SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 – Keputusan Sang Navigator
Keheningan menyelimuti ruang kendali Pos Observasi Tujuh.
Semua orang masih menatap retakan hitam yang perlahan membesar di belakang armada.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada kilatan cahaya.
Namun pemandangan itu justru terasa lebih mengerikan.
Seolah-olah ruang angkasa sedang robek sedikit demi sedikit.
AURA memecah keheningan.
"Anomali gravitasi terus meningkat."
"Ukuran retakan bertambah tiga persen dalam satu menit."
Kapten Idris menatap Victor Hale.
"Kau bilang 'mereka'."
"Siapa mereka?"
Victor tetap memandang retakan itu.
"Aku tidak pernah melihat mereka."
"Lalu bagaimana kau tahu?"
"Karena Elias pernah memperingatkan kami."
---
Di ESS Horizon, Leo membuka seluruh arsip yang baru saja disalin dari Pos Observasi.
"Pencarian kata kunci."
"Kata apa?" tanya Rina.
"'Mereka'."
Ratusan dokumen muncul.
Namun hampir semuanya rusak atau dienkripsi.
Hanya satu berkas yang masih bisa dibuka.
Judulnya sederhana.
Protokol Omega.
Leo membukanya.
Hanya ada satu kalimat.
"Jangan pernah membuka penjara sebelum Navigator tiba."
Leo langsung mengirimkan dokumen itu kepada Kapten Idris.
---
Idris membaca kalimat tersebut beberapa kali.
"Lalu bagaimana kalau penjaranya terbuka sendiri?"
Victor akhirnya menoleh.
"Itulah yang sedang terjadi."
Ruangan kembali hening.
---
Adrian mengepalkan tangan.
"Selama ini aku mengira penghalang di Pos Observasi adalah pertahanan utama."
Victor menggeleng.
"Penghalang ini hanya memperlambat."
"Memperlambat apa?"
"Melemahnya penjara."
Sofia menarik napas panjang.
"Berarti selama seratus dua puluh enam tahun..."
"...kita hanya membeli waktu."
Victor mengangguk.
"Tepat."
---
Di ruang mesin ESS Horizon, Owen memeriksa reaktor.
"Darius."
"Ya?"
"Konsumsi energi naik lagi."
"Penghalangnya?"
"Bukan."
"Kalau begitu?"
"Kapal hitam."
Semua menoleh.
"Kapal itu mulai aktif."
---
Di ruang bawah tanah Pos Observasi, kapal hitam yang mereka temukan mulai memancarkan cahaya lebih terang.
Pilar kristal kembali berbicara.
"Navigator."
Kapten Idris menjawab.
"Ya."
"Persiapan keberangkatan dapat dimulai."
Idris menggeleng.
"Aku belum memutuskan."
"Keputusan dibutuhkan."
"Kenapa harus sekarang?"
"Karena waktu tersisa..."
Pilar berhenti beberapa detik.
"...dua belas jam."
Semua saling berpandangan.
"Dua belas jam untuk apa?" tanya Kael.
"Peluang keberhasilan misi."
"Setelah itu?"
"Tingkat keberhasilan turun di bawah lima persen."
---
Reza berjalan mendekati Idris.
"Kapten."
"Apa?"
"Jangan langsung percaya pada mereka."
Idris mengangguk.
"Aku juga belum percaya."
Lyra ikut berbicara.
"Tapi satu hal jelas."
"Apa?"
"Semua petunjuk mengarah ke Galaksi Asterion."
Kael menambahkan,
"Dan sejak awal memang itu tujuan kita."
---
Di ESS Horizon, Hana menemukan sesuatu pada peta bintang.
"Kapten."
"Ada lagi?"
"Aku membandingkan jalur dua puluh tiga ekspedisi."
"Hasilnya?"
"Semua kapal menghilang di lokasi yang berbeda."
"Lalu?"
"Kalau semua titik itu dihubungkan..."
"...hasilnya adalah satu jalur."
Kael memperhatikan peta yang dikirim Hana.
Jalur itu berakhir...
tepat di pusat Galaksi Asterion.
"Tidak ada satu pun ekspedisi yang berhasil melewati titik itu," kata Hana.
---
Victor kembali berbicara.
"Elias sudah memperkirakan semuanya."
"Lalu kenapa dia tidak pergi sendiri?" tanya Reza.
Victor tersenyum pahit.
"Karena dia gagal."
Ruangan mendadak sunyi.
"Gagal?" ulang Idris.
Victor mengangguk.
"Dia menemukan kapal."
"Dia mengaktifkan penghalang."
"Dia memperpanjang usia penjara."
"Tapi..."
"...dia tidak pernah berhasil mencapai tujuan akhirnya."
"Kenapa?"
"Karena Navigator saat itu belum ada."
Semua mata kembali tertuju pada Idris.
---
Tiba-tiba seluruh lampu di Pos Observasi padam.
Gelap.
Hanya cahaya merah darurat yang tersisa.
Alarm berbunyi keras.
AURA segera memberikan laporan.
"Penghalang kehilangan daya."
"Stabilitas turun menjadi tujuh puluh dua persen."
"Tujuh puluh persen."
"Enam puluh delapan persen."
Adrian langsung berlari menuju panel kendali.
"Ini tidak mungkin!"
"Tadi sudah stabil!"
Owen menghubungi dari ESS Horizon.
"Kapten!"
"Ada sesuatu yang menyerap energi Pos Observasi."
"Dari mana?"
Owen memperbesar sensor.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah pucat.
"Bukan dari dalam."
"Lalu?"
Owen menelan ludah.
"Dari retakan hitam itu."
---
Semua memandang layar luar.
Retakan tersebut kini jauh lebih besar.
Dan untuk pertama kalinya...
sesuatu terlihat bergerak di balik kegelapannya.
Bukan kapal.
Bukan asteroid.
Melainkan sebuah bayangan raksasa yang perlahan mendekati celah.
Victor Hale menutup matanya sesaat.
Lalu berkata dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Kalau itu berhasil keluar..."
"...kita tidak lagi punya kesempatan kedua."