Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG DARI LUAR WAKTU
Kisah: Jejak Darah yang Menghilang
Lima tahun setelah penyatuan dua sisi jiwa Raka, dunia berubah menjadi tempat yang jauh lebih indah dan kuat. Orang tidak lagi takut pada sisi gelap diri sendiri, mereka belajar menerima segala bagian diri, dan setiap orang menjadi lebih utuh, lebih bijaksana, serta lebih kuat dari sebelumnya. Perpustakaan Kehidupan yang dipimpin Lira sekarang menjadi pusat kebijaksanaan seluruh dunia, tempat di mana tidak hanya ingatan manusia disimpan, tapi juga keseimbangan antara terang dan gelap dijaga dengan baik.
Raka — yang sekarang memilih menyebut dirinya RAKA UTUH — hidup di antara manusia, tampak seperti orang biasa tapi memiliki kekuatan yang tak terbayangkan. Ia bisa melihat setiap jejak yang pernah ada, bisa mendengar suara setiap ingatan yang tersimpan, dan bisa merasakan keseimbangan di seluruh penjuru bumi. Ia menjadi pelindung diam-diam, selalu ada di mana pun ada gangguan atau ketidakseimbangan, tapi tidak pernah menonjol atau meminta penghargaan apa pun.
Namun, kedamaian yang mereka bangun ternyata hanya seperti lapisan tipis di atas sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan.
Semuanya bermula dari kejadian aneh yang terjadi di tempat yang paling terpencil di bumi — di puncak gunung tertinggi yang tidak pernah dijamah manusia, tempat yang selalu tertutup awan tebal dan kabut abadi. Sekelompok pendaki yang tersesat melaporkan bahwa mereka melihat GERBANG BESAR YANG TERBUAT DARI TULANG DAN DARAH, berdiri tegak di puncak gunung itu, padahal tidak ada catatan sejarah atau peta mana pun yang pernah menyebutkan adanya bangunan di sana. Gerbang itu tidak tertutup, melainkan terbuka lebar, dan dari dalamnya keluar cahaya merah gelap yang tidak menyilaukan tapi membuat siapa pun yang melihatnya merasa seolah seluruh ingatan dan jati diri mereka sedang ditarik keluar perlahan.
Lira dan Raka segera bergegas ke tempat itu. Saat mereka sampai di sana, pemandangan di depan mata mereka membuat napas mereka tertahan dan seluruh tubuh mereka gemetar hebat.
Gerbang itu tingginya lebih dari seratus meter, dibangun dari ribuan tulang manusia yang saling menyatu, diikat dengan urat dan darah yang masih berdenyut hidup, dan di setiap tulang itu terukir nama-nama yang tidak pernah ada di catatan mana pun — nama makhluk, bangsa, dan peristiwa yang tidak pernah terdengar oleh telinga manusia mana pun. Di atas gerbang itu tertulis tulisan besar yang menyala merah gelap, yang bisa dibaca oleh pikiran bukan oleh mata:
DI SINILAH AKHIR DARI SEGALA JEJAK. DI SINILAH AWAL DARI SEGALA YANG TIDAK PERNAH ADA.
“Ini bukan buatan manusia,” bisik Raka dengan suara serak, matanya menatap gerbang itu dengan tatapan penuh kekhawatiran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Ini bahkan bukan buatan makhluk yang pernah hidup di bumi ini. Ini berasal dari… TEMPAT DI LUAR WAKTU DAN RUANG.”
Seketika itu juga, dari dalam gerbang keluar suara yang tidak bisa dijelaskan — bukan suara mulut, bukan suara getaran, melainkan suara yang langsung masuk ke dalam setiap ingatan yang tersimpan di dalam diri mereka, di dalam tanah, di dalam udara, di dalam seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Suara itu berat, tua, dan penuh kekuatan yang bisa menghancurkan seluruh dunia hanya dengan satu kata saja:
“AKHIRNYA KALIAN SUDAH SIAP. AKHIRNYA JEJAK YANG UTUH SUDAH TERBENTUK. KAMI MENUNGGU KALIAN DENGAN LAMA — PEMILIK DARAH, PENJAGA INGATAN, YANG BISA MENYATUKAN TERANG DAN GELAP.”
Tanah di sekitar gunung berguncang hebat, langit berubah warna menjadi merah hitam pekat, dan dari dalam gerbang mulai keluar sosok-sosok yang membuat nyali mereka hancur berkeping-keping. Itu bukan manusia, bukan makhluk bumi, bukan juga roh atau bayangan. Itu adalah JEJAK YANG DIBUANG OLEH SELURUH ALAM SEMESTA.
Ada sosok yang terbuat dari ribuan sejarah yang dihapus, ada sosok yang terbuat dari ribuan aturan yang dibatalkan, ada sosok yang terbuat dari ribuan kehidupan yang tidak pernah lahir. Semuanya memiliki bentuk yang aneh, bergerak tidak sesuai hukum alam, dan mata mereka semuanya menatap lurus ke arah Raka dan Lira dengan tatapan penuh harapan dan rasa lapar yang dahsyat.
“Siapa kalian?” teriak Lira lantang, suaranya bergetar tapi penuh keberanian. “Apa yang kalian inginkan dari kami?!”
“KAMI ADALAH SEGALA SESUATU YANG PERNAH DIANGGAP TIDAK PENTING, TIDAK BENAR, TIDAK BOLEH ADA,” jawab suara besar itu lagi, kali ini terasa lebih dekat dan lebih kuat, sampai tulang-tulang di tubuh mereka terasa mau hancur. “Sama seperti kalian dulu. Sama seperti jejak darah yang menghilang yang kalian pelihara. Seluruh alam semesta selalu bekerja dengan cara yang sama: ia hanya menyimpan apa yang dianggap benar, apa yang dianggap indah, apa yang dianggap berguna. Segala hal lain — yang salah, yang buruk, yang menyakitkan, yang aneh — semuanya dibuang ke sini, ke tempat di luar waktu dan ruang, dikurung selamanya agar tidak mengganggu tatanan yang dianggap sempurna.”
Sosok terbesar di antara mereka melangkah maju. Bentuknya terus berubah-ubah, kadang tampak seperti manusia, kadang seperti hewan, kadang seperti benda mati, kadang seperti cahaya atau kegelapan murni. Tidak ada bentuk yang tetap, karena ia adalah SEMUA BENTUK YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN.
“Kalian adalah yang pertama kali berhasil mengubah aturan itu,” kata sosok itu, matanya yang terus berubah warna menatap tajam ke arah Raka. “Kalian menerima apa yang dibuang, menyatukan apa yang dipisahkan, membuat jejak dari apa yang seharusnya hilang. Karena itulah gerbang ini terbuka. Karena itulah kami bisa melihat kalian dan dunia kalian. Sekarang kami punya permintaan — atau lebih tepatnya, SYARAT UNTUK KESELAMATAN DUNIA KALIAN.”
Raka melangkah maju, berdiri tegak di depan Lira, matanya yang merah putih bersinar terang menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya.
“Katakan apa yang kalian mau,” kata Raka tegas. “Kami tidak takut lagi. Kami sudah belajar bahwa tidak ada hal yang sepenuhnya buruk atau sepenuhnya jahat. Kami siap mendengar.”
“DENGARKAN BAIK-BAIK,” kata sosok besar itu, dan seluruh alam semesta seolah diam mendengarkan. “Selama ini kalian hanya menyelamatkan jejak di bumi kalian saja. Tapi ada bahaya yang jauh lebih besar sedang datang — bahaya yang tidak hanya akan menghapus manusia atau bumi, tapi akan menghapus SELURUH JEJAK DARI SEGALA SESUATU YANG PERNAH ADA. Bahaya ini bernama PENGHAPUS AGUNG. Ia adalah makhluk yang lahir dari keinginan untuk membuat segalanya menjadi sempurna dan bersih sepenuhnya. Ia berpikir bahwa untuk memiliki dunia yang sempurna, tidak boleh ada satu pun noda, rasa sakit, atau hal yang dianggap salah. Ia sedang bergerak mendekat, dan dalam waktu singkat ia akan sampai ke dunia kalian. Kalian adalah satu-satunya yang bisa menghentikannya. Karena kalian adalah satu-satunya yang tahu: KESEMPURNAAN TANPA CACAT ADALAH KEMATIAN ITU SENDIRI.”
Lira dan Raka saling pandang. Mereka tahu betul apa maksudnya. Dulu Dara juga menginginkan hal yang sama — dunia yang sempurna di bawah kendalinya, tanpa rasa sakit atau perbedaan. Dan itu hampir menghancurkan segalanya. Ternyata keinginan itu tidak hanya ada di bumi, tapi ada di seluruh alam semesta, dan sekarang bentuknya jauh lebih besar dan lebih mengerikan.
“Tapi apa yang bisa kami lakukan?” tanya Lira. “Kekuatan kami hanya cukup untuk menjaga keseimbangan di bumi ini. Bagaimana kami bisa melawan makhluk yang sebesar itu?”
“KALIAN TIDAK AKAN MELAWANNYA SENDIRIAN,” jawab sosok itu, dan dari dalam gerbang keluar ribuan sosok lain yang semuanya memiliki kekuatan luar biasa. “Kami akan bergabung dengan kalian. Kami adalah semua hal yang pernah dibuang, semua jejak yang pernah dihapus, semua bagian yang pernah dianggap tidak pantas. Kami jumlahnya tak terhitung, kekuatan kami tak terbatas — karena kami adalah segalanya yang tidak ada dalam catatan mana pun. Tapi ada satu syarat: kalian harus membuka gerbang ini sepenuhnya, membiarkan kami masuk ke dunia kalian, menjadi bagian dari sejarah dan ingatan kalian selamanya. Kalian harus berani menerima bahwa dunia kalian tidak akan pernah bersih atau sempurna seperti yang kalian impikan. Dunia kalian akan menjadi tempat di mana SEMUA HAL BOLEH ADA — baik yang kalian suka maupun yang kalian benci, baik yang indah maupun yang mengerikan.”
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka berubah menjadi sangat dingin dan tajam. Dari langit yang merah hitam itu muncul cahaya putih yang sangat terang, begitu bersih dan sempurna sampai rasanya bisa membakar apa pun yang tidak sesuai dengan bentuknya. Suara yang lain terdengar sekarang — suara yang dingin, kaku, dan penuh keyakinan mutlak:
“JANGAN DENGARKAN MEREKA! MEREKA ADALAH NODA, KESALAHAN, SAMPAH YANG HARUS DIHAPUS! AKU DATANG UNTUK MEMBERSIHKAN DUNIA INI, UNTUK MEMBUATNYA MENJADI SEMPURNA DAN INDAH SELAMANYA! SIAPA PUN YANG BERANI MENERIMA MEREKA AKAN DIHAPUS BERSAMA DENGAN MEREKA!”
Itulah PENGHAPUS AGUNG yang mereka sebutkan. Sosok yang terbuat dari cahaya putih murni, bentuknya sempurna tanpa cacat, tidak punya sisi gelap, tidak punya rasa sakit, tidak punya perasaan apa pun selain keinginan untuk membuat segalanya menjadi benar dan sempurna menurut versinya sendiri. Cahayanya begitu kuat sampai membuat tulang-tulang gerbang mulai retak dan hancur perlahan, dan sosok-sosok di dalamnya mulai meringis kesakitan karena tidak tahan dengan kemurnian yang membakar itu.
“Kalian lihat kan?” kata sosok besar dari gerbang itu dengan suara yang semakin lemah. “Inilah yang akan terjadi pada semua jejak kalian, semua ingatan kalian, semua kehidupan kalian jika kalian tidak bergabung dengan kami. Ia tidak peduli apakah kalian baik atau jahat, suci atau kotor. Ia akan menghapus segalanya kecuali dirinya sendiri. Karena baginya, HANYA DIRINYALAH YANG BENAR.”
Raka berdiri di antara kedua kekuatan itu — di antara cahaya putih yang membakar dan kegelapan merah yang menerima. Ia merasa seluruh tubuhnya terbelah lagi, tapi kali ini bukan menjadi baik dan jahat, melainkan menjadi KEBERADAAN DAN KETIDAKADAAN.
Ia menoleh ke arah Lira, matanya penuh tekad yang sudah matang sepenuhnya.
“Kita sudah tahu jawabannya kan?” kata Raka pelan tapi jelas. “Dulu kita memilih untuk tidak menghapus apa pun. Sekarang kita harus memilih untuk menerima segalanya.”
Ia mengangkat tangannya ke arah gerbang besar itu. Cahaya merah putih yang ada di dalam dirinya keluar dengan kekuatan yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya, menyatu dengan cahaya ribuan jejak yang dibuang di dalam gerbang, dan bersama-sama mereka membuat gelombang yang besar dan kuat yang mampu menahan cahaya putih Penghapus Agung itu.
Lira juga ikut berdiri di sampingnya, membuka seluruh ingatan dan kekuatan yang tersimpan di Perpustakaan Kehidupan, menyatukan semua cerita, semua rasa sakit, semua kebahagiaan, semua hal yang pernah ada di bumi menjadi satu kekuatan besar yang tidak bisa dihancurkan.
“KAMI TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU MENGHAPUS APA PUN!” teriak Raka lantang, suaranya sekarang bergema di seluruh alam semesta. “KAMI MEMILIH UNTUK MEMILIKI DUNIA YANG TIDAK SEMPURNA TAPI PENUH KEHIDUPAN, DARIPADA DUNIA YANG SEMPURNA TAPI MATI TOTAL! KAMI MEMILIH UNTUK MENYIMPAN SEMUA JEJAK, SEMUA BAGIAN, SEMUA KEBENARAN — BAIK YANG KAMU ANGGAP BENAR MAUPUN YANG KAMU ANGGAP SALAH!”
Dengan kekuatan gabungan dari semua jejak yang pernah ada, yang pernah dibuang, yang pernah dihapus, mereka mendorong balik cahaya putih itu, membuatnya mundur perlahan. Penghapus Agung itu marah luar biasa, cahayanya semakin terang dan panas, tapi semakin ia bersinar, semakin banyak sisi gelap dan rasa sakit yang ia coba sembunyikan keluar dan bergabung dengan kekuatan Raka dan yang lain.
“Kamu tidak sepenuhnya bersih!” teriak Lira ke arah sosok putih itu. “Kamu juga punya bagian yang kamu buang! Kamu juga punya rasa sakit yang kamu sembunyikan! Itulah kenapa kamu begitu marah dan ingin menghapus segalanya — karena kamu takut bagian burukmu akan terlihat dan kamu tidak lagi dianggap sempurna!”
Kata-kata itu menembus tepat ke dalam jantung sosok putih itu. Cahayanya bergetar hebat, bentuknya yang sempurna mulai retak, dan dari dalamnya keluar cairan hitam pekat yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat — rasa sakit, kemarahan, dan ketakutan yang selama ini ia anggap tidak pantas ada di dalam dirinya.
Dan saat itu terjadi hal yang tidak terduga: bagian hitam dari dalam Penghapus Agung itu bergabung dengan kekuatan mereka, sementara bagian putihnya perlahan menjadi lembut dan hangat, tidak lagi membakar tapi menyinari dengan lembut.
“Jadi… aku juga tidak sempurna…” bisik suara Penghapus Agung itu sekarang lemah dan penuh rasa sedih yang dalam. “Selama ini aku berjuang keras menjadi sesuatu yang tidak mungkin ada… sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh siapa pun.”
Ia perlahan turun mendekat, bentuknya sekarang berubah menjadi sosok manusia yang biasa — sama seperti mereka, memiliki sisi terang dan sisi gelap, memiliki rasa bahagia dan rasa sakit, memiliki kelebihan dan kekurangan.
“Maafkan aku,” katanya kepada semua orang. “Aku salah. Aku pikir kesempurnaan adalah tujuan tertinggi. Ternyata tujuan yang sebenarnya adalah KEUTUHAN. Menjadi diri sendiri sepenuhnya, dengan segala bagian yang ada.”
Gerbang besar di belakang mereka perlahan tertutup dan menyatu dengan tanah, tidak lagi menjadi batas antara yang ada dan yang tidak ada. Semua sosok yang pernah dibuang dan dihapus sekarang menjadi bagian dari dunia, menjadi bagian dari sejarah dan ingatan seluruh makhluk hidup. Penghapus Agung tidak lagi menjadi musuh, melainkan menjadi pelindung baru yang bertugas memastikan tidak ada yang mencoba menghapus atau menyembunyikan bagian mana pun dari diri mereka lagi.
Dunia tidak menjadi sempurna, tapi ia menjadi LEBIH HIDUP DARI SEBELUMNYA.
Tidak ada lagi hal yang dianggap tidak pantas ada. Tidak ada lagi jejak yang dianggap harus hilang. Semua cerita, semua rasa, semua bagian diri diterima dengan tangan terbuka. Dan Raka, Lira, serta semua teman baru mereka dari luar waktu dan ruang sekarang memiliki tugas yang jauh lebih besar: menjaga keseimbangan ini di seluruh alam semesta, memastikan bahwa di mana pun ada kehidupan, di sana akan ada ruang untuk SEMUA JEJAK.