NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Malam yang kelam itu perlahan berganti pagi. Hujan deras yang mengguyur pinggiran kota akhirnya mereda, meninggalkan genangan air di sepanjang jalan dan aroma tanah basah yang membuat hati kian terasa dingin.

Di dalam rumah kontrakan yang sederhana itu, Andrea terbangun dengan mata sembap dan dada yang masih terasa sesak. Seluruh tubuhnya remuk, terkuras oleh isak tangis yang tak henti sepanjang malam. Dengan perlahan dan hati-hati, ia menegakkan tubuhnya yang kaku, mengusap perutnya yang membuncit untuk menenangkan janin di dalam sana yang mulai bergerak halus.

"Pagi, Sayang .... " bisik Andrea lirih, mencoba mengukir senyum tipis di wajahnya yang pucat pasi demi menguatkan dirinya sendiri.

Ia memutar kunci dan membuka pintu kayu tua itu perlahan, berniat mengambil napas segar di luar. Namun, begitu pintu terdorong keluar, langkah Andrea mendadak terhenti.

Matanya membelalak tak percaya.

Di atas lantai semen terasnya yang basah, Bara masih ada di sana.

Pria tegap itu terduduk bersandar di dinding luar, basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Setelan jas mewahnya kini kotor, penuh noda tanah, dan melekat dingin di tubuhnya. Bibir Bara tampak kebiruan, kulitnya pucat bergetar menahan dinginnya malam yang ia lewati tanpa perlindungan sama sekali.

Pria yang biasanya tampil begitu sempurna, dominan, dan tak tersentuh di puncak gedung pencakar langit itu, kini tampak begitu hancur, terpuruk, dan menyedihkan di depan sebuah pintu rumah kontrakan sederhana.

Mendengar derit pintu tua terbuka, Bara perlahan membuka matanya yang merah dan sayu. Pria itu menengadah, menatap Andrea dengan pandangan rapuh yang tak pernah sekali pun Andrea bayangkan akan ia lihat dari seorang Bara Adikara.

"Andrea .... " suara Bara terdengar sangat parau, hampir habis, terputus oleh batuk kecil dan giginya yang bergeletuk menahan demam tinggi yang mulai menyerang tubuhnya.

Bara berusaha bangkit. Ia menopang tangannya ke lantai basah, bertarung dengan rasa pusing hebat yang memutar di kepalanya. Tubuh tingginya limbung beberapa kali sebelum akhirnya berhasil berdiri sambil menatap Andrea dari jarak satu langkah.

"Aku ... aku tidak pergi," bisik Bara, matanya terkunci pada wajah pucat Andrea, lalu perlahan turun menatap perut membuncit itu dengan pandangan sarat akan kerinduan yang terlambat. "Aku menunggu di sini semalaman ... karena aku tahu ... tidak ada tempat lain lagi yang ingin kutuju."

Melihat kondisi Bara yang seperti itu, dada Andrea sempat bergetar. Rasa kemanusiaannya bereaksi, sekilas kenangan manis masa lalu bertabrakan dengan realita kejam saat ini. Namun, bayangan bara dan Angel yang ber cum bu dan sikap tak peduli Bara saat ia memohon ingin bertemu, dengan cepat menyiram habis sisa-sisa kelemahan di dalam hatinya.

Andrea membalas tatapan rapuh Bara dengan tatapan mata yang sangat dingin, tanpa ada setetes pun rasa kasihan di sana.

"Kamu menyiksa dirimu sendiri untuk apa, Bar?" suara Andrea mengalir begitu datar, menembus dinginnya udara pagi. "Kamu pikir dengan bertindak menyedihkan seperti ini, aku akan luluh? Kamu pikir semalaman berlutut di bawah hujan bisa menghapus fakta kalau kamu sudah membuangku dalam keadaan membutuhkanmu?"

Bara menegang. Kalimat datar itu menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada demam yang sedang membakar tubuhnya.

"Aku tidak minta kamu melupakan segalanya, Andrea ...." Bara mengambil satu langkah maju, jemarinya yang gemetar dan dingin terulur ragu-ragu, hendak menyentuh jemari Andrea. "Tapi tolong ... biarkan aku bertanggung jawab. Biarkan aku merawatmu dan juga merawat anak kita. Jangan siksa dirimu di tempat seperti ini ...."

"Aku tidak pernah merasa tersiksa di sini!" potong Andrea. Ia melangkah mundur satu langkah, menolak sentuhan tangan Bara yang membeku di udara.

Andrea menatap tepat ke dalam pupil mata Bara, menunjuk tepat di dada pria itu. "Satu-satunya hal yang menyiksaku adalah, saat aku melihat wajahmu di depanku! Setiap kali melihatmu, aku hanya terbayang wajah Angel yang ber cum bu denganmu, juga caramu mendiamkanku saat aku benar-benar hancur. Lalu ayahmu ... yang malam itu mencoba menyentuhku. Aku kehilangan masa mudaku, kuliahku, cita-citaku, dan juga kehormatanku. Apa itu masih belum cukup Bar?!"

Andrea mulai histeris, sementara air mata dingin menetes dari sudut mata Bara, bercampur dengan sisa air hujan di pipinya. "Andrea ... tolong ...."

"Pergilah!" bisik Andrea, suaranya sangat pelan namun penuh penekanan. "Jika kamu masih punya sedikit saja rasa kemanusiaan tersisa di dalam hatimu ... pergilah dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku dan anak ini! karena kehadiranmu hanya akan membawa racun untuk kami."

Tanpa menunggu balasan dari Bara, Andrea berbalik dan menutup pintu kayu itu kembali. Dengar suara slot kunci yang berputar nyaring, mengunci rapat pintu di antara mereka.

Di luar, Bara berdiri mematung dalam diam. Tubuhnya yang menggigil hebat oleh demam kini terasa semakin dingin hingga ke dalam jiwanya. Kata-kata Andrea berputar bagaikan belati yang terus mencincang hatinya tanpa ampun.

Pria itu memejamkan mata rapat-rapat, meremas dadanya yang terasa begitu sesak dan nyeri. Sebuah rasa sakit psikologis yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Kemenangan yang ia agung-agungkan selama ini kini terasa seperti neraka yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri.

Dengan langkah kaki yang berat, limbung, dan penuh keputusasaan, Barra akhirnya berbalik, melangkah perlahan meninggalkan gang sempit itu. Membawa tubuhnya yang sakit dan juga jiwanya yang telah sepenuhnya hancur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!