Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
London
Pesawat pribadi Surya Corp mendarat mulus di Bandar Udara Stansted, London, menyusul undangan resmi dari Istana Buckingham. Langit London sore itu kelabu, sejuk, dan berkabut tipis sempurna dengan nuansa kota tua yang megah, penuh sejarah, namun dingin dan penuh rahasia.
Di dalam kabin mewah, Aulia duduk tegak, napasnya sedikit tidak teratur. Di pangkuannya terbuka buku tebal berjudul “Protokol & Etiket Kerajaan Inggris”, halamannya sudah penuh catatan dan garis bawah merah. Sejak meninggalkan Milan tiga jam yang lalu, ia tak berhenti membaca, menghafal cara bersalaman, cara membungkuk, cara memegang gelas teh, hingga aturan urutan masuk ruangan. Baginya, kesalahan sekecil apa pun di hadapan keluarga kerajaan bisa berakibat fatal bagi reputasi Alex dan Surya Corp.
Namun, sebuah tangan besar tiba-tiba mengambil buku itu dari tangannya, menutupnya pelan lalu meletakkannya di meja samping.
“Cukup,” suara berat dan dalam Alex terdengar tepat di samping telinganya. Pria itu duduk di sebelahnya, menarik tubuh kecil Aulia hingga bersandar nyaman di dada bidangnya. “Kau sudah membaca halaman yang sama sampai lima kali. Kau tidak perlu menjadi boneka sopan santun, Sayang.”
Aulia mendongak, menatap wajah tampan yang kini dikelilingi bayang-bayang rambut sedikit berantakan karena penerbangan. “Tapi Alex… ini Istana Buckingham. Ini Keluarga Kerajaan. Semuanya harus sempurna. Aku tidak ingin mempermalukanmu. Aku tidak ingin orang berpikir gadis di sisimu hanyalah gadis desa yang beruntung.”
Alex tersenyum miring, senyum khas yang memancarkan rasa percaya diri berlebih dan dominasi mutlak. Ia mengangkat dagu Aulia dengan jempolnya, menatap manik mata cokelat itu dalam-dalam.
“Dengar aku baik-baik, Aulia Permata,” bisik Alex parau, nadanya serius dan tegas. “Di mata dunia, mereka mungkin Kerajaan. Mereka punya mahkota, mereka punya tahta, mereka punya sejarah ratusan tahun. Tapi di mataku… mereka hanyalah manusia biasa yang beruntung lahir di tempat yang tepat. Kau? Kau lahir dengan mahkota alami. Keanggunanmu, kejujuranmu, bakatmu, hatimu yang tulus… itu semua hal yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipelajari dari buku, dan tidak dimiliki oleh satu pun bangsawan palsu di luar sana.”
Alex mencium punggung tangan Aulia lama, tatapannya berubah gelap dan posesif. “Jadi, jangan pernah berubah demi siapa pun. Jangan pernah tunduk pada aturan mereka. Kau ada di sana bukan untuk memohon hormat. Kau ada di sana karena MEREKA YANG MENGUNDANGMU. Ingat posisimu: Kau adalah Pasanganku, Kepala Desain peringkat satu dunia, dan Wanita Paling Berkuasa di sisiku. Dan siapa pun yang berani menatapmu salah sedikit saja… aku pastikan mereka menyesal pernah lahir ke dunia ini.”
Jantung Aulia berdegup kencang, campuran rasa aman, takjub, dan cinta yang meluap. Di saat semua orang menuntut kesempurnaan, Alex adalah satu-satunya orang yang menyuruhnya menjadi dirinya sendiri. Ia memeluk pinggang pria itu erat, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Alex, menghirup aroma maskulin yang selalu menenangkannya.
“Terima kasih, Alex… karena selalu percaya padaku,” bisiknya pelan.
“Selamanya,” jawab Alex singkat, padat, dan mutlak.
Konvoi mobil mewah lapis baja membawa mereka menuju pusat kota London. Aulia terpesona melihat bangunan-bangunan bersejarah: Menara London, Jembatan London, Big Ben, hingga pemandangan Sungai Thames yang ikonik. Namun, saat mereka tiba di Hotel The Ritz tempat penginapan paling eksklusif dan bersejarah di jantung Mayfair Aulia sadar sepenuhnya bahwa mereka kini berada di lingkaran paling dalam kekuasaan dunia.
Dan di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Malam itu, di acara resepsi pra-gala yang diadakan di ballroom hotel, ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang paling berpengaruh di Eropa: Adipati, Adipati Wanita, Pangeran, Putri, miliarder minyak, pengusaha raksasa, hingga politisi tinggi. Aroma parfum mahal, kain sutra, berlian, dan kekuasaan memenuhi udara.
Begitu Alex dan Aulia melangkah masuk, seluruh ruangan seketika hening. Semua mata tertuju pada mereka. Bukan hanya karena ketampanan Alex yang mematikan dan kekayaannya yang tak terhitung, tapi karena sosok Aulia.
Malam ini, Aulia mengenakan gaun rancangannya sendiri: gaun gown panjang berwarna Putih Gading dengan Sulaman Emas Halus, siluet Empire waist yang anggun, bahu terbuka lembut, dan ekor gaun yang mengalir indah. Ia tidak memakai berlian besar berlebihan hanya sepasang anting mutiara sederhana dan kalung rantai emas tipis pemberian Alex. Rambutnya disanggul rendah dengan beberapa helaian rambut menjatuh lembut di pelipis.
Ia tidak berusaha terlihat lebih mewah dari tuan rumah. Ia berusaha terlihat ELEGAN, BERKELAS, dan OTENTIK. Dan hasilnya? Ia bersinar lebih terang daripada semua berlian dan perhiasan di ruangan itu digabungkan.
Namun, di balik tatapan kagum dan bisik-bisik kekaguman, ada banyak sekali mata yang menatap penuh kebencian, iri, dan penghinaan. Terutama dari kalangan bangsawan tua yang merasa garis keturunan darah biru mereka terancam oleh kehadiran “pasangan pengusaha asing” yang tiba-tiba masuk ke lingkaran suci mereka.
“Lihatlah dia,” bisik seorang Putri bangsawan tua, Lady Victoria, cukup keras agar Aulia mendengar saat mereka berpapasan. “Cantik memang, tapi jelas sekali bukan darah biru. Posturnya, caranya berdiri… terlihat sekali gadis kampung yang baru saja dipoles. Kasihan Tuan Surya, pasti dia hanya mainan sementara saja sampai dia bosan.”
Beberapa bangsawan di dekatnya tertawa kecil, menyeringai sinis. Mereka mengira Aulia akan malu, menunduk, atau marah.
Tapi mereka salah besar.
Aulia berhenti melangkah. Ia tidak menunduk. Ia tidak marah. Ia hanya memutar tubuhnya perlahan, menatap Lady Victoria tepat di manik mata dengan sorot mata yang tenang, cerdas, dan setara tanpa rasa takut sedikitpun. Aulia bahkan tersenyum tipis, senyum yang sopan namun penuh wibawa tajam.
Aulia melakukan gerakan membungkuk hormat yang sempurna tepat sesuai buku etiket, namun dengan sentuhan khasnya sendiri: tidak terlalu rendah, menunjukkan kesetaraan, bukan ketaatan.
“Malam yang indah, Lady Victoria,” ucap Aulia dengan bahasa Inggris yang fasih dan aksen halus yang sempurna, suaranya lembut namun terdengar ke seluruh area sekitar. “Memang benar, saya tidak lahir dengan mahkota di kepala. Saya lahir bekerja keras, belajar, dan menciptakan nilai saya sendiri. Dan anehnya… justru orang-orang yang memiliki mahkota seperti Anda, yang menghabiskan waktu untuk menilai orang dari lahir, bukan dari martabat dan prestasi. Saya kira bangsawan Inggris terkenal dengan kesopanannya, tapi sepertinya saya salah.”
Keheningan mutlak. Wajah Lady Victoria memerah padam karena malu dan marah, mulutnya terbuka-tutup tak bisa berkata-kata. Semua orang menahan napas. Tidak ada yang pernah berani menantang Lady Victoria seperti itu.
Dan saat itulah, sebuah tangan besar dan hangat melingkar erat di pinggang Aulia, menariknya bersandar ke tubuh kokoh Alex yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Alex tidak menatap Lady Victoria. Ia menatap seluruh ruangan dengan tatapan dingin, datar, dan membunuh tatapan yang membuat suhu ruangan turun drastis hingga membuat para bangsawan bergidik ngeri. Aura mafia di dalam dirinya meledak keluar, menindih semua orang di sana dengan tekanan yang nyata.
Suara Alex rendah, berat, dan bergema, penuh ancaman tersirat yang sangat nyata:
“Ingat kata-kata saya baik-baik, Tuan dan Nyonya sekalian. Wanita yang berdiri di samping saya ini… memiliki kecerdasan, kebaikan hati, dan bakat yang seribu kali lebih berharga daripada seluruh gelar bangsawan dan harta warisan kalian yang sudah usang ini. Kalian boleh meremehkan saya. Kalian boleh meremehkan kekuasaan saya. Tapi jika ada satu pun dari kalian yang berani menghina, merendahkan, atau menyakiti hati Nona Aulia Permata… saya pastikan kalian tidak hanya kehilangan gelar, kehilangan harta, atau kehilangan reputasi. Kalian akan kehilangan segalanya. Termasuk hak kalian untuk bernapas di bumi ini.”
Darah seketika meninggalkan wajah semua orang di ruangan itu. Mereka sadar, pria tampan di depan mereka bukan sekadar pengusaha sukses. Dia adalah RAJA JALANAN, sosok yang bahkan pemerintah beberapa negara pun memilih untuk berdamai daripada bermusuhan. Ancaman itu bukan retorika kosong. Itu adalah fakta mati.
Lady Victoria gemetar hebat, kakinya lemas ketakutan. Ia tahu, satu kata dari Alex, dan seluruh warisan keluarganya bisa musnah dalam semalam.
Alex kemudian menoleh perlahan ke arah Aulia, dan dalam sekejap, mata iblis itu berubah menjadi samudra kelembutan, kekaguman, dan cinta yang tak terhingga. Ia mengangkat tangan Aulia, mengecup punggungnya dengan lembut, di depan ratusan orang penting itu.
“Bagus sekali, Sayang,” bisik Alex hanya untuk telinga Aulia, senyum bangga merekah di wajahnya. “Kau tidak perlu aku bela. Kau sudah membungkam mereka semua dengan elegan. Itu Ratu-ku.”
Aulia tersenyum manis, rasa gugupnya hilang sepenuhnya digantikan rasa percaya diri yang meluap. Ia menatap balik Alex, menggenggam lengan pria itu erat.
“Terima kasih, Rajaku,” bisiknya balik, penuh makna. “Tapi ingat… kita berjuang bersama, bukan?”
“Selalu,” jawab Alex tegas.
Malam itu berlanjut dengan dinamika baru. Tidak ada lagi tatapan meremehkan. Semua orang kini menatap Aulia dengan rasa hormat yang sejati campuran kekaguman pada kecerdasan dan keberaniannya, serta ketakutan luar biasa pada pria yang melindunginya.
Namun, di balik kemenangan kecil malam itu, Alex tahu satu hal: Di dunia bangsawan dan kerajaan ini, musuh tidak menyerang dengan pisau atau peluru. Mereka menyerang dengan fitnah, skandal, pengkhianatan, dan racun halus yang tak terlihat. Dan tantangan terbesar sebenarnya baru saja akan dimulai besok malam, saat mereka berhadapan langsung dengan Keluarga Kerajaan di dalam Istana Buckingham.
Tapi melihat wajah Aulia yang tegak, tenang, dan bersinar di sampingnya, Alex tidak merasa khawatir. Karena ia tahu, wanita di sisinya bukan lagi gadis lemah yang perlu dikurung demi keselamatan. Aulia kini adalah Mitra Sejati, kuat, cerdas, dan berani menghadapi dunia apa pun bersama dengannya.
London telah melihat sedikit kekuatan mereka. Dan besok, mereka akan membuat sejarah di dalam tembok istana yang paling dijaga ketat di dunia.