebelum Fajar
Di meja makan yang luas dan hening, Kirana duduk menikmati setiap gigitan mangga muda yang telah dipotong-potong rapi, dicelupkan ke dalam bumbu rujak gula merah yang gurih dan pedas. Rasa asam yang tajam menggoyang lidahnya, seketika menghempaskan rasa mual dan lemas yang menyergapnya sejak pagi.
Senyum puas dan binar kebahagiaan tak mampu ia sembunyikan dari wajahnya.
Bik Sumi dan Pak Mamat berdiri tak jauh dari meja makan, memperhatikan sang Nyonya Muda yang begitu lahap menyantap rujak tersebut dengan tatapan haru dan penuh teka-teki.
Selesai menghabiskan potong mangga terakhir hingga tak tersisa, Kirana menyapu bibirnya menggunakan tisu lalu menatap para pekerja rumah tangga yang ada di sana dengan raut wajah serius namun manis.
"Bik Sumi, Pak Mamat, dan semuanya..." panggil Kirana lembut.
"Iya, Nyonya Muda?" jawab Bik Sumi dan Pak Mamat serentak, melangkah mendekat dengan sigap.
Kirana menyandarkan tubuhnya di kursi, memegang perutnya yang kini terasa hangat dan kenyang. "Tolong rahasia kecil kita siang ini disimpan rapat-rapat ya. Jangan ada satu pun dari kalian yang memberitahu Devan kalau aku minta memetik mangga tunggal itu, apalagi soal aku makan rujak."
Pak Mamat agak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi Nyonya... Tuan Devan kan paling teliti. Kalau beliau sadar mangga kesayangannya hilang di pohon..."
"Biar nanti aku sendiri yang bicara padanya kalau saatnya sudah tepat," potong Kirana dengan kedipan mata yang jenaka. "Kalian cukup pura-pura tidak tahu saja, mengerti?"
Bik Sumi yang berpengalaman dalam mengurus rumah tangga dan sudah memfirasatkan sesuatu tersenyum lebar. "Baik, Nyonya Muda! Kami semua janji akan menjaga rahasia ini rapat-rapat sampai Nyonya sendiri yang mengumumkannya pada Tuan Devan."
"Terima kasih semuanya," bisik Kirana lega.
Ia bangkit dari meja makan dan melangkah kembali ke kamarnya, menyembunyikan rahasia manis dan petunjuk kehamilan yang kian nyata ini, siap menyambut esok subuh untuk kepastian yang dinanti-nantikan.
Malam pun menyingsing, membawa suasana tenang di seluruh penjuru mansion. Mobil Devan akhirnya memasuki pelataran rumah. Langkah kakinya yang tegap berderap masuk, dan seketika rasa lelah setelah seharian memimpin rapat serta mengurus bisnis menguap begitu Devan melihat Kirana menyambutnya di depan pintu dengan senyuman paling hangat.
"Selamat malam, Suamiku," sapa Kirana lembut seraya meraih tangan Devan dan menciumnya.
Devan tersenyum tipis, merengkuh pinggang Kirana lalu mendaratkan kecupan penuh kasih di keningnya. "Selamat malam, Sayang. Maaf ya hari ini aku pulang agak malam."
Mereka berdua berjalan menuju ruang makan. Devan menemani Kirana menyantap makan malam dengan penuh perhatian. Sesekali Devan mengambilkan lauk untuk istrinya, sementara Kirana melayaninya dengan kehangatan seorang istri. Bik Sumi dan Pak Mamat yang berjaga di luar ruang makan sesekali saling pandang, menahan senyum ingat akan 'rahasia mangga' yang telah diamankan rapat-rapat siang tadi.
Usai makan malam dan mengobrol singkat tentang pekerjaan kantor, rasa kantuk mulai menyerang Kirana. Devan dengan sigap menggandeng tangan istrinya menuju kamar utama di lantai dua.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur yang nyaman, mereka berbaring di atas ranjang empuk. Devan menarik Kirana ke dalam pelukannya yang kokoh, menyelimuti tubuh mereka berdua. Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan.
"Tidurlah yang nyenyak, Kirana... Aku sangat mencintaimu," bisik Devan pelan seraya mengusap lembut rambut panjang istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Devan..." balas Kirana lirih.
Dengan kepalanya yang dipenuhi rasa bahagia dan bayangan kejutan esok hari, Kirana perlahan memejamkan mata. Di dalam dekapan hangat sang suami, mereka berdua tertidur lelap—menantikan fajar menyingsing yang akan membawa kabar bahagia paling besar dalam hidup mereka.