.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gempa Politik Klan Utama dan Sup Ayam yang Tertunda
Keheningan di Paviliun Tamu Agung terasa lebih pekat daripada malam sebelumnya. Halaman luar yang baru saja menjadi saksi tumbangnya seorang jenius Lapis ke-6 akibat ketukan bantal sutra, kini benar-benar kosong. Huang Fu dan rombongan murid inti pusat kota telah melarikan diri bagaikan sekumpulan ayam yang dikejar rubah, menggotong tubuh Huang Zhen yang pingsan dan meridian lengannya yang hancur berantakan.
Di dalam kamar utama paviliun, Ji Lan duduk terpaku di atas kursi kayu cendana. Pedang perak kesayangannya tergeletak sembarangan di atas meja, sementara tatapan matanya yang biasanya tajam dan penuh keberanian, kini terlihat linglung. Dia masih belum bisa memproses apa yang baru saja dia saksikan.
"Katakan yang jujur, Ji Huang!" Ji Lan menggebrak meja kecil di depannya, suaranya terdengar sedikit melengking karena syok yang masih membekas. "Itu Huang Zhen! Dia jenius Lapis ke-6 yang dilatih oleh para tetua inti! Bagaimana mungkin dia tumbang hanya karena ketukan bantal sutra?! Teknik sesat apa yang kamu pelajari selama di pengasingan klan cabang?!"
Ji Huang yang sedang berbaring telentang di atas kasur tanpa bantal—karena bantalnya sedang diservis—menatap langit-langit kamar dengan pandangan lempeng yang luar biasa polos. Dia tidak tampak seperti seseorang yang baru saja melumpuhkan seorang ahli bela diri.
"Tidak ada teknik sesat, Sepupu," jawab Ji Huang malas. "Dia hanya bergerak dengan gaya yang terlalu berlebihan. Saat seseorang mengerahkan energi terlalu penuh ke satu titik tanpa perhitungan, meridian mereka menjadi sangat rapuh. Aku hanya memberikan sedikit dorongan agar energinya 'berjalan' ke arah yang salah. Itu hukum dasar keseimbangan energi. Daripada berteriak-teriak soal teknik, mana sup ayam pengganti milikku? Katanya kamu ke sini untuk bayar hutang sup yang kamu janjikan?"
Ji Lan menahan napas, wajah porselennya mendadak merona merah padam. Gengsinya tertusuk hebat. Dia berkeringat dingin, menempuh perjalanan berbahaya semalaman, hampir mati membela sepupu yang menyebalkan ini, dan yang dipikirkan bocah ini hanyalah sup ayam?
"Dasar babi malas!" desis Ji Lan dengan wajah yang semakin memerah, menutupi rasa malu dan kelegaannya yang luar biasa. "Aku tidak membawa sup! Aku membawa nyawaku untuk menyelamatkanmu dari Huang Zhen, dan kamu malah menuntut makanan?!"
Ji Huang menghela napas panjang, lalu memejamkan mata dengan tenang. "Kalau tidak bawa sup, sebaiknya kamu diam. Kamu berisik sekali sepagi ini. Itu membuatku semakin lapar."
Xiao Mei, yang sedari tadi berdiri di sudut kamar dengan bantal sutra yang sudah rapi, melangkah mendekat dengan langkah sangat halus. Sepasang mata indahnya yang bulat kini tidak lagi memancarkan tatapan waspada atau curiga, melainkan rasa hormat dan kekaguman yang begitu mendalam. Bagi Xiao Mei, Ji Huang bukan lagi tahanan malang; dia adalah sosok jenius misterius yang baru saja mempertontonkan kekuasaan mutlak dengan cara yang paling elegan yang pernah dia lihat.
Xiao Mei meletakkan bantal sutra itu di atas kepala ranjang dengan gerakan sangat hormat. "Tuan Muda Ji Huang, maaf atas keterlambatannya. Saya akan segera meminta juru masak paviliun untuk menyajikan sup ayam ginseng terbaik dan camilan manis untuk Anda. Apakah ada hal lain yang Anda butuhkan?"
Ji Huang mengangguk tipis tanpa membuka mata. "Bawakan teh herbal sulingan embun pagi. Jangan lupa, pastikan dagingnya empuk."
Sementara kedamaian domestik terjadi di Paviliun Tamu Agung, situasi di ruang rapat utama Keluarga Utama benar-benar berada di ambang bencana.
Tetua Agung berdiri di tengah ruangan, tangannya meremas gagang meja giok hingga retak berkeping-keping. Di depannya, Huang Fu sedang berlutut di atas lantai marmer dengan tubuh yang gemetar hebat, sisa-sisa trauma dari pemandangan mengerikan di halaman paviliun masih terbayang jelas di matanya.
"Kau bilang... dia hanya menggunakan bantal sutra?" suara Tetua Agung terdengar berat, dingin, dan sangat mengintimidasi.
"B-Benar, Tetua Agung..." suara Huang Fu tercekat. "Dia bahkan tidak mengeluarkan aura Qi yang berarti. Dia hanya... mengetuk pergelangan tangan Huang Zhen, dan seketika itu juga, meridian Huang Zhen meledak dari dalam. Itu adalah kemampuan kontrol energi yang tidak masuk akal. Saya yakin dia sengaja menyembunyikan kekuatannya selama ini!"
Ketiga Hakim Agung yang duduk di samping Tetua Agung hanya bisa saling bertukar pandang dengan wajah pucat pasi. Mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan fatal dengan menganggap Ji Huang sebagai sampah. Bocah ini adalah seekor harimau purba yang sedang berpura-pura menjadi anak kucing, dan mereka baru saja mencolek kakinya.
"Sengaja menyembunyikan kekuatan..." Tetua Agung merenung, matanya berkilat penuh dengan kelicikan yang kejam. "Ternyata dia benar-benar bukan anak cabang biasa. Ada kekuatan besar yang melindunginya atau dia memiliki warisan ilmu yang lebih kuno daripada klan kita sendiri."
"Apa yang harus kita lakukan, Tetua Agung?" tanya Hakim Agung Ketua dengan nada panik. "Mengeksekusinya secara terang-terangan sekarang akan memicu kecurigaan faksi saingan, terutama jika dia memang memiliki dukungan kuat di belakangnya."
Tetua Agung menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak amarahnya. "Kita ubah taktik. Jika dia bersembunyi di balik hukum klan, kita akan memaksanya keluar ke medan terbuka. Kirimkan surat undangan perjamuan besar kepada Ji Huang besok lusa. Kita akan mengundangnya ke Perjamuan Besar Klan Utama."
"Perjamuan Besar?" Huang Fu mendongak kaget. "Tapi itu adalah acara formal di hadapan para leluhur dan tetua kehormatan!"
"Tepat sekali," senyum dingin tersungging di bibir Tetua Agung. "Di sana, dia akan menghadapi Ujian Bakat Spiritual di depan altar leluhur. Itu adalah formasi array yang tidak bisa dimanipulasi dengan tipu daya atau keterampilan fisik. Jika dia memang sampah, dia akan memalukan dirinya sendiri di depan seluruh petinggi keluarga. Namun jika dia benar-benar memiliki bakat, kita akan tahu tingkat kekuatannya yang sebenarnya. Dan setelah itu... kita punya banyak cara untuk mengurusnya secara permanen di bawah restu leluhur."
Dua hari kemudian, di kamar Paviliun Tamu Agung, Ji Huang sedang menikmati tidur siang yang sangat berkualitas ketika Xiao Mei masuk dengan membawa sebuah nampan berlapis emas.
Di atas nampan itu, tergeletak sebuah surat undangan dengan segel lilin merah darah berlogo naga emas Keluarga Utama.
Ji Lan, yang sedang duduk di kursi sambil menjaga kamar, langsung mengambil surat itu. Begitu dia membaca isinya, wajahnya berubah pucat pasi.
"Jebakan..." bisik Ji Lan panik. "Ini jebakan maut, Ji Huang! Mereka mengundangmu ke Perjamuan Besar untuk melakukan Ujian Bakat Spiritual di depan altar leluhur! Mereka ingin membuka kedokmu secara paksa di depan seluruh petinggi klan! Jika kamu gagal, mereka punya alasan kuat untuk membuangmu ke penjara bawah tanah selamanya!"
Ji Huang perlahan membuka matanya. Dia bangkit dari kasur, meregangkan tubuhnya hingga terdengar suara gemertak halus dari persendiannya. Dia menerima surat emas itu dari tangan Ji Lan, namun bukannya membaca isinya dengan serius, dia justru mengipas-ngipas wajahnya sendiri karena udara sore itu terasa sedikit gerah.
"Perjamuan makan besar ya?" gumam Ji Huang dengan nada malas yang konsisten. "Kalau itu perjamuan besar, berarti pasti ada banyak hidangan daging sapi panggang dan bebek madu di sana, kan?"
"Bukan soal makanannya, bodoh!" Ji Lan hampir menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi menghadapi sepupunya yang tidak punya rasa takut.
Ji Huang menatap Ji Lan dengan pandangan polos yang tulus. "Katakan pada mereka aku akan datang. Asalkan di meja perjamuan itu kursinya empuk dan tidak ada orang berisik yang memintaku untuk menari pedang. Kalau syarat itu terpenuhi, aku malas menolak."
Ji Huang kembali merebahkan dirinya di bantal sutra yang sudah wangi, memejamkan mata dengan damai, seolah undangan yang bisa menentukan hidup matinya itu hanyalah selembar kertas sampah yang tidak lebih penting dari sepotong bebek panggang.
Ji Lan hanya bisa menghela napas pasrah, menatap punggung sepupunya yang sudah kembali mendengkur halus, sementara di balik tembok paviliun, konspirasi besar sudah dirancang untuk mengakhiri riwayat "si pemalas" tersebut di altar leluhur besok lusa.