"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Pengakuan di Lapangan Basket
****
Satu minggu berlalu sejak insiden hujan lebat itu, dan kepatuhan Saka yang tidak wajar masih menjadi topik paling hangat di SMA Tunas Bangsa. Cowok itu benar-benar menjelma menjadi sosok yang berbeda. Dia tidak lagi membuat keributan, selalu memakai atribut lengkap, dan ironisnya, nilainya di kelas IPS meroket tajam. Saka menggunakan kecerdasannya yang selama ini dia sembunyikan untuk mematuhi sistem, membuat Devan tidak lagi memiliki celah hukum untuk mendepaknya dari sekolah.
Namun, kedamaian semu itu justru membuatku semakin tercekik. Devan semakin posesif. Setiap pagi, siang, dan sore, dia selalu memastikan aku berada di dalam jangkauan pandangannya. Handuk kecil, bekal makanan, hingga rangkulan di pinggang seolah menjadi rutinitas wajib yang harus kuterima dengan senyuman terpaksa.
Hingga hari Kamis sore, sebuah kelonggaran tak terduga akhirnya datang. Devan harus menghadiri rapat koordinasi darurat bersama seluruh perwakilan OSIS se-kota di gedung dinas pendidikan.
"Aku pulang agak malam hari ini, sayang. Kamu langsung pulang bareng supir aku ya, jangan mampir ke mana-mana," pesan Devan sebelum naik ke mobil jemputan dinasnya.
Aku mengangguk patuh, mengantarnya dengan lambaian tangan sampai mobil itu keluar gerbang. Begitu siluet mobilnya menghilang, aku mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Aku segera berbalik, membatalkan niatku untuk pulang dengan mobil pribadinya. Aku ingin menikmati kebebasan yang singkat ini.
Langkah kakiku membawaku berjalan menyusuri koridor belakang sekolah yang sepi karena sebagian besar murid sudah pulang. Namun, saat melewati area lapangan basket *indoor* yang terletak di dekat aula, langkahku mendadak terkunci.
Suara pantulan bola basket yang berdentum keras menggema di dalam ruangan yang luas itu.
*Duakk! Duakk! Swissshh!*
Aku mengintip dari balik pintu besi yang terbuka setengah. Di tengah lapangan yang temaram, seorang cowok sedang berlari sendirian, mendribel bola dengan kecepatan tinggi, lalu melompat melakukan *slam dunk* dengan sangat agresif hingga ring basket bergetar hebat.
Itu Saka. Dia masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan dasi yang sudah agak longgar. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, membuat kemeja putihnya yang rapi kini menempel ketat di punggung tegapnya. Napasnya memburu, memantulkan gema frustrasi yang selama ini dia pendam dalam diam.
Saka mengambil kembali bola yang memantul di lantai, bersiap untuk melakukan tembakan lagi. Namun, pandangan matanya tidak sengaja menangkap bayanganku yang berdiri di ambang pintu.
Gerakan Saka langsung terhenti. Dia berdiri mematung di tengah lapangan, memegang bola basket dengan kedua tangannya, menatapku dengan mata elangnya yang tajam. Tatapan kosong dan dingin yang seminggu ini dia tunjukkan di koridor mendadak runtuh, digantikan oleh binar amarah dan kerinduan yang campur aduk.
Aku menelan ludah dengan susah payah, memberanikan diri melangkah masuk ke dalam lapangan. "Saka..." panggilku lirih, suaranya menggema sunyi.
Saka tidak menjawab. Dia justru melempar bola basket di tangannya ke arahku dengan lemparan yang cukup kencang. Refleks, aku menangkap bola itu dengan kedua tanganku, meskipun tubuhku sempat terdorong mundur satu langkah karena beratnya hantaman bola.
"Main sama gue, Mikaela. Satu lawan satu," suara Saka terdengar sangat serak dan rendah, sarat akan emosi yang menuntut.
"Sak, gue gak bisa main basket, lo tahu itu—"
"Gue bilang main!" bentak Saka, memotong ucapanku dengan agresif. Dia berlari mendekat, langsung merebut bola dari tanganku, lalu melakukan *lay-up* cepat dan memasukkan bola kembali ke dalam ring. Dia mengambil bola itu lagi, lalu berdiri tepat di hadapanku dengan jarak yang sangat dekat. Deru napas panasnya yang memburu menerpa wajahku.
"Kenapa lo ke sini, hah? Di mana pengawal bajingan lo itu? Kenapa dia gak ada di samping lo buat melarang lo bicara sama gue?" rentondong Saka dengan nada sarkasme yang kental. Matanya melirik tajam ke arah kalung emas putih pemberian Devan yang masih melingkar di leherku.
Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata melihat Saka yang kembali meledak-ledak di depanku. "Saka, please... jangan kayak gini. Gue cuma mau tahu kabar lo. Kenapa lo berubah drastis begini di sekolah?"
Saka tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Dia menjatuhkan bola basketnya ke lantai, membiarkannya menggelinding jauh, lalu kedua tangannya mencengkeram bahuku dengan erat—genggaman yang kuat, menuntut, namun bergetar hebat.
"Lo nanya kenapa gue berubah, Mik? Lo beneran gak tahu jawabannya?!" teriak Saka frustrasi, matanya mulai memerah menahan badai emosi di dadanya. "Gue memotong rambut gue, gue merapikan seragam gue, dan gue mematuhi semua aturan bangsat di sekolah ini karena satu alasan! Gue gak mau memberi si pecundang Devan itu alasan legal apa pun buat mendepak gue dari sini!"
Saka menundukkan wajahnya, menatapku lurus-lurus dengan binar mata yang dipenuhi rasa cinta yang beracun sekaligus terluka dalam. "Gue menurunkan ego gue sedalam-dalamnya bukan karena gue menyerah kalah dari Devan, Mikaela. Gue melakukan ini semua agar gue bisa tetap tinggal di sekolah ini, di dekat lo, dan mengawasi lo setiap hari! Gue gak akan membiarkan Devan memiliki lo seutuhnya!"
Gue tertegun, jantung gue berdegup begitu kencang mendengar pengakuan ugal-ugalan dari Saka. Sifat *red flag*-nya tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi sebuah obsesi yang matang di balik ketenangannya selama ini.
"Saka, lepasin... ini salah, Sak," lirihku, mencoba mendorong dadanya yang bidang dan basah karena keringat. "Gue udah jadi pacar Devan. Lo harus terima kenyataan itu—"
"Gue gak akan pernah terima kenyataan itu sampai mati!" bentak Saka lagi, mencengkeram pergelangan tangan kananku, lalu menarik lengan jaket rajutku ke atas dengan satu sentakan kasar.
Gerakan agresif Saka membuat gelang perak dengan bandul bintang kecil pemberiannya yang kusembunyikan di balik jam tangan langsung terekspos dengan jelas di bawah temaram lampu lapangan basket.
Saka membelalakkan matanya, menatap gelang itu dengan napas yang tertahan. Detik itu juga, seringai sinis di wajahnya memudar, digantikan oleh binar kemenangan yang liar. Dia mendongak, menatap mataku yang panik dengan tatapan yang sangat intens.
"Lo bilang lo milih Devan, lo bilang lo cinta sama dia... tapi kenapa lo masih menyimpan dan memakai gelang dari gue, Mik? Kenapa lo menyembunyikannya di balik jaket lo?" bisik Saka, suaranya kini merendah menjadi sebuah seringai kemenangan yang berbahaya. Dia memajukan tubuhnya, mengunci pergerakan tubuhku hingga punggungku membentur tiang penyangga ring basket.
"Lo bohong kemarin sore, kan? Lo terpaksa menerima Devan karena suatu hal, kan?" tuntut Saka, ibu jarinya mengusap bandul bintang kecil di pergelangan tanganku dengan lembut namun posesif. "Ngaku sama gue, Mikaela. Lo masih punya perasaan sama gue. Dan lo gak akan pernah bisa lepas dari gue, sama seperti gelang ini yang gak akan pernah bisa lo lepas dari tangan lo."
Gue membeku di dalam kungkungan tubuh tegap Saka di tengah lapangan basket yang sepi. Rahasia terbesar yang kusembunyikan setengah mati dari Devan kini justru dibongkar secara paksa oleh keagresifan Saka. Di bawah bayang-bayang ring basket sore itu, aku menyadari bahwa kepatuhan mendadak Saka adalah senjata barunya untuk menghancurkan dominasi Devan, dan gelang perak ini adalah bukti otentik bahwa aku telah resmi menjadi sandera emosional di antara medan perang kedua cowok *red flag* ini.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> **Boom! Pengakuan yang bener-bener ugal-ugalan dan bikin senam jantung dari Saka Aditya!** Di bab ini akhirnya ketahuan juga alasan kenapa Saka mendadak jadi murid teladan yang patuh aturan. Ternyata itu semua bagian dari taktiknya buat tetap bertahan di sekolah dan memantau Mika dari dekat tanpa bisa diganggu gugat oleh Devan.
> Dan bagian akhir bab ini bener-bener krusial banget ya, guys! Keagresifan Saka berhasil membongkar rahasia gelang perak yang selama ini Mika sembunyikan setengah mati di balik jaket rajutnya. Sekarang Saka tahu kalau Mika sebenarnya terpaksa menerima Devan, dan ini bakal jadi amunisi baru buat Saka melakukan serangan balik!
> Kira-kira apa yang bakal dilakukan Saka setelah tahu kebenaran ini? Dan gimana kalau Devan tahu kalau Saka sudah berhasil menyudutkan Mika di lapangan basket sore ini?
>