Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Transaksi di Balik Dinding Kaca
Lampu neon berwarna ungu pekat dan biru safir berkedip ritmis, membelah kegelapan VIP lounge di kelab malam The Abyss, yang terletak di sektor utara kota. Dentuman musik elektronik dengan frekuensi rendah bergetar konstan di bawah lantai marmer hitam, menyamarkan suara bisikan dari para pengunjung kelas atas yang mencari hiburan di balik pintu-pintu privat terenkripsi. Di sinilah, jauh dari gemerlap formal menara korporasi, hukum-hukum jalanan dan aliansi bayangan yang sesungguhnya sering kali ditempa.
Di dalam bilik nomor 09, Vanya duduk bersandar pada sofa kulit buatan dengan napas yang masih sedikit memburu. Gaun malam Dior yang dipakainya saat diusir dari hotel kini tertutup oleh jaket denim longgar berlumuran debu, sebuah upaya drastis untuk menyembunyikan identitasnya dari kejaran paparazi yang masih memenuhi jejaring sosial. Riasan Korean Ulzzang di wajah cantiknya telah hancur sepenuhnya, digantikan oleh lingkaran hitam di bawah mata yang memancarkan kombinasi antara depresi berat, rasa malu, dan dendam kesumat yang membakar habis akal sehatnya.
Di seberang meja kaca bundar, seorang pria paruh baya dengan bekas luka bakar di pelipis kirinya sedang duduk tenang. Setelan jas abu-abu gelapnya terlihat mahal, namun cara tangannya memegang cerutu memancarkan aura seorang profesional yang biasa beroperasi di wilayah abu-abu hukum maritim internasional. Di samping pria itu, sebuah koper taktis hitam dalam kondisi terbuka menampilkan beberapa gawai enkripsi militer yang terus berkedip menangkap lalu lintas data satelit.
"Jadi, kamu adalah putri kedua dari Tuan Bramasta yang baru saja dicoret dari kartu keluarga?" pria itu membuka percakapan, suara baritonnya serak dan dipenuhi nada meremehkan yang sangat kentara.
"Aku terkejut melihatmu berani menghubungiku melalui jalur pelayaran darurat regional, Vanya."
Vanya mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jangan mengejekku, Tuan Agharna! Aku mungkin kehilangan nama Dirgantara di atas kertas, tetapi aku masih memegang sisa-sisa kode enkripsi internal lama dari sistem administrasi logistik maritim ayahku sebelum jalang berkacamata itu memblokirnya sepenuhnya! Aku tahu sindikat perdagangan lautmu di Selat hancur total karena aliansi baru Haena dan Kaelen Arkananta!"
Tuan Agharna terdiam, pandangannya menggelap mendengar nama Kaelen Arkananta disebut. Kehancuran faksi ekonominya di wilayah Indonesia Timur terjadi begitu cepat setelah Haena menandatangani dokumen pengalihan aset 51% saham pengendali.
"Jalang kecil bernama Haena itu..." desis Vanya, giginya bergeletuk menahan amarah yang meluap-luap.
"Dia menghancurkan ibuku, Nyonya Rosalind, hingga mentalnya guncang! Dia membuatku merangkak di selokan sosialita! Aku ingin dia mati, Tuan Agharna! Aku ingin wajah sok jeniusnya hancur, dan aku ingin megaproyek Smart Port yang sedang dia rancang bersama Kaelen berubah menjadi lautan darah!"
Tuan Agharna mengembuskan asap cerutunya perlahan ke udara, memperhatikan wajah Vanya yang dipenuhi kegilaan distorsi kebencian.
"Membunuh seorang pewaris tunggal Dirgantara Corp yang dilindungi oleh unit taktis bayangan Arkananta Group bukan perkara murah, Vanya. Itu membutuhkan dana berskala masif untuk menyewa tentara bayaran internasional yang tidak meninggalkan jejak digital."
Vanya tersenyum sinis, sebuah senyuman kejam yang merusak sisa-sisa kecantikan wajahnya. Dia merogoh saku jaketnya dan melemparkan sebuah perangkat diska lepas (flashdisk) titanium berwarna perak ke atas meja kaca.
"Di dalam itu... ada seluruh cetak biru jalur navigasi laut privat dan koordinat pelayaran kapal logistik utama milik Dirgantara Corp yang akan bertolak minggu depan. Ibuku diam-diam menyalinnya dari brankas pribadi Papa sebelum perceraian mereka diajukan ke pengadilan. Nilai dari data intelijen ini jauh lebih tinggi daripada sisa saham yang tersisa di pasar gelap."
Tuan Agharna menyipitkan matanya. Dia memberi isyarat kepada asisten teknisnya untuk memasukkan perangkat tersebut ke dalam komputer enkripsi taktis. Dalam hitungan detik, ribuan baris kode digital dan peta topografi laut beresolusi tinggi terpampang di layar monitor, memancarkan binar keperakan yang menerangi kegelapan bilik VIP tersebut.
"Menarik," gumam Tuan Agharna, sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman sinis.
"Cetak biru navigasi ini sangat mendetail. Dengan data ini, tentara bayaranku bisa melakukan sabotase di tengah laut lepas tanpa memicu radar angkatan laut domestik."
"Lalu, apa kesepakatan kita?" tuntut Vanya, memajukan tubuhnya dengan pandangan mata yang menuntut balas dendam mutlak.
"Kesepakatannya sederhana," Tuan Agharna menutup koper taktisnya dengan bunyi klik yang tegas.
"Aku akan mengerahkan tiga unit tim serbu siluman internasional untuk menghadang perjalanan dinas pertama Haena. Kita tidak hanya akan menghancurkan fisiknya, tetapi kita akan merekam detik-detik kematiannya untuk dikirimkan sebagai pesan peringatan kepada Tuan Bramasta dan Kaelen Arkananta. Dan untukmu, Vanya... aku akan menyediakan paspor palsu dan akses pelarian menuju Singapura begitu misi ini selesai."
Vanya menyandarkan kembali tubuhnya ke sofa, tertawa rendah dengan nada histeris yang terdengar menjijikkan di tengah bisingnya musik kelab malam. Di dalam otaknya yang sudah rusak oleh kedengkian, dia sudah bisa membayangkan bagaimana Haena akan merangkak memohon ampun di bawah todongan senjata, sementara kacamata transparannya hancur berantakan di atas lantai kapal yang dingin.
Sementara itu, di lantai eksekutif menara komando siber privat Arkananta Group, suasana terasa begitu sunyi dan dingin. Ruangan besar berlantai paruet hitam itu dipenuhi oleh puluhan layar monitor LED berukuran raksasa yang menampilkan pemetaan lalu lintas data satelit global.
Haena duduk di kursi kerja ergonomisnya dengan ekspresi yang sangat tenang, mempertahankan mental bajanya yang tak tersentuh. Blazer hitam pekatnya tergeletak di sandaran kursi, menyisakan kemeja sutra putih murninya yang membungkus siluet tubuhnya dengan sangat anggun. Kacamata transparannya memantulkan binar hijau dari ribuan baris kode peretasan balik (counter-hack) yang sedang berjalan di layar laptop khususnya. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya, sebuah ritme konstan yang menandakan otak jeniusnya sedang melakukan kalkulasi taktis tingkat tinggi.
Di sampingnya, Kaelen Arkananta berdiri bersandar pada meja marmer, melipat kedua tangannya di depan dada. Setelan kemeja kasual premiumnya yang berwarna gelap mempertegas aura dominan seorang predator puncak yang siap menerkam mangsanya di dalam kegelapan.
"Sinyal pelacakan IP address dari peretasan gerbang sekunder internalmu baru saja mengunci satu koordinat statis, Haena," ucap Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar dingin namun sarat akan nada protektif yang mendalam.
"Kelab malam The Abyss di sektor utara. Seseorang baru saja mengunduh cetak biru navigasi versi modifikasi yang sengaja kamu tinggalkan sebagai umpan."
Haena menarik sudut bibirnya tipis, memancarkan seulas senyuman dingin yang sangat menawan di bawah temaram cahaya monitor.
"Tepat sesuai dengan kalkulasi matematisku, Kaelen. Vanya terlalu bodoh untuk menyadari bahwa akun internal lama yang dia gunakan telah ditanamkan pelacak frekuensi kinetik militer oleh Clarissa sejak dua puluh empat jam yang lalu."
Gavin melangkah maju dari balik bayang-bayang komputer utama, memegang sebuah gawai tablet taktis.
"Nona Haena, Tuan Kaelen... sistem enkripsi balik yang ditanamkan Clarissa berhasil menyadap pembicaraan audio di dalam bilik VIP nomor 09. Pengunduh data tersebut adalah Tuan Agharna, pemimpin sindikat perdagangan laut hitam yang sisa-sisa faksi ekonominya baru saja kita bersihkan dari jalur pelayaran kemarin pagi."
Clarissa yang duduk di depan konsol kendali siber langsung memutar rekaman suara digital yang baru saja ditangkap oleh mikrofon satelit terenkripsi. Suara histeris Vanya yang merencanakan pembunuhan karakter dan sabotase fisik di tengah laut lepas terdengar sangat jelas memenuhi ruangan komando siber tersebut.
"Menjijikkan," gumam Pak Baskara yang baru saja masuk membawa dokumen analisis risiko hukum terbaru. Wajah sekretaris senior itu dipenuhi rasa muak yang teramat dalam.
"Nona Haena, mereka berencana menggunakan tentara bayaran internasional di Selat. Apakah kita harus segera melaporkan ini kepada Tuan Bramasta agar beliau bisa membatalkan jadwal perjalanan dinas Anda?"
"Tidak perlu, Pak Baskara," potong Haena cepat, suaranya terdengar sangat jernih dan tegas tanpa ada setitik pun keraguan atau rasa takut.
"Jika kita membatalkan perjalanan ini, Tuan Agharna dan Vanya hanya akan bersembunyi kembali ke dalam lubang tikus mereka dan merencanakan sabotase lain yang tidak bisa kita prediksi koordinatnya. Umpan telah ditelan dengan sempurna. Kita akan tetap berangkat sesuai jadwal."
Kaelen menatap lekat-lekat ke dalam mata jernih Haena, kilatan rasa kagum yang masif kian membara di sepasang mata elangnya. Pemuda penguasa sekolah itu meletakkan gelas minumannya, lalu melangkah lebih dekat ke arah kursi Haena, menundukkan kepalanya hingga wajah tampannya berada dalam jarak yang sangat dekat dengan gadis berkacamata itu.
"Melakukan perjalanan dinas di atas kapal logistik utama yang menjadi target serangan tentara bayaran... kamu benar-benar suka bermain api dengan kematian, Putri Haena," bisik Kaelen dengan suara rendah yang sangat seksi dan intim, membuat suasana di dalam ruang komando siber mendadak terasa sedikit memanas.
Haena mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Kaelen tanpa ada niat untuk mundur sedikit pun. Jari lentiknya mengetuk permukaan meja kerja dengan elegan.
"Aku tidak sedang bermain api dengan kematian, Kaelen. Aku sedang menyusun panggung eksekusi massal yang baru. Virus Trojan penghancur sirkuit yang kutanam di dalam cetak biru navigasi palsu itu akan mulai menginfeksi sistem persenjataan elektronik kapal tentara bayaran mereka begitu mereka berada dalam radius lima kilometer dari kapal kita. Mereka akan mendatangi kita dalam kondisi sistem navigasi yang buta dan senjata yang terkunci dari dalam."
Kaelen terkekeh rendah, sebuah tawa karismatik yang memancarkan kepuasan mutlak atas kecerdasan aliansinya. Dia menegakkan kembali tubuhnya dan berbalik menatap Gavin dan Clarissa.
"Gavin, siapkan unit helikopter siluman dan dua tim taktis komando Arkananta untuk mengawal kapal logistik utama dari udara secara tersembunyi. Clarissa, pertahankan enkripsi frekuensi militer pada jam tangan Haena agar tetap terhubung dengan satelit pusat sepanjang perjalanan."
"Siap, Tuan Kaelen!" jawab Gavin dan Clarissa serempak dengan nada patuh.
Haena kembali mengalihkan pandangannya ke layar monitor, melihat titik merah yang merepresentasikan koordinat kelab malam The Abyss perlahan mulai bergerak menjauh, menandakan transaksi gelap antara Vanya dan Tuan Agharna telah usai. Mental bajanya telah siap menghadapi badai apa pun yang akan terjadi di tengah lautan lepas nanti. Fajar baru imperium Dirgantara tidak akan pernah bisa dihentikan oleh sisa-sisa tikus masa lalu yang menolak untuk mati dengan tenang.
(Cliffhanger)
"Tiga hari kemudian, di bawah langit malam yang pekat di tengah Selat, kapal logistik utama Dirgantara Corp yang membawa Haena dan Kaelen mendadak mendeteksi adanya tiga siluet kapal motor cepat tanpa lampu navigasi yang melaju dengan kecepatan ekstrem dari arah barat laut. Tepat saat Clarissa mencoba mengaktifkan virus Trojan pembunuh sirkuit dari jarak jauh, sebuah tembakan rudal EMP (Electromagnetic Pulse) tak terduga meluncur dari kapal penyerang, menghantam menara radar kapal utama hingga meledak dan memutuskan seluruh jaringan komunikasi satelit taktis dengan tim siber Gavin di ibu kota."