NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SARAPAN

Matahari pagi di puncak gunung bersinar begitu cerah cahayanya menyelinap lewat celah tirai jendela, menyorot mata Lina seperti laser penunjuk presentasi yang jahat.

Lina perlahan mengerang, kemudian menarik selimut nya hingga menutupi kepala. "Arka... matikan matahari. Itu melanggar hak asasi manusia untuk tidur."

Arka tertawa renyah dari arah dapur. "Maaf, Nyonya Matahari tidak bisa dimatikan. Tapi aku punya solusi alternatif: Kopi. Dan roti bakar yang bentuknya agak aneh karena toaster-nya rusak sebelah."

Lina mengintip dari balik selimutnya dan melihat Arka berdiri di dapur terbuka,pria itu mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana pendek, sambil memegang spatula seperti pedang samurai. Dia terlihat sangat... domestik. Sangat tidak cocok dengan citra pria dingin berkacamata hitam yang dia tunjukkan pertama kali di kafe.

"Aneh bagaimana?" tanya Lina bangun dari tidurnya rambutnya masih berantakan seperti sarang burung yang baru saja diguncang gempa.

"Satu sisi gosong hitam legam, sisi lainnya masih putih pucat," jawab Arka serius. "Ini metafora hidupmu, Lin. Setengah hancur, setengah belum siap. Aku menyebutnya 'Roti Filosofis'."

Lina tertawa geli. Dia berjalan menuju meja makan, merasakan lantai kayu yang dingin di telapak kakinya. Di atas meja, memang ada dua piring. Satu berisi roti yang sesuai deskripsi Arka, dan satu lagi... ternyata cukup sempurna.

"Kamu bohong," tuduh Lina sambil menunjuk rotinya yang utuh. "Ini bagus banget."

Arka mengangkat bahu, pura-pura tersinggung. "Itu jatahku. Aku kan pria, butuh energi lebih. Kau wanita patah hati, butuh kalori lebih sedikit agar nggak cepat gemuk karena stres makan es krim. Itu ilmu gizi modern."

"Dasar pelit," gerutu Lina, tapi dia tetap mengambil roti itu. Rasanya enak. Renyah di luar, lembut di dalam. Persis seperti pertahanan diri Arka.

Mereka makan dalam hening yang nyaman. Di luar, kabut mulai menipis, memperlihatkan pemandangan hutan pinus yang hijau pekat. Sesekali, seekor tupai melompat-lompat di dahan pohon dekat jendela, seolah-olah sedang mengintai mereka.

"Lihat itu," kata Arka sambil menunjuk tupai tersebut dengan garpunya. "Namanya Pak Broto. Dia mata-mata."

Lina hampir tersedak kopinya. "Pak Broto? Mata-mata siapa?"

"Mata-mata mantan istriku," jawab Arka datar. "Dia dikirim untuk melaporkan kalau kamu sudah bahagia. Kalau kamu ketawa, Pak Broto akan mengirim sinyal morse ke istriku lewat ekor berbulunya. Dan istriku akan datang ke sini membawa pisau dapur."

Lina menatap Arka lama. Lalu menatap tupai itu. Tupai itu berhenti, menoleh ke arah mereka, lalu mengibas-ngibaskan ekornya dengan angkuh sebelum melompat pergi.

"Gila," gumam Lina. "Kamu benar-benar gila."

"Tapi lucu, kan?" goda Arka. "Lebih baik tertawa pada tupai paranoid daripada menangis pada bantal basah."

Lina tersenyum ringan di wajahnya. "Jadi, apa ada rencana hari ini? Apakah kita akan meditasi lagi? Atau belajar cara melempar kapak?"

"Lebih buruk dari itu," kata Arka misterius. "Kita akan bersih-bersih."

"Bersih-bersih?" Lina mengerutkan kening. "Di vila sewa? Bukannya ada petugas kebersihan?"

"Ada. Tapi mereka datang besok. Hari ini, kita harus membersihkan 'energi negatif' yang mungkin masih menempel di bajumu dari pengadilan kemarin. Caranya? Mencuci baju sendiri. Dengan tangan. Seperti nenek moyang kita dulu."

Lina melotot. "Aku baru saja lolos dari pernikahan toxic, dan hukuman pertamaku adalah cuci baju pakai tangan? Ini penyiksaan!"

"Anggap saja terapi," bujuk Arka. "Gerakan memutar saat menggosok kerah baju itu mirip dengan gerakan memijat hati yang sakit. Plus, busa sabun itu simbol dari kotoran masa lalu yang luntur. Puitis, bukan?"

"Puitis kepala botakmu," omel Lina, tapi dia tetap berdiri. "Di mana mesin cucinya? Atau embernya?"

"Di belakang. Ada sungai kecil. Airnya jernih. Dinginnya bikin sadar diri."

setelah Dua jam kemudian, Lina duduk di batu besar di tepi sungai kecil di belakang vila. Tangannya merah karena air dingin, tapi dia merasa lega. Lina menggosok blazer merah marun armor perangnya di pengadilan—dengan sabun batang.

sedangkan Arka duduk di batu seberangnya,pria itu sedang membaca buku sambil sesekali melempar kerikil ke air.

"Lin," panggil Arka tiba-tiba.

"Hm?" Lina tidak menoleh, fokus pada noda kopi di ujung lengan bajunya.

"Kamu tahu nggak, kenapa aku suka tempat ini?"

"Karena sinyalnya jelek?"

"Bukan. Karena di sini, waktu berjalan lambat. Di kota, kita selalu dikejar waktu. Kejar deadline, kejar cicilan, kejar validasi orang lain. Di sini, satu-satunya yang harus kau kejar adalah ikan trout jika kau mau makan siang. Dan bahkan itu pun opsional."

Lina berhenti menggosok. Dia menatap air sungai yang mengalir deras namun tenang. "Aku rindu kecepatan itu kadang-kadang. Rindu merasa produktif. Sekarang... aku merasa kosong."

"Kosong itu bagus," kata Arka. "Ruang kosong bisa diisi dengan hal baru. Kalau gelasmu sudah penuh dengan sampah masa lalu, bagaimana kamu mau menuangkan anggur kebahagiaan baru?"

Lina tertawa kecil. "Analogi minum-minumanmu terus, ya?"

"Profesionalisme," jawab Arka bangga.

Tiba-tiba, ponsel Lina yang ditinggalkan di dalam vila berdering keras. Suaranya menggema di lembah sunyi itu. Ringtone lagu dangdut koplo yang disetel oleh Ibu Tuti sebagai lelucon.

Lina dan Arka saling pandang.

"Itu bunyi dering 'Ibu Mertua Galak'," kata Arka. "Atau dalam kasusmu, 'Ibu Kandung Penyebar Gosip'."

Lina menghela napas. "Aku harus menjawabnya. Kalau nggak, dia akan datang ke sini naik helikopter."

Lina berlari kecil kembali ke vila, mengambil ponselnya. Nama Ibu berkedip-kedip di layar.

Dia menekan tombol terima, lalu menghela napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Halo, Bu."

"LINA! ANAKKU!" suara Ibunya terdengar histeris di ujung sana. "Benarkah?! Dinda hamil?! Dari Raka?! Ibu sampai pingsan tadi pagi! Tetangga sebelah bilang lihat Dinda muntah-muntah di mobil Raka!"

Lina memijat pelipisnya. "Ibu, tenang dulu. Iya, benar. Dinda hamil anak Raka."

Hening sejenak. Lalu suara Ibu berubah menjadi tangisan. "Ya ampun... Malunya, Lin! Malunya sama keluarga besar! Gimana nanti Om Tarno bilang? Gimana nanti Nenek bilang? Kamu diselingkuhi adik sendiri! Ini aib terbesar dalam sejarah keluarga kita sejak Kakek ketahuan punya istri kedua di Surabaya!"

"Ibu," potong Lina tegas. "Ini bukan tentang aib. Ini tentang fakta. Raka dan Dinda memilih jalan mereka. Aku memilih jalanku. Dan jalanku adalah menjauh dari drama mereka."

"Tapi kamu nggak boleh diam saja, Lin! Kamu harus lapor polisi! Kamu harus minta ganti rugi! Kamu harus..."

"Ibu," potong Lina lagi, suaranya lebih lembut tapi tetap tegas. "Aku sudah di pengadilan. Aku sudah dapat bagianku. Sekarang, aku sedang berlibur. Di gunung. Tanpa sinyal yang bagus. Jadi, tolong, jangan telepon lagi kecuali ada keadaan darurat. Seperti kebakaran atau alien mendarat."

"Lina! Kamu durhaka! Ibu cuma khawatir..."

"Worry less, pray more, Bu. Dah."

Lina mematikan telepon. Dia melempar ponselnya ke sofa dengan kasar.

Arka masuk ke ruangan, membawa dua cangkir teh hangat. "Gimana? Dunia kiamat?"

"Hampir," jawab Lina lelah. "Ibu panik soal aib keluarga. Katanya ini lebih memalukan daripada Kakek punya istri kedua."

Arka terbahak. "Wah, standar moral keluargamu tinggi juga ya. Istri kedua aja kalah sama selingkuhan adik kandung."

"Lucu sekali," gerutu Lina, meski sudut bibirnya naik. "Kadang aku berpikir, apakah aku diadopsi? Karena reaksi mereka semua terlalu dramatis."

"Mungkin," goda Arka sambil menyerahkan teh. "Mungkin kamu sebenarnya putri kerajaan yang hilang. Dan Raka serta Dinda adalah penjaga istana yang korup."

Lina menerima teh itu. Uapnya mengepul hangat. "Kalau begitu, aku ingin abdikasi. Aku nggak mau jadi putri. Aku mau jadi rakyat biasa yang bisa tidur nyenyak tanpa dikejar-kejar gosip."

Arka mengangkat cangkirnya. "Untuk rakyat biasa yang bebas."

Lina mengangkat cangkirnya juga. "Untuk kebebasan. Dan untuk Pak Broto, sang mata-mata tupai."

Mereka ber dia minum teh. sedangkan Di luar, angin berhembus sejuk. Dan untuk pertama kalinya, Lina merasa bahwa meskipun masa depannya belum jelas, setidaknya masa kini-nya milik dia sepenuhnya.

Tanpa Raka. Tanpa Dinda. Tanpa ekspektasi Ibu.

Hanya Lina, Arka, dan secangkir teh hangat di tengah hutan yang sunyi.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!