NovelToon NovelToon
Aku Tak Terima Dicurangi

Aku Tak Terima Dicurangi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:239.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.

Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.

Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.

Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.

Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalih anak rindu dekapan : 08

“Helya, sedang apa kamu di situ?” tanya wanita tidak jadi melangkah, dan berdiri pada batas pintu terbuka lebar.

Yang ditanyai tak bereaksi. Berdiri kaku dengan mata terbelalak.

Rasa panas dingin dari ujung kaki merambat naik sampai ubun-ubun. Helya kesulitan menghirup oksigen.

“Sayang, kamu kebangun ya?”

Helyara seperti melihat sosok lebih menyeramkan daripada hantu. Kinerja otak melambat memproses informasi, yang pasti pemandangan di depannya sukses menggores hati.

“Sedang apa kalian di kamar ini?” ia tak menyangka masih bisa bersuara disaat dadanya bergemuruh kencang.

Rianti menunduk memperhatikan penampilannya. Terburu-buru menaikan tali tipis gaun tidur satin yang turun ke lengan.

“Ngapain kalian berduaan tengah malam gini?” ulangnya menekankan setiap kata.

“Helya ….” Alandi melewati Rianti yang berdiri menghalangi jalan pintu. “Alam lagi gak enak badan. Tidurnya gelisah, sepertinya dia kangen didekap sosok ayah. Mas berinisiatif memberikan rasa aman biar dia nyaman gak rewel.”

Helya tidak peduli pada bayi yang ditimang dalam pelukan Alandi. Dia mundur setiap kali sang suami melangkah maju.

“Rindu sosok ayah?” suaranya terdengar getir. “Dirumah ini yang lebih pantas memenuhi khayalan bayi itu adalah Papa daripada kamu, Mas.”

“Helya, ini salahku. Maaf. Aku takut mau bangunin Paman, tadi pas kebetulan mas Alandi keluar kamar,” Rianti mencoba menjelaskan sambil meremat sisi gaun tidur yang panjangnya diatas lutut.

Wanita masih shock itu kembali dibuat terkejut. Netranya melihat sesuatu janggal pada bagian paha berwarna merah keunguan seperti bekas gigitan serangga.

“Sangat kebetulan sekali, ya? Kamu enggan bangunin Papa mertuaku, tapi gak sungkan menerima bantuan dari pria telah beristri. Kalau belum bisa merawat anak jangan punya bayi!” intonasinya merendahkan menandakan gejolak hati berusaha ditekan semaksimal mungkin.

“Sayang, jangan kekanakan! Mas cuma membantu menenangkan Alamsyah. Lihatlah dia sekarang sudah anteng, matanya sayu mengantuk.” Alan maju satu langkah lagi.

“Aku kekanakan? Kekanakan?!” Helya menunjuk dirinya sendiri sambil memandang kecewa pria yang terlihat biasa saja.

“Lantas, sebutan apa yang pantas untuk kalian, hah?! Tengah malam berduaan di dalam kamar. Sang wanita memakai gaun tidur pendek, dan kamu gak pakai baju, Mas. Apa maksudnya ini? Jelaskan!” Helya menggigit pipi bagian dalam, ia butuh rasa sakit untuk pengalihan agar tidak menangis.

“Mas dan suaminya Rianti itu saudara sepupu, otomatis istrinya juga bukan orang lain. Wajar kan kalau menganggap anak mereka seperti anak sendiri. Helya, hilangkan pikiran burukmu! Jangan berprasangka yang tidak-tidak.” Alan memberikan bayi dalam gendongan ke ibunya.

Mata tajam Helyara menatap lekat tak terlewatkan. Bagaimana sepasang manusia berdiri terlalu dekat. Tangan mereka saling menempel, lalu seolah sengaja berlama-lama melakukan kontak fisik terasa intim.

“Sekarang sudah mau pagi. Kamu sekalian tidur saja di sana biar bayi itu benar-benar merasakan sosok ayah seutuhnya. Gak setengah-setengah!” sarkasnya jelas.

Helyara melangkah terburu-buru, saat dia masuk ke dalam kamar dan mau mengunci — sela pintu masih terbuka di tahan lutut.

“Sayang, kita perlu bicara!” Alan menahan pintu.

Namun Helyara yang sedang emosi mendapatkan tenaga lebih. Badan berbobot 75 kilogram menggoyangkan bokong menghantam daun pintu.

Argghh!

“Tega kamu, Helyara!” lututnya perih kejepit pintu. Kaki kirinya melompat-lompat menyeimbangkan rasa sakit.

Brak!

Bantingan pintu menggetarkan kusen, dan teriakan kesakitan masih terdengar.

Helya tak mencabut anak kunci. Terseok-seok dia mendekati ranjang, terduduk dengan perasaan kacau.

Tetesan air mata meluncur dari pipi melewati dagu lalu terjun membasahi daster.

“Jahat banget mereka. Alasan tak masuk logika. Jelas Alamsyah cuma dijadikan tameng, atau memang aku yang kekanakan karena cemburu buta?” gumamnya.

Rasanya kepala Helya panas seperti air mendidih. Hatinya terbakar api cemburu.

Tiba-tiba ia teringat kalimat bisikan bi Mirma. Instruksi yang sudah diabaikan, berencana tak mau mengikuti, sekarang muncul keinginan kuat apa salahnya mencoba.

“Ayah, Ibu, Adek ….” setiap kali merasa gamang, sendirian yang menyesakkan dada, Helya akan memanggil nama tiga sosok sangat berarti dalam hidupnya.

Rasa pusing mulai mendera, dia tidak kuat kalau harus berpikir terlalu keras, terlebih dalam keadaan lapar.

Helya merebahkan badan, tanpa memakai selimut ia memejamkan mata berusaha tidur agar rasa pusing berangsur-angsur pergi.

***

Suara bising membangunkan wanita yang tertidur dalam keadaan perut kosong, tidak memakai selimut.

Helyara menghela napas panjang, pertama kali yang diingatnya — kejadian semalam. Rianti berdiri di ambang pintu, sosoknya terlihat rapuh dan pakaian dikenakan mengganggu pikiran positif Helya.

“Asyik! Nanti aku mau naik Kuda! Yey!!!”

Emosinya mulai terpancing. Keponakan Alan anaknya Zanaya dan Wandi, paling pintar merusak suasana hati. Sangat berisik, manja, egois.

“Kali ini apalagi yang diminta Kartika?” Helya terduduk, telapak kaki diturunkan dan menjejak lantai.

“Nyonya, Nya!”

Suara Siska seperti orang khawatir, dia mengetuk pintu.

“Kenapa, Siska?!” jeritan parau terdengar sampai keluar kamar.

“Saya masak nasi goreng suwir daging Ayam kesukaan, Nyonya. Ayo sarapan selagi masih hangat!”

Perut berlipat tiga itupun langsung berbunyi. Sulit sekali menahan lapar.

“Entah gimana lagi caranya diet. Seperti rencana sebatas wacana. Mau olahraga, baru lari sepuluh menit sudah ngos-ngosan. Kenapa badanku seperti gak bisa menampung tenaga, selalu kehabisan energi, padahal gak kerja yang mengeluarkan banyak keringat?”

Sering dia merasa heran dengan metabolisme tubuhnya. Makanan, minuman yang dikonsumsi seperti tidak berubah menjadi energi. Mudah lelah, mengantuk, membuat daya ingat terkadang juga bermasalah.

“Nyonya baik-baik saja, ‘kan?” Siska memanggil lagi, mengkhawatirkan majikannya.

“Iya. Sebentar lagi saya keluar.”

Helya beranjak ke lemari, mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi mau membersihkan badan.

Ia memutuskan mandi pagi dengan air dingin agar badannya segeran, pikiran kembali fokus.

“Benar kata Mama, aku seperti wanita berumur 40 tahunan.” Helya bercermin dalam keadaan polos. Memandangi badannya dengan perasaan getir.

Lemak menempel merata di tubuh, tinggi badan tidak seberapa menambah kesan gemuk sangat kentara.

Lipatan bawah dagu, pipi tembam sampai hidung tertarik, lengan besar, bagian leher ke bawah seperti garis lurus tidak berlekuk.

“Yang penting sehat,” selalu kalimat itu dia lontarkan, yakini, untuk menghibur diri agar tak merasa kerdil.

Helya cepat-cepat mandi keramas berharap bisa meluruhkan perasaan sedih, menghilangkan pikiran negatif.

Sesudahnya dia berpakaian, lalu menyisir rambut panjang sepunggung masih basah, barulah keluar dari dalam kamar mandi.

***

“Ya ampun, Nyonya. Aku sampai lumutan nungguin di depan kamar,” seloroh Siska, tidak beranjak dari sana.

Helya tersenyum tipis, sikap biasa dia tunjukkan ke Siska maupun bi Mirma.

Mereka sama-sama berjalan menuju ruang makan.

“Tante, Tante … kami mau liburan ke puncak! Tante jangan ikut ya, takutnya nanti ban mobilnya kempes kalau bonceng orang gendut!”

.

.

Bersambung.

1
Fri5
wkwkwkwkwkwk kebayang JD percobaan samsak dulu 🤪🤣🤣🤣🤣
Ma Em
Ayo Helyara cepat bertindak buat Alandi dan gundiknya menyesal juga keluarganya yg benalu usir saja , bagus Helyara siksa saja terus si Alandi .
Nur Wakidah
jodohnya Helya selanjutnya Sakta apa Yudis 🤭🤭🤭
FiaNasa
padahal aq juga berharap otongnya Alan yg Kena injak biar Siska gak bisa ngerasain dulu 🤣🤣🤣
FiaNasa
pesanku helya klau mau tidur tolong kunci kamarmu ya takut saat kau tidur dicekoki sesuatu atau disuntik obat oleh mereka..waspadalah
lyani
yallah sengaja banget si kamu hel😂
lyani
jangan dilepas Hely....kenain diitunya biar nggak bs bangun sekalian 😅
yuyun Rahayu
Ayoo Hel,semnggt untk sembuhh dan hancurkan keluarga parasit ituuu
🌷💚SITI.R💚🌷
knp ga di onjek tu..boar ga bosa berkicau lg
🌷💚SITI.R💚🌷
arus listriky kurang kuat yara, jd sialan ga kejang² de
🌷💚SITI.R💚🌷
drakula atau vamvir nih yg dekap yara..klu sialan kan pasyiy pura² dia
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh mulai ketahuan kan
nahh kan mau bilang apa coba
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhh jd pas covid itu ya tp di lampung sini aman kok
lyani
buat spt masira sekeluarga
mie_moet
sumpah aku pgn berbicara kasar buat siskmpling🤬 dan sialan🤬 ganiron🤬sapto🤬 esmosi tingkat pentit imi🤬🤬
Sumìni Manju Maja
jambaknya aku wakilin y helya
sherly
pesankan kamar VVIP ya Siska, sebab itu nanti ditempati oleh salah satu dr kalian...dasar org gila dah dikasi pendidikan tinggi malah ilmunya dipakai buat nyakitin org... bisa kena pasal pidana nih Siska
Marlina Prasasty
🫣🫣🫣🤭🤭🤭
sherly
puas banget dah si helya balas si mokondo... hahahah good job
Teh Qurrotha
si Ganira. harus di kasih karma yang paling menderita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!