Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
awal mula
Matahari sore menyelinap masuk melalui jendela bus yang buram, menerpa wajah Asha yang sedang serius. Gadis kelas 12 itu tampak seperti "pustakawan cilik" dengan rambut dikepang satu yang rapi dan kacamata tebal yang hampir merosot ke ujung hidung.
Di pojokan bus yang pengap, Asha memeluk sebuah buku pemberian temannya.
"Duh, Dark Romance pula. Apa nggak makin mumet ini otak abis dijejali rumus Fisika?" gerutu Asha pelan.
Sebagai pencinta garis keras novel romantis yang manis-manis tipe cowok CEO baik hati atau pangeran berkuda putih tema gelap seperti ini sebenarnya bukan gayanya. Tapi, rasa penasaran menang. Asha mulai membalik lembaran demi lembaran, tenggelam dalam alur cerita yang penuh obsesi dan konflik kelam, sampai tak sadar bus sudah sampai di halte dekat .
Begitu sampai di depan pagar rumah, jiwa "petakilan" Asha langsung kumat.
"EMAAAKKK! EMAAAKKK! BUKAIN PINTU! ANAKMU YANG CANTIK JELITA INI SUDAH PULANG!" teriak Asha sambil menggedor-gedor pintu kayu rumahnya seperti sedang menagih hutang.
Ceklek.
Pintu terbuka dengan sentakan kasar, menampakkan sesosok wanita paruh baya dengan daster motif bunga dan sutil di tangan kanan.
"Iya, iya! Kagak usah teriak-teriak nape! Budek kuping tetangga dengar suara lu yang cempreng itu!" semprot Emak tanpa aba-aba.
Asha menyengir tanpa dosa, "Yee, si Emak. Dipanggil sekali nggak nyahut, makanya Asha gas pol."
"Heh, anak durhaka lu ya! Lu pikir Emak ini jin yang dipanggil sekali langsung HAP muncul di depan pintu? Emak lagi goreng ikan, telat sedetik aja itu ikan gosong sama kayak masa depan lu kalau malas belajar!" cerocos Emak sambil menjewer pelan telinga Asha.
"Aduh, duh! Ampun, Mak! Iya, Asha masuk! Jangan dikutuk jadi ikan goreng dulu!"
Malam harinya, niat Asha untuk belajar sirna ditelan rasa penasaran. Di bawah selimut, dengan bantuan cahaya senter ponsel, Asha terus membalik halaman novel Dark Romance itu. Napasnya tertahan, jantungnya berdegup kencang mengikuti alur cerita yang makin lama makin kacau.
Sampai pada halaman terakhir...
"HAH? APA-APAAN INI?!" pekik Asha tertahan.
Ia melirik jam di dinding. Pukul 03.00 pagi.
"Bejirr! Jam tiga pagi? Mana sekolah jam enam nanti! Gue belum tidur sama sekali!" Asha merutuki kebodohannya. "Mana ini ending-nya begini amat? Nggak ada yang bahagia? Tokoh antagonisnya mati, pemeran utamanya gila? Ah, kacau!"
Asha melempar buku itu ke samping bantalnya. Rasa kantuk yang luar biasa menyerang seperti dihantam palu besar. Tanpa sempat mencuci muka atau mengganti baju, ia langsung jatuh terlelap ke alam mimpi.
Bising.
Suara tawa, gesekan meja, dan obrolan riuh rendah mulai menusuk indra pendengaran Asha.
"Woi, Melody! Bangun lu! Mau tidur sampai kapan? Guru bentar lagi masuk!"
Asha tersentak. Suara itu bukan suara Emak yang sedang mengomel. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat. Namun, saat penglihatannya mulai fokus, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Loh... ini di mana?"
Asha ternganga. Ia tidak berada di kamarnya yang berantakan dengan poster K-Pop di dinding. Ia berada di sebuah ruang kelas yang sangat mewah, luas, dan bersih.
Lebih mengejutkan lagi, semua anak di sekelilingnya memakai seragam SMA yang sangat asing—bukan putih abu-abu, melainkan seragam dengan jas elegan bergaya sekolah elit di luar negeri.
"Melody? Siapa itu Melody?" gumam Asha linglung.
"Lu lah! Siapa lagi? Makanya kalau malam tuh jangan begadang ngerjain hal nggak guna, muka lu jadi kayak zombi tahu nggak!" sahut seorang gadis cantik di sampingnya.